INTI SHOLAT, KHUSYUK!


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman”, Artikel No. 41, Juni 2021.


INTI SHOLAT, KHUSYUK!
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sholat itu macam-macam definisinya. Mulai dari pengertian fisik, sampai makna psikis ruhaniah. Fikih cenderung menerjemahkannya dalam makna lahiriah sebagai “suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratan yang ada”.

Wujud material dari sholat juga masih diperdebatkan sampai kiamat. Antar mazhab, bahkan intra mazhab pun masih berseteru, baik dari sisi gerak maupun bacaan. Ada yang bersedekap, ada yang tidak. Bersedekap pun macam ragam; di dada, di atas dada, di perut, dsb. Ada yang baca basmallah untuk Fatihah, ada yang tidak. Ada yang qunut, ada yang tidak. Masih banyak lainnya. Yang benarnya yang mana?

Artinya, teknis sholat tidak tunggal. Ada keragaman. Fleksibilitasnya juga tinggi. Bahkan sampai meninggalkan kompleksitas bentuk-bentuk formal lahiriah. Kalau dalam perjalanan, itu sholatnya bisa diringkas. Kalau di mobil atau pesawat, itu malah cukup duduk saja, dengan sedikit gerak isyarah. Kalau kondisi perang malah bisa sambil lari-lari. Kalau sakit apalagi, yang tinggal cuma doanya saja. Lainnya hilang.

Pada akhirnya resume sholat terkumpul dalam makna “doa”. Shalat atau shalawat juga mengandung arti doa. Doa itu bahasa hati. Bahkan sebagian besar isi sholat adalah doa dalam keadaan mulut terkunci.

Sebagai bahasa qalbu, doa ataupun bentuk komunikasi spiritual ini dikunci oleh Alquran dalam kata “khusyuk”. Jadi bukan sekedar komat-kamit. Sukses atau tidaknya seseorang dalam berhubungan dengan Allah, indikatornya khusyuk. Dijelaskan dalam Alquran: “Sungguh beruntung orang-orang beriman. Yaitu yang khusyuk dalam sholatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2). Tidak semua orang mukmin beruntung. Kecuali yang khusyuk dalam sholatnya. Sebab, inti keimanan itu sholat. Penyembahan yang dilakukan sepenuh jiwa (khusyuk).

Khusyuk itu bentuk “perbincangan” dan “keterhubungan” dengan Allah. Kehadiran hati. Fokus. Tali ikatan ruhaniah dengan Allah. Rabithah. Konsistensi mata batin untuk terus menatap kiblat ruhaniah, cahaya Allah. Dimensi ingat yang kuat terhadap-Nya. Pertemuan wajah dengan Wajah. Itulah mengapa, Alquran sering juga menerjemahkan sholat sebagai “dzikir”. Dirikanlah sholat untuk berdzikir -mengingatku (QS. Thaha: 14). Dalam Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin, hal. 10-11, Syekh Abdurrauf as-Singkili pernah menjelaskan tentang pentingnya visualisasi wajah “nurullah” dari seorang syekh. Metode khusus ini banyak hilang dari dzikirnya orang-orang modern. Namun tidak susah untuk dipelajari. Yang paling sulit itu adalah menemukan wajah yang bisa dipercaya, yang ada kekeramatan Tuhan di dalamnya. Karamallahu wajhah.

Karena sholat adalah dzikir, harus ada sesuatu yang diingat. Ditatap. Sehingga dalam tasawuf, memiliki Guru Ruhani (seorang rasul atau wali ahli warisnya) menjadi prasyarat makrifat (wushul). Karena ruhani seorang guru yang maksum merupakan kiblat, washilah atau “buraq” yang memperjalankan seorang hamba ke sisi Tuhannya. Sehingga; kehadiran para pemimpin dan pemberi petunjuk dalam wujud nabi, rasul, imam, dan wali-wali; menjadi sunnatullah untuk setiap masa. Karena mereka merupakan washilah; “tali” antara umat dengan Tuhannya. Tanpa ini, ruhani kita akan tercerai berai dengan Tuhan. Tak ada dari kita yang bisa terbang langsung ke hadirat Allah SWT. “Kalau bisa, lebih hebat kau daripada Nabi!”, begitu gaya gertak anak Medan.

Nah! Ketika inti dari sholat adalah doa, dzikir dan khusyuk; manusia menjadi terhubung dengan Allah. Karena disinilah letak ini pertautan dimensi ruhani manusia dengan Ruh Yang Maha Quddus. Sehingga, kesadaran ketuhanan menjadi tinggi. Bahkan pada level tertentu, Allah itu benar-benar hadir. Sehingga gerak sholat menjadi gerak ketuhanan itu sendiri. “Tuhan menyembah Tuhan”, begitu bahasa tasawufnya. Karena bukan kesadaran rendah material manusia lagi yang berhubungan dengan Tuhan. Melainkan kesadaran suprarasionalnya.

Orang menjadi keramat atau membawa mukjizat, itu karena dimensi kehadiran Tuhan (khusyuk) tinggi sekali. Khusyuk dapat menyebabkan sang pecinta (lover) lebur dalam objek Cintanya (Beloved). Khusyuk inilah hakikat dari sholat. Faktor yang menentukan kemenangan seorang nabi dan kaum mukmin lainnya. Qad aflahal muknimun!

Ketika dimensi dzikir dan khusyuk ini berkekalan sepanjang waktu, jadilah ia sebagai sholat “berketerusan” (daa-imun, QS. Al-Ma’arij: 23). Sebuah bentuk sholat abadi, tidak mengenal tempat dan waktu. Terus dilakukan “sambil berdiri, duduk, dan berbaring” (QS. Aali Imran: 191). Ayat ini menjadi gambaran, bahwa sholat ini dilakukan sepanjang masa; dalam kondisi dan keadaan apapun. Karena itulah, para sufi selalu menjaga wudhuk. Karena mereka terus menerus “sholat”, 24 jam. Sepanjang masa.

Maka, menuduh sufi tidak sholat, itu tidak bijak. Mungkin anda tidak melihat bagaimana mereka sholat. Padahal, dimanapun anda melihat mereka, lagi sholat itu. Itu khusus bagi sufi betulan. Kalau sufi abal-abal, tidak tau kami. Karena di masjid juga banyak yang sholat, tapi abal-abal juga. Tidak khusyuk. Bahkan imamnya sendiri begitu. Pikirannya entah kemana-mana. Alih-alih hadir Allah, yang masuk ke alam mental kita saat sholat  justru kambing, kerbau, utang, anak, istri, bank syariah, bank konvensional, dan entah apalagi.

Ah! Tak usahlah kita urus orang lain. Saya juga tidak sebaik mereka. Sekarang kita fokus untuk perbaikan diri sendiri. Belajar khusyuk. Ini penting. Sebab, koneksitas kita dengan Allah diukur dari kemampuan khusyuk. Paling tidak bisa anda uji dalam sholat syar’i yang telah dibatasi dalam “5 waktu”, sebelum masuk dalam bentuk sholat hakiki “sepanjang waktu”. Kalau 5 waktu gagal khusyuk, di luar itu pasti lebih kacau lagi. Pasti!

Berhasil khusyuk, hebat. Kalau tidak, sama-sama kita perbaiki lagi. Sampai ‘mati’ dimensi materialitas kita: “tidak terasa saat panah dicabut dari kaki”. Begitu gambaran spiritualitas kefanaan Sayyidina Ali saat sholat. Berat mungkin buat kita. Tapi kita harus terus berupaya untuk lebih baik. Cuma, makin tua makin susah khusyuknya. Itu pula masalahnya. Dan itu terjadi karena kita terlalu cinta ‘dunia’. Dunia adalah keseluruhan hidup dan ambisi kita. Apa yang kita fikirkan dan kerjakan, semuanya adalah dunia. Semua telah menggurita. Telah menjadi memori alam bawah sadar kita. Namun tidak berhasil membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Justru sebaliknya, semakin meningkatkan rasa was-was dan melemahkan daya ingat kita kepada Allah SWT.

Lalu, segala bentuk visualisasi “dunia” ini muncul kembali dalam sholat kita. Sholat, yang seharusnya menjadi sebuah ruang ibadah yang begitu privacy dan digunakan hanya untuk mengingat Allah; yang muncul justru aneka ragam imajinasi “dunia”. Kuat sekali pengaruh dunia bagi sholat kita. Tidak diundang, hadir Dia. Inilah penyebab sholat kita menjadi “terlempar”. Tanpa dimensi khusyuk yang menjadi hakikat ukhrawi, ibadah-ibadah kita menjadi “batal”. Tertolak. Bersetan.

Secara fikih, mungkin tampilan gerak dan bacaan doa kita dianggap “sah”. Tapi ruhaninya bisa ter-reject. Karena yang diterima Allah itu sisi ruhaniah ikhlasnya. Ikhlas itu adalah bentuk “kehadiran Allah”. Surah Al-Ikhlas misalnya, tidak ada kata “ikhlas” disitu. Itu surah “Tauhid”. Ikhlas merupakan bentuk ke-ahad-an, keterintegrasian, menyatunya seorang hamba dengan Tuhannya -secara batiniah. Syeikh Abdurrauf as-Singkili, dalam Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin, hal. 7 juga menyebut kalimah tauhid (Laa ilaha illa Allah, penafian segala sesuatu) sebagai kalimah ikhlas.

Maka; “Tinggalkanlah dunia, agar engkau berjumpa Tuhan”. Ini prinsip sufi. Namun sering disalah pahami. Dikira harus mati dulu, baru bisa konek dengan Tuhan. Atau meninggalkan kesenangan duniawi untuk bisa dekat dengan Allah. Bukan. Putuskan hubunganmu dengan angan-angan duniawi.  Itulah khusyuk, dimensi ukhrawi dari segala bentuk ibadah. Sebab, Allah itu unsur ukhrawi (“langit”). Berhubungan dengan-Nya tentu harus dengan terlebih dahulu menghibernasi unsur-unsur duniawi (hayalan mental). Itulah makna “dunia” yang ditinggalkan kaum sufi. Bukan tidak naik mobil dan tidak boleh punya rumah mewah. Bukan. Tapi memastikan unsur ketuhanan (rabithah) tidak pernah lekang saat menikmati berbagai kebahagian materi.

Sayangnya, topik “khusyuk” yang sangat esensial ini bukan wilayah kajian fikih dan syariat. Melainkan bahasan dan amalan dalam tasawuf dan tariqat. Bahkan ada kurikulum khusus dalam tradisi esoteris Islam, berupa suluk/khalwat, untuk melatih daya spiritual ini. Betapa banyak orang yang cacat dalam beragama, ketika mengabaikan prosesi penyucian dan perbaikan elemen ruhaniah ini. Sebab, bersyariat saja tidak menyempurnakan keislaman kita. Korupsi misalnya, itu terjadi pada saat orang-orang hanya beragama sampai pada level syariat saja. Pada level makrifat, ini tidak mungkin terjadi. Pada level syariat, secara formal kita sudah beragama. Sudah bersyahadat. Sudah sholat. Sudah puasa. Sudah zakat. Sudah haji.  Artinya, secara lahiriah kita sudah Islam. Tapi secara batiniah, belum tentu.

Betapa banyak penipuan dilakukan oleh orang-orang yang sholat. Saat sholat pada 5 waktu, ia ingat Tuhan. Di luar 5 waktu, dia lupa Tuhan. Tidak sholat lagi. Sholatnya sangat parsial, hanya pada waktu tertentu saja. Padahal, jenis sholat yang mencegah keji dan mungkar adalah bentuk sholat hakikat, sholat berketerusan (Daa-imun). Sholat Daim adalah sholat yang menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas dan pekerjaan, sehingga seseorang tercegah dari akhlak tercela. “Dirikanlah Sholat, sesungguhnya sholat itu adalah yang mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45).

Rasa (muraqabah) akan kehadiran Allah, itulah sholat. Karena; begitu kau mau mencuri, lalu hadir Allah, pasti engkau batal melakukan itu. Karena, kalau kebenaran (Haqq) datang, yang batil pasti sirna (QS. Al-Isra: 81). Seandainya kita terjerumus pada sebuah tindakan nista, sebenarnya saat itu kita sedang meninggalkan sholat. Sedang putus rabithah. Sedang hilang ingat akan Allah dan Rasulullah. Begitu Allahnya hilang, gerak setan menjadi aktual dalam diri kita.

Maka wajar, makin kuat kampanye syariat Islam, makin menjadi-jadi korupsinya. Pun makin tinggi ilmu tauhid, makin kuat hafalan Qur’an; makin arogan dan makin sering kita menggali dosa orang. Mazhab apapun itu. Mau Syiah. Mau Ahlussunnah. Mau Wahabi. Terserah. Jadi iblis kita. Karena peningkatan ilmu, anggaran dan hafalan tidak berbarengan dengan peningkatan rasa akan kehadiran Tuhan, taqwa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s