MENGENAL “QARIN”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.45 | Juni 2021


MENGENAL “QARIN”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dua kekuatan yang selalu mempengaruhi manusia. Yang satu disebut “force” (degrading energy). Satu lagi “power” (empowering energy). Agama membahasakan dua kekuatan ini sebagai “iblis/jin” dan “malaikat”. Mereka ini qarin, atau the accompanying energy. Gelombang kesadaran yang tarik menarik, yang menemani gerak kita setiap hari.

Manusia: antara Iblis dan Malaikat

Level kesadaran manusia bertingkat-tingkat. Para sufi dalam kitab-kitab klasiknya, sering membagi ini dalam maqam-maqam (spiritual stations). Mengawali penjelasan ini, saya pinjam “Power vs. Force” (Hawkins, 2014) yang membagi level spiritualitas dalam 3 tingkat. Tingkat pertama/level rendah (nilai 0-200). Tingkat kedua/level antara (nilai 200-500). Tingkat terakhir/level tinggi (nilai 500-1000).

Level 0-200 adalah wilayah “kesadaran Iblis”. Iblis adalah bentuk gelombang yang menghancurkan, contracted (force). Lammah syaithaniyah. Daya fujur. Bisikan jahat. Energi buruk. Getaran negatif. Elemen api (bukan api sungguhan yang menyala-nyala dalam bentuk material, tapi karakter). Energi pada level ini bisa “membakar” dan membawa manusia ke jurang kehancuran.

Hawkins menyebutkan sejumlah bentuk kesadaran yang berbau “iblis” yang eksis pada level ini. Seperti: Shame, guilt, apathy, grief, feat, desire, anger and pride. Bentuk-bentuk kesadaran ini melahirkan emosi dan life-view yang penuh rasa “was-was”. Seperti,  humiliation (elimination/miserable), blame (destruction/evil/condemnantion), despire (abdication/hopeless), regret (despondency/tragic), anxiety (withdrswal/frightening), craving (enslavement/disappointing), hate (aggression/antagonistic), serta dignity (inflation/demanding). Kalau anda membuka Alquran, bentuk-bentuk kesadaran ini ditemukan pada karakter iblis. Khususnya sifat putus asa, merasa tercampak (terbuang), angkuh (pride), benci, dan sebagainya.

Sedangkan level 500-1000 adalah wilayah “kesadaran malaikat”. Malaikat adalah wujud dari kekuatan yang menghidupkan (power). Lammah malakiyah. Daya taqwa. Bisikan kebaikan. Energi baik. Getaran positif. Elemen cahaya (bukan cahaya sungguhan dalam bentuk gelombang material, tapi karakter unsurnya). Energi pada level ini bisa “menghidupkan” dan membawa manusia ke puncak kebahagiaan.

Hawkins memetakan beberapa model kesadaran yang berbau “malaikat” yang ada pada level ini. Seperti: love, joy, peace, and enlightenment. Bentuk-bentuk kesadaran ini melahirkan emosi dan life-view yang penuh rasa “damai”. Seperti;  reference (revelation/benign), serenity (transfiguration/complete), bliss (ilumination/perfect), dan ineffable (pure consciousness). Kalau anda membaca Alquran, bentuk-bentuk kesadaran ini ditemukan pada karakter insan kamil, atau orang-orang yang dinaungi malaikat. Hidupnya penuh cinta, kepasrahan total kepada Tuhan, damai, dan tercerahkan.

Yang paling menarik adalah level 200-500, dan saya menyebutnya sebagai “level antara”. Level inilah yang menyebabkan manusia menjadi manusia. Karena disinilah letak peran dari “akal/intelektual”, dan sejumlah kesadaran pendukungnya (i.e., courage, neutrality, willingness, acceptance and reason). Lahirnya fungsi-fungsi akal inilah yang menjadikan Adam sebagai sapiens (pemberontak yang berakal). Dalam agama disebutkan, sesuatu yang menyebabkan manusia menjadi manusia adalah akalnya. Tanpa itu, manusia jatuh menjadi binatang (reptilians).

Sebagai manusia yang berakal, salah-salah, kita bisa diseret oleh kekuatan-kekuatan bernilai 200 ke bawah (iblis). Sehingga menyebabkan kita semakin jauh dari kebahagiaan. Disatu sisi, otak memang powerful. Tapi tidak bisa menjangkau hakikat kebahagiaan. Akal tidak punya frekuensi untuk menjangkau rasa dari Zat (Tuhan). Namun, jika bisa menemukan malaikat (gelombang tinggi yang bernilai 500 ke atas), manusia bisa mikraj ke puncak makrifat.

Sampai disini, saya ingin menyimpulkan. Bahwa sesungguhnya, yang membuat manusia menjadi manusia adalah eksistensi “akal” (makhluk bernilai 200-400). Tetapi, hanya dengan memiliki akal tidak membuat manusia menjadi sempurna. Dia butuh sesuatu yang lebih tinggi, yaitu wahyu (bimbingan langsung dari Tuhan/hadirnya kesadaran malaikat). Karena itulah, malaikat disebut sebagai “qarin”. Pendamping, teman, sahabat; yang bisa mengantarkan manusia kepada Tuhan. Sementara disisi lain, ada satu pihak lagi yang tidak mau kalah, dan juga ingin menjadi qarin kita. Yaitu iblis/jin (kesadaran level 200 ke bawah). Kalau sungguhan berteman dengannya, habis kita!

“Setiap kamu ada qarin dari bangsa jin, dan juga qarin dari bangsa malaikat” (HR. Ahmad dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud).

***

Banyak orang memahami iblis dan malaikat sebagai “makhluk eksternal”. Ini akibat tafsir agama yang cenderung memenuhi kebutuhan perseptif orang awam, sehingga memberi “sosok” pada setiap wujud. Akhirnya, penggambaran iblis dan malaikat menjadi dikotomis (sebagai wujud di luar diri manusia). Akibatnya, iblis dipercayai sebagai makhluk bertanduk yang bisa merasuki siapapun. Padahal, secara saintifik, ia bisa dipahami sebagai gangguan psikologis. Getaran-getaran yang inheren dan laten dalam diri. Kalau jiwa melemah, kosong dari Cahaya (kesadaran akal dan spirit melemah), kekuatan-kekuatan ini menjadi aktual.

Karena itu, iblis dan malaikat harus mulai dipahami sebagai kesadaran “internal”. Sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari manusia sejak awal penciptaan. Sesuatu yang membuat manusia menjadi makhluk multidimensi adalah karena kehadiran gelombang malaikat dan iblis ini. Malaikat adalah sisi kemanusiaan yang senantiasa sujud (obedience). Sedangkan sisi kufurnya adalah iblis (arrogance). Iblis dan malaikat adalah bentuk gelombang alamiah manusia kepada fasik dan takwa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha (QS. Asy-Syam: 8).

Iblis/jin dan malaikat, keduanya adalah “qarin”. Bagian integral dari adam. Tidak terpisah. Pendamping. Teman kecil. Bawaan lahir. Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah oleh Jabir bin Abdillah, “Sesuatu yang secara nature sudah mengikuti, melekat, atau mengalir dalam darah”.

Artinya, iblis (secara batiniah) bukanlah makhluk yang berdiri berputar-putar di kiri dan kanan; lalu mulai berbisik-bisik ke telinga kita. Atau sebaliknya, malaikat bukanlah wujud bersayap mirip burung, yang terbang-terbang di atas kepala kita. Mereka adalah “makhluk batiniah” yang senantiasa berbicara dan bahkan dialogis dalam diri kita. Tidak berjarak, dan menyatu dengan kita.

Kalau kami boleh vulgar, secara lahiriah, kitalah iblis/jin dan malaikat itu. Sebagai makhluk, kita semua memiliki dua bentuk: minal jinnati (gelombang-gelombang kesadaran yang sangat gaib/halus/jin) wannas (wujud kasar manusia). Iblis dan malaikat adalah wujud batiniah dari gelombang kesadaran (akhlak) kita. Dalam rupa lahiriahnya, adalah kita semua. Sehingga tidak aneh, Al-Quran juga membahasakan kehadiran malaikat dalam “rupa” manusia. Memang manusia itu. Tapi karakter ruhaniahnya berwujud malaikat. “Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus (Jibril) roh Kami kepadanya (Maryam), maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (QS. Maryam: 17):

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

Dalam ayat lain diceritakan tentang orang-orang berkarakter malaikat yang bertamu kepada Ibrahim: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaaman”, Ibrahim menjawab: “Salaamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal” (QS. Adz-Zariyat: 24-25):

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ . إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

Hud as juga pernah didatangi manusia-manusia malaikat: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, Dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan Dia berkata: “Ini adalah hari yang Amat sulit” (QS. Hud: 77):

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Jadi, iblis dan malaikat merupakan “gelombang-gelombang batiniah” yang tentu tidak bisa dilihat (namun ia juga bisa memiliki proyeksi bentuk-bentuk mental di alam eksternal). Dua energi inilah yang akan terus menyertai kita sampai mati. Dan dengan dua kekuatan ini pula manusia menjadi unik. Sempurna. Komplit. Punya free-will: kekuatan Tuhan (qudrah dan iradah) dalam skala kecil. Manusia bisa menjadi iblis. Sekaligus malaikat. Bisa ingkar. Bisa patuh. Bisa ke neraka. Bisa ke surga. Bebas!

Manusia bisa keramat dengan dua daya ini. Sebab, iblis keramat. Malaikat juga. Keduanya membawa transendensi energi dari Tuhan. Kalau mampu konek dengan iblis, anda bisa keramat. Kalau konek dengan malaikat, juga begitu. Kalau belum keramat,  berarti belum konek dengan apapun.

Hanya saja, daya keramat malaikat sudah “disertifikasi”. Bahasa simboliknya, unsur cahaya lebih murni dari api. Lebih halus. Lebih tajam. Lebih berpower. Terjaga (bersanad). Legal. Otoritatif. Sehingga kekuatan malaikat bisa mengalahkan setan. Seperti kekuatan magis Musa yang mampu menelan habis sihir Firaun. Atau seperti kekuatan makrifat para wali, yang menundukkan para dukun.

Kekuatan inilah yang dimiliki para guru spiritual yang certified (i.e., nabi, wali, imam atau mursyid). Sehingga memungkinkan bagi mereka untuk mensucikan jiwa manusia. Mengislamkan qarin. Mengislamkan Ruhani orang-orang. Me-reset jiwa para murid dari dominasi “gelombang iblis”, ke berbagai “gelombang malaikat”. Membawa umat dari “gelap” kepada “cahaya”. Dari alam Jabarut ke alam Malakut. Dari gerak “kiri” ke gerak “kanan”. Dari ashabusy syimal ke ashabul yamin. Dari neraka ke surga.

Mukhlisin

Orang-orang yang sudah aktual kekuatan malaikatnya, dalam qiraat tertentu disebut “mukhlisin” (orang-orang yang telah hadir keikhlasan/ke-ahad-an cahaya Tuhan). “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali para hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka” (QS. Shad: 82):

الَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Orang-orang mukhlas sudah mengenal “musuh” paling nyata (iblis). Juga sudah mengenal “mitra” terdekatnya (malaikat). Tau persis wajah mereka. Tau yang mana iblis, walau hadir dalam jubah seorang alim. Tidak mungkin tertipu lagi. Mereka beragama sudah sampai pada tingkat hakikat. Tidak bisa dibohongi. Detektor pembeda antara yang haqq dengan yang bathil sudah berfungsi secara akurat. Kebenaran tidak lagi bersifat perseptif-argumentatif (aqliyah), melainkan absolut (divine conscious, muraqabah hudhuriyah).

Orang-orang mukhlas adalah ahli makrifat. Sudah mengenal dirinya. Sudah mengenal berbagai unsur yang hadir dan menyertainya. Sudah mengenal berbagai “qarin” (kekuatan) yang menemaninya sejak lahir. Baik dari golongan qarin yang menyesatkan (QS. Az-Zukhruf: 36) maupun qarin yang memberi petunjuk. Mereka bahkan bisa berkomunikasi dengan berbagai gelombang ketuhanan dalam diri mereka, dengan para qarin malakutnya. Mereka juga mampu menjadikan malaikat qarin ini sebagai guide dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan. Ah, para malaikat itu kan memang teman-teman yang senantiasa menyertai para nabi.

Orang-orang yang punya level energi tinggi (orang-orang shaleh) juga tau cara mengontrol berbagai vibrasi negatif (iblis) yang selalu muncul untuk menipu dan membisikkan rasa was-was; dari muka, belakang, kanan dan kiri. Melalui proses mujahadah yang panjang, qarin-qarin level rendah ini bisa dijinakkan. Bisa di Islamkan. Sehingga tidak lagi mendominasi. Tidak lagi radikal. Jadi patuh. Diam. Hancur. Hangus. Bahkan terbakar. Karena itulah, orang-orang yang sudah mengenal dan mampu mengontrol diri, punya potensi menjadi maksum.

“Mengenal diri” menjadi tema sentral dalam sufisme. Karena awal dari agama, dalam perspektif kesadaran, adalah mengenal kekuatan diri. Yaitu mengenal bentuk-bentuk gelombang paling tua di dunia, yang hadir sejak awal mula sejarah penciptaan manusia. Yaitu gelombang iblis dan malaikat. Makna “mengenal” disini bukan sekedar paham secara teoritis (alias banyak membaca kitab yang menjelaskan tentang “diri”). Tapi sanggup menjalani ritual-ritual yang mampu membawa kita masuk ke alam spiritual yang lebih tinggi, sehingga berbagai kekuatan malakut dalam diri (i.e., jibril, mikail, israfil, izrail, munkar, nakir, raqib, ‘atid, malik, dan ridwan) menjadi aktif.

KESIMPULAN. Manusia (adam) adalah sapiens, pemberontak yang berakal (cerdas). Pemakan khuldi, sekaligus pembelajar nama-nama ilahi. Keberadaan akal inilah yang mendefinisikan ia sebagai manusia. Dengan akal ia menjadi independen dan mampu berkarya di muka bumi. Tapi akal punya kelemahan, tidak punya perangkat untuk menangkap gelombang (Dzat) Tuhan. Maka, untuk bisa bahagia secara hakiki, ia harus memanfaat satu “qarin” (energi laten) lain yang sebenarnya ia juga miliki. Yaitu “kesadaran malakut” (yang oleh Hawkins diberi nilai 500 ke atas). Hanya ini energi (buraq) yang mampu membawanya bertemu Tuhan. Sementara, kalau lengah, ada qarin (gelombang-gelombang halus) lain yang bisa menenggelamkannya ke kerak penderitaan. Yaitu iblis.  Demonic force ini, menurut Hawkins bernilai 200 ke bawah. Bisa membakar manusia.

Apa yang kami lakukan di artikel ini hanya memberi penajaman terhadap konsep yang disampaikan Prof. David R.Hawkins. Setelah 29 tahun, hasil risetnya ia resume dalam “Force vs. Power” (2014). Sebuah peta yang menggambarkan stations (maqam) kesadaran manusia. Disini kami menambahkan, bahwa angka 200-500 yang ia sebutkan sebenarnya adalah wilayah “antara” (level kesadaran standar manusia). Sedangkan 200 ke bawah adalah gerak iblis, qarin negatif, atau pendamping kiri; yang membawa manusia ke neraka. Sedangkan 500 ke atas adalah gerak malaikat, qarin positif, atau pendamping kanan; yang membawa manusia terbang ke surga.

IbIis dan malaikat, adalah entitas yang senantiasa menyertai kita. Sebenarnya, segala kekuatan yang ada di alam ini terkoneksi dengan manusia. Tidak ada yang terpisah. Ada matriks energi yang menghubungkan semuanya. Kalau kita menyadari ini, maka kita akan setuju dengan hukum “kesatuan wujud” (wahdatul wujud).  Segala sesuatu saling terkait. Saling meliputi. Terintegrasi. Ahad. Sehingga; eksistensi iblis, malaikat, bahkan Tuhan; bisa ditelusuri melalui the inner journey. Karena semuanya ada disitu!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s