SAPIENS, MAKHLUK DI ANTARA DINDING SURGA DAN NERAKA


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.46 | Juni 2021


SAPIENS, MAKHLUK DI ANTARA DINDING SURGA DAN NERAKA
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dunia ini jembatan (qantharah) antara surga dan neraka. Sapiens merupakan makhluk yang berada pada dinding di antara keduanya. Tinggal mencari cara bagaimana kita bisa lompat ke surga. Atau sebaliknya, tergelincir ke neraka.

Inilah makna hadis, bahwa diantara surga dan neraka, ada satu tempat yang sifatnya “antara”. Mereka tidak ke surga, juga tidak ke neraka. Namun bisa melihat (mengetahui keberadaan) keduanya. Itulah dunia, sebuah tempat kehidupan sementara. Sebuah dinding, yang membatasi surga dengan neraka.

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۚ وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّا ۢ بِسِيْمٰىهُمْۚ وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۗ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ

“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk) (QS. Al-A’raf: 46).

Dunia ini memiliki dimensi akhirat. Sebab, dunia ini berada diantara dua alam gaib, surga dan neraka. Namun kita tidak bisa melihat dimensi surga atau neraka, karena seperti disebutkan ayat di atas, mata batin kita masih terhijab!

Jadi, dunia ini memang sebuah tempat yang “tinggi”. Bahkan disebut jannah (garden). Kebun di antara surga dan neraka. Tempat dimana nenek moyang kita pernah tergoda. Orang-orang yang mendiami bumi yang begitu indah, atau wilayah antara yang tinggi ini, disebut ashabul a’raf (QS. Al-A’raf: 48). Hal ini dibahas secara metaforis dalam surah Al-A’raf yang berisi 206 ayat. Surah ini merupakan salah satu dari empat surah terpanjang dalam Alquran. Panjangnya surah ini seolah-olah menggambarkan tingginya kedudukan manusia, serta jauhnya perjalanan menuju akhirat.

Dunia adalah “shirath” (jembatan) menuju syurga. Atau, jika gagal, terpelanting neraka. Di dunia inilah kita merangkak, berjalan atau berlari menuju Tuhan. Yang berhasil, berhasil terus. Yang gagal, gagal terus. Usaha trial and error hanya ada di dunia. Di akhirat tidak ada lagi usaha dan coba-coba. Sehingga, cerita perjuangan maha berat berjalan di atas jembatan yang halus seperti “rambut dibelah tujuh”, itu bukan lagi cerita akhirat. Itu cerita ikhtiyari. Cerita dunia.

Dunia ini titian panjang yang penuh jebakan. Setiap hari, jam, menit dan detiknya penuh ujian. Sangat laten. Seringkali segala sesuatu terlihat abu-abu. Benar salah tidak lagi terlihat. Tipuannya sangat licin dan rapi. Sedikit yang selamat darinya. Kecuali yang menemukan pertolongan Tuhan. Yaitu, yang menemukan “Cahaya”, malaikat atau buraq yang bisa membimbing (“menerbangkan”) secepat kilat kepada Tuhan. Selebihnya pasti ngawur. Ambruk!

***

Kenapa bumi/dunia ini disebut sebagai tempat “antara”  atau qantharah? Kenapa bumi/dunia ini disebut sebagai tempat yang “tinggi” atau a’raf (QS. Al-A’raf 46 & 48)? Lalu bagaimana cara kita bisa mencapai kedudukan yang lebih tinggi (senantiasa bersama Allah atau masuk surga) dan tidak terjatuh ke neraka yang rendah?

Menjawab ini, buka kembali permulaan surah Al-A’raf, yang menjelaskan filosofi penciptaan serta kedudukan manusia. Sebanyak 53 ayat pertama surah Al-A’raf berbicara tentang: (1) proses penciptaan manusia, (2) penempatan manusia di bumi, (3) kehadiran iblis dan malaikat, serta karakter masing-masing, (4) tentang surga dan neraka, (5) peran iblis untuk menarik manusia ke neraka, (6) kehadiran orang-orang yang membawa petunjuk, (7) dan tentang a’raf, tempat kedudukan yang tinggi.

Keseluruhan ayat ini meresume kedudukan manusia yang begitu “tinggi” (sebagai makhluk bumi pilihan Tuhan). Pada saat yang sama, juga mengisyaratkan posisi manusia yang berada pada wilayah “antara”. Wilayah tarik menarik antara pengaruh iblis dan malaikat. Jika terhubung dengan gelombang iblis, manusia akan jatuh. Jika terkoneksi dengan gelombang malaikat, manusia akan naik peringkat. Tugas manusia mencari gelombang yang benar, untuk melengkapi fungsi akalnya.

Manusia menjadi “tinggi” (a’raf) itu karena fungsi akalnya. Tanpa akal, manusia menjadi binatang murni (reptilians). Sehingga adam, dalam kamus ilmiah disebut sapiens. Punya kognisi tingkat tinggi. Cerdas. Dengan fakultas intelek ini ia diangkat sebagai khalifah pengelola bumi. Akal membuatnya mampu berkreasi, membangun peradaban dan teknologi (sesuatu yang tidak dimiliki oleh iblis dan malaikat). Karena manusia lah, bumi menjadi tempat yang bermakna. Tempat segala macam rasa dan karya tercipta. Tempat segala macam ide dan kreatifitas bermunculan. Tempat dimana nama Tuhan disebut-sebut, dan Dia disembah-sembah.

Hanya saja, ini adalah “bumi”. Berdimensi empirik. Positivist. Tempat dimana akal dan inderawi berkreasi. Padahal ada dimensi lain yang lebih tinggi. Yaitu dimensi “langit/surga” (sebuah dimensi dimana Tuhan bisa dirasakan dan dijumpai). Dimensi ini tidak bisa dijangkau oleh akal manusia. Maka dibutuhkan sebuah gelombang lain untuk membawa manusia ke dimensi yang tidak terjangkau oleh akal dan pikirannya. Yaitu gelombang malaikat.  Manusia harus hidup dalam dimensi “kesucian”, melepaskan unsur-unsur jasadiah, menjadi malaikat (becoming the spirit), untuk menjangkau hakikat Tuhan. Tanpa pertemanan dengan malaikat, manusia akan terus berada pada dimensi “antara”, dimensi galau. Tidak bisa bahagia secara sempurna. Akal hanya mampu percaya adanya Tuhan. Tapi hanya dengan wahyu (gelombang malaikat) kita bisa mengenal Zat dan Nama-Nama Ilahi.

***

Dalam perspektif saintifik; malaikat atau iblis (gelombang surga dan neraka), digambarkan sebagai sebuah bentuk kesadaran. Sebenarnya, manusia ini, kalau tubuhnya di zoom-kan secara terus menerus, akan terlihat bahwa seluruh struktur fisiknya tersusun atas kesadaran. Bukan materi an sich. Elemen terdalam yang membentuk manusia adalah gelombang-gelombang energi. Manusia pada level paling sederhana tersusun dari getaran-getaran (vibrasi) atau gelombang cahaya (quark), yang membentuk atom. Lalu atom membentuk jasad. Jadi, esensi dari keseluruhan jasad kita adalah ruh, jiwa, gelombang atau kesadaran. Dalam Islam, ini disebut “qalbu”, segumpal daging yang membawa vibrasi ilahiah. Bukan betulan daging, tapi elemen ruh (gelombang ruhaniah) yang terpancar dalam daging itu.

Qalbu (gelombang-gelombang batiniah) inilah yang harus diperbaiki, kalau menginginkan level kehidupan yang lebih baik. Jika baik qalbu atau ruhnya (gelombang atomik akhlak), baik pula tampilan luarnya. Karena pada ruh/jiwa inilah melekat berbagai unsur kesadaran. Pada ruh ada gelombang-gelombang tinggi (malaikat) yang membuat manusia mampu menjangkau Tuhan. Pada ruh juga melekat gelombang-gelombang rendah (iblis) yang semakin mengaburkan pandangan (menjadi hijab). Sehingga ruh perlu disucikan. Qad aflaha man tazakka, wa zakarasma rabbihi fashalla (QS. Al-‘Ala: 14-15). Kalau ruh sudah suci; segala peribadatan, sholat atau fungsi-fungsi kekhalifahan manusia menjadi tegak. Ketika manusia sudah murni bermain pada gelombang ukhrawi (pada frekuensi malaikat), semua amalnya pasti sampai dan diterima oleh Tuhan. Sudah pasti masuk surga!

KESIMPULAN. Apa yang kami sampaikan di atas, kesimpulan dalam versi lainnya bisa dibaca dalam “Power vs Force : An Anatomy of Consciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior” (David R.Hawkins, 2014). Setelah meneliti selama lebih dari 20 tahun, Hawkins merumuskan bentuk-bentuk kesadaran manusia dalam sebuah peta berskala 0-1000 (nol sampai seribu). Manusia adalah makhluk multidimensi. Unik. Komplit. juga sempurna, dengan memainkan 3 gelombang yang ada. Gelombang rendah (0-200), gelombang antara (200-500), dan gelombang tinggi (500-100).

Skala kesadaran 200-500, adalah wilayah kesadaran manusia sebagai sapiens (makhluk bumi, aqliyah/intelek). Pada skala ini, manusia sudah termasuk makhluk menengah dan berdimensi tinggi (“mendiami tempat yang tinggi”, a’raf). Hewan, tapi sudah berakal. Hayawanun nathiq. Sudah punya potensi untuk masuk ke alam Tuhan. Sudah menyadari atau mengenal “tanda-tanda” adanya surga. Bahkan ayat Al-A’raf 46 di atas  menjelaskan; dunia (a’raf), surga dan neraka ada pada satu tempat, tapi beda dimensi (tertutup oleh tabir).

Selain punya gelombang kesadaran aqliyah, dua komponen lain ikut menyertai manusia. Yaitu, gelombang kesadaran iblis (skala 0-200) dan gelombang kesadaran malaikat (500-100). Dua gelombang ruhiyah inilah yang membawa hidup manusia ke dimensi “neraka” (menderita), bisa juga ke “surga” (penuh syukur dan suka cita).

Wilayah neraka berada pada skala spiritual 0-200 (nol sampai dua ratus). Dan ini merupakan wilayah “kesadaran iblis”.  Sifat was-was manusia muncul pada gelombang ini (semacam pride, anger, desire, fear, grief, apathy, guilt sampai kepada shame). Kalau kita buka Alquran; wujud kesadaran seperti putus asa, merasa tercampak, angkuh, dan benci; ditemukan pada karakter iblis (evil). Semuanya bentuk “force”, gelombang rendah ruhiyah yang bersifat contracted (destruktif). Atau demonic energy yang bersifat “membakar” (fujur, membawa manusia kepada kehancuran).

Sedangkan skala kesadaran 500-1000 (lima ratus sampai seribu), adalah wilayah “kesadaran malakutiyah” (divine consciousness). Pada skala ini; sapiens sudah memiliki gelombang, thariq, atau jalan untuk terhubung dengan Tuhan. Hawkins memetakan love, joy, peace, and enlightenment sebagai contoh kesadaran yang lahir dari gelombang “malaikat”. Dalam perspektif agama, bentuk-bentuk kesadaran penuh cinta, kepasrahan kepada Tuhan, damai, dan tercerahkan ini; ditemukan pada karakter insan kamil, atau orang-orang bertaqwa yang dinaungi spirit ruhul quddus. Orang-orang yang hidupnya digerakkan oleh kekuatan-kekuatan malaikat; secara laduniah senantiasa memperoleh hidayah, wahyu, atau ilham dari sisi Tuhan. Hanya dengan power malaikat kita bisa mikraj (“terbang”), melakukan expansi ke dimensi surgawi, menjadi homo deus (insan ilahiyah).

Menemukan gelombang/kekuatan malaikat adalah inti ajaran Islam. Secara secara konseptual, siapapun bisa mengulas “malaikat”. Semua kita percaya dengan elemen ini. Tetapi secara faktual, siapa yang mampu berinteraksi dan mensimulasikan powernya? Hawkins sendiri juga baru pada tahap mampu mengurai teori. Belum pada titik menemukan kekuatannya. Tidak bisa tembus ke alam malakut. Sakit ia. Untuk tembus level 500 ke atas (divine consciouness level), anda harus menemukan “jalan rahasia”, metode salik para nabi. Menemukan Jibril, Guru.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s