“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.52 | Juli 2021


AGAMA PAGAN
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apa sih agama pagan?

Agama pagan, itu agama lahiriah. Agama yang terhenti pada bentuk-bentuk lahiriah. Rukuk dan sujud hanya sampai ke arah kakbah, batu, tembok, tiang, pohon, patung, bintang, bulan, binatang dan gunung. Tidak sampai kepada penglihatan dan percakapan yang aktual dengan Tuhan.

Para nabi membawa agama yang hakiki. Agama yang asli. Agama dengan sebuah metode tertentu bisa dibuktikan bahwa Tuhannya berwujud. Hidup. Berkata-kata. Bisa diajak berkomunikasi. Para nabi mengajarkan bentuk penyembahan yang “sampai”. Terjawab. Konek. Vibratif. Terhubung.

Tapi para pengikut dan penerusnya sering kehilangan bahkan meninggalkan dimensi esoteris yang sakral itu. Lalu kembali kepada bentuk-bentuk kecerdasan pagan (lahiriah formal an sich). Yang tertinggal dari ibadah hanya gerak fisik. Putus kontak dengan Tuhan. Meditatif (khusyuk), tapi khayali. Tidak dialogis.

Agama-agama samawi berubah menjadi ardhi (memberhala), manakala putus hubungan dengan Tuhan. Islam paska Muhammad pelan-pelan juga menjadi pagan. Hanya tertinggal keyakinan, ritus dan ritualnya saja. Rukuk dan sujud terus terjadi. Tapi Tuhannya sudah gaib. Tidak lagi hadir untuk berbicara. Sudah mati.

Islam sudah menjadi agama patung. Sudah sama dengan derajatnya dengan agama Hindu, Budha, Kristen dan Yahudi. Yang bisa dijumpai melalui agama ini cuma tembok Kakbahnya saja. Tuhannya tidak. Qur’an hanya jadi hafalan. Sedangkan Kalam Tuhan sudah tak terdengar lagi.

Jangan kira para penganut agama pagan, itu orang-orang hutan. Tidak. Mereka itu para rahib dan pendeta. Intelektual, politisi dan pengusaha. Paham agama. Bahkan hafal ayat dan mantra-mantra. Macam kita juga. Cerdas. Ibadahnya kuat. Tapi tidak tau lagi dimana Tuhan. Hanya tau Namanya saja.

Jangan kira yang dilawan Ibrahim itu agama baru. Bukan. Yang ditentangnya itu agamanya sendiri. Agama ayahnya. Agama warisan Nuh yang telah menjadi pagan. Agama yang juga membangun masjid, gereja, sinagog, dan kuil-kuil. Tetapi telah menjadi patung. Kosong, mati, luput dari kehadiran Tuhan.

Penyakit manusia dari zaman ke zaman, itu sama. Setelah mengenal Tuhan, lalu “sesat” lagi. Maka sepanjang zaman terus menerus diutus rasul, seorang pembawa “frekuensi ketuhanan”. Baik dalam bentuk para nabi, imam ataupun wali-wali. Sehingga manusia selalu punya peluang hijrah dari paganisme agama (agama yang telah jatuh pada pensakralan simbol-simbol semata), kepada pengalaman merasakan kehadiran berbagai gelombang ketuhanan (Ruh) secara nyata.

Syirik (paganisme) itu halus. Yaitu, absennya Wajah Tuhan pada dimensi ruang dan waktu peribadatan. Sehingga kita terjebak pada persekutuan hanya dengan objek-objek alam, bahkan dengan materi yang kita ciptakan (bangun) sendiri. Itulah mengapa, panjang mujahadah Ibrahim untuk menemukan Tuhan. Sama panjangnya dengan pengembaraan anda para penempuh jalan; dari berbagai ritus materialistik syar’iyyah, sampai kepada perjumpaan dengan wujud-wujud yang bernilai spiritual.

Ketika agama pagan menguasai sebuah daerah/negara (sekalipun mengatasnamakan Islam), ia bisa merubah sistem menjadi koruptif dan otoriter. Penuh simbol dan ritual. Tapi kosong dari Tuhan. Sehingga di isi setan. Bahkan menjadi sangat brutal.

BACA JUGA: “Paganisme Tauhid”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin