ISLAM KREATIF


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.61 | September 2021


ISLAM KREATIF
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hidup harus kreatif. Bertuhan juga begitu.

Ada sisi kaku dari agama. Namanya syariat. Saklek. Itu sudah semacam SOP standar dalam melakukan penyembahan. Tuhan dianggap angker. Sehingga tidak boleh ada gerak berlebihan. Tidak boleh ada canda. Tidak boleh ada tawa. Bertuhan tidak boleh lucu.

Tapi hidup ini bukan hanya cara menyembah Tuhan secara kaku. Tapi juga ada ruang-ruang kreatif untuk menemui-Nya. Ada ragam pintu menuju syurga, dengan cara-cara bahagia.

Mirip otak kiri dan otak kanan pada manusia. Ada sisi kritis. Ada sisi kreatif. Sisi kritis, itu tauhid dan fikih dengan kejumudannya. Tuhan dipahami sebagai sosok berjarak, tak terhingga. Dengan dalil-dalil masa lalunya. Dengan tafsir halal haramnya. Dengan cerita-cerita siksa dan nerakanya.

Sedangkan sisi kreatifnya adalah tasawuf, dengan segala keanehannya. Disini, Tuhan dikenal sebagai kawan dekat, toleran dan lucu. Keberadaannya bisa di up date untuk segala tempat dan masa. Tuhan secara liberal dihadirkan pada aneka bentuk budaya, cipta dan karya. Sehingga lahir musik, tari, kenduri, dan beragam inovasi sosio religius dengan segala bid’ahnya.

Kekakuan beragama, paling sedikit terjadi 5 kali sehari. Dengan durasi, let’s say, 10 menit perwaktunya. Totalnya hanya sekitar 1 jam sehari. Selebihnya, 24 jam, itu wilayah kreatif. Maknanya, hanya 4% dari sisi hidup anda yang dibuat menjadi benar-benar kaku. Selebihnya, 96%, anda harus super kreatif. Pun dalam 7 hari, hanya satu hari yang diseru untuk jum’atan. Itupun sebentar saja. Paling 1 jam. Selebihnya, anda bebas melanglang.

Maka, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu pada sisi yang kaku. Nabi pun pernah mengusir orang-orang yang tidak pernah keluar dari masjid. Sebab, dunia ini tidak dikuasai oleh mereka yang menguasai masjid. Melainkan yang memiliki pabrik. Artinya, bukan karena ramai jamaah subuh an sich kita menang. Kecuali jamaahnya memang orang-orang rajin dan kreatif, yang sudah membangun pola dan komunikasi binsi sejak pagi. Karena China maju bukan karena rajin berjamaah subuh. Tapi memang sudah memulai bisnis sejak subuh. Magnet rezekinya kuat. Karena antusias menyambut hari.

Jadi, dunia ini dikuasai oleh jamaah yang kreatif. Barat itu menang bukan karena kuat ritual. Tapi kreatif dalam aneka sisi muamalahnya. Ekonomi, politik, teknologi, dan sebagainya. Kita jangan seluruhnya ikut barat. Tapi bisa belajar dari kesuksesan mereka. Sebab, syariah dan ritual-ritual personal itu penting. Karena kaifiyat-kaifiyat religius menjadi sumber energi dan etika bagi kesalehan personal. Tapi kreatifitas sosial juga harus digiatkan.

Jangan sampai ketika bicara agama, seolah-olah selalu tentang fikih ibadah. Itupun hanya tentang taharah, shalat, puasa, zakat, dan haji. Atau seputar itu. Sewaktu kecil mengaji thaharah. Sampai tua masih membaca kitab tentang itu. Tidak tamat-tamat. Kapan masuk wilayah kreatif? Kapan majunya?

Suci itu penting. Walau sudah puluhan tahun bersuci, kita tidak pernah menjadi “orang suci”. Karena suci itu bukan tentang teknik membasuh kulit dengan air, tanah, debu atau batu. Tapi cara bagaimana jiwa bisa memperoleh celupan, sentuhan langsung oleh Tuhan. Sehingga jiwa menjadi dinamis. Menjadi super kreatif.

Jika syariat melahirkan tanda hitam di jidat; tasawuf melahirkan mukjizat, tanda-tanda kreatif akan kehadiran Tuhan. Namun, sholat, meskipun singkat, itu kunci tenang. Sedangkan menemukan Tuhan pada 96% wilayah kreatif, itu kunci menang. Seruan “hayya ‘alal falah”, itu seruan untuk menyebar. Untuk memasuki wilayah yang 96% itu. Umat Islam tertinggal, bukan karena lemah fikih dan syariatnya. Bukan. Tidak ada umat yang paling rajin mengkaji halal haram, selain umat Islam. Tidak ada umat yang paling suka mengelompokkan orang dalam kategori bid’ah, kafir dan sesat, selain umat Islam. Tapi tidak maju-maju. Miskin dan dijajah terus. Karena, beragama pada ambang 4%. Kalau terus berkutat pada 4%, kita mungkin tidak mengenal yang namanya bank islam. Karena, bank itupun sebenarnya punya kafir, yang secara legal formal kita ganti nama. Syukur kalau isinya secara kreatif juga ikut berubah.

Coba lihat negara-negara Islam yang maju. Ambil contoh Timur tengah. Iran misalnya. Bukan ditakuti US dan Israel karena besarnya jubah dan teriakan takbir para ulama mereka. Melainkan, disamping kreatifnya ideologi perlawanan, juga karena pesatnya perkembangan sains dan teknologi. Sampai-sampai program pengayaan nuklirnya diganggu terus. Bahkan karena itu mereka masih diembargo. Dibekukan aset-asetnya di luar negeri. Bandingkan dengan Saudi. Tawaf dan sujudnya orang siang malam di dua Kota Suci, bukan hal yang menakutkan bagi musuh-musuh Islam. Kalu bisa terus begitu, agar tidak sempat kreatif memikirkan nasib Palestina.

Jadi, tugas terberat sekaligus puncak tugas kemanusiaan kita adalah “jihad”. Memperluas daya jangkau agama, untuk masuk menggempur wilayah 96%. Mengislamisasi secara kreatif seluruh arena kehidupan melalui kehadiran-Nya. “Fa idza qudhiyatish shalatu fantasyiru fil-ardhi wabtaghu min fadhlillahi wadzkurullaha katsiran la’allakum tuflihun” (QS. Jumu’ah: 10). Selesai sholat, selesai berdzikir, bergerak. Make a move. Be creative. Bring along your God. You’ll win!

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s