“Jurnal Suficademic” | Artikel No.71 | Oktober 2021


TENTANG AYAT MAULID
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ayat ini disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, tentang maulid Nabi Isa as. Sengaja disampaikan, agar kita paham betapa pentingnya maulid seorang nabi. Dalam perspektifnya sendiri, Nabi Isa as mengungkap betapa mulianya yaumul milad (kelahiran), yaumul maut (haul wafat), dan juga yaumul ba’ats/bi’tsah (kebangkitan):

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“(Isa berkata) Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan (maulid), pada hari aku meninggal (maut) dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali (ba’ats) (QS. Maryam: 33).

Apa Makna Ayat ini?

Pertama, nabi memperingati hari kelahirannya. Nabi mengingat hari lahirnya masing-masing dan mengadakan selamatan untuk dirinya sendiri. Para nabi menganggap sakral hari kelahiran mereka, sehingga lahir “salam” (doa-doa kesejahteraan) untuk diri mereka sendiri. “Wassalamu ‘alayya yauma wulidtu” (dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan…”).

Maka, jika seorang Isa pantas mengucapkan selamat atas kelahirannya; apakah tidak pantas bagi seorang Muhammad melakukan itu untuk dirinya sendiri? Apakah tidak pantas bagi kita untuk membesarkan hari kelahirannya? Padahal, ia adalah Nabi yang kemunculannya paling ditunggu oleh semua nabi, jauh sebelum Beliau lahir. Termasuk Isa as yang terang-terangan mengagungkan kedatangan seseorang setelahnya yang bernama Ahmad:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad..” (QS. As-Shaff: 6).

Sampai disini sudah jelas. Merayakan (membesar-besarkan) maulid adalah sebuah doktrin Quran, dan juga sunnah para nabi. Ketika disebut “hari lahir” (yaumil milad), itu bukan merujuk pada indikasi hari an sich (Senin, Selasa, Rabu dan sebagainya). Tapi juga keseluruhan  momentumnya. Baik hari, tanggal, bulan maupun tahunnya. Bahkan, hari Senin sepanjang tahun juga dapat dinisbahkan sebagai maulid. Sebuah hadis menyebut, Nabi berpuasa setiap Senin. Salah satu niatnya adalah untuk merayakan maulid.

Karena itu, perayaan dan kegembiraan atas maulid Nabi bisa saja dilakukan pada satu hari saja, atau berbulan-bulan, bahkan sepanjang tahun. Ini tentu dilakukan dalam suasana gembira: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad SAAW) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira (QS. Yunus: 58).

Bagaimana Cara Mengekspresikan Rasa Gembira terhadap Maulid?

Yang paling utama adalah adanya marhaban atau doa-doa selamatan (sholawat dan ucapan salam), seperti disebut dalam Maryam 33 di atas. Para nabi melakukan itu. Allah dan para malaikat-Nya pun melakukan itu kepada Nabi. Selebihnya; kalau mau potong ayam, kambing, sapi atau lembu; itu urusan masing-masing. Itu persoalan kedermawanan. Itu bentuk-bentuk dari rasa senang dan gembira. Itu ekspresi bid’ah (inovasi) masing umat, tempat dan zaman. Kata Nabi, antum ‘alamu bi umuri dunyakum. Kalian cari sendiri cara-cara mengekspresikan rasa religiusitas sesuai situasi dan kondisi.

Intinya, pada hari maulid, jangan kalah gembira dengan Abu Lahab, paman Nabi. Yang disebut dalam sebuah hadis, setiap hari Senin, ia ditangguhkan siksa kuburnya. Hanya gegara merasa gembira saat kelahiran keponakannya. Dia membuat kenduri atas rasa senangnya itu. Walau dikemudian hari, ia juga menjadi penentang Nabi nomor satu.

Terkait bagaimana cara kenduri, Nabi tentu tidak ada waktu untuk meregulasi secara detil: hewan apa yang harus dipotong untuk sebuah kenduri, berapa ekor, dimasak dengan bumbu apa, digulai apa digoreng, ditumis atau digongseng, untuk berapa orang, dan sebagainya. Masalah teknis, itu urusan anda di kampung anda. Jangan cari hadis tentang itu, tidak ada. Mau diganti nama maulid sekalipun; menjadi sekatenan atau khauri pang ulee dan lain sebagainya, itu bagian dari kreatifitas dan identitas lokal. Yang penting ada nilai universal spiritualnya. Yaitu, anda mengikat batin dengan Nabi.

Urusan kenduri, itu tergantung kita melihat apakah penting atau tidak untuk menunjukkan rasa syukur atas kelahiran nabi dengan cara berbagi. Besar tidaknya hidang, tergantung besar tidaknya rasa gembira dan persepsi terhadap nabi. Kalau dia Nabi besar, mungkin akan dibesarkan hidangnya. Kalau dia dianggap kecil, mungkin tidak perlu kenduri. Simpan saja duitnya untuk perayaan kelahiran anak cucu anda. Kira-kira begitu. Tapi kalau dipikir-pikir, kelahiran anak kita saja, yang itu bukan siapa-siapa, kita potong kambing terbaik. Tanda gembira. Lalu kenapa saat pengulangan hari lahir Nabi, kita hindari berpesta. Aliran apa kita?

Surah Maryam 33, itu sudah lebih dari cukup untuk “mewajibkan” kita memperingati maulid seorang nabi. Tapi ayat untuk kenduri tidak ada. Karena, Alquran memang bukan kitab kenduri. Walaupun ada surah khusus tentang “jamuan hidangan” (Almaidah). Maka jangan menyepelekan urusan hidang menghidang, khususnya pada hari bahagia seperti even kelahiran Nabi. Hari dimana kita juga kembali mengikat janji (‘uqud) dengan Rasulullah. Hari untuk me-muhammad-kan kembali diri kita.

Kelihatannya tidak ada hadis yang secara tegas mendikte kita untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Ayat diatas pun levelnya santun sekali. Tidak etis bagi seorang Muhammad untuk secara langsung memaksa kaumnya merayakan kelahirannya. Kita sendiri yang harus sadar. Dari ayat ini kita sudah harus paham, kita mesti memberikan hak kepada Nabi kita, sekalipun tanpa diminta. Termasuk merayakan kelahirannya, sebagaimana dia sendiri melakukannya. Sebab, kelahiran Nabi bukanlah kelahiran manusia biasa. Melainkan hadirnya seorang Rasul ke tengah kita. Hadirnya seorang utusan Tuhan yang sangat langka. Nabi terakhir pula.

Kedua, Nabi Memperingati Hari Kematiannya. “… Wa yauma amuutu” (Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku meninggal). Lihat. Belum meninggal, Nabi Isa as sudah memberikan sinyal selamatan untuk hari dia akan meninggal. Sebab, tidak mungkin orang yang sudah meninggal merayakan hari kematiannya. Itu cuma bisa dirayakan oleh para pengikut setelahnya.

Kalau Nabi Isa begitu, Nabi Muhammad bagaimana?

Tentu lebih wajib lagi. Kewafatan Nabi kita seharusnya juga diperingati. Diingat. Didoakan. Dibacakan sholawat dan salam. Mungkin inilah kealpaan kita. Kelahirannya kita peringati. Wafatnya tidak. Kecuali sedikit dari umat ini yang masih memperingati syahadah (kewafatan) Rasulullah. Sebagian lain beralasan sudah menggabungkan itu pada maulidnya. Tidak usah dipertentangkan. Kita hargai semua. Kecuali yang tidak mau maulidan, itu saja yang kita anggap sebagai kelompok sesat. Ah! Tidak usah saling menyesatkan hanya gegara maulid. Kita jaga ukhuwah.

***

Kenapa ada yang anti maulid? Kenapa penting bagi syaitan, atau musuh-musuh Islam, untuk menghapus perayaan haul/maulid?

Karena, mereka tidak mau sosok Nabi terus-menerus “lahir”. Berbahaya sekali jika Nabi hidup terus. Sebab, hakikat perayaan maulid adalah bentuk usaha untuk terus “menghidupkan” Nabi. Dan ini terkait dengan urgensi ba’ats/bi’tsah pada ujung ayat surah Maryam 33 di atas: “Wa yauma ub’asu hayya” (dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali).

Nabi tidak pernah mati. Isa putra Maryam sudah tiada. Tapi “dilantik”, “bangkit” atau “hidup” kembali dalam wujud Muhammad bin Abdillah. Merayakan kelahiran Isa as, itu juga sama dengan meyakini bahwa dia akan terus hidup dalam spirit baru. Wafatnya diperingati sebagai tanda dia adalah manusia biasa, dan akan ada pengganti. Kesucian ajarannya akan dibangkitkan kembali secara terus menerus, oleh para rahib suci, pendeta-pendeta hanif dan wali-wali suksesornya. Termasuk Muhammad SAW, itu adalah pelanjut ajaran tauhid tasawuf Isa Al-Masih.

Muhammad SAW pun begitu. Muhammad bin Abdullah sudah tiada. Memperingati hari maulid adalah pertanda dia akan terus lahir. Spiritnya abadi. Nur Muhammad-nya akan terus menjelma, bertajalli dalam wujud-wujud baru. Baik dalam wajah para ulil amri, wali, mursyid, qutub, imam, intelektual dan ideolog-ideolog yang akan menjaga kemurnian ajaran ilahi sepanjang masa. Warisnya akan terus ada. Itu pasti. Karena Allah berjanji akan terus membangkitkan seorang waris atau rasul dari tengah kaum kita sendiri (QS. At-Taubah: 128).

Inilah urgensi maulid. Kita tidak hanya merujuk pada sosok Muhammad yang telah tiada 1400an tahun lalu. Tapi juga terus memproyeksikan kelahiran, kemunculan, atau kebangkitan muhammad-muhammad baru di zaman kita. Tidak hanya dalam wajah-wajah Arab, tapi juga wajah-wajah lokal.

Kritik Terhadap Maulid

Mungkin ada benarnya. Kritik terhadap maulud dilakukan karena telah berubah menjadi tradisi “mulut” (makan), sehingga melupakan esensi. Dalam makna tradisional, maulid adalah bentuk sholawat dan salam terhadap sosok “Nabi terdahulu”. Sejatinya, kita harus meyakini adanya suksesi Ruhani Muhammad kepada orang-orang shaleh disepanjang masa, sampai ke masa kita. Melalui maulid, kita tidak hanya melihat masa lalu kita di padang pasir Arab. Tapi sekaligus membangun kekuatan dan ketauladanan untuk masa depan.

Maulid yang terjebak kepada sosok Nabi di masa lalu, tanpa mendoakan dan meyakini kemunculan warisnya di masa kini dan akan datang, itu maulid “kosong”. Hanya sekedar ritual, tanpa elan vital. Seperti disinggung Sayyid Abdul Malik Al-Houthi dihadapan jutaan massa yang hadir saat perayaan Rabiul Awal tahun 2021 di San’a Yaman (Sabtu, 09/11/2021): “Jika sekiranya peringatan maulid Nabi kita itu dapat menggetarkan hati Yahudi dan musuh-musuh Islam, serta dapat memperkuat hubungan kita dengan Rasulullah, maka selayaknya kita memberi perhatian yang lebih pada perayaan ini”.

Maulid di Yaman memang fenomenal. Sunni dan Syiah tumpah ruah ke jalan untuk merayakan kelahiran Nabi mereka. Tidak cuma itu, Yaman juga masih memperingati haul untuk nabi lainnya. Seperti untuk Hud as, yang ziarah ke makamnya dilakukan selama seminggu di bulan Syakban setiap tahunnya. Karena itu nabi dari kampung mereka. Nabi Hud as diutus Allah SWT untuk kaum ‘Ad yang tinggal di wadi Ahgaff, Hadhramaut.

Benar apa yang dikatakan Malik Al-Houthi. Saban tahun kita merayakan “kelahiran” nabi. Tapi tak satupun muncul orang yang mampu mengalahkan Zionisme Yahudi, yang jumlahnya sangat kecil tapi terus merongrong jantung dunia Islam. Yang banyak lahir di tengah kita justru orang-orang picik, yang justru melakukan normalisasi dengan para kapitalis itu. Ini pertanda, (spirit) Nabi sudah benar-benar mati. Tidak pernah bangkit lagi di hati mereka. Perayaan maulid tidak lagi mampu melahirkan nabi. Yang banyak lahir justru sebaliknya: penakut, koruptor dan pengekor. Yaman dengan “bendera hitamnya”, sebagaimana ramalan kuno dari Nabi, diyakini akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri di akhir zaman.

Susah memang untuk melahirkan ‘nabi’. Kalau sekedar melahirkan orang yang pandai meniru jubah dan jenggotnya Nabi, itu mudah. Bahkan penampilan kita sekarang, saya curiga, sudah lebih bagus dari Nabi. Atau untuk sekedar mencetak generasi yang fasih mengucap alhamdulillah, masyaallah atau ana dan ente; itu juga gampang sekali. Bahkan saya curiga, bahasa Arab kita sudah lebih fasih daripada Nabi. Tapi melahirkan orang-orang yang spiritnya seperti Nabi, yang memiliki kontak dengan Allah, itu susah. Perayaan maulid hanya sekedar mengulang-ulang cerita Nabi. Tak lagi mampu membangkitkan ruh “nabi” (cahaya Tuhan dalam diri).

Kesimpulan. Merayakan kelahiran dan kewafatan orang-orang suci, itu tradisi spiritual Islam. Tidak hanya maulid Nabi. Bermacam khaul (peringatan tahunan) dilakukan untuk mengenang hari lahir maupun wafatnya para pewaris nabi yang hidup disetiap zaman. Bahkan kenduri dan doa tahunan juga kita lakukan untuk mengenang arwah orang tua dan leluhur kita. Tujuannya bukan untuk glorifikasi sekte, sejarah dan famili. Melainkan agar spirit ketuhanan dapat terus mengalami regenerasi. Agar Ruh Muhammad terus menjadi wasilah terhadap kebangkitan umat disetiap zaman.

Tanpa nabi, kita semua jadi zombie. Tanpa nabi, kiamat dunia ini. Semua akan mengalam kekacauan, sampai kepada kehancuran yang tak terbayangkan. Karena itulah, sang nabi atau ruh kebenaran, harus terus lahir di tengah kaum anda sendiri. Bahkan dalam sholat pun, anda harus menghadirkan sosok nabi yang “masih hidup”. Ketika dalam tahiyyat kita mengucap: “Assalamu’alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh“; itu ucapan selamat untuk sosok yang telah hadir di depan kita. Salam ‘alaika (salam untuk mu) adalah bentuk salam untuk orang yang hadir dihadapan anda. Artinya, nabi itu sosok yang harus terus hadir dan hidup. Islam, khususnya tasawuf/irfan, adalah “ilmu kehadiran”. Ilmu yang terus menerus menghidupkan Allah dan Rasulnya dalam diri anda.

Nabi itu sosok yang harus terus hadir dan hidup. Islam, khususnya tasawuf/irfan, adalah “ilmu kehadiran”. Ilmu yang terus menerus menghidupkan Allah dan Rasulnya dalam diri anda.

The Suficademic

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin