SEPERTI APA BENTUK AIR TANPA WADAH?


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.76 | Oktober 2021


SEPERTI APA BENTUK AIR TANPA WADAH?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pernahkah kau mengetahui bentuk air tanpa wadah? Pernahkah kau mengetahui Wujud Allah tanpa Muhammad?

Air dan wadah adalah dua hal berbeda. Allah dan Muhammad tidaklah sama.

Tapi, pernahkah kau mengetahui bentuk air tanpa wadah? Pernahkah kau mengetahui Wujud Allah tanpa Muhammad?

***

Tiba-tiba, datanglah Abdul Karim, ulama Baghdad (1355-1422 M) dengan kata-kata yang membuat lutut para teolog goyang seketika. Karyanya dianggap ‘porno’ (tafsirnya terlalu vulgar), tidak muktabarah, bahkan berbahaya. Meskipun sebagian lain menganggapnya biasa saja.

Qul Huwallahu Ahad. “Katakan, huwa (dia laki-laki itu, red: Muhammad) adalah (tajallinya) Allah yang esa, Allah tempat meminta, yang tidak beranak dan diperanakkan, dan yang tidak serupa dengan apapun”.

Dia percaya, Allah itu ada Wujud (bukankah Abu Hasan mengatakan bahwa Wujud adalah sifat Allah yang pertama?). Tentu Wajah-Nya “laista kamislihi syaiun”, kalau tanpa wadah. Dia tidak akan pernah dikenal, Dzatnya tak akan pernah bisa dirasa, tanpa mencipta. Dia memilih para utusan. Dia mengirim diri-Nya sendiri. Cahaya-Nya kemudian bertajalli, termanifestasi (men-dhahir) dalam Wajah para Kekasih-Nya.

Sampai-sampai, Muhammad bin Abdillah berkata: “Aku adalah Ahmad, tanpa mim (m)”. Al-Jilli mempertegasnya, “dia itulah Ahad.” Sehingga namanya selalu disandingkan dengan Nama-Nya. Penyaksian terhadap-Nya, adalah juga penyaksian terhadapnya. Karena sebenarnya, cuma dia yang bisa kalian saksikan. Allah tidak bisa. Tapi ya itulah jalur, sanadnya.

Tidak ada yang bisa melihat Tuhan, kecuali Dia dalam wujud Cahaya-Nya. Tapi, Cahaya-Nya adalah sesuatu yang tidak terpisah dari dirinya. “Kau lihat Cahaya-Nya, maka engkau akan melihat Dia”, kata sufi. Karena Cahaya, meskipun itu bukan Dia, itulah Dia. Kalau anda nonton TV, lalu melihat presiden sedang bicara, sebenarnya apa yang sedang anda lihat; presiden atau cahaya? Presiden tidak terjangkau, jauh entah dimana. Yang anda lihat itu bukan presiden, melainkan proyeksi cahaya, yang melalui teknologi tertentu, bisa dihadirkan dalam layar kaca dimanapun anda berada. Presiden dan TV adalah dua hal berbeda. Tapi yang di TV, itulah tajalli presiden. Yang men-dhahir dilayar anda adalah manifestasi dari yang maha batiniah di alam sana.

“Itulah Dia”, kata Abdul Karim kepada sosok Muhammad. Meskipun, itu bukan Dia. Sebab, air bukanlah wadah. Wadah bukanlah air. Tapi Wujud cahaya-Nya yang menempati sang wadah. Proyeksi Wujud Presiden yang maha jauh yang hadir ke Wajah rasulnya.  Sehingga; segala ucap, diam dan tindaknya menjadi Suci. Menjadi maksum. Bebas dosa. Karena semua itu bagian dari qudrah iradah dari Tuhannya. Muhammad begitu orangnya. Basyar. Tapi sakral. Muhammad bin Abdillah adalah wujud empirik dari Wahyu (Logos, Asma, Firman Tuhan; sesuatu yang tidak terpisahkan dari Tuhan itu sendiri).

Allah yang maha azali adalah juga Cahaya yang inheren pada dimensi langit dan bumi, yang “Cahaya Diatas Cahaya-Nya” terpusat pada si Penghulu Alam ini. Muhammad itu Ruh, Cahaya-Nya. Kalau dia berbicara, sebenarnya bukan dia yang berbicara, tapi AKU-lah yang berbicara. Kalau dia membunuh, bukan dia yang membunuh, tapi AKU. Kalau dia melempar, bukan dia yang melempar, tapi AKU (QS. Al-Anfal: 17).

“Sesungguhnya AKU-lah Allah” (QS. Thaha: 14), suatu ketika Muhammad menyampaikan. Bukan aku, tapi Dia, yang selalu ada dan tidak pernah terpisah denganku. “Maka mengabdi/ berubudiyahlah kepadaku, karena itu sama dengan mengabdi kepada Allah”, kata Nabi. “Dan juga ingatlah aku, agar engkau senantiasa mengingat Allah”, kata Nabi. Bahkan dalam sholatpun kita diwajibkan bersholawat, mengingat Muhammad. Sebab, Allah dan para malaikat juga melakukan hal serupa, mengingatnya. Sehingga pada “titik ingat” (kiblat ruhaniah) yang sama itulah kita menemukan Allah SWT.

“Kalau engkau ingin merasakan kehadiran Allah, perbaiki wadahmu, qalbumu. Muhammadkan dirimu. Dia menjelma hanya pada hati yang tenang lagi suci. Karena hanya itu yang mampu menampung kehadiran-Nya. Disana tempat Dia bertajalli”, begitu pesan kaum ‘arif.

Yang paham, paham terus. Yang bingung, bingung terus. Bahkan ada yang sudah siap-siap untuk menyesatkan pandangan berbeda. Segera gosok gigi, Jum’atan kita.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s