TAUHID, DARI “AHADIYAH” KE “WAHIDIYAH”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.87 | November 2021


TAUHID, DARI “AHADIYAH” KE “WAHIDIYAH”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tauhid itu ada dua: “Ahadiyah” (basic tauhid) dan “Wahidiyah” (advanced tauhid).

TAUHID, THE BASIC (AHADIYAH). Tuhan itu satu. Sendiri. Menyendiri. Gaib. Misteri. Transcendent. Jauh. Dia adalah khazanah tersembunyi. Rahasia di atas rahasia. Realitas tunggal. Impersonal. Asing. Berbeda dengan yang lain. Sama sekali tidak teridentifikasi. Wujud-Nya tidak terjangkau. Terpisah dengan manusia. Tidak berbentuk dan tidak menempati ruang. Zatnya mutlak. Independen. Tidak berbagi dan tidak berbilang. Tidak bergantung, tidak bercampur dan tidak butuh pada apapun.

Azalinya Dia memang begitu, tenggelam dalam ke-Esaan-nya. Ibnu Arabi menyebut ini sebagai “Tuhan pada makam (martabat) Ahadiyah”. He is the divine Nothingness. “Tidak serupa dengan apapun” ( لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ – QS. Asy-Syura: 11). Cara terbaik untuk membahas-Nya adalah dengan tidak membahasnya. Apapun yang kita katakan tentang Dia, itu pasti bukan Dia. Dia maha suci dari segala apa yang kita sifatkan, undefined! – QS. As-Shaffat: 159.

Pada level ini, kita menolak panteisme-nya Plato. Alam ini bukan Tuhan. Manusia juga bukan Tuhan. Kalam manusia juga tidak mungkin suci, karena bukan Tuhan. Kita dengan Tuhan, itu dua hal yang berbeda. Dan segala tindak tanduk kita tidak akan pernah bisa “mengatas namakan” Tuhan. Sebab, antara kita dengan Tuhan ada ruang pemisah yang tak terhingga. Jangan sekali-kali menyatukan manusia dengan Tuhan. “Syirik, fasik, zindik!”, teriak teolog. Pada level ini kita menolak adanya “utusan Tuhan”. Sebab, tidak ada manusia yang mampu menjangkau Tuhan. Karena alam Tuhan memang sama sekali tidak tersentuh.

ADVANCED TAUHID (WAHIDIYAH). Lalu Tuhan mulai ber-ta’ayun, memperkenalkan diri. Dia ‘bermutasi’ ke alam selanjutnya.  Dia menampakkan keberadaannya. Cahaya-Nya ‘berevolusi’ dalam wujud semesta. Dia mencipta. Hadir ke dunia. Berbaur. Nyata. Dia “turun”, menyatu dengan yang lain, untuk mengungkapkan eksistensi-Nya.

Ternyata Dia sangat personal, layaknya manusia. Dia berkehendak, memiliki niat, emosi, karakter dan banyak atribut seperti tersebut dalam Asmaul Husna; yang melalui ini Dia bisa dipahami manusia. Bahkan ada ulama yang kemudian ikut memberi Dia sejumlah sifat lainnya.

Tuhan mampu “mengutus” diri-Nya ke sudut-sudut semesta. Bahkan semua yang ada, itu tercipta dari-Nya. Alam ini adalah ayat, tajalli sang Ilahi. Langit dan bumi adalah pancaran-Nya, wujud gradient dari kehadiran-Nya (QS. An-Nur: 35). Dibalik bentuk-bentuk kasat mumkinul wujud dunia materi, ada wajah absolut-Nya (QS. Ar-Rahman: 26-27). Namun demikian, alam ini menolak menerima amanat-Nya. Langit, bumi dan gunung-gunung tidak mampu menyerupai Tuhan dalam keseluruhan sifatnya. Hanya manusia yang sanggup untuk itu. Karena kita memang tercipta secara sempurna, dalam rupa-Nya; laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim (QS. At-Tin: 4).

Jelas, derajat manusia lebih tinggi dari alam. Maka menuhankan alam; bulan, bintang, matahari, pohon, jin, setan, dan sebagainya, bukanlah tindakan yang cerdas. Karena dimensi manusia lebih tinggi dari benda-benda ini. Walau terlihat culun dan bodoh-bodoh, ketuhanan (qalbu) manusia lebih kuat dari unsur alam manapun (QS. Al-Ahzab: 72). Benar, alam ini wujud Cahaya-Nya. Tapi pada manusia lah, dimensi Cahaya di atas Cahaya dapat terserap secara sempurna. Maka rasul pun diutus dari golongan manusia; yang semua elemen alam, bahkan malaikat pun kemudian tunduk padanya.

Realitas Tuhan telah terungkap. Ternyata Tuhan itu sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari urat leher, immanent (QS. Qaf: 16). Tidak sulit dijangkau. Dia menempati qalbu, sebuah wadah paling ruhaniah seorang mukmin. Ternyata Tuhan bisa hadir, mengaktualkan Diri, termanifestasi pada makhluk-Nya. Begitu jauh Dia “turun”, sehingga ada orang yang mengaku bertemu dengan-Nya. Atau mungkin ada orang yang terlalu tinggi “naik” kesana, lalu turun ke bumi dan mengaku sebagai utusan-Nya.  Dia bisa disaksikan, di-syuhudi. Nyata adanya. Ternyata, Dia bukan hanya esensi batiniah. Melainkan juga sebuah ontologi yang dhahir wujudnya (QS. Al-Hadid: 3). Dia melimpahi Dirinya pada aneka warna.

Ibu Arabi kemudian menyebut ini sebagai “Tuhan pada makam (martabat) Wahdah Wahidiyah”. Sangat unik. Dia hadir dan menyatu pada semua partikularitas. Kemanapun engkau menghadap, ada Wajahnya (QS. Al-Baqarah: 115). Dia meliputi segala sesuatu (QS. An-Nisa: 126). Dia bersama kita, dimanapun kita berada (QS. Al-Hadid: 4).

***

Ahadiyah adalah tauhid “awal” (basic tauhid), teori ketuhanan yang membahas Dia pada konsep azali-Nya, atau Dia pada awal mula. Sedangkan Wahidiyah merupakan tauhid “akhir” (advanced tauhid), konsep ketuhanan yang menjelaskan bagaimana Dia di kemudian hari. Huwal awwalu wal akhiru, wad-dhahiru wal bathinu (QS. Al-Hadid: 3). Dia yang Awal dan yang Akhir sebenarnya adalah sama. Hanya saja penampakannya yang berbeda.

Dia yang Awal adalah gaib mutlak, tapi Akhirnya sudah menjadi nyata. Tuhan dikemudian hari adalah Tuhan yang bisa disaksikan keberadaan-Nya; bisa didengar dan bahkan dapat diajak berbicara -kalau ruhani kita sudah sembuh dari tuli, bisu, dan buta (QS. Al-Baqarah: 18). Sampai Muhammad SAW menjadi nabi, paling sedikit ada 124.000 orang yang sudah pernah menyaksikan ke-nyata-an Tuhan. Angka ini terus bertambah. Semua tergantung kesungguhan dalam perjalanan spiritual masing-masing.

Sebab, perjalanan dari tauhid ahadiyah ke tauhid wahidiyah, adalah sebuah perjalanan jiwa. Perjalanan dari sekedar percaya Tuhan itu “satu” dan entah dimana, ke pengalaman-pengalaman untuk dekat dan bahkan “menyatu” dengan-Nya. Perjalanan ini sangat rumit. Sebab, yang pertama harus disembuhkan adalah mentalitas kita yang sudah lama dikunci dengan doktrin bahwa Allah itu “laitsa kamislihi syai-un” an sich, tanpa memahami struktur tauhid sampai ke level wahidiyahnya.

Begini ya. Orang yang hanya percaya bahwa Allah itu “Ahad”, atau Tuhan itu sama sekali tidak terjangkau; itu sama dengan mempercayai jenis Tuhan era pra-manusia. Era dinosaurus mungkin. Eranya Tuhan yang tak dikenali oleh siapapun. Kuno sekali jenis tauhid seperti itu, sudah puluhan ribu tahun ketinggalan zaman. Sebab; sejak munculnya Adam, Tuhan sudah mulai akrab dengan manusia. Sudah dikenali dan bisa diajak berbicara. Al-Quran sendiri merupakan kitab akhir zaman, menjadi bukti bahwa manusia mampu begitu intimate dengan Tuhan. Tentu sayang sekali, kita yang hidup di akhir zaman ini mirip-mirip seperti kembali ke zaman batu: putus kontak dengan Tuhan!

Ahadiyah itu sebenarnya “tauhid awam”. Jenis tauhid yang berusaha ‘menjauhkan’ manusia dengan Allah. Tauhid ini berupaya membangun sekat antara hamba dengan Tuhan. Sedangkan wahidiyah adalah “tauhid khusus” (khawash), yang hadir untuk membebaskan manusia dari keterasingan dengan asal-usulnya. Alih-alih separasi; tauhid khawash justru berusaha “mendekatkan”, membawa manusia kembali terintegrasi dengan Tuhan.

Tauhid khawash merupakan tauhidnya sufi, tauhidnya para nabi. Tauhid ini membimbing manusia untuk menemukan dan mengenal Allah, pada level terdekat. Yang jauh mustahil terjangkau, jika yang dekat saja tidak mampu disaksikan. Tauhid ini sangat aplikatif. Karena punya metodologi yang dapat membimbing manusia untuk melacak “figur tersembunyi”: Imam Zaman, Waliyammursyida, Ulil Amri, Ruh, Jibril, Nur Muhammad, atau Cahaya terdekat; yang setiap zaman diutus ke tengah kita (QS. At-Taubah: 128). Awal anda menemukan Nurullah, adalah awal anda menemukan Allah. Karena itu adalah wujud wahidiyah-Nya. “Makrifat adalah mengenal imam (waris nabi) pada zamannya”, sebut Imam Jakfar Shadiq R.A. Makna “mengenal” disini adalah berguru secara ruhaniah kepadanya.

Allah maha adil. Dia tidak pernah membiarkan bumi ini kosong dari para pembawa petunjuk. Maka menemukan nabi atau para wali-Nya adalah sama seperti menemukan sosok Adam yang telah Allah titipkan Asma kepadanya (QS. Al-Baqarah: 31). Asma itu adalah Kalimah yang asli, bagian dari Diri-Nya, Ruh-Nya. Yang karena itulah semua manusia yang memiliki kesadaran malaikat akan sujud dan patuh (QS. Al-Baqarah: 34), serta senantiasa bersholawat kepadanya (QS. Al-Ahzab: 56). Sehingga, taat kepada mereka adalah sama, atau paralel dengan taat kepada Allah. Athi’ullah, wa athi’ur rasul, wa ulil amri minkum (QS. An-Nisa: 59). Sebab; mereka adalah tajalli, logos, pancaran atau dimensi wahidiyah dari sang Ilahi. Bahkan kata-kata mereka pun dilabeli “suci” atau dihukumi sebagai perkataan Tuhan. Mereka diyakini berbicara dan bertindak atas nama Tuhan –wama yantiqu anil hawa, in huwa illa wahyuy yuha (QS. An-Najm: 3-4). Memang mereka ini manusia biasa (basyar), bukan Tuhan yang Ahad itu. Tapi mampu berbicara atas nama Tuhan (wahyu) yang Ahad, karena telah memperoleh ‘sertifikasi’ wahidiyah-Nya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Allah yang Ahad, itu mampu memproyeksikan dirinya ke dimensi Wahdah atau Wahid. Sehingga apa yang disebut “akhlak” (Yang Agung, khuluqin ‘adhim -QS. Al-Qalam: 4), sebenarnya adalah manisfestasi dari sang “Khalik”. Tuhan yang hakikatnya entah dimana, beremanasi dalam lisan dan perbuatan mereka. Ia mengutus diri-Nya pada orang-orang yang telah sempurna perjalanan jiwa. Dengan kata lain, Allah memilih orang-orang yang tepat untuk menjadi bagian dari diri-Nya; untuk menjadi ruh-Nya, kalam-Nya, ayat-Nya. Dia menciptakan nur-Nya dalam rupa wajah kekasih-Nya, untuk berbicara sebagai Dirinya: “dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku” ( وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي – QS. Thaha: 41).

Terkait ini, dalam tafsirnya yang membuat sejumlah orang kepedasan, Al-Jilli mengatakan: “Katakan, Huwa (dia, laki-laki itu) adalah manifestasi dari Allah yang Ahad” (QS. Al-Ikhlas: 1). Huwa disitu, menurutnya adalah Muhammad, dimensi Wahdah Wahidiyah dari sang Ahad.

Ada perbedaan antara: “Katakan, Allah itu Ahad”; dengan “Katakan, Dia itu adalah Allah yang Ahad”. Penggunaan kata “dia” diawal kalimat, dipahami oleh para ahli tafsir mistik sebagai penunjukan objek definitif atau bentuk tajalli (wahdah/wahidiyah) dari wujud yang Ahad. Seperti dikuatkan Nabi  SAW, “Aku adalah Ahmad tanpa (huruf) mim”. Maksudnya, “aku adalah wujud hologram, pancaran dari yang Ahad. Aku adalah Cahaya-Nya”. Dan siapapun yang mewarisi (Nur) Muhammad, berarti telah mewarisi asma-Nya, menjadi sosok qurani, tajalli-Nya. Namun, karena penafsiran ini bersifat advanced, sebagian ulama melabelinya sebagai “tidak muktabarah”, bukan pemikiran umum.

Atas dasar inilah, para nabi disebut sebagai “ruhullah”, “kalamullah”, dan sebagainya. Yang semua ini merupakan atribut kedekatan hubungan, bahkan keterintegrasian relasi antara mereka dengan Tuhan. Para nabi bukan Tuhan (yang Ahad), sebagaimana statemen vulgar kaum Kristen terhadap Isa putra maryam. Mereka hanyalah para hamba “utusan Tuhan”. Tuhan yang Ahad mengutus (mewahyukan) Diri-Nya melalui mereka.

Jadi, hubungan manusia dengan Tuhan bukanlah hubungan anak beranak, yang konotasinya adalah hubungan biologis/jasadiah. Sisi material manusia baharu sifatnya, tidak memiliki unsur divinitas. Ruh kitalah yang menerima Cahaya-Nya, sehingga keseluruhan lainnya mendapat limpahan berkah. Pada dimensi ruh inilah manusia aktual akan dimensi wahidiyah, sehingga memungkinkan bagi Tuhan untuk meminjam kita sebagai “corong”-Nya. Jadi, Isa dan semua nabi itu bukanlah absolut Allah. Bukan Khalik. Tapi makhluk yang telah kuat wadah ruhaniahnya untuk diakses oleh Ruh Allah (cahaya wahidiyah); sehingga aktual akan sifat-sifat dan kebesaran Allah.

Jadi sekali lagi; manusia bukanlah Tuhan, dan tidak akan pernah menjadi Tuhan. Tuhan juga bukan manusia, dan tidak pernah menjadi manusia. Namun, antara seorang hamba Allah dengan Allah, itu ibarat besi yang menyala karena terbakar api. Besi tetaplah besi, api tetaplah api. Namun penyatuannya begitu kuat, sehingga wajah keduanya menjadi serupa. Sifat api bisa diserap oleh besi, sehingga besi pun punya kekuatan untuk membakar. Qudrah iradah yang Ahad pun mengalir pada yang Wahid.

Atau, hubungan hamba dengan Tuhannya seperti wadah gelas yang terisi air. Gelas adalah gelas, air adalah air. Keduanya total berbeda. Tapi air melebur mengambil wajah (bentuk) gelas. “Kau pandang gelas, berarti kau pandang air. Kau pandang wajah nabi, berarti kau pandang wajah yang di atas sana”, sebut seorang Guru sufi. Karena, Wujud Ahadiyah yang tidak berbentuk dan bertempat itu mampu menghadirkan gelombang, memproyeksikan dirinya pada platform Wahidiyah.

***

KESIMPULAN. Tauhid itu bertingkat. Dari basic, ke advanced. Dari Ahadiyah, ke Wahidiyah. Dari “satu”, ke “menyatu”. Dari teori, ke mengalami. Dari sekedar percaya, ke merasakan kehadiran dan menyaksikan Wajah-Nya. Tuhan pada martabat Ahadiyah, itu sama sekali out of range. Tidak terjangkau. Tidak bisa disembah. Dia baru bisa dijumpai, bahkan diibadahi “seolah-olah melihat-Nya” atau “seolah-olah Dia melihat kita”; hanya pada level Wahidiyah. “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat”, kata Sayyidina Ali. Ada sesuatu yang dilihat dan saling hadap (rabith/tawajuh), dan itu menjadi washilah untuk menyaksikan yang Ahadiyah.

Seseorang juga tidak akan pernah memperoleh karomah, kalau masih ber-Tuhan kepada Wujud yang tidak terjangkau. Ini alasan kenapa kaum muslim telah kehilangan karomahnya. Bukan berarti kita beribadah untuk mencari karomah, tidak. Kemuliaan dari Allah itu sesuatu yang muncul secara alamiah, kalau benar terhubung dengan Allah. Nabi-nabi misalnya, secara alamiah memiliki mukjizat; karena Tuhannya memang terjangkau. Tuhannya bisa diakses. Sehingga, berbagai kebesaran dan tanda-tanda dari Tuhan mengalir alamiah pada mereka.

Kita; walau sudah beragama, solat, mengaji, dan berpuasa ribuan tahun; kalau Tuhannya masih jauh; tetap akan sulit merasakan vibrasi langsung dari sisi-Nya. Coba lihat Tuhannya para nabi, itu adalah Tuhan yang “Maha Hidup”; bisa dijumpai, bisa diajak bercakap-cakap sepanjang pagi dan petang. Artinya, Tuhan mereka bukanlah sekedar Tuhan dalam angan-angan, yang Ahad, tidak terjangkau dan laitsa kamislihi syai-un itu. Tuhan para nabi adalah Tuhan di langit (Ahad) yang sudah “hadir” ke bumi (Wahidiyah). Tuhan yang sudah ‘berlokasi’, bersemayam di ‘Arasy. Tuhan yang sudah berada pada martabat yang dapat diajak berdiskusi melalui lokus dan tingkat kesadaran ruhani tertentu.

Islam yang sempurna adalah bentuk keimanan bahwa Dia itu Ahad, sekaligus mampu me-Wahidiyah-kan (menghadirkan/membawa serta) wujud Dia dalam setiap gerak langkah ekonomi, politik, sosial dan budaya kita. Sehingga segala sesuatunya bernilai Sunnah. Maknanya, sehari-hari kita tidak lagi hidup dalam dalil untuk “meniru-niru” Nabi. Tapi sipirit ketuhanan, malaikat war-Ruh, nyata kehadirannya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s