KUANTUM SPIRITUAL


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.89 | Desember 2021


KUANTUM SPIRITUAL
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Suatu ketika, seorang cucu pendiri Gontor mengikuti suluk. Ini bukan suluk pertama yang ia ikuti. Kebetulan, selain seorang  akademisi, ia juga seorang pencari. Meskipun gelarnya sudah doktor dan menjadi pengajar di sebuah universitas ternama di Jawa Timur, ketekunannya mempelajari dunia tasawuf sangat tinggi. Entah sudah berapa kali suluk ia jalani. Perjalanan spiritualnya telah dibimbing oleh banyak guru dari berbagai ordo tarekat. Tapi ia belum puas.

Kali ini ia ke Aceh. Mencoba Guru baru. Sufimuda. Itu tahun 2019, sebelum pandemi.

Waktu itu baru selesai tawajuh. Tawajuh adalah dzikir yang dipimpin oleh seorang mursyid. Banyak sekali ayat tentang dzikir dalam Alquran. Tapi sedikit yang benar-benar menguasai teknisnya. Tawajuh itu sendiri artinya “menghadapkan wajah”. Secara sufistik bermakna menghadapkan wajah kita kepada Allah.

Selesai tawajuh, ia kembali ke kelambu suluk. Dengan teknik dzikir tertentu, tiba-tiba ia melakukan “israk”, mengalami perpindahan tempat. Ini biasa terjadi dalam dunia sufi, khususnya para ahli dzikir. Tubuh halus kita, bahkan sekaligus dimensi fisik, mampu melakukan “perjalanan” dari satu tempat ke tempat lain.

Manusia bukan hanya makhluk fisik yang mampu melakukan gerak terbatas antar ruang dan waktu. Manusia adalah juga wujud ruhani. Manusia pada sisi terdalamnya adalah makhluk kuantumik, yang tersusun dari wujud quark (pusaran cahaya), yang mampu melakukan transmutasi (perubahan wujud dari dimensi atomic ke dimensi void).

Manusia, pada wujud “cahaya” ini, punya kemampuan menghilang, berpindah,  atau bertransformasi dalam berbagai dimensi, ruang dan waktu; secara sangat cepat. Manusia yang telah mengalami proses “buraqisasi” (penguatan reaksi pada inti atomnya) punya kemampuan menembusi baik dimensi horizontal (israk, antar ruang dan wilayah geografis), maupun vertikal (mikraj, antar dimensi: dari alam jabarut, malakut, ke rabbani). Perpindahan melalui buraq ini tidak hanya terjadi pada sisi ruhnya, tapi juga mampu menduplikasi wujud fisik untuk ikut serta.

Itulah hebatnya manusia. Kreasi Tuhan dengan potensi tidak terhingga. Substansi wujudnya adalah cahaya, dengan gradasi berlapis (QS. An-Nur: 35). Dan dzikir yang dibimbing oleh seorang “teknisi spiritual” (Guru/Jibril) dapat mengaktivasi potensi cahaya dasar ini sehingga mencapai puncaknya: Cahaya Diatas Cahaya, Allah SWT.

Manusia sebagai makhluk biologis hanyalah seonggok daging. Tidak lebih mulia dari binatang. Tapi, dengan kekuatan cahaya, manusia berubah menjadi ENERGI yang mampu menembusi petala langit dan bumi. Itulah sulthan (QS. Ar-Rahman: 33), E=MC². Sultan adalah energi tidak terhingga, yang dihasilkan dari berbagai tingkatan reaksi massa (wujud materialitas manusia) yang lebur dalam cahaya (substansi diri). Ketika fana dimensi fisiknya, kesadaran nur ilahi akan aktif dalam diri manusia.

Teknologi untuk mencapai kesadaran ini adalah suluk (dzikir di ruang vacuum: gua/kelambu) yang tidak tersentuh oleh atmosfir luar, sehingga memungkinkan terjadinya kelajuan konstanta kuadrat cahaya dari satu maqam (tingkat) ke maqam lainnya. Proses kuantumisasi substansi wujud manusia harus dibimbing oleh seorang “saintis ruhani”, seorang “profesor spiritual” (nabi/wali). Musa selama 40 hari menginkubasi dirinya di puncak Sinai, hingga berjumpa Tuhannya. Muhammad bin Abdillah bermalam-malam menyendiri di lereng hirak, sampai elemen dasar cahaya dalam tubuhnya terhubung Cahaya Agung.

Agama ini ilmiah. Ada metodologi, atau proses kuantum untuk mengup-grade kesadaran, dari gelombang material ke gelombang supra-rasional. Ada latihan untuk meningkatkan potensi sadar, bawah sadar, ke atas sadar. Ada training (riyadhah) untuk menjadi (waris) nabi. Ada cara untuk melakukan dimentional journey. Ada teknik untuk mengurai wujud gelap jasad menjadi partikel cahaya.

***

Sim salabim. Kun Fayakun!

Tiba-tiba doktor ini sudah berada di depan Kakbah. Padahal beberapa saat lalu masih berada di Dayah Sufimuda, Aceh. Cepat sekali kejadiannya.

Yang tidak ia duga adalah, begitu tiba disana, di depan Kakbah sudah ada Gurunya, Sufimuda. Ia begitu terkejut, kenapa Abuya sudah duluan ada disini?

“Hei, ngapain kamu kesini?”, tanya Sufimuda. Kemudian Sufimuda memegang tangannya, dalam sekejap ia dilempar ke sejumlah tempat. Sampai akhirnya dilempar kembali ke kelambu suluknya di Aceh. “Pulang balik ke kelambu, jangan main-main”, kata Sang Guru.

Sekembalinya ke kelambu, ia bersujud dan menangis. Terharu. Mungkin ini pertama kali baginya menemukan, ada seorang guru yang kecepatan “terbang”-nya sangat tinggi. Lebih tinggi darinya. Padahal ia dengan kemampuan irfaninya sudah ‘terbang’ ke Arab dengan sangat cepat. Tapi Gurunya jauh lebih cepat. Disini ia tunduk dengan Guru barunya, dan mengakui kewalian yang tinggi dari sosok ini.

Pengalaman ini ia ceritakan secara terbatas kepada sejumlah jamaah suluk pada waktu itu. Paska kejadian ini, penampilannya terlihat lebih tawadhuk. Seperti menemukan sesuatu. Gurunya hanya tersenyum ketika melihatnya. Seorang Guru tentu harus lebih cepat dari para murid. Guru harus mampu mengontrol murid. Tau dimanapun keberadaan murid. Seorang Guru sejati, itu tidak hanya bisa ditemui di alam jasmani, tapi juga harus bisa menjadi teman dan pembimbing di alam ruhani (dimensi akhirat).

***

Dunia sufistik, itu adalah dunia “kecepatan”. Dunia cahaya. Dunia dengan kemampuan mengakses pengetahuan, waktu dan tempat secara cepat. Secepat kilat. Semakin cepat, semakin kuat kapasitas ruhani seseorang. Pada titik tertentu, kecepatan seseorang bisa unlimited. Ini terjadi pada level baqa (dimana laju cahaya sudah mencapai kondisi kamil mukamil, sempurna). Pada level ini; langit dan bumi, dunia dan akhirat; itu sudah menjadi satu. Satu tempat, beda dimensi. Mau masuk atau keluar surga, sudah on-off sifatnya. Seperti disebutkan Einstein dalam teori relatifitasnya, “waktu menjadi tidak mutlak”. Bisa dimasuki/diakses kapan saja.

Ruh yang telah mengalami kuantum akan terurai dan menyatu dengan alam semesta. Menjadi rahmatal lill’alamin. Menjadi makhluk universal. Pada waktu yang sama, ia bisa hadir dimana-mana. Karena telah menjadi bagian manapun dari jaringan matrik energi alam ini. Dengan demikian, ia dapat menjadi “mata” (saksi) atas sekalian manusia. Tau segalanya. Kasyaf. Karena kesadarannya sudah bersama Yang Maha Mengetahui. Inilah skil yang dimiliki para avatar, orang-orang yang sudah mampu menundukkan elemen material alam; yaitu para nabi dan wali-walinya.

Jadi, seorang nabi atau wali bisa diketahui dari berbagai ciri. Baik secara lahiriah maupun batiniah. Pendeta Buhaira ataupun Salman Alfarisi, misalnya; itu mengetahui kenabian Muhammad melalui ciri fisiknya (melihat tanda tertentu pada tubuhnya) ataupun akhlak lahiriahnya (tidak memakan sedekah, dsb). Pada titik yang lain, ciri kenabian juga bisa diketahui dari elemen “sulthan”: kemampuan spiritual, karamah, atau mukjizat mereka. Yang terakhir ini agak susah dipercaya. Karena sifatnya terlalu ajaib. Diluar nalar empirik biasa. Pengalaman isra mikraj nabi pun, pada masa itu misalnya, hanya sedikit yang percaya. Apalagi kalau ada yang mampu mereplika pengalaman ini, bisa dituduh aneh kita. Padahal, kuantumisasi spiritual -atau perjalanan fisik sekaligus jiwa (cahaya), itu ilmiah adanya.

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan sulthan (kuantumisasi energi cahaya dalam diri)” QS. Ar-Rahman: 33

BACA ARTIKEL LAINNYA: “illa bi Sulthan”, “Fisika Quantum Membenarkan: Dunia ini Fana”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

3 thoughts on “KUANTUM SPIRITUAL

  1. Tiba-tiba doktor ini sudah berada di depan Kakbah. Padahal beberapa saat lalu masih berada di Dayah Sufimuda, Aceh. Cepat sekali kejadiannya.

    Yang tidak ia duga adalah, begitu tiba disana, di depan Kakbah sudah ada Gurunya, Sufimuda. Ia begitu terkejut, kenapa Abuya sudah duluan ada disini?“Hei, ngapain kamu kesini?”, tanya Sufimuda. Kemudian Sufimuda memegang tangannya, dalam sekejap ia dilempar ke sejumlah tempat. Sampai akhirnya dilempar kembali ke kelambu suluknya di Aceh. “Pulang balik ke kelambu, jangan main-main”, kata Sang Guru.

    hahaha, masih juga berada di muka bumi yg fana iya,
    saya sudah tembusi dimensi lain,yg ada hanya kedamaian dan kesejahteraan,kehidupan mereka sangat tentram dan bahagia tidak ada hiruk pikuk masalah agama,mereka sangat maju.

    ustadz sayyid habib yahya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s