“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.91 | Desember 2021


BESOK KALIAN AKAN MATI
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Besok kalian akan mati, pasti. Sambutlah dengan gembira. Karena ketiadaan adalah hak, asalmu yang azali. Hadapi dengan gagah berani. Dalam balutan kelambu, hisablah dosa-dosamu. Karena ini adalah jalan untuk abadi.

Kematian adalah cara Dia memanggil. Cara Dia membebaskanmu dari padang pasir tak bertepi. Cara Dia melepas rindu denganmu. Kematian merupakan satu-satunya cara agar engkau bisa kembali. Lalu mengapa harus khawatir? Guru Sufi akan menemani. Dialah sang jibril yang akan mengantarkan. Yang akan membantu menyucikan, yang akan mengangkat Ruh kalian ke tempat yang lebih tinggi.

Kawan; kembalilah kepada-Nya, dengan suka cita. Serahkan dirimu. Serahkan semua yang kau miliki. Tak ada yang patut kau pertahankan. Lepaskan. Semuanya yang kau punya, itu kecil nilainya, dibandingkan Tuhan yang akan kau jumpai.

Berbahagialah kalian di jalan sunyi yang penuh cahaya ini. Bersungguh-sungguhlah atas panggilan-Nya. Tinggalkan dunia. Engkau sedang bergerak jauh ke masa depan. Jangan menoleh ke belakang. Lupakan anak, istri dan semua bongkahan emas yang kalian punya. Matilah. Matikan akalmu. Karena yang akan kekal hanyalah ruhmu. Apa yang kau tinggalkan tak ada yang hilang. Semua akan kembali, dalam wujud yang lebih murni.

Kawan; kematian hanya satu-satunya cara, agar dirimu bangkit. Agar engkau sadar bahwa Dia lebih dekat dari urat lehermu sendiri. Memang kemana lagi kalian akan melacur diri? Kepada angan-angan apa lagi kalian akan menuruti? Cukup. Kembalilah kepada-Nya. Lafadzkan: Allah, Allah. La Ilaha Illa Allah! Biarkan ruhmu terbang kehadirat-Nya.

Jangan kau jemur dirimu terus menerus dalam panasnya arus dunia. Manusia adalah sebutir biji yang “keramat”, yang hanya tumbuh ketika dibenam dalam kegelapan tanah. Tanam, tenggelamkan, asingkan dan kurung dirimu. Niscaya engkau akan tumbuh bebas menjadi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Engkau adalah pohon yang akarnya di bumi, namun ujungnya menjulang ke semesta tertinggi. Engkau adalah Adam, sekaligus Ruh Tuhan yang maha meliputi.

Kawan, ketika ego ke-manusiaan-mu mati; sayap ke-malaikatan-mu akan tumbuh. Saat itulah engkau akan mampu terbang sampai ke langit, setelah lama merangkak-rangkak di kerendahan bumi. Dalam wujud barumu, engkau akan mampu mendengar Dia berbicara, setelah lama berdusta tentang ayat-ayatNya.

Mutu qabla anta mutu. Matikan dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu. Sebab, tidak mungkin sebagai manusia engkau akan menyaksikan-Nya. Karena dirimu baharu, sedangkan Dia qadim. Engkau kotor, dia suci. Hanya ketika menjadi malaikat, engkau akan melihat. Sebab, mata lahiriahmu memiliki jarak pandang terbatas. Sementara mata malakut mu, mampu menembusi sampai alam Rabbani.

Ketahuilah. Selama ini engkau tertidur; dalam balut kemalasan, dalam selimut kebodohan, dalam kelalaian. Sampai kemudian dalam dzikir panjang engkau akan mendengar Dia berfirman: “Qum, fa-anzir!”. Itulah saat engkau akan terjaga; dan merasa bahwa Tuhan itu nyata, selalu berkata-kata, dalam setiap detak jiwa. Kematian ikhtiyari yang kau pilih secara sadar ini akan membangunkanmu; sebelum kematian paksa akan menjemputmu. Temui, dan bersahabatlah dengan Tuhan yang asli, agar Dia menjadi jalan hidayahmu.

Kawan, apalagi yang kau tunggu. Jemputlah kematian. Sepuluh hari. Tiga puluh hari. Empat puluh hari. Inilah jalan orang-orang suci.

Ampuni aku Tuhan. Aku akan menyusul kalian, beberapa hari yang akan datang. Tunggu aku di surga!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin