“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.92 | Desember 2021


JANGAN PERNAH MENJADI TUA
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRAHIEM. “Buah, kalau sudah tua; sebentar lagi pasti jatuh”. Sebuah petuah istimewa yang kami dapat pada ulang tahun ke 42. Manusia ibarat buah. Kalau sudah tua, tidak lama lagi akan jatuh. Sebentar lagi akan habis anda. Maka, kalau tidak ingin jatuh: “jangan pernah menjadi tua”. Dan ini merupakan rahasia penghuni surga. Mereka tidak pernah “tua”. Sehingga abadi.

Surga diisi oleh orang-orang “muda”. Orang-orang yang menganggap ada orang lain yang lebih tua, pebih tinggi, lebih pintar, lebih mulia dari mereka. Penghuni surga adalah orang-orang yang punya Imam, punya Guru; yang dianggapnya lebih alim dan lebih saleh dari mereka. Orang-orang ini adalah tempat mereka merendah. Penghuni surga adalah orang-orang yang rendah hati. Orang-orang yang menganggap dirinya kecil, muda.

Awal kejatuhan manusia adalah pada saat berusaha untuk tinggi “sebenang” dengan yang lainnya. Aku lebih alim. Aku lebih benar. Aku lebih hebat. Aku lebih tinggi. Semua ini sebab musabab kejatuhan iblis, merasa lebih tua. Untuk tidak menjadi iblis, anda harus memastikan, ada orang-orang yang anda posisikan lebih tinggi dari anda. Anda harus mencari orang-orang itu. Sebab, kejatuhan anda tidak akan lama lagi; begitu anda merasa bahwa anda lah orang yang paling tinggi. Itu sunnatullah, hukum alam. Kalau sudah tua, pasti jatuh. Mati.

Itulah kenapa kita disuruh terus berguru. Tujuannya untuk memastikan, bahwa selalu ada yang lebih senior, lebih tinggi, lebih baik, lebih tua, lebih hebat dari kita. Mungkin Guru anda terlihat biasa, tapi pastikan anda tetap rendah. Sebab, begitu anda melampaui dia, pertanda anda sudah “tua”. Keangkuhan ini menyebabkan anda tidak layak berada di surga. Dengan orang tua anda sendiri juga begitu, sedikit saja anda merasa tinggi, anda pasti akan durhaka dan celaka.

Sombong, alias merasa tua, adalah ego; penyebab utama jatuhnya manusia. Jangankan sebagai manusia bisa; sebagai ustadz, ulama dan profesor sekalipun, anda harus tetap punya Guru. Nabi Muhammad SAW sampai meninggal punya Guru. Itu Nabi Muhammad. Lalu siapa anda yang merasa paling senior, paling kharismatik; lalu merasa sudah sempurna dan tidak perlu berguru lagi?

Guru Nabi Muhammad adalah Jibril. Figur “misterius”. Sosok yang hidup. Teman diskusi dan yang mengajarinya sepanjang hidup. Muhammad senantiasa menjaga agar dirinya bukan yang tertinggi. Ada yang lebih tinggi dari dirinya. Dalam sanad keilmuan beliau, tertulis nama Gurunya: Jibril ‘alaihissalam. Setelah itu baru Allah. Dari Gurunya inilah ia ikut menimba ilmu-ilmu dari Allah.

Kita juga harus begitu, harus punya Guru. Anda harus punya media untuk tetap merasa diri paling bodoh. Supaya ada ruang untuk terus hidup dan berkembang. Sebab, berhenti berguru menjadi pertanda bahwa anda akan segera tamat dari muka bumi.

Betapa banyak yang jatuh sakit gara-gara disalami dan diciumi tangan oleh semua orang. Juga betapa banyak yang harus menjalani perobatan, mengalami banyak gangguan, setelah memiliki pangkat dan jabatan. Dia merasa dirinya paling tinggi, paling “tua”, dan layak mendapatkan itu. Dia tidak mampu mengembalikan kepada Tuhan apa yang telah ia terima. Manusia tidak kuat menampung jabatan dan penghormatan, pasti jatuh. Kecuali anda mampu mengembalikan semua itu kepada yang berhak, kepada yang lebih tinggi dari anda. Proses “mengembalikan diri” dan segala yang kita miliki; kepada guru, kepada rasul dan Allah; adalah ranah pengajaran dan praktik ilmu-ilmu ruhani.

Itulah yang disebut “sanad ruhaniah”. Dengan sanad ini kita selalu berada pada posisi paling bawah, dari para guru dan wali-wali Allah. Sehingga kita secara alamiah senantiasa rendah. Selalu “muda”. Tidak pernah menjadi “tua”. Kesadaran ruhani seperti inilah yang menyebabkan anda diterima surga.

Pada usia yang ke 42 ini, saya merefleksi kembali sisi ke-iblis-an saya. Saya masih teringat akan sifat-sifat sombong, sok hebat dan sok tua, yang dulu sering saya praktikkan. Sifat-sifat ini terus menunggu kesempatan untuk muncul kembali. Silap kita sedikit, sudah main dia. Hanya kepada Allah kita berserah diri. Tanpa bimbingan dan terus berguru kepada-Nya, kita tidak akan pernah mencium bau surga.

Keep young, keep low; you will survive!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin