MURAQABAH DAN MAHABBAH

“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 02 | Januari 2022

MURAQABAH DAN MAHABBAH
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Manusia itu ‘mati’. Sampai ia mampu merasakan “kehadiran” Allah dan menunjukkan bentuk-bentuk “cinta” terbaiknya kepada Allah. Dalam dunia irfan atau tasawuf, dua hal ini disebut “muraqabah” dan kemudian “mahabbah”. Itulah dua makam perjalanan spiritual yang umum ditemukan dalam kehidupan seorang nabi. Kedua hal ini bisa direplika (tauladani) oleh para pengikutnya.

Muraqabah

Semua orang pasti beriman (percaya) kepada adanya Tuhan. Itu alamiah, fitrah. Akal punya kemampuan untuk menalar bukti-bukti keberadaan Tuhan. Ateis sekalipun sering mengucapkan “Oh my God”. Alam bawah sadarnya percaya, Tuhan itu ada. Apalagi orang beragama, semua sudah terdoktrin untuk yakin kepada adanya Tuhan.

Tapi, pada tahap percaya seperti ini, kita masih disebut “mati”, secara ruhiyah. Karena hanya otak (akal) kita yang sadar. Artinya, Dia secara teoritis kita yakini ada. Tapi belum pada tahap mampu diverifikasi substansi-Nya. Kehadirannya belum dapat dirasakan. Wajah-Nya belum mampu dilihat. Wujud-Nya tidak bisa ditemukan. Belum bisa dijumpai, diajak bicara, dan didengar kalam-Nya.

Disatu sisi, kita manusia disebut “insan”; manakala intelek sudah mampu membangun persepsi tentang Tuhan (dalam pemikiran David Hawkins Power vs Force, disebut sebagai orang-orang yang bernilai 500 ke bawah). Namun belum masuk ke dimensi “kamil” (nilai kum kreditnya 500 ke atas; dan para nabi mampu mencapai angka maksimal 1000). Kita mampu menjadi insan manakala akal kita sudah hidup. Namun untuk menjadi kamil, qalbu harus aktif. Sejauh ini kita percaya Dia ada. Tapi belum akrab, belum tembus untuk menjadi sahabat dan kekasih-Nya. Belum komunikatif dan interaktif dengan-Nya. Karena qalbu yang merupakan perangkat paling ruhaniah yang dapat menyambungkan kita dengan Tuhan, masih mati.

Alquran hampir selalu berbicara kematian manusia dalam konteks matinya qalbu. Kalau belum “rujuk” (kembali) kepada Allah, belum tersambung, atau belum terhubung dengan Allah; kita dilabeli sebagai “mati”. Persis seperti HP; qalbu orang beriman baru dikatakan hidup jika sudah “bergetar”, sudah masuk sinyal dan pesan dari alam arwah, alam ruh, alam malaikat atau alam rabbani (QS. Al-Anfal: 2).

Awal hidupnya qalbu, dalam terminologi para sufi disebut “muraqabah”. Dalam terminologi lainnya disebut yaqazah (keterjagaan, keterhubungan, atau perjumpaan ruhani kita dengan Ruhani Rasulullah; yang terjadi secara sadar dan bahkan secara visual). Muraqabah adalah awal makrifat, awal dari perjalanan spiritual. Para sufi yang sudah memiliki muraqabah punya kemampuan untuk membangun komunikasi dengan Ruhul Muqaddasah Rasululullah, dengan Allah. Sebab, Allah itu Maha Hidup. Kita juga dikatakan “hidup”, jika sudah terkoneksi dengan yang Maha Hidup. Semua nabi memulai perjalanan spiritual mereka dengan muraqabah ini. Secara perlahan mereka membangun kemampuan berinteraksi dengan Nur Muhammadi. Sampai kemudian benar-benar hidup dalam dimensi yang Maha Tinggi; mampu terus membangun dialog, bergerak, fana dan baqa bersama-Nya.

Muraqabah adalah kehadiran unsur-unsur malakut dalam diri manusia. Sebab, hanya dimensi malakut (malaikat) yang mampu menembusi “alam Tuhan”. Manusia yang tidak terhubung dengan alam malakut mustahil mengenal Allah. Sebab, mengenal malaikat adalah pra-syarat mengenal Allah. Artinya, Allah hanya bisa dijumpai (dimakrifati) jika sudah pernah bertemu malaikat.

Pertanyaan provokatifnya adalah, apakah anda sudah pernah berjumpa malaikat? Jika belum, mustahil bisa sampai kepada Allah. Karena itu memang maqam (station) yang harus dicapai dalam perjalanan spiritual. Semua nabi bertemu malaikat, sebelum sampai kepada Allah. Anda jangan menghayal bisa lebih hebat dari nabi, langsung lompat ke Allah. Temui malaikat dulu. Jadilah makhluk malakut terlebih dahulu, menjadi ahli dzikir, yang tidak pernah berhenti bertasbih kepada-Nya; jika berharap ingin bertemu Tuhan.

Itulah muraqabah, kehadiran para malaikat dalam diri. Kehadiran “bala tentara” Allah. Kehadiran para penolong yang akan selalu memenangkan kita. Kehadiran sinyal-sinyal dari sisi Allah. Kehadiran elemen-elemen laduniah, hidayah atau petunjuk langsung dari Allah. Ilham, wahyu atau kalam Tuhan. Pengetahuan-pengetahuan yang disalurkan secara langsung dari sisi-Nya.

Manusia-manusia malakut mampu berdialog dengan Allah. Kalau berbicara akan diijabah, dijawab oleh Allah. Mereka punya kemampuan “mendownload” rahasia-rahasia semesta. Mengetahui benar salah secara hak (langsung menurut Allah). Tau mana yang “kanan” (boleh), mana yang “kiri” (tidak boleh). Karena dalam diri mereka telah aktual kehadiran “raqib-atid” yang senantiasa mengawasi, yang selalu membisiki tentang baik-buruk atau benar-salah sesuatu. Karena faktor inilah para nabi menjadi maksum. Terjaga dari dosa. Para walinya juga begitu, senantiasa terawasi, terjaga dan terlindungi dari keburukan-keburukan.

Muraqabah merupakan warisan elementer dari para nabi. Kemampuan ini juga dimiliki (diwariskan) kepada para imam dan wali-walinya. Maka tidak heran, dalam mazhab tertentu (tariqah); kata-kata para imam, wali atau mursyid disetarakan dengan “hadis”. Sebab, kalau seseorang sudah berbicara dan bertindak dalam dimensi muraqabah, itu dimensi ilahiahnya sangat tinggi, bernilai sunnah.

Karena itulah, orang-orang yang memiliki muraqabah disebut sebagai “waris” nabi. Corongnya Allah. Sebab, mereka memiliki metodologi yang sama dengan para nabi dalam berdialog dan berinteraksi dengan Allah. Sampai kiamat Allah itu masih Maha Berkata-Kata. Anda masih dapat mengajak Dia berbicara, tanpa harus terlebih dahulu menjadi nabi. Cukup jadi orang bodoh saja, namun punya metodologi beragama yang sama dengan para nabi, anda pasti bisa berkomunikasi dengan-Nya. Hanya qalbu yang mati yang kehilangan kontak dengan Allah.

Ingat, muraqabah ini adalah “vibrasi” ketuhanan. Sinyal-sinyal yang masuk dari alam Tuhan. Muraqabah adalah pengamatan Allah. Pengawasan Allah. Penjagaan Allah. Penglihatan Allah. Peringatan Allah. Teguran Allah. Sapaan Allah. Cubitan Allah. Kode-kode dan bisikan dari Allah. Semuanya bentuk gelombang “ayat”, atau tanda-tanda yang turun dari langit.

Namun banyak orang yang pesimis, ini hanya perbendaharaan ilmu para nabi. Mereka keliru. Mereka lupa, bahwa kita manusia adalah makhluk sempurna. Dengan pelatihan (riyadhah) tertentu; seluruh jaringan sel dan syaraf kita bisa aktif dan dapat berinteraksi secara online dan langsung dengan Allah SWT. Tentu harus ada jibril, rasul, wali, mursyid, guru atau supervisor yang membimbing pelatihan ini. Sebab, ini dunia “gaib”. Dunia ketuhanan. Dunia spiritual yang sangat halus. Dunia dimana setan juga ikut bermain di dalamnya. Maka para nabi serta warisnya harus dijadikan “wasilah”, tempat kita mengambil ijazah. Karena mereka adalah pemegang otoritas untuk urusan aktivasi ruh. Melalui bimbingan para buraq inilah kita dapat ‘terbang’, guna “diperjumpakan” dengan yang Maha Suci.

Para ahli tasawuf, termasuk Al-Ghazali, ikut menguraikan tentang muraqabah ini. Begitupun Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda senantiasa memperkenalkan “barang” ini kepada murid-muridnya di Dayah Sufimuda. Muraqabah adalah sesuatu yang paling dicari oleh kaum hanif. Muraqabah adalah awal penapakan seseorang di alam ruhani, sebelum masuk ke makam-makam yang lebih tinggi; makam dimana Allah yang Maha Batiniah semakin men-dhahir-kan diri; dalam rupa dan makna-makna yang dapat dipahami manusia.

Muraqabah ini tidak bisa dituntut. Karena ia murni pemberian ilahi. Milik para wali. Anda boleh saja sholat siang malam, berdzikir pagi petang. Ada titik dimana Dia sendiri yang akan hadir dan bersedia memperkenalkan Diri. Terkadang vibrasi kehadiran-Nya sangat kuat. Bisa membuat anda menjerit, menangis. Bahkan dapat membuat anda pingsan seketika, seperti yang dialami Musa (QS. Al-Araf: 143).

Mahabbah

Jika muraqabah itu berbentuk sinyal-sinyal, gelombang, bisikan, pengawasan dan aneka rasa dan penyaksian akan kehadiran Tuhan; maka mahabbah lebih tinggi lagi. Mahabbah sudah berbentuk aktualisasi cinta terhadap Allah. Bukan lagi sekedar mampu berkomunikasi dengan-Nya; tapi sudah pada tahap berbuat, berkorban, beramal, atau melakukan sesuatu bagi Dia. Sehingga mahabbah disebut sebagai puncak dari agama. Pada tahap awal, kita (sebagimana para nabi) memang harus terkoneksi dengan Dia (muraqabah). Selanjutnya bertindak sesuai apa maunya (mahabbah).

Bentuk “amal baik” itu ada dua. Pertama, baik menurut kita. Kedua, baik menurut Allah. Kita bisa saja banyak membaca. Apakah membaca Quran, buku/kitab dan sebagainya. Lalu dengan menggunkaan akal fikiran bisa kita tafsirkan baik-buruk atau benar-salah tentang sesuatu. Itu namanya kebenaran “interpretatif”, atau “kebenaran “argumentatif” (ilmu yakin). Bisa benar, bisa salah. Bahkan seringkali sesuatu yang benar dan baik menurut kita, belum tentu benar dan baik menurut Allah. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ada yang lebih tinggi dari kebenaran tafsiran. Yaitu kebenaran hakiki, alias benar dan baik menurut Allah (hakkul yakin). Seringkali kebenaran itu bersifat “subjektif”. Artinya; mesti dikaitkan dengan konteks kasus, tempat dan waktu. Sehingga manusia sering menerjemahkan kebenaran sesuai kondisi. Itu sudah main akal. Sementara bagi yang sudah hidup muraqabahnya, Allah sendiri yang akan “turun” pada konteks ruang dan waktu tersebut; untuk membisiki apakah sebuah tindakan yang kita ambil sudah benar/baik atau tidak untuk konteks itu.

Jadi ada “akal Tuhan” (wahyu/ilham) yang hadir, untuk mengarahkan kita pada setiap tempat dan waktu. Muraqabah inilah yang membuat Islam selalu relevan disetiap zaman dan waktu. Karena Tuhan hadir disepanjang zaman untuk membimbing hambanya, secara aktual. Muraqabah adalah God’s decision, keputusan-keputusan Tuhan yang senantiasa dibisiki kepada hamba-Nya. Jadi bukan seorang hamba yang memutuskan, tapi Tuhan. Disini berlaku dalil: la haula wala quwwata illa billah. (Wahyu) Allah akan hadir, manakala ego (akal dan nafsu) kita sudah tidak berdaya. Ada metodologi dalam tasaawuf untuk naik ke alam suprarasional (alam wahyu/ilham).

Jadi, mahabbah itu (pada level hakikinya) adalah bertindak sesuai maunya Tuhan. Tuhan yang mendikte kita harus membangun apa dan melakukan apa. Akal universal kita memang selalu hidup untuk memikirkan yang terbaik. Tapi dicelah-celah itu Tuhan akan selalu hadir untuk memberi keputusan dan arahan-arahan terbaik. Itulah yang kita temukan dalam kehidupan para nabi. Mereka mampu merasakan kehadiran Tuhan. Lalu melakukan berbagai gerakan atas maunya Tuhan. Muhammad SAW misalnya, umur 40 sudah sempurna muraqabah-nya. Sudah baqa dalam dimensi ilahi. Pada puncak usia mudanya itu, ia sudah mampu berdialog dan berinteraski secara maksimal dengan Tuhannya. Lalu apa yang terjadi kemudian adalah bagaimana dia membangun gerakan ekonomi, sosial dan politik diatas bisikan dan proses-proses dialogis dengan Tuhannya. Jadi, ia tidak melakukan amal baik menurut akalnya saja. Melainkan atas petunjuk-petunjuk yang turun secara langsung dari sisi Tuhannya (laduni).

Itu mahabbah. Berkorban habis-habisan untuk Tuhan. Tidak harta dan benda; nyawa sekalipun disediakan untuk berjihad di jalan Tuhan-Nya. Mahabbah ini sudah mirip “orang gila”. Hilang akal. Sudah mabuk bertuhan. Sudah “mati” kemanusiaannya. Sudah tak ada lagi dirinya. Semua tentang Tuhannya. Semua terserah apa maunya Dia. Terserah Allah dan Rasul-Nya. Pada level syariat kita memang masih suka berdoa minta ini, minta itu. Banyak kali permintaan kita. Bahkan mirip-mirip memaksa Tuhan untuk memenuhi semua nafsu dan selera kita. Pada level mahabbah, kita sudah mulai bermunajat, malu meminta, semuanya terserah Allah saja.

Puncak ideologi adalah mahabbah. Menjadi pekerja, menjadi kesatria. Mahabbah adalah mencintai alam dan umat manusia sebagai bentuk refleksi cinta kepada Tuhan, yang Wajah-Nya ada dimana-mana. Mahabbah adalah berbakti kepada agama dan bangsa, yang diniatkan untuk-Nya. Mahabbah adalah mengabdi kepada para ulil amri yang menunjukkan mereka, baik jalan menuju ke langit, maupun jalan-jalan untuk menuju kesejahteraan di dunia.

Islam tidak akan tegak secara cepat di tengah dunia Arab yang jahiliah, jika Muhammad tidak mampu membangun pasukan yang penuh mahabbah. Generasi awal Islam adalah orang-orang yang kuat muraqabah, dan full mahabbah. Inilah rahasia yang membuat Islam menjadi kekuatan yang mengerikan, yang dalam tempo 20 tahun sudah mampu merubah peta ideologi dan kekuasaan di tengah jazirah.

Pasukan Wali Qutub, Imam Zaman atau Al-Mahdi di akhir zaman juga seperti itu. Kuat muraqabahnya, tinggi mahabbahnya. Mampu merasakan kehadiran Tuhan, dan tidak pernah lelah berjuang di jalan-Nya. Itulah generasi Islam terbaik, di awal dan di akhir zaman. Selebihnya adalah orang-orang awam seperti kita; yang persis buih di lautan, terombang kesana kemari. Jauh dengan Tuhan, cinta dunia, kikir, dan takut mati. Malas, dan mood-nya juga tak jelas. Ampun Tuhan!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s