“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 07 | Februari 2022


SYARIAT ISLAM, SYARIAT CINA
Oleh Said Muniruddin

“Aceh masih sama miskinnya” (BPS, 2022)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Agama yang kita anut hari ini, dicurigai, bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Kebetulan namanya sama. Sama-sama “Islam”. Tapi Islam kita dengan Islam yang dipraktikkan Muhammad, jauh sekali beda. Rukuk sujudnya terlihat serupa. Juga menyebut-nyebut nama Tuhan yang sama. Tapi isi dalamnya beda. Beda sekali. Seperti langit dan bumi.

Islam yang diperkenalkan Muhammad adalah Islam yang dalam periode 20 tahun masa implementasi, telah merubah Arab yang jahil menjadi civilized. Taat pada hukum. Berakhlak. Menghasilkan orang-orang yang berpower dan karamah karakternya.

Islam yang kita usung dan praktekkan adalah jenis Islam yang kita tidak tau dari mana asalnya. Yaitu, Islam yang setelah 20 tahun pendeklarasian syariatnya (4 kali ganti pemimpin), Aceh masih lebih kurang sama miskinnya. Masyarakatnya masih sama “bakai” dengan dulunya. Suka melanggar aturan, korup dan mungkin makin rasis (masih kuat bertikai dalam urusan aliran, suka mengkafirkan, membid’ahkan dan mensyirikkan saudaranya).

Islam yang tidak mengubah masyarakat, itu bukan Islam. Walau bahasanya Arab, dan rujukannya Quran dan hadis juga. Ini bukan tentang bahasa dan rujukan. Ini bukan tentang teori yang dibuat terkesan islami. Ini bukan tentang ceramah yang berapi-api. Ini bukan tentang nama bank yang dilabeli Islam. Ini bukan tentang janggut yang panjang. Ini bukan tentang hafalan Quran. Ini tentang “power that changes”. Ini tentang metodologi yang mengubah sistem.

Cina, 25 tahun dibawah sistem baru, telah mengubah segalanya. Ekonominya pesat luar biasa. Telah melampaui Amerika. Telah menguasai semua lini. Teknologinya pesat. Produknya membanjiri dunia. Syariat Cina telah mengeluarkan mereka dari kemiskinan yang begitu kentara. Membuat mereka keluar sebagai juara. Masyarakatnya 1,3 milyar; relatif tenang. Politiknya stabil. Syariat Islam kita bagaimana?

Pusat Islam, di Timur Tengah, populasinya hanya 436 juta. Tapi rusuh terus. Sudah 12 tahun perang dikawasan tak berujung. Raja-rajanya semakin terjajah dengan agenda normalisasi adidaya. Seperti kerbau dan lembu yang dicocok hidung, “samikna wa athakna” dengan keinginan zionisme.

Timur tengah sudah bukan Islam lagi. Yang tersisa hanya bacaan imam di Masjidil Haram. Itupun masih kalah besar dengan suara bom serta jeritan anak dan perempuan yang menjadi korban dari alat-alat perang yang dibeli Ben Salman. Khutbah tentang kedamaian Islam berbanding terbalik dengan serangan-serangan brutal yang mereka tujukan ke negara muslim tetangganya, Yaman.

Kalau Cina makin intensif mengekspor barang ke penjuru dunia, Arab makin aktif mengekspor ideologinya. Mengekspor para ustadz; yang lewat mimbar, TV dan Radio tak pernah berhenti menjual surga dan neraka melalui dalil hadis tentang kesesatan muslim lainnya. Agenda siapa yang ingin membuat internal kita terus rusuh? Agenda para penguasa sumur minyak dunia kah?

Negara-negara kafir (Eropa, Amerika, Australia dan Asia Timur) begitu maju dan damai. Timur Tengah masih berdarah-darah dengan sesama agama. Agama menjadi alat justifikasi pengkafiran dan pembunuhan sesama. Lalu masyarakatnya jadi pengungsi, miskin dan kelaparan. Jadi pengemis dimana-mana. Lihat negara muslim Suriah. Bukan diserang oleh Israel. Tapi dihabisi oleh para penghafal Quran lainnya, termasuk yang datang dari Indonesia. Oleh Islam palsu. Oleh Islam yang tersisa hanya jenggot, jubah dan takbir. Oleh Islam yang “Lailaha illallah” hanya ada di benderanya saja.

Cepatlah sadar. Islam kita hari ini adalah Islam yang cenderung palsu, dalam aneka cabangan nama: Ahlussunnah, Syiah, Salafiah, dan sebagainya. Islam yang 360 derajat beda dengan yang dipraktikkan Nabi. Islam Nabi adalah Islam yang telah membuat rakyatnya makmur dan menyatukan semua suku dan keyakinan hanya dalam sekejap. Islam kita adalah Islam yang kita sendiri sudah lama miskin dan tersekat dalam aneka mazhab.

Kita semua telah tersesat dalam nama “Islam”. Dalam jargon agama. Dalam jenis Islam yang tidak memiliki etos. Dalam Islam yang hanya tau nama-nama kitabnya saja. Tapi menganggur dan kehabisan ide, tidak tau harus melakukan apa untuk menguatkan ekonomi bangsa. Kita semua sedang mengidap “penyakit Islam”, overdosis dengan opium mazhab. Rajin berperang. Mudah diprovokasi. Gampang diadu domba.

Tugas terberat kita adalah menemukan Islam yang otentik. Islam yang mampu membentuk budaya progresif. Yang rasional. Yang berakhlak. Yang rajin. Yang disiplin. Yang toleran. Yang cerdas. Yang berani. Yang pernah mengubah dan menjadi contoh bagi dunia. Yang ini semua mirip-mirip tidak ada ditengah 250 juta rakyat Indonesia. Apalagi di Aceh, yang rakyatnya miskin dan mabuk agama.

Begini. Kalau Syariat Islam sudah gagal memajukan masyarakatnya, coba intip-intip, bagaimana Syariat Cina hari ini mampu menguasai dunia. Mungkin akan terjawab mengapa ada hadis, atau mungkin saran orang bijak untuk “menuntut ilmu ke negeri Cina”. Mungkin mereka punya metodologi yang lebih Islami, lebih efektif dalam memajukan ekonomi rakyatnya.

Setidaknya ini respon kami atas tulisan Budiman Sudjatmiko, yang mengurai poin-poin kemajuan Cina, dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang sakau beragama. Kita tidak perlu setuju dengan semua yang ada di Cina. Tapi apa yang dia sampaikan ada benarnya. Kita sangat ‘religius’, tapi kehilangan vitalitas dalam memajukan ekonomi umat dan kemadanian bangsa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin