“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 10 | Februari 2022


PERUBAHAN WUJUD
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIEM. Ada proses di alam yang membuat benda/zat (padat, cair, dan gas) berubah wujud. Misalnya, dari cair menjadi padat (membeku). Dari padat menjadi cair (mencair). Dari cair menjadi gas (menguap). Dari gas menjadi cair (mengembun). Dari padat menjadi gas (menyublim). Dari gas menjadi padat (mengkristal). Semua ada mekanisme alamiah. Ada proses yang dapat disimulasikan untuk membuat perubahan pada sebuah wujud.

Manusia juga begitu. Jika diketahui caranya, wujud kita bisa diubah. Dari satu bentuk (martabat) ke bentuk (martabat) lainnya. Manusia bisa menghilang, melakukan transmutasi, teleportasi, mikraj, dan sebagainya. Karena wujud duniawi kita adalah bagian dari alam, yang bisa berubah/diubah. Konon lagi ada wujud ukhrawi (ruh) yang lebih halus dan punya kemampuan berubah lebih cepat dengan kecepatan yang lebih dahsyat.

Pertama; secara fisik material, manusia itu benda alam. Struktur unsurnya “lat batat kayee bateei”. Terdiri dari air, api, angin dan tanah. Sesuatu yang dapat diubah dan berubah-ubah. Konon lagi, ada struktur ruhaniah (eter/void/gelombang/cahaya/kesadaran/ruh) dalam dirinya; yang mampu mensimulasikan wujudnya secara sangat radikal dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Karena struktur material dan immaterial inilah, sebagai binatang, kita kemudian menjadi manusia dengan aneka kekuatan psikokinesis. Bahkan dapat menjadi iblis, jika unsur “api”-nya menguat. Juga dapat menjadi malaikat, jika terjadi transformasi pada elemen-elemen quark (cahaya).  Bahkan dengan fusi lebih lanjut, melalui elemen cahaya di atas cahaya ini, kita bisa memiliki power dan melakukan perubahan (mikraj) ke level wujud yang lebih tinggi.

Kita hanya perlu sedikit lebih cerdas untuk memahami sains dan agama. Karena misalnya, ada teknologi elektrolisa yang dapat mengurai air menjadi oksigen dan atom hidrogen, yang jika disatukan kembali lalu disulut, akan menyemburkan api yang dapat melebur besi. Ada juga teknologi yang jika air dialirkan melalui turbin yang dirangkai dengan dinamo, akan mengeluarkan energi listrik berkekuatan hingga 170.000 KVA.

Ada teknologi yang dapat mendorong reaksi fisi, pemisahan berantai pada inti sebuah atom, sehingga menjadi bom yang sangat dahsyat. Ada juga teknologi yang dapat melakukan penggabungan isotop-isotop atom sehingga menjadi termonuklir hidrogen dengan tingkat panas dan radiasi yang menyaingi matahari. Ada teknologi yang dengan reaktor tertentu dapat memperkaya secuil uranium menjadi energi nuklir yang mengerikan sekali. Ada teknologi yang mampu mengolah seberkas cahaya menjadi kekuatan pisau laser yang sangat tajam dan mampu bergerak super cepat dengan daya hancur yang tinggi sekali.

Banyak teknologi yang dapat mengubah elemen-elemen alam menjadi sesuatu yang dapat melakukan hal-hal diluar nalar manusia. Lalu teknologi apa yang dapat mengubah unsur-unsur materi dan ruhaniah manusia, sehingga menjadi makhluk yang luar biasa; yang dapat menghidupkan orang mati seperti Isa as, membelah laut seperti Musa as, menembusi petala langit dan bumi seperti Muhammad SAW, dan sebagainya.

***

Kitab Alquran itu hanya sebatas “teori”. Rumus untuk maju. Hanya sebatas resume tentang keajaiban energi. Mirip buku E=MC² nya Einstein. Sementara, untuk menjadi sebuah kekuatan yang nyata, Alquran harus disimulasikan. Harus ada teknologinya. Bom atom yang asli misalnya, itu bukan sebatas catatan yang disimpan di lemari, yang sesekali dibaca dan dihafal-hafal. Melainkan sesuatu yang ada ledakan, ada cahaya, ada suara, ada tenaganya. Alquran yang asli juga begitu, ada kekuatan yang menghasilkan perubahan. Ada energi yang “merubah” wujud. Ada mukjizat, ada “power that changes”. Ada teknologi yang merubah huruf menjadi daya. Ada kekuatan yang dapat dimunculkan dalam elemen-elemen fisik dan nafsani para pembacanya. Sehingga mampu menghancurkan, menggerakkan, bahkan menghidupkan sekalian manusia.

Ayat-ayat harus punya power, untuk sah disebut Alquran. Alquran itu disebut ajaib, miracles, pada saat bisa difusikan melalui metodologi tertentu; sehingga mengalirkan berbagai kekuatan ibarat bom atom atau nuklir. Jika tidak, Alquran hanya menjadi koran harian biasa, sebatas buku cerita.

***

Dalam Islam ada ilmu metafisika, yang bertujuan memperkenalkan Alquran sebagai teknologi. Ilmu untuk mengubah teks menjadi power. Ilmu untuk mengisi “daya” pada diri manusia, sehingga apa yang dibaca menjadi bertenaga. Ilmu untuk menghidupkan inti atom dari manusia, sehingga apapun yang melekat pada dirinya menjadi sesuatu yang berharga. Ilmu untuk mengaktivasi partikel-partikel cahaya dalam diri. Sehingga setiap yang dihafal memiliki energi, dan apapun yang diucap menjadi doa. Ada proses inkubasi alamiah, atau proses mujahadah, untuk melakukan fusi energi ini sampai melahirkan power. Melalui proses ini, ruh (mesin kejiwaan) orang-orang yang menjalaninya akan “hidup”, mewarisi qudrah iradah yang disalurkan langsung dari alam rabbani.

Islam itu pada prinsipnya adalah agama “gaib”. Agama bagaimana cara mengisi ruh kita dengan energi dari langit. Tanpa arus dari langit, manusia-manusia yang menenteng Alquran hanya menjadi sekumpulan keledai yang ditimbuni kitab-kitab. Tidak akan memiliki kekuatan apapun. Banyak teori, tapi kalah terus. Allahnya maha kaya, tapi kitanya miskin terus. Terjajah terus. Menjadi buih di lautan. Persis seperti yang dialami dunia Islam hari ini. Jumlah Alquran yang tercetak dan para penghafalnya semakin banyak. Tapi teknologi untuk menghidupkan intinya tidak dikuasai. Tidak ada “wasilah” (cabel/satelit/tali Allah) yang membantu kita menerima arus dari langit, guna menghidupkan setiap ayat. Padahal, dengan teknologi wasilah inilah setiap goresan dan bacaan ayat-ayat yang bernilai baharu berubah menjadi qadim (memiliki divine power).

***

Melalui tariqah (teknologi/metodologi iluminasi) tertentu, manusia mampu mengalami perubahan wujud. Dari wujud bumi menjadi wujud langit. Konon lagi; manusia, asal wujudnya adalah Allah: “Dari Allah dan (jika diketahui teknologinya) akan kembali kepada dimensi Allah” (QS. Al-Baqarah: 156). Seandainya kita mampu mengembalikan diri kita (fana dan baqa) kepada wujud asal itu, kita akan mampu menyentuh power Alquran yang asli. Sebab, tidak mungkin kita memiliki kekuatan Alquran sebagai kalam ilahi yang asli, kalau kita tidak berada pada dimensi kesadaran yang suci itu. “Membaca ayat Tuhan harus di alam Tuhan”, sebut Sufimuda.

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mampu merubah diri, wujud anfusi mereka.. (QS. Ar-Ra’d: 11).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin