“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 12 | Maret 2022


WAHYU AKTIF DAN WAHYU PASIF
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Wahyu itu ada dua: (1) Wahyu Aktif; (2) Wahyu Pasif.

“Wahyu Aktif” adalah Tuhan yang terus berbicara kepada manusia; melalui hati dan akal fikiran (fuad) manusia. Atau disebut juga ruh, ilham, hidayah, muraqabah, pesan laduniah, atau apapun namanya yang merujuk pada bentuk komunikasi langsung Tuhan dengan hamba-Nya.

Untuk mencapai kemampuan menangkap pesan-pesan (wahyu) Tuhan secara langsung, manusia harus menempuh jalan untuk memperkuat infrastruktur telekomunikasinya. Sebab, Tuhan itu Maha Hidup dan Maha Berkata-Kata. Perlu kecanggihan spiritual untuk mendengarnya berbicara.

Sedangkan “Wahyu Pasif” adalah teks wahyu warisan Muhammad bin Abdullah, yang proses kompilasinya pun sebenarnya baru dilakukan belakangan oleh sahabat-sahabatnya, di masa Usman. Terkadang maknanya juga tidak langsung bisa dikonsumsi. Konon lagi banyak yang mutasyabihat. Harus ditafsirkan. Harus dipahami. Tentu lewat akal (qiyas, dsb). Karena ramai-ramai menggunakan akal, lahirlah aneka mazhab, aliran dan pemikiran. Bahkan ada yang saling bentrok.

Silakan saja banyak pemikiran. Namun, kita tidak tau mana pemikiran yang lahir yang benar-benar sejalan dengan “akal Tuhan”, sesuai dengan yang dimaksud Tuhan. Konon lagi, banyak pemikiran yang sekilas logis dan benar, tapi bisa jadi sangat di benci Tuhan. Yang terakhir ini termasuk bagian dari kesombongan akal.

Oleh sebab itu, teks wahyu (Wahyu Pasif) itu penting. Sebagai bahan dasar. Bahan bacaan. Rujukan tertulis. Namun harus ada kemampuan bagi kita untuk mengkonfirmasi kepada Tuhan, apakah bentuk-bentuk tafsiran kita terhadap teks sudah sesuai dengan keinginan Dia; guna diterapkan pada konteks, zaman dan situasi yang berbeda. Sebuah penjabaran Ayat, untuk diterapkan pada konteks tertentu, selalu butuh seorang “hakim” yang adil. Butuh ahli “hikmah”. Butuh orang yang cakap dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Sehingga sesuatu bisa diputuskan atas nama Tuhan.

Para nabi adalah orang-orang yang saat  datang memang sudah ada kitab wahyunya, sudah ada suhuf-suhuf warisan nabi-nabi terdahulu. Saat Muhammad datang juga begitu, sudah ada Injil. Namun orang yang mampu mengkomunikasikan kembali isi Injil dengan Tuhan, itu sudah tidak ada lagi.

Isa as juga begitu. Saat datang, itu sudah ada Taurat, Zabur dan sebagainya. Tapi orang yang mampu mengkomunikasikan segala pemikiran tentang isi kitab dengan Tuhan, itu sudah tidak ada. Isa bertugas untuk menjalin kembali komunikasi itu. Begitu juga nabi-nabi sebelumnya. Peran mereka untuk mengkomunikasikan dengan Tuhan berbagai situasi dan pemikiran yang berkembang. Sehingga lahir pemikiran-pemikiran baru yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kita sekarang juga begitu. Tidak perlu lagi nabi baru. Juga tidak perlu lagi kitab suci baru. Namun setiap zaman selalu butuh seorang (yang mewarisi) ‘rasul’. Yaitu orang yang mampu mendialogkan kebenaran dengan Tuhan. Sehingga setiap pemikiran yang lahir pada zamannya akan mendapat otorisasi secara aktif dari Tuhan. Bukan sekedar merasa bahwa pemikirannya sudah benar, walaupun bawa-bawa ayat. Tapi memang Tuhan langsung yang berkata, “Apa yang kamu pikirkan ini, benar!”. Itulah yang disebut, akal telah terkonfirmasi dengan wahyu (dengan alam pikiran Tuhan), secara aktif dan aktual.

Kelebihan umat Muhammad adalah, banyak yang memiliki kemampuan itu. Walaupun orang-orangnya cenderung tersembunyi. Kalau ketemu sanadnya, anda juga mampu mewarisi keahlian para nabi ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin