BINTANG ‘ARASY DI BATUSANGKAR: SYEKH ABDUL MAJID, SHOLAWAT DAN HUJAN YANG KEMBALI MEMBASAHI BUMI

Peserta Intermediate Training Tingkat Nasional HMI Cabang Batusangkar – Sumatera Barat, 10 Maret 2022


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 15 | Maret 2022


BINTANG ‘ARASY DI BATUSANGKAR: SYEKH ABDUL MAJID, SHOLAWAT DAN HUJAN YANG KEMBALI MEMBASAHI BUMI
Oleh Said Muniruddin | Dosen FEB USK | Presidium KAHMI Aceh | Penulis Bintang ‘Arasy

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Baru mendarat, tiga pejuang tangguh sudah menunggu. Renaldi Ananda (Bendum), Hary Anggara (Departemen), dan Ilham (Ketua Komisariat). Perjalanan dari Minangkabau Airport ke Kabupaten Tanah Datar akan ditempuh dalam 3 jam. Malam ini, Bintang ‘Arasy diagendakan untuk mengguncang Pagaruyung, Batusangkar.

Renaldi Ananda dan Hary Anggara

***

Setelah makan rendang guna mengisi perut yang lapar, kami kembali melaju. Melintasi gunung, hutan dan jalan berkelok. Sempat di guyur hujan di wilayah Padang Panjang. “Memang di daerah ini sering hujan bang”, jelas Ari yang menyupiri kendaraan.

Menjelang jam 9 malam kami tiba Islamic Center. Lokasi training ini satu komplek dengan kantor Bupati Batusangkar. Bersebelahan dengan Istano Raja Basa Pagaruyung. Cuaca cukup sejuk. Setelah istirahat satu jam, tepat jam 22 Wib, sesi kami dimulai.

Istano Raja Basa Pagaruyung

Istano Raja Basa Pagaruyung

Dikerubungi putri raja Minangkabau (bangunan istana ini dipenuhi ragam hias “jala taserak”, motif pakis)

Peserta berjumlah 55. Hanya 12 orang yang berasal dari Batusangkar. Selebihnya datang dari berbagai kota di Sumatera Barat, Sumatera, dan Pulau Jawa. Termasuk satu orang dari Blangpidie Aceh. Memang sejak mendarat sore hari di Minangkabau, sudah masuk pesan WA dari kader Aceh ini. Biasa, melapor dan mohon dukungan untuk ikut LK-2. Para senior yang menerima pesan seperti biasa sudah paham. Paling tidak harus didukung uang makan untuk mereka survive di jalan.

Moderator, Ilham Hasanuddin dari Blangpidie Aceh

***

Materi malam ini tentang “Studi Gerakan Islam”. Kader harus memahami peta gerakan di Indonesia, serta patron mereka pada level global. Karena jarang ada yang berdiri dan bergerak sendiri. Hampir semua ada induknya. Ada silsilah ideologi dan aliran pemikiran dari luar sana.

Untuk memahami asal usul varian “islamic theology and movements”, kita harus kembali ke era awal Islam. Arbitrase Muawiyah (yang diwakili Amru bin Ash) menjatuhkan khalifah Ali bin Abi Thalib (diwakili Abu Musa Asy’ari) menjadi tonggak awal perpecahan. Yang kemudian meneguhkan eksistensi dua kubu besar Islam, Syiah dan Sunni. Muawiyah adalah juga sosok yang memperkuat fatalisme Jabariah. Semua aksi politik licik dan berdarahnya disandarkan kepada sesuatu yang ia sebut sebagai kehendak Allah, bukan karena nafsu pribadi.

Perpecahan awal ini melahirkan khawarij. Pendukung Ali kecewa karena kekuasaan berpindah kepada Muawiyah. Akhirnya walk out dan membentuk barisan baru dan membangun pemikiran sendiri yang keras dan kaku. Ali dan Muawiyah dianggap telah melakukan dosa besar, telah menjadi kafir, dan halal darah darahnya. Mereka membunuh Ali. Sekarang, ideologi khawarij menjelma dalam gerakan “takfiri”, melalui slogan purifikasi ketauhidan. Tapi suka mengkafirkan dan menghabisi tanpa ampun orang yang dianggapnya sesat. Wahabisme ektrim, ISIS, Al-Qaeda, Jabhat Nusra dan berbagai varian salafi radikal; semua bersanad pada pemikiran khawarij (kharijites) ini. Mazhab ibadi di Oman berbasis pada ideologi yang suka berdebat ini, namun mulai membuka diri untuk melakukan diskusi-diskusi interfaith. Ada juga kelompok yang keluar dari khawarij dan membentuk Sunni “murjiah” dengan pandangan yang lebih moderat.

Bersama Bupati Tanah Datar Bapak Eka Putra, SE, MM (memakai kaca mata) yang baru berusia 47 tahun

Paska Muhammad SAW, gerakan Islam perlahan terstruktur dalam 3 kerangka pemikiran tauhid, fikih dan tasawuf. Varian pemikiran “tauhid” menjelma dalam Syiah, Khawarij, Muktazilah, Qadariah, Jabariah, Asyariah dan Maturidiah. Dua terakhir dipinjam sebagai basis gerak pikir Sunni. Varian pemikiran “fikih/syariat” melahirkan Jakfari, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sementara pemikiran “akhlak/tasawuf” melahirkan aneka ordo tarekat seperti Alawiyah, Syattariah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, dsb.

Secara umum, gerakan Islam berada dalam dua sayap besar, Syii dan Sunni. Serta beberapa yang berada diantara keduanya. Seperti sufi dan kelompok-kelompok tradisional lainnya (NU di Indonesia misalnya, adalah kelompok Sunnah yang akomodatif dengan Syiah), serta kaum revivalist, juga liberal/modernist (yang banyak mendorong dialog-dialog persaudaraan dan pembaharuan pemikiran). Di luar itu ada Ahmadiyah, yang juga mengaku Islam, namun sulit identifikasi sebagai Sunni ataupun Syiah. Kelahirannya pun penuh perdebatan.

Sementara Syiah memiliki beberapa gerakan yang terbagi tiga: Imamiyah Zaidiyah dan Ghulat (yang terakhir ini dianggap ekstrim dan bahkan tidak diterima oleh Syiah lainnya). Imamiyah juga terbagi dalam 12 imam (jakfari/twelvers) dan Ismaili. Ismaili pun terbagi lagi dalam Nizari dan Dawoodi Bohra.

Sementara Sunni juga terpilah dalam beberapa kelompok seperti Hanafi, Syafi’i, Maliki, Hambali dan juga Salafi (yang terakhir ini juga mengaku Ahlussunnah dan melahirkan kelompok-kelompok politik dan jihadis). Sementara Wahabi mencantolkan diri pada Hambali. Sedangkan dibawah Hanafi lahir Brelwi dan Deobandi. Jamaah Tabligh (the preaching groups) dan Taliban (students) berpayung dalam pemikiran Deobandi ini. Taliban kemudian berevolusi menjadi kelompok bersenjata. Dibawah kerangka Sunni juga lahir sejumlah gerakan politik lain seperti Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) dan Jamaat Islami.

Sementara dalam Syiah juga muncul gerakan-gerakan politik seperti Hizbullah, yang memberikan resistensi dan perlawanan terhadap aliansi kapitalisme US dan zionisme. Hamas yang berorientasi Sunni juga melakukan hal yang sama. Sejumlah negara punya gerakan politik dan muqawwamah.

Dengan memahami corak pikir teologis mazhab, bentuk gerakan dan tokoh-tokohnya; kader akan paham basis ideologi berbagai gerakan Islam yang muncul di Indonesia. Baik ormas-ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah, maupun organisasi-organisasi yang telah dibekukan pemerintah seperti HTI dan FPI. Juga organisasi-organisasi ekstra mahasiswa semacam KAMMI, IMM, PMII, PII dan lainnya.

Ujung dari materi ini mengajak kader untuk memahami berbagai basis ideologi dunia yang diramu Cak Nur dalam dokumen Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP-HMI). Dengan demikian, kader punya kemampuan berfikir universal, menyadari keragaman pemikiran dalam dunia Islam; sekaligus memiliki sikap moderat dan terbuka, punya sikap arif, serta tidak takfiris terhadap kemajemukan. Kader mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai mazhab dan ideologi, juga tidak latah dalam percaturan politik dan isu nasional, serta dapat menempatkan dan mengembangkan ide-ide HMI pada khittah ideal perjuangan keislaman dalam konteks lokal Indonesia.

Tidak hanya mengolah fikir. Forum training juga penuh pengayaan spiritual. Dua peserta “fana”. Larut dalam shalawat dan hilang kesadaran materialnya. Tumbang. Tidak terasa. Materi berlangsung selama 4 jam. Dimulai pukul 22.00 Wib. Berakhir dini hari, pukul 02.00 Wib.

Bersama Panitia dan Pengurus HMI Cabang Batusangkar

***

Besoknya, Rezky Ananda Putra (Sekum BPL) menembak saya, “Ziarah kita bang?”. Rezki ini suka dengan tasawuf. Dia suka dengan buku Bintang ‘Arasy karena kontennya sufistik.

“Ziarah kemana?”, balas saya. “Ke makam Syekh Abdul Madjid”, katanya. Saya sempat termenung. Rasanya pernah dengar nama ini. Ternyata adinda Rezky keturunan dari keluarga Syekh Abdul Madjid (1873-1958). Maka berangkatlah kami ke kampungnya.

Sekitar satu jam perjalanan dari kota Batusangkar, melewati Koto Gadih dengan pemandangan sawahnya yang indah, kami tiba di lereng Gunung Merapi. Tepatnya di Guguak Salo. Disitulah Syekh Abdul Madjid, seorang Mursyid Tarekat Naqsyabadiyah Al-khalidiyah menyebarkan dakwahnya. Salah satu murid beliau adalah Prof. Dr. Kadirun Yahya (1917-2001), ahli metafisika Islam Indonesia.

Foto Syekh Abdul Majid dan muridnya Syekh Kadirun Yahya, di mihrab Surau Guguak Salo, Batusangkar

Prof. Kadirun Yahya Muhammad Amin, setahun sebelum berpulang ke rahmatullah sempat kembali ke daerah ini dan memperbaiki surau gurunya. Beliau mengganti struktur kayu lama yang telah rapuh dengan bangunan baru yang sederhana namun bersahaja. Hari ini sudah tidak ada lagi aktifitas suluk dan tarikat di Surau Majidul Amin ini. Hanya tersisa makamnya saja.

Surau Majidul Amin, Guguak Salo, Batusangkar

Sumatera Barat, meskipun wilayah kota telah mengalami banyak perubahan ke arah modernisasi pemikiran, basis tradisional masyarakatnya masih kuat dengan tradisi sufi. Hubungan spiritual dengan Aceh juga kuat. Sebagaimana tergambar dalam syair:

Di Aceh kaji di mintak
Di Mekkah tarekat di putih
Di Minangkabau dapek silatnyo
Kaji putuih, Ma’arifat simpan,
Tak badan bicaro lai

Ini terkait dengan pengalaman berguru seseorang dari Pariaman yang bernama asli “Pono”, yang kemudian dikenal dengan Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau mengambil tarikat di Aceh (dengan Tgk. Syiah Kuala), lalu mendapat penutuh saat berziarah ke makam Syekh Ahmad Qusyayi di Madinah, kemudian disempurnakan dengan keahlian bersilat serta pengamalannya di Minangkabau.

Terima kasih untuk Nurfadilla, ketua umum cabang Ikhsan Azhari; panitia dan seluruh tim master (Noval Prasetyo, Sabrun Jamil, Andri Tanjung, Bobi, dkk). Alhamdulillah, setelah sesi Bintang ‘Arasy, Kota Batusangkar yang sudah lama kering, akhirnya kembali di guyur hujan. Namun, sebatok “Kawa Daun” yang diramu dari dedaunan kopi pilihan, sambil duduk menikmati keindahan alam Koto Gadih, mampu membuat badan kami membara kembali.

Pemandangan alam dan persawahan Koto Gadih, Batusangkar

Menikmati sebatok “Kawa Daun” yang segar dan menghangatkan

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

One thought on “BINTANG ‘ARASY DI BATUSANGKAR: SYEKH ABDUL MAJID, SHOLAWAT DAN HUJAN YANG KEMBALI MEMBASAHI BUMI

Leave a Reply to Jefry Rasyid Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s