Istana Rajo Basa Pagaruyung, Batusangkar, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat

“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 16 | Maret 2022


ISTANO RAJO BASA “MEGA STRUCTURE” PAGARUYUNG
Oleh Said Muniruddin | Dosen FEB USK | Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership | Founder & Advisor GUNTOMARA “Islamic Art and Architecture”

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Istano” artinya istana. “Rajo” adalah raja. “Basa” maknanya besar. Sedangkan “Pagaruyung” maksudnya, istana besar ini dipagari/diatapi dengan “uyung” (sabut pohon enau). Cukup dengan membayar Rp15.000; anda sudah mendapat akses masuk ke istana yang berada di atas areal 12 hektar ini.

Bangunan ini sendiri sebenarnya replika dari istana Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau. Yang aslinya dibangun sekitar abad 17 di atas bukit Batu Patah, di belakang bangunan sekarang. Tapi sudah musnah terbakar pada 1803 akibat konflik Paderi. Pembangunan kembali terjadi tahun 1930, kemudian musnah lagi tahun 1966 akibat sambaran petir yang membakar atap dan keseluruhan bangunannya. Lalu dibangun lagi pada 1976. Tapi tahun 2007 lagi-lagi mengalami kebakaran; yang menyisakan hanya 15 persen dokumen, relik dan warisan sejarah yang tersimpan di dalamnya. Yang ada sekarang adalah replika ketiga yang dibangun kembali selama 6 tahun, selesai pada 2013, dan menghabiskan biaya lebih dari 20 milyar.

Keseluruhan bangunan ini dibalut dengan 26 ton serat ijuk, serta dinding dan plafond dari batang kayu yang diukir dengan ragam hias “jala taserak”, atau motif pakis yang menjalar. Bangunan terdiri dari 3 lantai, dengan 72 tiang berposisi miring. Ditengahnya terdapat “tonggak tuo”, representasi dari tiang lama, dan merupakan tiang yang pertama dibangun saat pembuatan istana ini.

Karena kerajaan Pagaruyung sudah tidak ada lagi. Bangunan ini dibuat lebih sebagai simbol persatuan budaya dan masyarakat Minang. Khususnya paska peristiwa “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958. Sebuah gerakan protes tokoh-tokoh Minang terhadap tatakelola NKRI, namun mendapat respon represif oleh Pemerintah Pusat yang meninggalkan luka serta memecah kesatuan warga Minang. Sekarang, bangunan yang berjarak hanya 5 km dari pusat kota Batusangkar ini menjadi salah satu objek wisata utama di Kabupaten Tanah Datar.

Akan menarik, ketika setiap kabupaten di Indonesia misalnya, paling tidak punya satu objek wisata “megastructure” yang menjadi identitas agama, sejarah ataupun kebesaran budaya. Bangunan atau situs ikonik ini tentu tidak hanya sekedar mahal dari sisi biaya. Tapi mampu mengintegrasikan aneka atraksi wisata, punya pesan yang dalam tentang nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, serta mampu mengangkat dan menawarkan warisan spiritual untuk para pengunjungnya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin