BINTANG ‘ARASY DI KUTACANE: MARC MARQUEZ, AYAM LABAT DAN TANJAKAN PATAH

Marc Marquez dengan syal Aceh Tenggara


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 17 | Maret 2022


BINTANG ‘ARASY DI KUTACANE: MARC MARQUEZ, AYAM LABAT DAN TANJAKAN PATAH
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Selasa, 22 Maret 2022, pukul 08.00 Wib. Pagi yang cerah. Marc Marquez, Bang Zulfikar Lidan dan Bang Safwan duduk ngopi di sebuah Warkop, sebut saja di Mandalika, Ulee Kareng – Banda Aceh. Itu awal langkah mereka meluncur ke sudut tenggara Provinsi Aceh.

Ketua KAHMI Aceh Zulfikar Lidan dan Ketua IPSM Aceh Safwan ngopi pagi dengan Marc Marquez menjelang balapan ke Kutacane

Perjalanan baru 4 jam. Hari sudah siang. Pitstop pertama Kota Juang Bireuen. Kami makan nasi padang.

Setelah istirahat, Fortunernya kembali kami kebut. Jam 17 wib kami tiba di Takengon, kota wisata yang sedang tumbuh pesat di Aceh Tengah. Cuacanya sejuk. Di Cafee Tujuh Semeja. Tepat di pinggir danau Laut Tawar. Seceret kopi rasa apel, ditemani beberapa piring kentang dan tempe, telah menyembuhkan rasa lelah kami.

Koorpres KAHMI Aceh, di “Tujuh Semeja” Mandele, pinggir Danau Laut Tawar, Aceh Tengah

Pukul 18 Wib, mobil kembali kami pacu menuju Bintang. Setelah itu, jalan sedikit rusak. Longsor disejumlah sisi. Setelah itu, kami memasuki hutan pinus. Jalan sudah kembali mulus. Menelusuri suasana lembah yang sangat indah dipenghujung hari, kami kejar-kejaran dengan malam, mengarah ke Ise-Ise. Dua jam kemudian kami tiba. Sudah waktu Isya. Istirahat sebentar.

Ini pengalaman pertama Marc Marquez, panggilan sementara Penulis Bintang ‘Arasy dalam perjalanan ini, mengendarai mobil dari Banda Aceh ke Kutacane, melalui Takengon. Begitu juga dengan Bang Zulfikar Lidan dan Bang Safwan.

Kami tidak tau, ternyata, perjalanan sesungguhnya baru dimulai dari Ise-Ise menuju Pitstop selanjutnya, Blangkejeren. Jarak tempuh 2 jam juga. Selama satu jam berputar-putar dalam gunung dan hutan lebat. Gelap. Kami terus mendaki dalam liku yang patah menanjak. Cukup menantang. Adrenalin memuncak.

Dari Blangkejeren, waktu tempuh masih 3 jam lagi menuju Kutacane. Meskipun tidak begitu mendaki, kelak kelok jalan begitu dahsyat. Belum habis kita putar mobil ke ke kiri, sudah harus berputar ke kanan. Begitu selama sejam, berputar-putar terus.

Jam 1 dini hari, setelah menempuh jarak 555 Km, selama 14 jam; kami tiba di Kutacane. Adik-adik panitia LK-II dan SC HMI sudah menunggu. Kami diinapkan di Wisma PPMG milik Disdik.

***

Belum habis lelah, pagi-pagi sudah kembali diajak ngopi. Kali ini di Suki Cafee, depan Masjid Agung Attaqwa. Disana sudah ada Bang Ramadhansyah (salah satu Presidium KAHMI Aceh Tenggara/Kasubbag di DPRK Aceh Tenggara), Dr. Indra Utama (Rektor Universitas Gunung Leuser) dan alumni lainnya.

Ngopi Pagi di Suki Cafee, Kutacane

Ayam Labat, Dadar Panggang dan Es Campur Tepung Sagu

Dalam pertemuan ini juga secara spontan tergagas untuk melaksanakan Musda-2 KAHMI Aceh Tenggara. Sudah lama Musda direncanakan untuk dilaksanakan. Namun selalu batal. Kehadiran Koordinator Presidium KAHMI Aceh dianggap sebagai momentum untuk penyegaran kembali organisasi alumni disana. Ide ini disounding ke dr. Bukhari, Koorpres MD-KAHMI Aceh Tenggara yang telah 8 tahun memegang jabatan. Beliau setuju. Hanya dalam waktu 1 hari persiapan dilakukan.

Alhamdulillah, legat sekali cara kerjanya. Malamnya, Musda terlaksana dengan rapi dan baik. Tempatnya juga di aula PPMG. Marc Marquez ikut memimpin sidang di awal acara. Terpilih 5 Presidium baru yang dikepalai Kanda Ramadhansyah, alumni USU Medan.

***

Awalnya Marc Marquez agak ragu untuk berangkat ke Kutacane, mengingat jarak tempuh yang lumayan jauh. Melihat keseriusan pelaksanaan LK-II dan SC, hati Marc Marquez luluh. Apalagi adik-adik panitia sebelumnya sampai hadir ke Banda Aceh untuk mencari dukungan pemateri. Ketulusan ini tidak bisa diabaikan. Acara mereka harus disukseskan!

Sore itu, Rabu 24 Maret 2022, setelah satu jam meracuni pikiran 8 peserta SC terkait “Metodologi Penyampaian NDP-HMI”, racun-racun lainnya juga kami injeksi selama satu jam setengah ke dalam jiwa dan pikiran 50 peserta Intermediate Training. Peserta agak mabuk merespon materi namun merasa sangat bahagia. “Semoga mereka semua cepat mati, dan tumbuh kembali sebagai malaikat”, gumam Marc Marquez dalam hati.

***

Kamis pagi, 25 Maret 2022. Setelah singgah ke Masjid Agung yang dihias dengan ragam belahan manggis, perjalanan pulang kembali kami tempuh. Jalurnya lebih gila. Kali ini, sesampai di Blangkejeren kami berbelok ke arah Babah Rot (Aceh Barat Daya), melewati Kampus PDD Unsyiah di Gayo Lues.

Kampus “Sunyi” Universitas Syiah Kuala di Gayo Lues

Ini merupakan rute pegunungan dengan panorama yang juga tak kalah indah, sekaligus paling ekstrim di dunia. Ngeri-ngeri sedap. Tiga jam perjalanan dalam gunung dengan sejuta kelok. Tanjakannya tinggi minta ampun, sampai ke puncak gunung, patah dan mematikan. Sempat berhenti bernafas. Bagi anda para pecinta traveling, ini etape paling menantang untuk ditaklukkan. Alhamdulillah, cuaca hari itu sangat baik. Pergi dan pulang tidak ada hujan. Mungkin jampi-jampi ibu Rara untuk menghentikan hujan masih aktif. Jika tidak, driver bisa meraba-raba dalam kabut tebal di pegunungan yang mengerikan.

Rute Berangkat: Banda Aceh-Kutacane, 14 jam

Rute Kembali: Kutacane-Banda Aceh, 12 jam

Jalan yang dibangun secara multiyears (2020-2022) dengan dana 387 milyar ini hampir seluruhnya mulus, dengan beberapa bagian yang masih dalam perbaikan. Perjalanan Kutacane-Banda Aceh melalui Babah Rot disebut-sebut lebih efisien. Mampu menghemat waktu sampai 3 jam. Banyak warga Kutacane memilih jalur ini jika bepergian ke Banda Aceh, daripada rute Takengon.

Terima kasih kepada Bang Ramadhansyah (Koorpres terpilih), Iswandi (Presidium terpilih), Awaluddin (Ketum pertama HMI Cabang Kutacane), Eka (Ketua Karang Taruna Aceh Tenggara), Sofian (Ketum HMI Cabang Kutacane), Farma Andiansyah (panitia/pengurus cabang), Master Zulfata, Nurhayati Gayo, dan lainnya. Terima kasih atas jamuan ayam labat, telur dadar telu, es campur tepung sagu, dan oleh-oleh gula merah khas Kutacane. Terima kasih juga atas pengawalan Voreijder saat keluar dari Kutacane. Semoga kita dapat bersua kembali pada lain waktu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s