“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 18 | Maret 2022


“FA INNI QARIB”: MELALUI SATELIT, HUBUNGAN ANDA DENGAN ALLAH MENJADI DEKAT
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dua model hubungan yang dapat anda bangun dengan Presiden.

Pertama, “hubungan tidak langsung”. Ini terjadi jika anda tidak dikenal oleh Presiden. Anda pun tidak mengenalnya. Makna “mengenal” adalah akrab, karib, atau dekat. Seperti kawan dekat. Karena tidak saling kenal, wajah sang Presiden pun (kalau tidak ada siaran tv dan foto) mungkin anda tidak tau. Paling cuma tau namanya saja. Dengan Allah juga begitu, umumnya kita hanya tau nama, namun tidak ada isinya (empty name). Kita sering tidak terhubung dengan Dia, dengan Wujudnya; yaitu nama yang kalau kita sebut, hadir Dzatnya (nama yang menyatu dengan Dzat).

Maka, satu-satunya cara berhubungan dengan Presiden yang asing bagi kita (yang kita hanya tau namanya saja, tanpa pernah mengalami kontak dengan wujudnya) adalah dengan patuh pada undang-undang yang ia buat. Dalam hal ini, anda adalah masyarakat awam, yang ikatan dengan Presiden (negara) hanya lewat “perantara” berupa kepatuhan kepada regulasinya.

Agama, pada level terbawah, adalah usaha untuk membawa orang-orang untuk mengenal hukum Allah. Bukan mengenal Allah. Pada level syariat, begitulah cara kita berhubungan dengan Tuhan yang maha asing (transenden). Kerjaan kita hanya membaca kitab undang-undang Dia, bukan berinteraksi langsung dengan Dia. Lalu, jika hanya pada level membaca undang-undang saja, tanpa pernah bertemu Dia, apakah kita berani mengklaim diri sebagai orang paling beragama dan paling dekat dengan-Nya?

***

Bentuk hubungan lain dengan Presiden adalah, “relasi langsung”. Ini hubungan orang yang sudah akrab, karib, atau dekat. Anda sudah kenal dia dan dikenal olehnya. Anda sudah diingat dan disebut-sebut. Sudah fazkuruni azkurkum. Anda tidak lagi sekedar berwasilah kepada teks mati dengan segala penafsiran terhadapnya. Tapi anda sudah mampu berbicara dan berdialog dengan sosok “yang maha hidup” itu.

Dengan Allah juga begitu. Allah baru disebut “dekat”, kalau kita sudah makrifat. Sudah kenal dan akrab. Sudah bisa disapa (ud’uni) dan dijawab (astajib lakum). Hubungannya sudah interaktif dan live.

Maka, “taqarrub” adalah terminologi spiritual kelas tinggi. “Muqarrabin” itu makam kedekatan. Makam intimate. Makam ahli makrifat. Makam orang yang sudah immanent (menyatu dengan Allah). Makna “menyatu” adalah fa inni qarib. Sudah klik. Komunikasi yang terbangun sudah dua arah. Bukan sekedar pura-pura berbicara dengan Allah, lalu merasa Dia telah mendengar. Tapi memang terasa, bahkan terdengar Dia menjawab.

Bisa saja seseorang merasa “dekat” dengan Allah. Seperti tukang bakso di luar pagar istana Presiden yang merasa dekat dengan Presiden. Tok gara-gara ia bersebelahan pagar dengan Presiden, lalu merasa dekat. Padahal itu bukan dekat. Tapi merasa dekat, secara imajinatif. Betapa banyak orang yang seolah-olah dekat, padahal jauh. Bahkan hubungan dengan tetangga banyak yang seperti itu. Hanya tau nama. Tapi tidak saling kenal. Tidak saling sapa. Tidak berbalas. Tidak terhubung dengan wujudnya. Apalagi dengan Allah yang wujudnya entah dimana dan seperti apa. Kita sering merasa dekat dengan-Nya, tapi sebenarnya jauh dan terputus; walau namanya terus kita sebut. Karena, nama yang kita sebut sering tidak ada zatnya. Empty name.

Memang Allah maha meliputi. Ada dimana-mana. Tapi, jangan seperti orang jualan bakso itu. Merasa dekat dengan Presiden, tapi tak pernah bersentuhan. Tak pernah berjumpa dan salaman. Baru dikatakan dekat secara aktual (hak/dzatiy), kalau sambil jualan bakso, anda dapat sms-an dengan Presiden. Bisa nelponan dengan Presiden. Bisa duduk dan tertawa sambil makan bakso bareng Presiden. Sebab, dekat itu makrifat. Kenal, akrab dan berjumpa.

Sebagai ilustrasi, gelombang elektromagnetik juga maha meliputi, ada dimana-mana di alam ini. Tapi mana? Bisa anda tangkap gelombang itu? Bisakah anda temui, sentuh, dan melakukan simulasi interaktif dengannya? Kalau bisa, berarti anda sudah makrifat. Gelombang-gelombang ini tidak dapat dijangkau hanya dengan menyebut-nyebut namanya saja, sekalipun lidah anda sangat fasih dalam berkata-kata. Ada metodologi (langkah-langkah saintifik) yang harus ditempuh untuk mampu mengakses dan “akrab” dengan berbagai jenis gelombang ini.

Dengan Allah yang “ada dimana-mana” juga begitu. Tidak cukup dengan sekedar menyebut nama dan mengulang-ngulangnya dalam sholat dan doa kita, lalu berharap terhubung langsung dengan-Nya. Nama yang sering kita sebut, itu kosong, tidak hadir Dzatnya. Ada metodologi yang baku (tariq, langkah-langkah atau praktik sufistik metafisik) yang harus dijalani agar kita mampu menemukan, menjumpai, melihat, dan tersambung dengan si Pemilik nama; bahkan tersengat oleh vibrasi wujud-Nya.

***

Ketika Allah berkata: “Fa inni qarib” (QS. Al-Baqarah: 186), Dia sebenarnya sedang membuka peluang kepada kita sebagaimana peluang yang diberikan kepada para nabi, bahwa kita dapat bersahabat dan bercakap-cakap dengan-Nya. Sebab, tujuan agama adalah membawa manusia untuk dekat, “taqarrub” dengan Allah. Untuk menyatu, saling kenal dan mampu saling menyapa. Alias nyambung atau terhubung langsung.

Kalau anda ingin terhubung secara langsung dengan dunia luar, dengan pertandingan Madrid vs. Barca yang di Spanyol sana misalnya, ada dua hal yang harus anda miliki. Pertama, punya perangkat TV yang bagus. Kedua, tersambung dengan satelit. Baru siarannya akan “live” (langsung).

Untuk terkoneksi dengan Allah juga begitu. Pertama, perangkat diri anda harus diperbaiki dan kuat. Proses penempaan diri biasanya ditempuh dengan ritual-ritual seperti zikir, ubudiyah, puasa, sedekah dan suluk. Anda adalah TV yang maha sempurna yang pernah diciptakan Tuhan; yang mampu memancarkan, menghadirkan atau mentajallikan “visual” Tuhan dalam diri anda sendiri. Fenomena mukjizat kan seperti itu. Ketika hadir Tuhan dalam diri, sesuatu yang ajaib akan terjadi. Tapi, ini terjadi kalau didukung oleh elemen kedua, yaitu: “satelit”. Anda harus terhubung dengan “satelit” (wasilah, pembawa dan pemancar sinyal).

Para nabi, itu “satelit”. Rasulullah, itu “satelit Allah”. Dari dia lah segala kalam dan af’al Allah tayang ke dunia. Secara fisik, nabi memang manusia biasa. Tapi dalam diri mereka ada pancaran Ruh, mentransmisikan sinyal dan gelombang yang merupakan elemen langsung dari kerasulan (unsur dari Tuhan). Jika kita menguasai teknik untuk menumpang pada sinyal-sinyal yang ada dalam jiwa mereka, kita akan langsung terhubung, menjadi dekat dan karib dengan Allah. Sehingga hubungan dengan Allah menjadi “live” (langsung/laduniah). Itulah fungsi para nabi dan rasul, membawa manusia kepada Allah.

Teknologi “satelit” inilah yang dijamin Allah terus ada sepanjang masa, sampai kiamat tiba. Merekalah yang disebut Guru, ulama warasatul anbiya, pewaris sinyal ketuhanan, Alquran yang hidup, para imam, wali, ataupun khalifah yang rasyidun (para pemimpin yang memiliki otoritas sebagai mursyid). Menemukan mereka, itu sama dengan menemukan Allah.  Karena mereka adalah “tali Allah” alias “satelit” yang menyambungkan kita untuk dapat menikmati siaran langsung dari Allah.

Allah yang entah ada di alam mana dan bagaimana; itu akan “dekat”, “hadir”, dan “tersiar” kemana-mana; kalau perangkat spiritual anda telah mengalami tazkiyatun nafs, serta tersambung dengan “satelit” yang asli, yang masih hidup. Satelitnya memang harus asli. Jika palsu, anda justru akan kerasukan siaran dan sinyal dari alam jin, bukan dari alam malaikat.

Kesimpulan. Tauhid dan syariat adalah ilmu untuk berhubungan secara tidak langsung dengan Allah, dengan berwasilah kepada “mazhab pemikiran” dan “teks mati”. Pada level ini, anda harus panjang akal untuk berdebat dan memahami. Sementara tariqat, itu metode untuk me-“langsung”-kan hubungan dengan Allah, melalui keterhubungan dengan “satelit (Ruh) yang hidup”. Disini, anda harus menjadi ummi, mematikan otak dan mempasrahkan diri untuk dialiri arus dan sinyal, langsung dari sisi-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin