“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 23 | April 2022


MENCARI “LAILATUL QADAR”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tulisan ini lahir setelah melihat perdebatan disebuah grup WA. Topiknya, “apakah Lailatul Qadar masih ada sampai sekarang, atau itu hanya kejadian yang sudah terjadi dimasa lalu dan tidak berulang lagi?”. Dalam bahasa lainnya, Lailatul Qadar itu kan peristiwa turunnya Alquran. Apakah Alquran masih turun sampai sekarang?

Saya tidak terlibat dalam diskusi tersebut. Memang belakangan lagi malas berdebat. Hanya sekedar mengintip beberapa argumen yang pro dan kontra, lalu menutup Hp. Selanjutnya saya ke mushalla, bawa anak untuk sholat isya dan tarawih.

Penting membawa anak untuk qiyamullail. Sebab, disitu ramai. Banyak kawannya. Bisa main dia, saat orang lagi tarawih. Dasar anak-anak. Susah diatur. Kalau sholatnya terlalu lama, jadi suntuk dia. Waktu kecil saya juga begitu. Kalau dipaksa sholat terus-menerus, bisa rusuh se isi masjid. Mungkin anda juga begitu. Ke masjid memang untuk bikin ribut.

Disitulah, dalam sebuah rakaat tarawih, tiba-tiba muncul kerangka pengetahuan ini. Entah itu muncul karena khusyuk sekali sholat, sehingga Allah hadir memberitau sesuatu. Entah karena sholatnya terlalu panjang sehingga ada bagian dari kesadaran saya yang mulai mengembara mencari informasi yang tergantung di langit. Yang jelas, uraian ini serius. Wajib hukumnya untuk dibaca.

***

Kembali ke pertanyaan, “apakah Lailatul Qadar masih ada sampai sekarang, atau itu hanya kejadian yang sudah terjadi dimasa lalu dan tidak berulang lagi? Apakah Alquran masih turun dimalam-malam Qadar disepanjang zaman, termasuk di era kita sekarang?”

Untuk menjawab ini, kita harus paham terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “Alquran”. Selanjutnya mengetahui apakah Alquran tersebut masih turun sampai sekarang. Setelah itu baru kita mengerti apa itu “Lailatul Qadar”.

Begini. Kalau anda memahami Alquran itu sebagai “buku” 30 juz, maka benar, Alquran sudah selesai turun. Alquran yang 30 bab itu sudah selesai dikompilasi pada masa Usman bin Affan. Sudah baku dia. Tidak bisa ditambah dan kurangi lagi. Tidak mungkin Alquran terus menerus turun, bisa menjadi 31 juz nanti. Karena itu, malam turunnya Alquran (malam qadar) sudah tidak ada lagi. Alquran tidak turun lagi. Sudah mati pada angka 30 dia. Sudah saklek pada 114 surah. Sudah mandek pada 6000an ayat.

Tapi, kalau anda memahami Alquran sebagai Tuhan yang terus berbicara, maka yakinlah, Allah masih berkata-kata (berkalam). Sebab, salah satu sifat Dia yang disepakati oleh semua mazhab adalah “Maha Berkata-Kata”. Dia tidak bisu, Maha Hidup, Maha Mendengar, Maha Menjawab, dan masih terus berfirman disepanjang masa. Maka, dalam konteks ini, Lailatul Qadar masih terus ada. Alquran (pesan-pesan Tuhan) masih terus turun disetiap waktu, atau pada waktu-waktu yang dimuliakan. Inilah “Alquran yang hidup”. Yaitu Tuhan yang terus berkomunikasi dengan hambanya, bahkan dengan cara-cara tertentu, yang terkadang tanpa huruf dan suara. Lewat simbol-simbol, kode, isyarah, muraqabah, atau sinyal-sinyal kalamiah laduniah lainnya. Semuanya adalah “ayat”, tanda-tanda, kalam, atau firman dalam dimensi nafsani.

***

Jadi sudah jelas. “Buku” Alquran sudah selesai turun. Sudah “baharu” sifatnya.  Sudah selesai dicetak oleh manusia. Sudah dikertaskan. Sudah tersimpan di lemari. Sudah baku jumlah dan susunannya. Tapi, Al-Quran yang “qadim”, yang azali, yaitu Allah itu sendiri, masih terus berbicara. Masih aktif Dia, masih berkalam atau berkata-kata. Perintah, pesan ataupun larangannya masih turun ke dalam dada. Dan ini dapat didengar, dipahami dan rasakan oleh seorang hamba yang shalih. Karena itulah, bahasa yang digunakan Allah untuk ayat pertama Al-Qadar (inna anzdalnahu fi Lailatil Qadr) bernada “continues”. Artinya, Lailatul Qadar terus berulang. Bacaan ataupun pesan-pesan yang bersifat qadim dari Tuhan (Alquran) terus menerus turun.

Dalam dunia sufi, contoh Alquran yang qadim, atau Kalam Tuhan yang aktif adalah “muraqabah”. Muraqabah adalah pesan-pesan laduniah Allah (firman anfusi) yang turun dalam qalbu manusia. Biasanya, jika seseorang menempuh suluk dibawah bimbingan seorang wali, diatas 20 hari akan memperoleh “muraqabah” ini. Kalau bukan wali, 1000 bulan (atau seumur hidup) sekalipun anda bersuluk, belum tentu mendapatkan karunia untuk terbuka hijab dapat berkomunikasi secara langsung dengan Tuhannya. Karena itulah, “Lailatul qadri khairum min alfi syahrin” (QS. Al-Qadar: 3).

Sebagaimana diisyaratkan, Lailatul Qadar “turun” pada hari setelah 20 Ramadhan. Dalam makna, dia muncul pada 10 akhir. Memang begitulah lazimnya. “Muraqabah”, itu baru benar-benar aktual pada 10 ketiga Ramadhan. Gelombang-gelombang malakut (sinyal-sinyal quraniah) itu “turun” (aktif) dalam diri seorang pesalik pada waktu ini.

Itulah kenapa, Musa as disebutkan bersuluk selama 30 hari di puncak Sinai. Lalu digenapkan selama 10 hari lagi. Sehingga menjadi 40 hari. Tujuannya untuk menyempurnakan muraqabah dan kemampuan rabbaniah lainnya, sehingga mampu “bercakap-cakap”, bahkan “berjumpa” dengan Allah. Taurat pun untuk pertama kalinya turun saat ia melakukan khalwat ini (QS. Al-‘Araf: 142-143). Kalau Musa bisa begitu, kita umat Nabi Muhammad SAW -sebagai umat terpilih di muka bumi- tentu lebih bisa lagi.

Dalam tradisi spiritual tertentu disebutkan, 10 hari pertama suluk akan membawa manusia masuk ke “alam jabarut”. Di alam ini manusia akan berjibaku dengan setan yang telah terikat dalam dirinya. Setelah berhasil pada sepuluh pertama, jiwanya akan diangkat Allah untuk masuk pada 10 kedua. Disini, dia akan bermujahadah di “alam malakut”. Di alam ini, dia mulai coba masuk dan berinteraksi dengan alam cahaya, alam malaikat dan Ruh. Bentuk interaksi dengan alam ini disebut “muraqabah” (rasa kehadiran Tuhan). Namun, sinyal “muraqabah” (komunikasi ruhaniah dengan malaikat dan Ruh) akan lebih kuat pada 10 terakhir, ketika manusia dibawa ke “alam Rabbani”.

Itulah kenapa, Al-Quran laduniah dipastikan “turun” pada 10 akhir dari suluk/Ramadhan. Turunnya pun pada malam-malam “ganjil”. Tidak selalu bermakna pada hitungan hari ganjil (19, 21, 23, 25 dan seterusnya). Tapi memang “ganjil” dalam proses dan bentuk hadirnya Alquran. Sebab, Alquran laduniah itu berbentuk sinyal-sinyal malakut dan Ruh. Alquran itu sendiri adalah Jibril (Ruh) yang berbicara, dalam berbagai bentuk; termasuk “muraqabah” itu. Maka, dalam surah Alqadar ayat 4 disebutkan, “malam qadar (malam turunnya Alquran) adalah malam turunnya (sinyal-sinyal) malakut dan Ruh”. Siapapun yang memperoleh “muraqabah” serta mampu menjaga dan setia padanya, maka ia akan memperoleh keselamatan tidak hanya sampai pagi besok. Singkat sekali itu. Tapi selamat sampai terbit fajar kiamat. “Salamun hiya hatta mathla’il fajr” (QS. Al-Qadar: 5).

Dalam dunia sufi dikenal bahwa muraqabah itu berisi “amar Tuhan” (gerak/perintah Tuhan). Dari muraqabah inilah diketahui kalau Allah sedang berbicara dengan kita, via sinyal-sinyal malakut-Nya. Muraqabah inilah yang “mengatur segala urusan” (min kulli amri, QS. Al-Qadar: 4). Dia mengarahkan kita setiap saat untuk bertindak atau tidak bertindak, memilih A atau B, memberitahu sesuatu itu benar atau salah; sesuai keinginan Allah. Itulah “muraqabah”; Tuhan itu sendiri, alias Alquran (malaikat/Ruh) yang dengan izin Tuhan (bi izni rabbihim) aktif berbicara.

Bagi mereka yang menempuh jalan sufi, kalau sudah menemukan “muraqabah”, itulah Lailatul Qadar. Alquran yang terus berbicara. Malaikat yang terus “turun” menghampiri dan mengetuk hatinya. Kalam Allah yang terus masuk dalam aneka titik Qalbu di tubuhnya.

Kesimpulan. Lailatul Qadar adalah sesuatu yang sudah terjadi, sekaligus terus terjadi.

Kalau merujuk ke ayat pertama Al-Qadar yang menggunakan kata “anzala” (berbentuk fi’il madhi, past tense) maka Lailatul Qadar adalah sebuah peristiwa historis, sudah lewat. Inna andzalnahu fi Lailatil Qadr (QS. Al-Qadr: 1). Artinya, semua isi (Ruh) Alquran sudah turun sekaligus ke “langit dunia” pada sebuah Malam Qadar. Tinggal bagaimana cara kita mengaksesnya. Karena, Kalam yang bersifat Ruhiyah ini (malaikat dan Ruh) masih terus “turun” ke dimensi “langit manusia”. Ini kita ketahui dari penggunaan kata “tanazzal” pada ayat ke 4, yang berbentuk fi’il mudhari’ (present continuous). Tanazzalul malaa-ikati war-Ruuh. Malaikat dan Ruh yang membawa pesan-pesan Tuhan belum pensiun, masih terus hadir untuk membawa gelombang-gelombang Alquran yang qadim itu. Artinya, Allah masih berbicara secara langsung via wasilah-nya ini.

Karena itulah, kita mesti menyadari, Lailatul Qadar adalah sesuatu yang mustahil di dapat melalui jalan syariat biasa (seperti taraweh dan qiyamullail ramai-ramai di 10 akhir). Lailatul Qadar adalah sebuah pengalaman dalam berinteraksi dengan malaikat dan Ruh. Lailatul Qadar adalah pengalaman aktual ketika seseorang merasakan kehadiran “Alquran yang hidup”, berjumpa dengan malaikat yang “turun” ke dimensi fisikal manusia.

Karena ini sesuatu yang unik dan langka, maka perlu metode khusus untuk memperolehnya. Ada cara untuk mengakses alam malakut dan Ruh yang suci itu, yang sebenarnya sangat dekat dengan kita. Karena itulah, Lailatul Qadar (muraqabah) adalah sesuatu yang diperoleh melalui jalan “penyucian diri” (tariqah) di bawah bimbingan seorang rasul/wali. Sebab, Alquran jenis Cahaya, jenis malaikat dan Ruh yang hidup ini, tidak bisa disentuh (diperoleh), kecuali oleh mereka yang telah disucikan. Jiwa anda harus dinaikkan terlebih dahulu untuk terkonek dengan Ruhul Muqaddasah Rasulullah. “La yamassahu illal muthahharun” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Artinya, Lailatul Qadar (usaha memperoleh batin/jiwa Alquran) hanya dapat dicapai lewat khalwat/suluk. Bukankah Nabi SAW memperoleh itu dengan cara berdiam diri selama bermalam-malam di Gua Hirak? Demikian pula Musa as dan para nabi lainnya. Lalu mengapa pula anda sibuk sekali mengundang imam-imam dari Arab itu untuk mengejar Lailatul Qadar? Cari imam (walimursyid) yang dapat membawa anda ke alam malakut dan Ruh.

BACA JUGA: Jibril Belum Pensiun, Alquran Teoritis dan Alquran Praktis, Wahyu Aktif dan Wahyu Pasif, Memahami Kembali Makna “Kitab”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin