“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 24 | April 2022


KEKUATAN ZIKIR BUKAN DIBACAAN
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Banyak sekali jenis wirid dan zikir. Esensinya bukan dibacaannya. Tapi dikehadiran Khidir-nya. Hadirkan Khidir-nya terlebih dahulu, baru berzikir. Hadirkan Rasulullah terlebih dahulu, baru berzikir. Hadirkan Gurumu terlebih dahulu, baru berzikir. Karena itulah, zikir perlu Guru, perlu Khidir, perlu Rasulullah. Karena yang di zikirkan (diingat) adalah wajah mereka. Wajah yang menjadi wasilah (buraq) menuju Allah ta’ala. Wajah yang dinaik saksikan (disyahadahi) dalam perjalanan menuju Allah. Inni wajjahtu wajhiya…

Berzikir harus ada Guru. Guru yang bersanad ke Khidir/Rasulullah. Guru yang Ruhaninya adalah Allah. Guru yang ruhanimu tersambung dengannya. Guru yang dadamu telah dibenam (ditalqinkan) zikir olehnya. Itu metode berzikir dalam tariqatullah.

Tapi dalam perspektif syariat, berzikir tidak sesulit itu. Tinggal googling di internet. Asal ada baca terus. Tidak perlu wasilah. Bacaannya persis sama, bahkan lebih fasih dan lebih merdu dari para ahli zikir. Tapi tidak memiliki keajaiban spiritual. Tidak keramat. Tidak melahirkan mukjizat. Karena kosong, hanya bacaan belaka. Tak ada Allahnya.

Zikir itu bukan pada bacaannya. Pada Gurunya. Maka ambillah zikir dari Guru, dari seorang wali/kekasih Allah. Dari Ruhani Rasulullah. Dari seorang pemilik tali Allah. Sebab, Kalimah zikir yang kau terima dari sang Khidir adalah Allah itu sendiri. Asmanya asli, Allah itu sendiri. Makanya, ketika berzikir akan hadir Allahnya.

Tidak sulit membaca zikir. Yang sulit adalah menemukan sang Guru pemilik zikir. Langka memang orangnya. Bahkan cenderung tersembunyi. Tapi Allah telah berjanji, “Laqad jaa akum rasuulum min anfusikum…” (QS. At-Taubah: 128). Selalu ada seorang pembawa wasilah, seorang rasul, seorang Guru, seorang Khidir; ditengah kalian.

Nabi syar’i, nabi yang merumuskan tata cara beribadah (Muhammad bin Abdillah), memang sudah khatam. Tapi wilayah kenabian, masih diteruskan oleh sang Khidir. Artinya, setelah Muhammad SAW masih selalu ada nabi, yaitu Khidir. The hidden, the secret one. Sosok yang selalu ada. Hidup, hadir dan selalu mengajari manusia akan ilmu hikmah disetiap masa. Maka, carilah nabi/rasul yang masih hidup ini. Bergurulah padanya. Agar zikir dan ibadahmu tersambung kepada-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin