“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 29 | Mei 2022


RELIGION IS SCIENCE
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Agama itu saintifik dan ilmiah. Hal-hal yang diistilahkan sebagai “gaib” sekalipun, sebenarnya hanyalah “fenomena”, sesuatu yang dirasa ada tapi belum terungkap secara nyata. Dibutuhkan epistimologi pengetahuan yang tepat untuk mengetahui, menyibak dan mengungkap segala hal yang gaib itu.

Tuhan yang maha gaib sekalipun, itu bisa diungkap oleh manusia. Allah bisa ditemui dan diajak bicara. Banyak sekali yang sudah melakukan itu dan sering diistilahkan sebagai “nabi”. Nabi ini orang-orang biasa, tapi cerdas (fathanah) luar biasa. Mereka adalah sekelompok saintis yang menguasai teknik riset alam spiritual. Sehingga mampu “melihat” Tuhan.

Karena sudah membuktikan keberadaan Wujud Ontologis yang maha tinggi tersebut, mereka kemudian membuat laporan-laporan temuan untuk diketahui publik. Karena itu mereka disebut sebagai “pembawa berita”. Hasil riset mereka ada yang terkompilasi dalam jurnal meta ilmiah (kitab suci) ada juga hanya tradisi lisan. Jadi, kerja mereka sangat akademis; walau artikel (ayat-ayat) mereka terkadang sulit dipahami. Memang begitu sifat dari sebuah tulisan yang terlalu ilmiah, bahasanya terlalu tinggi. Sehingga memusingkan orang awam.

Berarti tidak ada yang gaib, ketika anda punya metodologi untuk mengkonfirmasi segala wujud yang dianggap oleh orang-orang “buta” sebagai misteri. Istilah “gaib” itu sebenarnya hanya istilah untuk orang awam, untuk yang masih level SD dalam beragama. Bagi para pembelajar aktif, bagi mahasiswa dan para peneliti (atau dalam bahasa agama disebut “penempuh jalan”), tidak ada yang gaib. Kalau ada hal yang dianggap gaib; semua akan diteliti, dicari dan ditelusuri kebenarannya. Sehingga segala sesuatu menjadi “hak”, terkonfirmasi baik eksistensi maupun esensinya.

Istilah “gaib”, itu sesungguhnya hanya sebuah istilah yang bersifat “hipotesis”. Gaib adalah sesuatu yang secara “tauhidi/imani” diduga atau diyakini ada. Gaib adalah hal-hal yang hanya untuk sekedar dipercayai ada. Kenapa disebut “sekedar”? Karena memang tidak pernah dilihat apakah benar-benar ada?

Sementara untuk pembuktian secara faktual apakah “ada” atau “tidak ada”; itu ada tariqah-nya. Ada jalan, teknik atau metodologi pembuktian. Jadi, beragama pada level “tauhid” dan “syariat”, itu beragama secara teoritis/hipotetis. Tapi beragama pada tahap “tariqah”, itu sudah masuk pada level pembuktian, level cerdas, level ilmiah, level akademik, level penelitian, levelnya para nabi. Level para pencari dan penemu.

Allah tidak pernah bisa ditemukan pada level “membaca” yang tertulis (tauhid dan syariat). Allah hanya bisa ditemukan pada level “melakukan” langkah-langkah pembuktian, sehingga Dia benar-benar “disaksikan” oleh segenap alat observasi dan eksperimentasi yang ada dalam diri manusia.

Kalimat syahadat: Aku bersaksi “tidak ada” Tuhan selain Allah, itu dalam metodologi penelitian ilmiah disebut “hipotesis nul” (Ho/H Null). Itu hanya pernyataan penelitian. Selanjutnya, anda harus menyusun langkah-langkah pembuktian, untuk menyaksikan apakah Dia itu benar-benar “ada” atau “tidak ada”.

Artinya, Islam itu agama ilmiah. Agama orang-orang cerdas. Agama yang mampu meramu hipotesis dan teori pada tahap pembuktian lebih lanjut, secara terus menerus, disetiap tempat dan waktu. Sehingga, Islam semakin sesuai dengan segala zaman dan tempat, semakin universal kebenarannya. Sehingga, beragama bukanlah sekedar mempercayai kitab/artikel yang sudah berusia 1400 tahun. Tapi bisa dibuktikan kembali setiap kebenaran yang diceritakan didalamnya. Termasuk tentang Tuhan, malaikat, surga dan neraka. Untuk tidak menjadi “kitab dongeng”, semua itu harus bisa dialami dan saksikan oleh kita di akhir zaman.

Namun, karena objek tersebut sifatnya “tidak kasat”, tentu umat Islam harus menguasai “metodologi metafisika” (tasawuf/iluminasi jiwa) dalam perjalanan mencapai puncak pengalaman beragama. Sayangnya, metodologi ini pula yang terkesan ditakuti, dibid’ahkan bahkan diharamkan. Sehingga kita terus dalam kebodohon (bisu, tuli dan buta terhadap wujud dan rasa akan ketuhanan). Pengalaman-pengalaman kenabian tidak bisa kita replika dan rasakan. Tapi disatu sisi memang sulit untuk belajar ilmu ini, karena gurunya langka. Untuk masuk ke dunia spiritual, pembimbing kita harus seorang wali. Tidak boleh seorang ustad atau ulama biasa.

***

Pengajaran agama, baik disekolah dan pesantren-pesantren, sampai sekarang masih banyak yang membahasakannya dengan istilah-istilah klasik/kitab kuno. Tidak salah juga. Tapi tidak update dengan “bahasa zaman”.

Uniknya, ditangan Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin, kebekuan ini mampu dikurangi. Beliau berkata, “Religion is science of the highest dimension”. Dimensi metafisis dari pemahaman agama di Indonesia ia perbaharui dan perkenalkan kembali dalam bahasa-bahasa ilmiah dan saintifik. “Teknologi Alquran”, “wasilah carier”; adalah beberapa dari istilah yang sering Beliau populerkan. Termasuk berbagai terminologi fisika klasik lain yang dikaitkan dengan metafisika Islam. Beliau bisa membuktikan, bahwa mukjizat itu hanya sebuah “teknologi ayat” yang diproses melalui kekuatan zikir yang tersambung dengan Allah SWT. Kebetulan Beliau seorang dokter dan juga walimursyid, seorang profesor yang ahli makrifat. Haul (kewafatannya) pada 09 Mei masih diperingati sampai sekarang oleh murid-muridnya.

Saidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin (20 Juni 1917 – 09 Mei 2001)

Dalam hal ini, kita juga kagum dengan filsuf muslim semacam Mulla Sadra dari Persia (1572-1640), yang telah mengurai berbagai dunia misteri (ontologi metafisis) dalam kerangka pengetahuan yang sangat logis. Termasuk pemahaman kontroversial tentang wahdatul wujud, gerak jiwa dan sebagainya. Sayang, banyak dari kita yang malas membaca sehingga khazanah pengetahuan yang luar biasa dari sosok yang pernah 11 tahun menyediri dalam khalwatnya ini, tidak begitu tercerap. Bangunan akademis kita memang lebih terjajah oleh filsafat positivistik barat. Sehingga akademisi kita cenderung “materialis” (menutup diri dari  berfikir tentang hal-hal pokok kegaiban, padahal itu bangunan dasar dari keagamaan). Akibatnya, jiwa menjadi kering. Karena secara esensial terpisah jauh dari Tuhan yang maha gaib itu.

Indonesia, bahkan dunia ini, hemat kami, membutuhkan lebih banyak ulama dan agamawan yang secara lahiriah mampu mengajarkan agama lewat akal, sekaligus memiliki jalur “musyahadah” (pembuktian batiniah) yang valid dan reliabel. Karena, “agama itu Tuhan dan Rasul yang maha hidup dan menghidupkan”; yang harus disentuh (disaksikan) lahir dan batin, lewat akal sehat dan jiwa yang bersih. Agama bukanlah sesuatu tentang mengulang hadis dan meniru penampilan lahiriah nabi an sich, untuk sah disebut sebagai ikut “sunnah”. Tapi bagaimana mukjizat ketuhanan hadir setiap hari, sebagaimana yang nyata dialami para nabi, sebagai pertanda bahwa Tuhan itu dekat.

Alfatihah!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin