“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 35 | Mei 2022


THE LANGUAGE OF ISLAM
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tentang khutbah Jum’at yang total berbahasa Arab di Indonesia. Ada yang mengatakan, itu out of context. “Ngapain pakek bahasa Arab. Inikan Indonesia. Gimana jamaah bisa paham”, sebutnya. Tapi, walau tidak dipahami, yang menghadirinya juga selalu ramai. Disisi lain ada yang membela, itukan bahasanya Nabi. Nabi khutbahnya selalu dalam bahasa Arab. “Ya, iya. Karena Nabi orang Arab, berdakwahnya juga di Arab. Gak mungkin pakek bahasa Indonesia”, bantah yang lain.

Saya tidak mau terlibat dalam dakwa mana yang paling benar. Saya cuma ingin menyampaikan, sumber power dalam beragama, atau hal-hal yang menyebabkan seseorang tercerahkan, itu memang misterius, beragam. Maksudnya begini.

Ada yang bilang, yang penting paham apa yang anda dengar. Kalau tidak paham, maka dakwah tidak ada gunanya. Khutbah dalam bahasa Arab, untuk apa kita dengar kalau kita tidak paham. Kira-kira begitu. Kaum intelektual berfikir dengan cara ini. Sudah benar itu. Maka berbicaralah dengan bahasa masyarakat anda.

Tapi ada juga yang sangat paham agama, namun tidak tercerahkan. Ada dari kita yang sudah sekolah kemana-mana. Mendengar banyak hal. Mengkaji, membaca dan memahami hampir segalanya. Tapi menjadi radikal. Korup. Sombong pula. Artinya, memahami sesuatu tidak serta merta membuat kita lebih baik. Bahkan bisa sebaliknya.

Ada juga tipe orang aneh lainnya. Ia tidak paham apa yang dibaca. Tidak paham apa yang didengar. Tapi, asal bisa jumpa dengan ulama yang ia suka, bisa bersentuhan dan mencium tangannya; meningkat aura cinta kepada Nabinya. Bertambah-tambah semangat keislamannya. Bagi dia, sentuhan paling utama. Walau ia tidak mengerti apa isi ceramah orang yang didengarnya. Waktu membaca Qur’an juga begitu. Beralun-alun terus ia. Tidak mengerti pun apa yang dibacanya. Tapi cinta kepada agama dan Tuhannya terus meningkat lewat bacaan “buta” itu. Karena dari cara itu rasa keterhubungan dengan Tuhannya terbentuk.

Seperti kata Rumi, “Not the ones speaking the same language, but the ones sharing the same feeling, understand each other”. Cara orang mencerap pengetahuan dan memperoleh kesadaran, itu beragam. Bisa jadi dengan cara memahami. Bisa jadi hanya cukup dengan cara asal berjumpa.

Begitu juga dengan seorang ahli pengobatan. Termasuk pengobatan jiwa/ruhani. Ia tidak mengobati anda dengan panjang lebar ceramahnya. Sebab, itu hanya akan memenuhi isi otak anda. Dia punya cara tertentu, yang dengan tatapannya, jiwa anda “tersucikan” seketika. Ia tidak berusaha mencerdaskan intelektual anda. Tapi berusaha menyambungkan ruhani anda dengan Tuhan anda. Banyak kita temukan orang “bodoh” (ummi) di muka bumi, tapi dekat dengan Tuhan.

Ada dakwah agama yang tujuannya mencerdaskan akal manusia. Sebab, celaka juga jika otak orang Islam lemot semua. Bisa jumud dan jadi kumpulan bangsa tertinggal kita. Tapi ada dakwah, yang targetnya mensucikan ruhani manusia. Ini yang rata-rata kita masih bermasalah dan susah menyembuhkannya.

Untuk dakwah jenis pertama, anda harus berbahasa sama dengan bahasa kaum anda. Anda harus banyak bicara, agar mereka tau dan paham. Tapi, untuk jenis kedua, anda cukup hanya berdakwah dengan cara diam. Tak perlu bicara, cukup dengan ditatapnya wajah anda, itu sudah menjadi sumber pengetahuan yang berlimpah ruah bagi semua. Sehingga Nabi mengatakan, menatap wajah ulama tinggi sekali nilainya: “diampuni dosa”, “lebih baik daripada beribadah 40 tahun”, “menghidupkan gelombang-gelombang malaikat dalam diri anda”, dsb. Tentu ulama yang dimaksud disini bukanlah ulama biasa (ulama akal). Tapi ulama spiritual. Ulama yang diamnya adalah cahaya bagi anda. Ini mengarah ke wali. Wakil Tuhan di muka bumi.

Agama punya cara kerja berbeda, untuk tingkatan dan kebutuhan berbeda. Untuk meningkatkan potensi akal, cari ulama yang pandai mengajar dan berbicara. Yang berbicara dalam bahasa anda. Duduk dan simak isi kitab yang diulasnya. Sedangkan untuk mengupgrade potensi jiwa, cari ulama yang “ahli diam”. Hanya dengan menatapnya, kecerdasan anda berlipat ganda. Sebab, melalui dia lah ruhani Rasulullah berbicara.

Jadi, kalau anda seorang ulama tipe terakhir, tidak masalah seperti apa anda bertingkah dan bahasa apa anda berkhutbah. Semua akan masuk dalam spesifikasi wama yantiqu anil hawa, in huwa illa wahyu yuha. Anda sudah dipercaya menjadi juru bicara-Nya. Tidak mesti bahasa Arab, bahasa burung sekalipun itu tetap menjadi rahmat bagi manusia. Sebab, yang dicari bukan teriakan anda di mimbar dakwah, melainkan Ruhani anda. Ruhani yang mencerahkan. Ruhani yang dapat menyambungkan sekalian jiwa manusia dengan Rasulullah.

Dalam hal ini, para Habaib misalnya, itu digandrungi; sejatinya bukan karena kemampuan dan tradisi berbahasa Arabnya. Tapi karena membawa kekeramatan Ruhani Keluarga Nabinya. Ketika kekeramatan ini hilang, yang tersisa hanya “ana-ente”. Lulusan Arab lain sebaiknya juga begitu, mesti memperkuat kembali ruhani sebagai sumber pencerahan; melampaui kemampuan hafalan dan permainan bahasa. Sekedar meng-arab-kan semua istilah, itu tidak menyelesaikan masalah.

Suatu ketika diriwayatkan, Cak Nur (Nurcholish Madjid) membawa WS. Rendra untuk Jum’atan. Itu Jumat pertama setelah ia memeluk Islam. Cak Nur menghindari membawa sang penyair ini ke masjid biasa. Ia justru mengantarnya ke masjid yang khutbahnya total berbahasa Arab. Karena menurutnya, suasana batin WS. Rendra memang sedang mencari sesuatu yang berbeda. Mendengar Islam dalam bahasa “asli” yang tidak ia pahami, mungkin mampu memberi rasa baru baginya dalam beragama. Ketimbang bahasa Indonesia yang terkadang entah apa-apa kita diceramahinya.

Ada waktu-waktu tertentu kita butuh bahasa berbeda untuk memahami sesuatu yang lebih esensial. Dalam pengalaman para sufi, ada titik dimana mereka masuk ke sebuah alam yang sangat unik. Mereka berinteraksi dengan pesan-pesan kosmik di luar standar bahasa manusia. Tapi semakin lama semakin dahsyat, ketika perlahan mulai dirasakan dan dibuka pemahaman oleh Tuhan, bahwa kode-kode yang “silent” ini memiliki kandungan luar biasa.

Begitulah para nabi, punya hobi sekaligus kemampuan untuk menangkap pesan-pesan khusus yang tidak berhuruf dan bersuara; sebelum dikonversi ke dalam bahasa orang kampungnya. Pencerahan justru diperoleh saat kita menangkap pesan-pesan tersembunyi seperti ini.

“Silent is the language of God, all else is poor translation”, kata Rumi. Untuk tercerahkan, anda harus masuk ke alam yang sama sekali berbeda, yang berbicara kepada anda dengan bahasa yang sama sekali berbeda. Bukan bahasa Arab, juga  bukan bahasa Indonesia. Tapi bahasa-Nya. Setelah itu terserah anda mau men-translate itu ke dalam bahasa apa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin