“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 48 | Juli 2022


GURU YANG BERGURU
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Bayangkan, nabi secerdas Musa as, banyak muridnya pula; harus kembali berguru. Konon lagi kita para habaib, kiyai, ulama, profesor, doktor, buya, ustadz dan teungku. Semua harus kembali mencari Guru.

Alkahfi 60-82 bercerita tentang Musa, seorang guru yang punya banyak murid. Mungkin ribuan. Atau jangan-jangan puluhan bahkan ratusan ribu Bani Israil yang tinggal di Mesir yang mengikutinya. Rangkaian ayat perjalanan Musa kembali mencari Guru diawali dialog dengan muridnya (pembantunya):

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi: 60)

Ayat ini menerangkan beberapa hal. Pertama, Musa sejak awal memang sudah punya murid. Sebagai nabi/ulama tentu ia punya pembantu/pengikut. Meskipun sudah jadi nabi, semangat belajarnya tinggi sekali. Kedua, kepada muridnya ia berkata akan terus “berjalan”, yang secara metaforis dilukiskan: “sampai ke pertemuan dua laut”. Bila perlu akan berjalan selama bertahun-tahun. Musa terlihat ia punya motivasi yang kuat untuk sampai ke tempat tujuan belajar lebih lanjut, meskipun tidak mudah dan butuh waktu.

Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan dialog lebih lanjut dengan sang murid, serta pengalaman Musa menempuh jalan. Hingga ia menemukan seorang Guru misterius (Khidir), yang mengajarinya hal-hal “beyond the knowledge”. Ia menimba hikmah dan pengetahuan batiniah yang sangat tinggi. Lama ia melakukan “sayr wa suluk” dengan Khidir. Untuk bisa matang, butuh bertahun-tahun itu. Tidak bisa satu atau dua hari. Sebab, yang diajari oleh Khidir adalah adab lebih lanjut. Etika-etika religius di atas standar-standar syariat yang pernah diketahui Musa.

Kisah ini menjelaskan, meskipun anda sudah jadi guru, di ulamakan, atau telah diangkat sebagai nabi; tetap harus berguru. Jangan karena sudah punya satu juta murid lalu merasa sudah selesai. Seperti jawaban Musa saat ditanya kaumnya, “Apakah di muka bumi ada orang yang lebih pandai darimu, Wahai Nabi Allah?”. Musa menjawab, “tidak ada”. Ana a’lam al-qaum. Aku paling pandai di tengah kaum ini. Sampai kemudian Jibril datang memberitau, “di atas langit ada langit”. Kecerdasannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki Khidir. Seseorang yang mukasyafah-nya jauh di atas Musa. Seseorang yang tidak ada lagi dinding tirai hijab yang membatasi antara dia dengan Tuhannya.

Selama belum terkoneksi secara kuat dengan alam ketuhanan, selama itu pula ilmu telah menjadi hijab bagi kita. Berapa banyak orang yang menjadi ahli kitab, ahli hadis, ahli tafsir, ahli fikih, dan sebagainya. Banyak sekali tau. Tapi tidak makrifat (tidak terhubung dengan Allah). Ilmu/otak kita adalah penghalang kita dengan Allah. Seorang Khidir mampu mengikis hijab pada diri seorang murid. Sampai si murid kembali menjadi “bodoh” (ummi) dan kehilangan segala opini; barulah Tuhan bersedia hadir turun untuk mengisi gelas kosong itu. Inilah urgensi berguru. Tidak bisa tanpa guru. Bahkan sekaliber Musa harus kembali berguru untuk naik tingkat. Tentu harus dengan Guru di atas guru. Bukan dengan guru biasa.

Betapa sombongnya Musa, menganggap dirinya paling cerdas. Itu efek dari banyak ilmu dan banyak murid. Untunglah, Musa punya kesadaran kuat untuk menemukan Guru yang katanya lebih hebat, lebih cerdas dan lebih intuitif dari dirinya. Semua guru spiritual yang dekat dengan Allah dapat disebut sebagai Khidir. Mereka selalu hadir disetiap masa. Muhammad SAW juga seorang Khidir, pada zamannya. Sosok yang membuka rahasia-rahasia langit kepada murid-muridnya. Banyak sekali teks Quran yang tidak diketahui makna. Penuh rahasia. Teks sederhana sekalipun punya kedalaman makna-makna yang sangat metaforis.

Selalu ada Khidir yang hidup disetiap zaman. Pasti ada Khidir yang hidup di zaman sekarang. Karena sosok ini secara sunnatullah memang “tidak pernah mati” (selalu hadir/eksis). Sudah menjadi janji Allah untuk selalu mengutus seorang rohaniawan (rasul) yang hidup di tengah sebuah kaum (QS. At-Taubah: 128). Seseorang yang kita harus mempersiapkan jalan untuk menemuinya. Agar kita tidak larut dalam kesombongan dan kejahilan intelektual. Walau harus letih dalam menempuh jalan, karena ilmunya memang rada-rada nyeleneh, tidak masuk akal dan berat untuk diikuti (QS. Kahfi: 67-82).

Tapi setelah itu, anda akan menjadi Musa yang baru, Musa yang telah diuji sabarnya setelah bertemu Khidir. Menjadi AlGhazali yang baru, setelah menyelami ilmu-ilmu ruhiyah saat berkhitmad melayani adiknya yang cacat. Menjadi Rumi yang baru, seorang elit fuqaha yang jiwanya telah total diserahkan ke Syams Tabriz. Menjadi Abu Hanifah yang baru, setelah dua tahun mengabdi di kaki Imam Ja’far Shadiq. Semua menjadi guru-guru yang tersadarkan (enlightened), yang vibrasi Ruhnya lebih kuat dari akal perseptif. Menjadi guru-guru yang super sadar, bahwa apa yang diketahui sebelumnya bersifat “batil” dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tetesan ilmu yang ditalqin langsung dari sisi Allah (“ladunna ilma”, QS. Kahfi: 65).

Carilah Khidir. Teruslah berjalan sampai ke pertemuan dua laut. Perbanyak membaca tanda. Sebab, katanya, Beliau saat ini ada di pertemuan antara Laut Hindia dan Laut Malaka. Entah iya!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin