“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 49 | Juli 2022


SATU TUBUH, SATU RASA
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Nabi SAW menyebutkan:

وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).

Pada kesempatan lain, Beliau SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585).

***

Rasa, itu diperoleh manakala sudah terjadi integrasi, “satu tubuh”. Jika masih terjadi separasi, rasa tidak akan diperoleh. Paling-paling hanya pura-pura merasa. Bukan betul-betul merasakan hal yang sama.

Agama, pada puncaknya adalah “rasa”. Yaitu mengalami secara langsung (eksperensial) momen-momen kehadiran Tuhan. Agama pada level puncak adalah tentang “kehadiran” (hudhuri). Segala sesuatu yang “di luar sana”, itu dialami “di dalam sini”. Agama adalah usaha memahami realitas luar sebagai realitas internal. Tuhan yang jauh disana, adalah Tuhan yang ada dalam jiwa. Dia yang berkalam di langit, adalah Dia yang bersabda melalui lisan para nabi. Dia yang bersemayam di ‘Arasy, adalah Dia yang sedang bekerja di bumi. Dia yang maha batin (berdimensi ukhrawi), adalah Dia yang wajahnya juga zahir di dunia ini.

***

“Kehadiran” dialami saat terjadi koneksi (integrasi) antara A dengan B. Omnipresence antar sesuatu terbentuk ketika tidak ada lagi sekat dan jarak. Keduanya telah saling meliputi. Seperti disebut oleh Nabi SAW: “satu tubuh”. Tidak ada lagi ego yang membangun dinding persepsi bahwa aku dan kamu beda. Aku ada disini, dan kamu ada disana. Elo-elo, gue-gue.

Dalam tasawuf, ini disebut “wujudiyah”. Telah terbentuk ke-Satu-an rasa. Antara aku dengan Dia, itu “Satu”. Keduanya beda memang, tapi “Satu”. Sudah seperti satu wujud. Tak ada sekat. Keduanya terhubung. Tersambung (wushul).

Antara kamu dan saudara kamu, itu beda memang, secara penampakan. Tapi “Satu” secara gelombang (wujud hakiki yang membentuk segala sesuatu adalah gelombang/energi). Antara kamu dengan Tuhanmu itu beda, tapi “Satu”. Kamu bukanlah saudaramu. Pun kamu bukanlah Tuhanmu. Tapi “Satu”. Sehingga menimbulkan kesamaan rasa. Kesatuan gelombang.

Ibarat ribuan riak dan gelombang di tengah laut. Sekilas terlihat bahwa aneka bentuk gelombang yang terbentuk di tengah laut adalah sesuatu yang berbeda. Padahal itu hanya penampakan dari dinamika permukaan lautan saja, yang hakikatnya “Satu” bagian dari samudera tak terbatas. Gelombang-gelombang itu adalah lautan juga, walau anda tidak menyebutnya sebagai laut. Kita semua adalah gelombang berbeda, dari diri yang “Satu” (QS. An-Nisa: 1).

Pun ibarat cahaya matahari dengan matahari. Cahaya matahari bukanlah matahari. Keduanya beda. Tapi “Satu”. Tak terpisah sama sekali. Si cahaya membawa sifat yang sama dengan sumber cahaya. Si cahaya membawa wujud panas dari matahari, pada kadar (bentuk) berbeda. Bahkan sangat panas dan membakar, jika cahayanya masih dekat dengan sumber-Nya.

Atau juga; ibarat sebuah objek dengan bayangannya. Keduanya beda. Jelas beda. Tapi “Satu”. Bayangan terbentuk (terpancar, termanifestasi, terkejawantahkan, bertajalli) dari objeknya. Bayangan akan selalu mengikuti objek. Bayangan itu bagian dari objek. Tidak terpisah. Kalau anda menemukan sebuah bayang, itu adalah siluet (silhouette) dari objek dibaliknya. Bayang yang anda lihat itu adalah “ayat”, tanda zahir dari Tuhan yang tersembunyi (batin) diujungnya. Alam semesta ini “bayang” (ayat), cahaya dari Wujud-Nya. Alam ini nyata. Tapi “fana” (mumkinul wujud) dari sebuah Wujud Absolut (wajibul wujud).

Maka wajar, Tuhan ada dimana-mana. Cahaya-Nya hadir dimana-mana, dalam berbagai wadah, celah dan bentuk. Sehingga secara kasat mata melahirkan partikularitas. Bukan berarti Tuhannya banyak. Tapi manifestasinya hadir dalam aneka rupa. Pada hakikatnya, sumber Cahaya cuma “Satu”. Hanya saja, cahaya-Nya terkadang sudah terpancar terlalu jauh dari sumbernya. Ke-Satu-annya masih ada dan akan selalu ada. Hanya saja, “panas”-nya sudah berkurang.

Jika cahaya awal begitu powerful, cahaya diujung sudah mulai melemah (bahkan mati). Materialitas manusia adalah wujud “mati”, ujung dari gradasi penampakan-Nya. Jasad kita adalah juga men-zahir dari cahaya Tuhan, namun sudah tidak berdaya. Manusia, jika jauh dari Tuhan, itu tidak lebih dari seonggok mayat (wujud jasad an sich). Segala kekufuran terjadi saat manusia terjerembab dalam materialisme (menuhankan jasad, nafsu dan akal fikirannya).

Sementara Ruh adalah wujud terdekat manusia dengan-Nya. Sehingga Ruh sering disebut sebagai bagian dari diri-Nya sendiri. Bagian dari “amar” (perintah-Nya). Sebab, Ruh masih membawa kekuatan (qudrah dan iradah Tuhan). Ruh membawa karamah dan mukjizat Tuhan. Ruh adalah manifestasi terkuat dari diri-Nya. Ruh adalah Dia sendiri, dalam wujud kedua. Jika ingin dekat dengan Tuhan, up-grade eksistensi Ruh. Perkuat hubungan dengan Ruh. Hanya Ruh yang diterima Tuhan. Ibadah tanpa Ruh akan tertolak, karena tidak membawa unsur-unsur Tuhan.

Itulah mengapa, sosok-sosok terdekat dengan Tuhan berdimensi Ruh. Jibril disebut “Ruh”. Karena bicaranya adalah bicara Tuhan. Muhammad juga begitu, secara biologis (Muhammad adalah gradasi terjauh dari Tuhan, “basyar”). Tapi Ruhnya, adalah tajalli Tuhan. Sehingga bicaranya adalah bicara Tuhan. Ada Tuhan dalam diri-Nya yang terus berbicara dan menggerakkannya. (Ayat) Tuhan memang ada dimana-mana. Tapi lokus (pusat) keberadaan Tuhan, itu ada pada sosok-sosok yang Dia telah mengutus Dirinya kepada mereka. Lokus ke-Satu-an Tuhan, itu ada pada sosok-sosok kekasihnya. (Nama dan Kalam) Tuhan telah “menyosok” pada diri utusan-Nya. Mereka itu “Satu”. Walau secara lahiriah dimensinya beda.

Kita tidak menuhankan manusia, yang tidak lebih dari silhouette (tanda-tanda, ayat-Nya). Kita menuhankan Wujud yang ada di dekatnya. Malaikat tidak sujud pada jasad Adam. Tapi kepada Ruh (Wujud Asma) yang bersemayam dalam dirinya. Kita tidak menyembah patung Kakbah. Tapi kepada Tuhan pemilik rumah itu (sebutlah Dia ada di dalamnya). Allah tidak bersholawat kepada sosok Muhammad. Dia bersama malaikat bersholawat kepada unsur Diri-Nya yang telah diutus (menyatu) dalam ruhani anak Abdullah bin Abdul Muthalib itu.

Kesimpulan. Agama ini pada puncaknya adalah tentang rasa. Tentang “syahadah” dan “mukasyafah”. Tentang kemampuan melihat dan merasakan berbagai dimensi ketuhanan dan kebenaran-kebenaran yang lebih tinggi. Agama adalah tentang kemampuan menyerap pengetahuan-pengetahuan “eksternal” menjadi sesuatu yang sesungguhnya adalah “internal”. Agama adalah proses menyadarkan, bahwa manusia adalah lokus dari kosmos. Segala yang ada di alam ini, ada dalam diri manusia. Tuhan yang dicari di luar dan di akhirat sana, itu sejak awal sudah ada dalam diri dan bahkan lebih dekat dari urat leher kita.

Agama adalah usaha membangun kesadaran, bahwa kita ini pun sebenarnya tidak ada. Kita hanya siluet-Nya. Yang sebenarnya ada, hanya Dia. Agama adalah ikhtiar untuk menyadarkan kembali makna hakiki dari La Ilaha Illa Allah. Kita harus pasrah (taslim) secara total bahwa tidak ada apapun, kecuali Dia. Cuma “Satu” yang ada. Dia. Kita semua bagian (pancaran cahaya, manifestasi intelek) dari yang “Satu” itu. Ibarat bagian tubuh dari umat ini. Beda-beda, tapi Ahad. Kesadaran akan kesatuan wujud inilah yang mampu membentuk rasa kehadiran Tuhan. Tanpa kesadaran seperti ini, Tuhan tidak akan pernah hadir pada diri (ego) kita.

Pada akhirnya kita paham, mengapa Allah mengutus dirinya (Rasul) pada orang-orang tertentu di tengah kita, yang punya sifat “raufur-rahim” (QS. At-Taubah: 128). Rasa belas kasih dan sayang mereka tinggi sekali. Mereka merupakan orang-orang yang mampu merasakan penderitaan umatnya. Sebab, mereka telah menjadi bagian dari tubuh umatnya. Kemampuan merasakan ini diperoleh setelah terlebih dahulu mampu “menyatu” dengan (menyerap sifat-sifat) Tuhan. Sehingga sifat kasih dan sayang Tuhan mampu mereka aplikasikan secara total pada umatnya. Mereka menjadi matahari yang mampu menyinari ufuk (memberi syafaat) tanpa batas. Rahmatal lil ‘alamin. Menjadi true leaders!

Ilmu-ilmu hudhuri dalam Islam mengajarkan berbagai metodologi penyatuan diri dengan para Wali/Ulil Amri, dengan Rasulullah, dengan Allah (QS. An-Nisa: 59).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin