MENYOAL KEISLAMAN FIR’AUN


Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 52 | Juli 2022


MENYOAL KEISLAMAN FIR’AUN
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Fir’aun; walaupun dikutuk dihampir semua ayat karena kedhalimannya, namun sempat bersyahadat di akhir hayat. Setelah bertaubat dan mengaku diri sebagai “muslim”, tentu ia tidak sempat lagi berbuat dosa. Karena keburu digulung ombak. Bukankah orang yang bersyahadat di akhir hayat termasuk husnul khatimah?

۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Kami jadikan Bani Israil bisa melintasi laut itu (Laut Merah). Lalu, Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas hingga ketika Fir‘aun hampir (mati) tenggelam, dia berkata, “Aku percaya bahwa TIDAK ADA TUHAN SELAIN YANG TELAH DIPERCAYAI OLEH BANI ISRAIL (yaitu Allah) dan aku termasuk orang-orang MUSLIM (QS. Yunus: 90)

Ayat selanjutnya (QS. Yunus: 91) seperti menunjukkan kekesalan Tuhan, karena Fir’aun dianggap telat bertaubat. “Udah capek kau berbuat jahat, baru sekarang bertaubat ya?”. Namun tidak ada redaksi Allah menolak taubatnya. Allah terlihat kesal, mungkin iya. Walaupun begitu, tersirat jika Allah juga memahami bahwa Fir’aun baru tersadar dari kedurhakaannya dan ia (jangan-jangan) telah dimaafkan.

اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Apakah (baru) sekarang (kamu beriman), padahal sungguh kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan? (QS. Yunus :91)

Yunus 91 juga mengisyaratkan, bahwa Allah hadir dan berfirman (berbicara) secara langsung kepadanya pada saat kematian Fir’aun. Artinya, Fir’aun meninggal dijemput oleh Tuhan (bukan oleh malaikat Izrail, sebagaimana umumnya terjadi). Ada kepercayaan dalam tradisi gnostis, meninggal dengan cara dijemput oleh Allah adalah bentuk kematian yang baik. Berbeda halnya jika di akhir hayat dijemput oleh setan, pertanda suul khatimah.

Mungkin karena telah diterima taubatnya, jasad Fir’aun “diselamatkan” Tuhan sampai sekarang (QS. Yunus: 92). Bukankah jasad orang-orang baik dan suci sering awet (tidak membusuk)? Atau jasad orang jahat juga awet?

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah kamu. Sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar lengah (tidak mengindahkan) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (QS. Yunus :92)

Atau jangan-jangan, syahadatnya Fir’aun (Yunus 90) tidak diterima. Jika demikian, mampu mengucap syahadat di akhir hayat tidak menjamin seseorang disucikan ruhnya dan masuk surga. Artinya; hadis dari Mu’adz bin Jabal yang dirawi Abu Dawud, Thabrani, Baihaqi, Naisaburi: “Siapa pun yang akhir kalamnya La ilaha illallah maka ia masuk surga” tidak sepenuhnya benar. La ilaha illa Allah itu ucapan terakhir Fir’aun menjelang ajal. Padahal, sebagaimana diyakini, susah mengikrarkan kalimat itu di akhir hayat. Apalagi bagi seorang pendosa. Tapi, seorang Fir’aun bisa, dan itu didengar/direspon (“diterima”) langsung oleh Tuhannya -Yunus 91.

Tapi ada juga hadis yang mengatakan, taubat Fir’aun dihalangi Jibril. Sebagaimana disampaikan dari Ibnu Abbas: Sewaktu Allah menenggelamkan Fir‘aun, ia mengucapkan, “Aku beriman bahwa tiada tuhan kecuali yang diimani kaum Bani Israil,” (Q.S. Yunus: 90).” Kemudian, malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Muhammad, seandainya engkau melihatku, kala itu aku mengambil tanah hitam dari dasar lautan. Lalu memasukkannya ke dalam mulut Fir‘aun karena takut ia diliputi oleh rahmat” (HR. Tirmizi). Ada sentimen apa antara Jibril dengan Fir’aun. Kok tega ia menghalang-halangi orang untuk bertaubat. Padahal Allah sendiri menyuruh semua orang, tak peduli apa dosanya, untuk bertaubat.

Atau, Fir’aun memang telah mengikrarkan syahadat; tapi tidak sampai ke hati. Sebab, sebagaimana umum dipahami, iman itu adalah sesuatu yang diikrarkan dan sampai ke hati:

مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ

Tapi sulit juga menyatakan Fir’aun tidak punya kesadaran qalbu ketika menyebut kalimat-kalimat itu. Kalau kita telisik isi Alquran, kalimat “wa ana minal muslimin” sebagaimana diucapkan Fir’aun dipenghujung Yunus 90 di atas, adalah kalam khas para Nabi saat menyatakan kepasrahan mereka kepada Allah SWT. Itu juga kalimat yang kita gunakan pada setiap rakaat awal sholat kita. Jangan-jangan, dengan berbagai kedhaliman/kemungkaran yang telah kita lakukan, pernyataan keislaman kita dalam setiap sholat tidak diterima Allah.

Kalau Fir’aun serius mengikrarkan syahadat dengan penuh kesadaran, sulit juga kita membayangkan bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak mengampuninya. Sebab, sebagaimana kita ketahui, “Keampunan-Nya melampaui Murka-Nya”. Bandingkan dengan anak (dan istri) Nabi Nuh as, yang disaat genting mau mati tenggelam dalam banjir besar, masih tegas menolak ikut dan mengakui kenabian ayahnya. Itu wajar tidak diampuni. Karena egonya tinggi sekali. Tapi Fir’aun, disaat mau tenggelam, sadar akan kebenaran Musa dan mau mengakui kebenaran yang dibawanya. Tidakkah tindakannya jauh lebih progresif dan terpuji daripada anaknya Nuh, ataupun anak-anak nabi lainnya yang sampai mati masih menolak kebenaran yang dibawa ayah mereka?

Atau, syahadat Fir’aun tertolak karena diucap ketika nyawa sudah sampai tenggorokan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Ibnu Umar: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan” (riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Namun perlu dikaji kembali, apakah kalimah syahadat dan penyataan kepasrahan yang terlihat begitu lugas dan indah (mirip-mirip munajat), itu diucapkan Fir’aun sebelum nyawa sampai tenggorokan, atau justru setelah sampai tenggorokan. Kalau sudah sampai tenggorokan, sepertinya tidak lagi lahir ucapan-ucapan yang indah.

Fir’aun kelihatannya telah menjadi sosok paling kontroversial dalam sejarah. Namanya telah mencuat sebagai figur paling “radikal”. Di Quran sebenarnya juga sudah digambarkan, betapa kesalnya Musa dengan Fir’aun karena tidak mau beriman. Saking kesalnya, Musa as berdoa agar Fir’aun tidak beriman sampai datang azab kepadanya (QS. Yunus: 88). Akhirnya persis seperti yang didoakan Musa, setelah berhadapan dengan azab, baru dia beriman. Kita juga begitu. Kalau sudah ada masalah, baru minta ampun dan dekat dengan Allah.

وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ

Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman SAMPAI mereka melihat azab yang sangat pedih (QS. Yunus: 88)

Itu alternatif cara mendoakan orang. Kalau di doakan secara baik-baik seseorang tidak mau sadar; di doakan saja yang jahat-jahat, biar seseorang menjadi baik. Misalnya, seorang ibu mendoakan anaknya yang sangat nakal, suka balapan motor, secara baik-baik: “Nak, kalau bawa motor pelan saja ya, biar engkau selamat”. Itu doa yang baik. Tapi, kalau sudah berulang kali dinasehati tidak digubris, masih ngebut juga, doanya bisa berubah menjadi keras: “Sudah keras hatimu  nak ya, tak usah kau dengar lagi ibumu, sampai kau jatuh kena azab dan patah kaki, nanti baru kau sadar”. Itu sudah masuk kategori doa minta dicelakakan, agar si anak menjadi tersadar. Doa Musa as untuk Fir’aun di Yunus 88 sudah pada level sangat keras seperti itu.

Ternyata benar; sebagaimana di doakan oleh Musa as, setelah mendapat celaka, baru Fir’aun sadar. Artinya, Fir’aun itu sadar berkat doa Musa as. Syukur dia mau sadar. Ada juga diantara kita yang sudah berulang kali di azab Tuhan, belum juga sadar. Sudah dikirim tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, kekeringan, banjir bandang dan pandemi; masih merasa diri paling benar. Masih dhalim, korup dan jahat. Dan tidak ada tanda-tanda kita akan serius bertaubat.

Namun rasa pertaubatan Fir’aun yang begitu dalam seperti terlupakan oleh manusia. Yang diingat oleh masyarakat adalah rentetan kejahatannya. Imej jahat kita, walaupun sudah bertaubat, memang susah hilang. Walaupun di sisa waktu mungkin sempat sadar untuk mengagungkan nama Allah. Tapi yang sedikit baik di akhir usia tersebut sudah tidak populer. Sebab, bad news is good news. Kita butuh seseorang untuk selalu kita kafir-kafirkan.

Betapa pengampunnya Allah dan betapa pendendamnya manusia. Ingat bagaimana kisah seorang pemuda yang telah membunuh 99 orang. Ia berjalan kesana kemari untuk mencari tau, apakah masih ada keampunan bagi orang sejahat dia. Sampai kemudian ia bertemu seorang ulama, yang secara tegas mengatakan: “Tak ada kata ampun bagi orang sesadis kamu”. Akhirnya ia membunuh ulama itu. Sebab, apa bedanya, membunuh 99 orang dengan 100 orang, jika memang tidak diampuni. Akhirnya ia bertemu seorang bijak yang mengatakan, “Tak sedikitpun sulit bagi Tuhan untuk mengampuni orang yang bahkan lebih jahat dari kamu, selama sungguh-sungguh bertaubat”. Pernyataan ini telah membawanya kepada pertaubatan, walau sebelumnya ia bahkan pernah membunuh seorang ulama. Lalu bagaimana jika Fir’aun yang super jahat itu datang kepada anda untuk bertanya, apakah akan diterima jika ia bertaubat?

***

“Fushushul Hikam”-nya Ibnu Arabi menjadi sangat kontroversial, ketika ia punya perspektif berbeda tentang Fir’aun. Padahal, Ibnu Arabi ini penulis paling brilian. Tapi menyisakan “kenakalan” yang berat untuk kita terima. Mengikuti Ibnu Arabi sama beratnya dengan mengikuti alur pikir Khizir. Pandangan kasyafnya sering berbeda dengan keilmuan awam. Ia bahkan punya perspektif wujudiyah terhadap sosok Fir’aun yang begitu “keramat”, ketika ia mengatakan dirinya sebagai “Tuhan”. Ini sangat mengguncang nalar awam.

Kalau ditelisik lebih dalam, konflik Fir’aun dan Musa as, itu sebenarnya perang dalam satu agama. Perang memperebutkan otoritas ke-Tuhan-an. Dengan segala kuasanya Fir’aun berusaha menyingkirkan karibnya, Musa. Bahkan ketua Majelis Ulama (MUI) masa itu, Syeikh Bal’am ada dalam barisan Fir’aun. Mungkin banyak penghafal Quran dan hadis (ahli kitab) pada masa itu yang memilih berada dalam barisan Fir’aun. Mungkin karena gaji dan pendapatannya lebih terjamin. Sebagaimana disinggung dalam Yunus 88, harta kekayaan Fir’aun telah memperdaya mereka. Para Aali Fir’aun yang terperdaya ini diancam neraka. Sementara, di surah lain seperti Ghafir 28 juga menyebutkan, ada diantara Aali Fir’aun lainnya yang beriman dan tentunya masuk surga.

Tapi Fir’aun sendiri; setelah mengalami cobaan, azab dan siksaan berkali-kali, akhirnya sadar. Karena itulah, Syaikh sufi dari Andalusia ini mengatakan, ruh Fir’aun telah disucikan Tuhan. Ini kontradiktif dengan pandangan sebagian besar mufassir, yang sampai hari ini masih sepakat memasukkan Fir’aun ke dalam neraka. Kita sepakat untuk menghakimi pertaubatan Fir’aun sebagai strategi “terjepit” dan itu dianggap tidak sah!

Mungkin karena itu pula, keislaman sosok seperti Abu Sufyan juga diragukan. Sebab, ia menerima Islam justru saat sudah sangat terjepit. Kalau tidak menerima Islam saat itu, ia pasti dihukum mati. Itu terjadi ketika Futuh Mekkah pada tahun 8 hijrah (630 M). Nabi memimpin langsung 10.000 pasukan ke jantung Mekkah. Jauh sebelum itu, ia sebenarnya juga tidak kalah jahatnya seperti Fir’aun. Sepanjang usia ia habiskan untuk melawan dakwah Sang Penghulu para nabi.

Iman, itu diartikan sebagai: “Menyatakan dengan lisan dan membenarkan dengan hati”.

وَالإِيمَانُ هُوَ الْإِقْرَارُ بِاللِّسَانِ وَالتَّصْدِيقُ بِالْجَنَانِ

Maka, sulit juga mengukur kebenaran Islam tidaknya Abu Sufyan secara hakiki. Karena ia menerima Tuhannya Muhammad justru saat tidak tau mau lari kemana lagi, seperti Fir’aun yang mau tenggelam. Bukan dilakukan dalam keadaan sadar jauh-jauh hari. Tapi tetap diampuni bahkan dihormati oleh Muhammad. Padahal itu musuh nomor satu. Bayangkan; betapa mulia, pengasih dan penyayangnya Muhammad.

Sebenarnya banyak sekali orang-orang yang masuk Islam di periode-periode akhir setelah hijrah, yang diragukan keimanannya. Banyak membuat kekacauan setelahnya. Itu juga terjadi sampai pada anak dan cucu Abu Sufyan. Jika Abu Sufyan paling getol memimpin perlawanan terhadap Muhammad pada masanya; anaknya (Muawiyah) juga begitu. Ia paling terdepan dalam memimpin bughat (kudeta) melawan khalifah ke empat dalam Islam yang dipimpin Ali bin Abi Thalib, orang terdekat Nabi. Bahkan ia meracuni cucu Nabi (Sayyidina Hasan). Pun demikian dengan Yazid bin Muawiyah (cucu Abu Sufyan, anak dari Muawiyah), meneruskan perang dengan Keluarga Nabi. Ia menjadi pembantai Sayyidina Husain beserta keluarga Rasul SAW lainnya, termasuk anak-anak.

Kita tidak tau berapa bayi laki-laki yang pernah di bunuh Fir’aun di zaman kelahiran Musa untuk mengamankan kekuasaannya dimasa depan. Anda juga bisa membaca kembali sejarah, berapa bayi dari zuriat Nabi yang dibantai pada 10 Muharram tahun 61 H di dekat Eufrat, untuk menjamin kelangsungan kekuasaan para ramses dari dinasti Umayyah. Alhamdulillah, satu Musa kecil selamat. Ia menjadi salah satu pelanjut cita-cita Muhammad. Betapa banyak imam dan sufi-sufi agung yang menjadi kiblat ketuhanan, yang lahir darinya.

Motif perang Bani Umayyah terhadap Bani Muhammad sama persis dengan perang Fir’aun melawan Musa. Dipercaya, Musa dapat mengambil alih kekuasaan Fir’aun. Dinasti Umayyah telah berkuasa sebelum Muhammad lahir. Kemunculan Muhammad justru mengambil alih semua pundi-pundi kekuasaan mereka. Secara politis mereka tentu marah dan menolak kenabian Muhammad. Bahkan jauh setelah wafatnya Muhammad dan Ali, mereka masih mencari dan membasmi musa-musa kecil, agar tidak mengganggu kekuasaan mereka. Keturunan Nabi semua dicari, dikejar, bahkan diracun dan dibunuh. Diaspora keluarga Nabi mulai terjadi pada periode fir’aun-fir’aun ini.

Fir’aun-fir’aun arab ini punya power besar juga. Mereka mampu mengambil alih kekuasaan Islam paska Khalifah ke empat. Mampu menyingkirkan anak turunan Muhammad dan pengikutnya. Tapi mereka tidak mampu mewarisi spiritualitas mereka. Sampai hari ini, sanad spiritual keislaman (tarikat dan sufisme, misalnya) semua lahir dari itrah Nabi dan musa-musa yang selamat dari kejaran mereka. Walaupun demikian, fir’aun-fir’aun ini juga menguasai agama. Mereka juga memiliki bal’am-bal’am yang alim dan mampu membuat hadis-hadis palsu untuk memuaskan mereka. Hadis-hadis ini bodong ini telah banyak meracuni kita sampai hari ini. Bayangkan, imam Bukhari saja menyortir 7 sampai 9 ribu yang dianggap sahih, dari 600 ribu hadis yang ia punya. Yang sedikit tersisa itupun sampai hari ini masih ada yang mengkritisi, dicurigai masih ada sisa-sisa riwayat bal’am.

Namun demikian, tidak semua ramses pada dinasti Umayyah ini zalim. Beberapa justru sangat mulia dan terhormat, seperti Umar bin Abdul Aziz. Selebihnya kita hanya bisa berdoa. Semoga Allah menerima keislaman fir’aun-fir’aun lainnya, yang kezalimannya luar biasa. Mereka semua bersyahadat, berpakaian muslim. Walau membingungkan banyak orang sampai sekarang; apakah syahadatnya sampai ke hati, atau hanya sampai di tenggorokan.

Mari seperti Ibnu Arabi, berbaik sangka saja. Bahwa mereka semua adalah muslim. Toh, Fir’aun itu juga saudaranya Musa. Satu istana mereka. Bahkan mungkin tinggal satu kamar. Abu Sufyan juga begitu, Bani Quraisy juga, satu kaum dengan Muhammad. Pun Ali bagi Muhammad, itu juga ibarat Harun bagi Musa (hadis). Sejarah berulang seperti itu-itu saja, pada waktu dan tempat berbeda.

Dalam hal ini, Ibnu Arabi tampil sebagai tokoh yang sangat toleran. Kalau sudah berani memasukkan Fir’aun sebagai “muslim” dan “suci”; saya kira tidak ada lagi di dunia ini orang yang lebih toleran dari Ibnu Arabi. Wajar kalau beliau digelar Syaikh Akbar dalam wawasan sufi. Sudah menjadi tradisi sufi, alih-alih mengkafirkan dan membid’ahkan yang lain, mereka justru cenderung melihat kelebihan orang. Walau kelebihannya sangat sedikit. Yang sedikit inipun, dalam pandangan sufi, sudah menyebabkan seseorang layak masuk surga. Ibnu Arabi memiliki positif thinking terhadap tokoh terjahat sekalipun. Dan Fir’aun, dalam khazanah Quran, tidak ada yang lebih jahat dari dia.

Sekali lagi, tidak ada yang menyaingi “kelapangan dada” seorang Ibnu Arabi. Hanya dengan satu atau dua ayat saja, ia telah melihat keimanan pada sosok antagonis seperti Fir’aun. Anehnya, orang-orang Islam justru menggunakan semua ayat dan hadis untuk siang malam berdakwah guna menjebloskan saudaranya ke neraka. Betapa picik dan sempitnya jiwa orang-orang yang menyebut saudaranya telah melakukan bid’ah dan khurafat hanya gegara mereka berdoa untuk saudaranya lewat samadiah, tahlil, dan kenduri; serta suka memuja dan memuji Nabinya lewat maulid dan barzanji. Ketika saudaranya sendiri sudah puas ia kafirkan semua, tentu tidak tersisa lagi muslim di permukaan bumi ini. Selain dia sendiri. Jika Ibnu Arabi berada pada ujung spektrum dari contoh seorang muslim yang punya cara berfikir paling “bijak”, orang-orang ini berada pada ujung spektrum yang lain sebagai sampel “terpicik”.

Kita boleh tidak setuju dengan Ibnu Arabi tentang keimanan Fir’aun (sebenarnya ada berbagai alasan lain yang beliau ungkapkan dalam Fushushul Hikam terkait keimanan Fir’aun). Kita boleh saja tetap meyakini jika Fir’aun dan orang-orang zalim seperti Fir’aun (yang syahadat dan keislamannya hanya dibibir saja namun akhlaknya keji lagi tercela) adalah tempatnya di neraka.

Kita boleh kritis, melihat ini salah, itu salah. Boleh. Tapi jangan lupa mengembangkan cara berfikir yang arif, wise. Silakan mengkritik Fir’aun, bahkan mengasah pedang untuk melawannya. Silakan berjihad melawan penguasa zalim. Tapi, sisakan sedikit cakrawala untuk menangkap hikmah dari setiap peristiwa. Beri ruang bagi anda sendiri untuk bernafas, untuk berdamai dan menangkap pesan-pesan berbeda. Bahkan rahasia-rahasia dari sebuah perkara. Wallahu ‘alam bish-shawab.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s