Site icon SAID MUNIRUDDIN

MEMAHAMI MAKNA “KITAB”

Advertisements


“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 54 | Agustus 2022


MEMAHAMI MAKNA “KITAB”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

وَاِذْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

(Ingatlah) ketika Kami memberikan kitab dan furqān kepada Musa agar kamu memperoleh petunjuk (QS. Al-Baqarah: 53)

“Kitab”, secara material dipahami sebagai “buku”. Kalau ini pemahamannya, maka tak ada satu nabi pun yang sejak awal diberikan “buku” (kitab) suci oleh Tuhan mereka. Tidak ada malaikat yang turun dari langit yang membawa satu set buku (kitab) untuk diserahkan kepada seorang nabi. Allah tidak pernah menurunkan “kitab” (buku), ataupun “suhuf” (lembaran buku).

“Kitab” dalam bentuk buku itu murni hasil karya manusia setelah sekian lama mengumpulkan ayat-ayat yang mungkin tersebar dimana-mana. Bahkan selevel Alquran pun harus disusun panitia untuk menciptakan “kitab” (Mushaf Usmani). Itupun dilakukan jauh setelah Muhammad SAW tiada, dengan cara mengumpulkan catatan-catatan yang dimiliki sejumlah orang.

Musa as juga begitu, saat turun dari gunung Sinai hanya membawa selemping pesan Tuhan, yang isinya pun sangat terbatas dan sederhana. Bukan kitab yang tebal dan berjilid-jilid. “Kitab” Taurat dalam bentuk buku/mushaf (lembaran kertas) itu murni hasil karya manusia. Bukan buatan Tuhan. Bukan diturunkan secara langsung oleh Tuhan.

Maka, ketika ada ayat yang mengatakan bahwa para nabi diberi “kitab”, kita harus punya pemahaman yang lebih substantif tentang apa yang dimaksud “kitab”.

Apa itu “Kitab”?

Yang jelas, apa yang awalnya diturunkan kepada para nabi tidaklah dalam bentuk buku kitab. Melainkan sesuatu yang tidak berhuruf dan bersuara, yang masuk dalam Ruhani orang-orang suci. Itulah “kitab”.

Kitab ini bentuknya sangat ruhaniah. Hidup. Aktif dan senantiasa berbicara secara laduni (intuitif). Karena keberadaannya senantiasa mengarahkan seorang nabi, maka ia dapat disebut sebagai “kitab”. Yaitu, kumpulan makhluk ruhaniah yang selalu membisiki, alias memberi “catatan-catatan”, menjadi “furqan” (pembeda) tentang baik buruk atau benar salah sesuatu.

Karena hidup dan berbicara, “kitab” ini juga dapat disebut sebagai “ruh” ataupun “malaikat” yang mengisi lembaran-lembaran jiwa para nabi. Malaikat-malaikat inilah yang senantiasa berbicara kepada mereka. Semua ada dalam diri seorang nabi.

Karena itulah, “kitab” pertama yang diturunkan kepada manusia berbentuk firman yang bersifat “anfusi” (berupa lembaran-lembaran gelombang suci ketuhanan yang mengisi jiwa). Tidak berhuruf dan bersuara. Tetapi selalu mengarahkan gerak dan tindakan seorang nabi secara ruhiah. Baru kemudian, ketika para nabi berhadapan dengan konteks sosial, ada sesuatu yang disuarakan/dibahasakan. Ketika ucapan-ucapan ini dikemudian hari ditulis ulang, jadilah ia sebagai bentuk firman “kitabi” (tertulis).

Pertanyaannya, bisakah kita memperoleh “firman anfusi” (Kitab Ruhaniah); yang mengisi jiwa dan selalu berbicara secara laduniah kepada kita setiap menghadapi masalah?

Bisa. Ada proses “penyucian diri” yang harus dilakukan untuk mendapatkan jenis kitab paling suci ini. Sebab, kitab jenis ini tidak dapat diperoleh, kecuali oleh orang-orang yang telah disucikan -harus ada orang yang mensucikan anda (QS. Al-Waqiah: 79). Sementara, Kitab berbentuk buku, itu bisa dibeli, disentuh atau dipegang oleh seorang kafir sekalipun. Lagi berhadas besar pun anda bisa menyentuh dan memeluknya, kalau anda mau. Karena itu cuma buku cetakan.

Kalau anda mendalami dan mempraktikkan tasawuf lewat bimbingan seorang Wali Allah, anda akan memperoleh apa yang disebut, misalnya “muraqabah” (baca penjelasan Al-Ghazali dan para sufi akbar lainnya terkait ini). Ini semua adalah bentuk-bentuk dari “kitab” dalam dimensi ruhaniah yang tidak berhuruf dan bersuara. “Kitab” ini sangat langka. Karena tidak semua penempuh jalan Ruhani mampu memperolehnya. Kecuali guru spiritual anda benar-benar punya otoritas kerasulan (mewarisi Nabi) dalam tugas-tugas mensucikan jiwa manusia.

Jadi, jika anda menyandarkan hidup pada “buku” kitab, anda harus rajin-rajin membuka dan membaca Alquran cetak. Anda harus memahami arti, juga menafsirkan apa makna ayatnya. Ini menjadi wilayah kecerdasan kognitif (otak/aqliyah). Tapi bagus untuk dilakukan, walaupun mungkin kurang efisien (kelamaan). Bayangkan, kalau seorang nabi dihadapkan pada sebuah masalah, lalu harus bekerja keras mencari solusi dengan membuka buku kitab yang begitu tebal dan menelusuri ayat demi ayat. Wah ribet sekali.

Tapi, bagi anda yang punya kecakapan ruhaniah (kenyataannya, para nabi semua begitu); kalau ada masalah, cukup tanyakan kepada Allah. Dia akan menjawabnya secara langsung. Inilah “kitab nafsani”, Ruh dan malaikat yang diturunkan untuk berbicara kepada anda (QS. Al-Qadar: 4). Ini hanya dimiliki hanya oleh orang-orang yang dekat dan mengenal Allah. Makanya, para nabi tidak membaca, mengoleksi dan menulis kitab (“ummi”, QS. Al-Ankabut: 45). Karena ada Allah bersama mereka. Semua sudah tertulis dalam diri mereka. Merekalah kitab!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version