“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 55 | Agustus 2022


HIJAB PENGETAHUAN: “7 LAPIS BUMI DAN LANGIT”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dunia ini berlapis-lapis. Apa yang muncul ke permukaan, itu adalah “fenomena”; sesuatu yang disebabkan oleh hal-hal yang lebih mendasar. Ada hidden faktor yang melahirkan sesuatu. Penyebab ini tidak selalu diketahui. Karena ter-“hijab”, laten, tersembunyi. Ketika hijab ini, melalui metodologi tertentu dapat disingkap; maka akan diperoleh informasi atau kebenaran yang melatarbelakangi sesuatu. Ini pelajaran dasar dalam research methodology.

Dunia akademis sangat menggandrungi usaha menyingkap hal-hal tersembunyi. Begitu juga dunia sufi, kerjanya juga mengungkap berbagai tabir (kegaiban) yang menyelimuti alam tertentu. Karena itu, kata-kata “hijab” sangat populer dalam dunia mistisisme. Hijab merupakan lembaran-lembaran variabel yang harus dikuak, kebenaran ontologi yang harus diusut, agar sebuah misteri terjawab.

Arah dari pendidikan ilmiah adalah untuk menyingkap penyebab wujud/terjadi/lahirnya sesuatu. Baik di alam fisika (material-observatif), maupun alam di metafisika (ruhaniah-eksperensial). Dalam hirarki ontologi (wujud), alam fisika adalah adalah “alam rendah” (diistilahkan sebagai: “bumi”). Sedangkan metafisika adalah alam asal, alam yang menyebabkan segala sesuatu terjadi di bawahnya (dunia/bumi). Karena itu, level alam metafisika dalam hirarki wujud itu lebih tinggi (sehingga disebut: “langit”).

Dalam pandangan dasar sufisme (basic Sufism), itu diakui, bahwa hal-hal material merupakan penyebab berbagai fenomena di alam empirik (alam semesta/macrocosmic). Sementara pada tingkatan advanced sufism, itu berupaya mengungkap aneka penyebab yang memunculkan fenomena-fenomena lahiriah di alam kasat. Jadi, kerja para sufi melampaui alam fisika. Riset mereka meluncur jauh sampai ke alam metafisika (alam numena/microcosmic).

Tentu pengetahuan kita sangat rendah, jika sekedar mengatakan, bahwa penyebab terjadinya gempa adalah karena pergeseran lempeng bumi. Walau jawaban itu sudah cukup memuaskan pada tingkatan macrocosmic. Jawaban ini sudah cukup mampu melahirkan berbagai rumus terkait sains alam.

Tetapi, ketika pertanyaan terus dilanjutkan, kenapa lempeng bisa bergeser, kenapa hujan bisa turun, kenapa api bisa membakar, kenapa bisa begini dan kenapa bisa begitu; maka akan sampai kepada penemuan jawaban-jawaban yang lebih mendasar pada level mata rantai sebab-akibat (kausalitas). Kausalitasnya akan sangat panjang, sampai ke ujung dunia materi. Selepas ini, akan meluncur dan menyeberang lebih jauh lagi ke alam immateri. Ujung dari mata rantai kausalitas ini tentulah apa yang disebut dalam bahasa filsafat sebagai, “Causa Prima” (Penyebab Awal). Yang dalam bahasa umum agama dinamai “Tuhan”. Atau apa yang dalam catatan Alquran ia perkenalkan dirinya secara khusus sebagai “Allah”.

Hanya saja, menyebut Allah sebagai penyebab awal segala sesuatu, tanpa mampu merinci secara ilmiah mata rantai fenomena, itu sama dengan menarik kesimpulan secara terburu-buru. Mesti ada penjelasan ilmiah terhadap tingkatan-tingkatan alam yang menjadi penyebab terhadap alam-alam di bawahnya.

Dalam tradisi metafisika Islam, telah lahir orang-orang yang sukses meriset keberadaan alam-alam yang lebih tinggi ini. Mereka telah menulis hasil-hasil kerja mereka dalam berbagai kitab dan judul konsep. Al-Farabi (872-951 M) dan Ibnu Sina (980-1037 M) menggagas konsep emanasi Wujud dalam kerangka “gradasi Akal“. Al-Ghazali (1058-1111 M) menuangkan masterpiece metafisika tasawuf moderatnya dalam “Ihya Ulumuddin”. Suhrawardi (1154-1191 M) meneguhkan konsep iluminasi dalam “Hikmah Al-Isyraq”. Ibnu Arabi (1165-1240 M) menulis pengalaman mukasyafah dan kesatuan wujudnya terkhusus dalam dua karya fenomenal “Fushush Al-Hikam” dan “Futuhat Al-Makkiyyah”. Rumi (1207-1273 M) turut mengungkap pandangan estetis batinnya dalam syair “Matsnawi”. Mulla Sadra (1572-1640) kemudian menempatkan hikmah transendensial dan metafisika eksistensial dalam “Asfar Al-Arba’ah”. Juga berbagai ulama regional lainnya seperti Abdurrauf bin Ali alias Tgk. Syiah Kuala di Aceh (1615-1193 M) ikut meramu pandangan makrifatnya dalam “Martabat Tujuh”. Masih banyak master sufi lain dengan berbagai karya fenomenal.

Mereka semua (selain filsuf dan juga ada yang berprofesi sebagai fuqaha) merupakan ilmuan metafisika yang telah menempuh pendidikan ruhaniah, dan berhasil merangkum berbagai pengalaman dari hasil penelitian spiritual. Aneka wujud metafisik yang menjadi sebab terhadap alam fenomena, diungkap dalam karya-karya fenomenal mereka, dan bahkan menjadi rujukan bagi generasi kemudian.

Sebenarnya, semua syekh akbar mengalami perjumpaan dengan Wujud Primer (Allah). Hanya saja, tidak semua mereka punya tradisi menulis seperti yang lain. Apa yang ia alami dan terima dari Tuhannya ada yang didikte dan ajarkan, lalu ditulis oleh orang lain.

Dari semua syekh sufi tersebut, yang paling agung adalah Muhammad SAW, dengan Alqurannya, yang merupakan kompilasi dari pengungkapan Ruhani paling sakral. Karyanya ini (Kalam Tuhan yang ia dokumentasikan dalam catatan-catatan), sangatlah misterius. Kandungannya sangat dalam. Alquran merupakan karya yang menyingkap berbagai hirarki wujud. Mulai dari alam metafisika murni (rabbani/nafsani) sampai ke ufuk sosiologis dan fisis (afaqi). Sebagian bisa dipahami (muhkamat). Sebagian sangat simbolik dan susah dicerna (mutasyabihat). Para ahli metafisik paska Beliau terus mengungkap dan mengembangkan makna-makna yang ada dalam Kitab Agung tersebut; baik melalui nalar filosofis, maupun pembuktian ruhaniah (pengulangan pengalaman) lebih lanjut. Sebab, sebuah ajaran akan bernilai universal, manakala dapat direplika secara berulang diberbagai tempat dan waktu. Apa yang dialami Muhammad SAW dapat dikatakan semakin kuat kebenaranya, ketika itu memang dapat dialami oleh generasi, baik sebelum maupun sesudahnya. Sehingga, Islam bukan hanya sebatas doktrin (teori). Tapi juga pengulangan “rasa” dalam beragama. Apa yang dialami Muhammad, harus dapat dialami oleh umat.

“Langit dan Bumi yang Berlapis-lapis”

Kemampuan manusia untuk “melihat” (mengobservasi) sangat terbatas. Maka diperlukan alat/metode untuk menembus berbagai eksistensi secara lebih dalam, lebih jauh, atau lebih halus. Dulu, untuk melihat jagat raya yang maha luas ini menggunakan telescope Hubble. Sekarang, dengan telescope Webb, eksistensi semesta dapat diakses lebih jauh, lebih dalam dan lebih halus; secara instan.

Itu kasus dunia material, juga butuh kekuatan “cahaya”. Untuk melakukan perjalanan, observasi dan menembusi outer space seperti ini, kita perlu “sultan” (kekuatan cahaya) yang lebih tinggi dan lebih canggih dari sebelumnya. Jika Hubble Space Telescope (HST) yang beroperasi sejak 24 April 1990 hanya mampu mengakses angkasa pada level optikal dengan gelombang ultravioletnya; James Webb Space Telescope (JWST) yang dilaunching pada 25 Desember 2021 telah mampu menembus jarak lebih dalam dan jauh melalui gelombang infrared.

Artinya, untuk mengakses lebih jauh wujud fisik dari alam semesta ini perlu kekuatan “cahaya di atas cahaya”, atau gelombang-gelombang yang lebih tinggi. Begitu pula untuk mengakses Wujud Absolut/melakukan mikraj ke inner space (langit ruhaniah), juga butuh “Burak”, “Cahaya di Atas Cahaya”, gelombang atau kilatan-kilatan irsyad (Nur) yang lebih tinggi. Nur ini biasanya ada pada seorang pewaris Nur. Dialah alat yang dapat digunakan untuk mensimulasi dan membimbing kita untuk melakukan perjalanan ruhaniah, sampai Dzat Allah menjadi ter-“observasi” secara ruhaniah.

Contoh lainnya terkait “langit dan bumi yang berlapis-lapis”. Secara kasat lahiriah misalnya, melalui gelombang cahaya mata yang begitu pendek, kita hanya mampu melihat satu sosok manusia di depan kita. Dengan unsur organ seperti tangan, kaki, mulut, mata, hidung, telinga, dan sebagainya; yang membentuk keseluruhan wujud itu. Tetapi, manakala kita memiliki alat lain yang memiliki cahaya yang lebih halus, tajam, tinggi dan cepat; kita akan terkejut. Ternyata, saat kita observasi secara lebih detil, lebih senyap dan lebih hati-hati; akan terlihat wujud-wujud lebih halus. Apa yang kita sebut manusia, ternyata hanya kumpulan sel. Sel itupun hanya sekumpulan molekul. Molekul ini ternyata hanya komunitas dari atom. Atom pun tidak bersifat mandiri, melainkan tersusun dari wujud proton dan neutron. Begitu seterusnya, sampai kita sadar, paling tidak sampai era kuantum sekarang; bahwa, partikel terkecil yang merupakan dasar penyusun wujud (eksistensi) dari segala yang ada adalah “quark” (gelombang elektromagnetik, ataupun cahaya).

Maknanya, kita secara fisik rupanya bukanlah wujud ontologis dari materi. Melainkan “cahaya”. Dan setelah itu juga bukanlah dimensi “void” (kosong), sebagaimana diyakini untuk sementara (karena belum diketahui darimana datangnya cahaya ini). Sebab, secara logika, tidak ada yang terbentuk dari kekosongan. Ada sebab wujudnya. Artinya, ada wujud “Cahaya Di atas Cahaya”, ada gelombang-gelombang Cahaya lebih halus (gaib) dan lebih dalam (imanen) yang membentuk kita semua. Mata rantai dari cahaya ini tentu masih panjang, dan mungkin butuh waktu ribuan tahun dan teknologi lebih sophisticated untuk mampu melakukan observasi lebih dalam (untuk tidak menyebutnya mustahil).

Sementara itu, sejak ribuan tahun lalu, para filsuf metafisika telah menyimpulkan, ujung dari wujud kita dan keseluruhan material atom di semesta ini adalah “Cahaya Prima” itu sendiri (Tuhan). Artinya, kita pada dimensi “awal” (al-awwalu) adalah Khalik. Pada dimensi “akhir” (al-akhiru) adalah Makhluk. Khalik dan makhluk ada pada wujud mata rantai kausalitas yang satu (Ahad). Singkatnya, secara hakiki tidak ada apapun yang eksis di semua tingkatan alam, kecuali pancaran awal dari Wajah (Dzat)-Nya. Kita semua adalah “penampakan”-Nya dalam aneka gelombang dan rupa, di berbagai alam. Keberadaan “alam cahaya” (hirarki wujud metafisis) inilah yang diurai para sufi dan filsuf dalam aneka konsep mereka, sebagaimana telah kita bahas di atas.

Jadi, apa yang disebut sebagai “7 Lapis Langit” dan “7 Lapis Bumi”, sebenarnya merujuk kepada sebuah gambaran akan tabir, hijab dinding atau lapisan-lapisan pengetahuan yang menyelimuti alam; baik alam fisika (bumi) maupun alam metafisika (langit). Jadi, ini bukan sekedar lapisan bumi dan atmosfer yang menyelimuti kita. Tapi jauh lebih maknawi sebagai “hijab” pengetahuan terkait Wujud. Untuk tembus ke Wajibul Wujud (Dzat Allah), anda harus menguak 7 tabir semesta, mulai dari dimensi lahiriah sampai ke 7 semesta batiniah.

Jumlah tabir alam “fenomena” (fisik/materi) juga beragam. Untuk tembus dari dimensi kulit sampai ke unsur atom, itu juga berlapis. Tergantung kehalusan persepsi dan observasi. Bisa jadi ada puluhan, belasan, ratusan atau bahkan ribuan lapis. Tapi secara sederhana disingkat “7 Lapis Bumi”. Begitu pula dengan alam “numena” (immateri/non fisik), ada yang menyebut sampai 70.000 hijab (atau 70.000 rasa) sebelum sampai kepada Yang Maha Wujud. Tapi sederhananya diringkas menjadi “7 Lapis Langit” saja (7 lapis langit ruhaniah, 7 lokus lataif, atau tujuh titik fatihah merupakan wilayah kajian dan praktik mujahadah dalam tariqah; yang ketika masing titik itu dikuasai, akan ada kualitas seorang nabi yang akan muncul dalam diri seorang murid).

Saintis yang telah mengungkap “lapisan-lapisan bumi” (tabir dunia materi dengan segala kompleksitas dan kesempurnaannya) bisanya akan sampai pada kesadaran akan adanya Tuhan. Einstein misalnya, betapa kagumnya ia akan eksistensi Tuhan dibalik semua temuan fisikanya. Secara rasional-lahiriah, ia seorang yang beriman. Tapi untuk sampai pada kesadaran ruhaniah yang hakiki, untuk benar-benar sampai kepada “rasa” dan pengalaman “kontak” dengan Wujud Tuhannya itu, itu butuh metodologi lebih lanjut. Tentu ini sudah masuk dalam ranah riset para nabi dan sufi. Ranah orang-orang yang menempuh metode khusus sampai mengalami perjumpaan dengan-Nya.

KESIMPULAN. Islam itu ilmiah. Islam punya alat dan metodologi untuk menyingkap “hijab” yang menyelimuti alam materi. Kenyataannya, telah lahir banyak saintis pada era tertentu, yang sukses merumuskan dasar-dasar sains fisik/alam. Karya-karya mereka bahkan menjadi jembatan untuk perkembangan sains modern. Baik dalam bidang fisika, astronomi, kimia, kedokteran, biologi, sejarah, ekonomi, matematik, filsafat, dan lainnya.

Pada saat yang sama, sebagian besar mereka adalah ahli sufi, para mistikus yang melakukan riset jauh sampai ke objek metafisis. Mereka masuk dalam gelombang-gelombang cahaya yang lebih tinggi, melampaui dimensi “bumi/duniawi”; sampai mengalami mukasyafah (pengungkapan-pengungkapan spiritual) terhadap wujud-wujud ontologi lebih dalam (seperti malaikat dan seterusnya sampai kepada Allah).

Inilah yang terasa hilang dalam struktur bangunan keilmuan kita. Pengetahuan kita telah mengalami sekularisasi. Ilmuan kita hanya menguasai “lapisan bumi” saja (ilmu tentang alam dan masyarakat). Tidak sampai tembus ke “lapisan langit” (mengalami kehadiran Tuhan). Semua penggalian, seminar, riset dan kajian; tidak sampai menemukan Tuhan. Bahkan bisa semakin jauh dari-Nya. Semakin membuat orang tidak bermoral. Hilang karamah-nya sebagai manusia.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin