Site icon SAID MUNIRUDDIN

KAPITALISME RELIGIUS

Advertisements


“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 56 | Agustus 2022


KAPITALISME RELIGIUS
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Kemanapun engkau menghadap, disitu ada uang”. Itu QS. Al-Baqarah 115, dalam perspektif kaum kapitalis. Saya kira, itu benar. Selama disitu juga ada Allah. Ini yang kami maksud sebagai “kapitalisme religius”.

***

Usaha memisahkan uang dengan Tuhan, itu haram hukumnya. Keduanya harus menyatu. Kalau tidak begitu, kita bisa miskin; walau taat beribadah. Atau, bisa kaya raya, tapi jauh dengan-Nya. Wujud Tuhan dengan uang harus manunggal. Itu baru sempurna bahagianya, dunia dan akhirat.

Umat Islam secara global tertinggal secara ekonomi. Karena ada dikotomi antara Tuhan dan uang. Kita di doktrin, Nabi kita orang miskin. Terus, kalau kaya, bakal lama masuk surga. Karena panjang pertanggungjawabannya. Padahal, miskin pun telah banyak membawa kita pada kekufuran. Solusinya, kita harus kaya raya, sekaligus ber-Tuhan secara sungguh-sungguh. Tuhan dengan uang harus terintegrasi. Tidak boleh dicerai berai lagi. Ingat Tuhan, ingat uang. Atau sebaliknya; ingat uang, ingat Tuhan. Itu “ekonomi Islam” yang sesungguhnya.

Sebab, “Ghoney” (Dia Yang Maha Kaya) dengan “Money” (uang) itu bunyinya hampir sama. Artinya, Tuhan dengan uang merupakan dua hal yang berdekatan. “Ghoney” adalah dimensi gaibnya. Sementara, wujud nyatanya adalah “Money”.

Saya tidak menyuruh Anda menyembah uang. Bukan pula uang itu “Tuhan”. Tapi, uang itu sebenarnya adalah “jelmaan”, bentuk transformatif lahiriah dari Dia yang gaib dan maha kaya. Maka sudah benar seperti yang tertulis dalam lembaran dolar Amerika: “in God we trust”. Bayangkan, di Amerika yang kapitalis itu, Ada Tuhan pada uang. Keyakinan hakiki, sejatinya memang ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada uang. Uang hanya manifestasi dari wujud kekayaan-Nya. Mungkin karena itu Yahudi terus kaya dimana-mana. Tauhidnya bagus. Mereka selalu ingat Tuhan, bahkan itu tertera pada uang.

Cuma, ada “mata satu” pula disitu. Alias, menutup “sebelah mata” saat mencari uang. Uangnya bertuhan. Tapi jiwanya ber-dajjal. Artinya, menghajar apa saja secara rakus. Menjajah, menginvasi, mengkudeta dan membombardir negara lain untuk cari uang. Akhirnya, ya terjatuh kembali pada kapitalisme murni. Riba. Secara ekonomi, bertuhan mereka, tapi sayangnya munafik.

Tuhan dengan uang, itu letaknya berdekatan. Malah sangat dekat. Dalam spiritualitas Islam dijelaskan. Allah, itu letaknya “dua jari di bawah susu kiri, arah ke kiri”. Di Qalbu dalam. Sedangkan uang, itu ada di Qalbu luar. Tepat dilapis luarnya. Di kantong anda. Artinya, kalau bertuhan, seharusnya juga beruang. Anehnya, kita merasa dekat dengan Yang Maha Kaya, tapi kenapa masih miskin? Ada yang salah dengan kita.

Perhatikan. Salah satu ciri orang beriman, itu Qalbunya “berdetak” (bergetar). Ekonomi orang beriman, harusnya juga berdetak. Tidak mati suri. Allah orang Islam itu Maha Hidup. Ekonomi orang Islam harusnya juga sangat hidup. Tapi kita kalah sama orang Cina. Bahkan kalah dengan maling/koruptor. Maling itu punya pandangan ekonomi yang sangat tajam. Kemanapun memandang, yang dilihat hanya uang. Pandangan bisnisnya sangat kuat. Semua bisa dijualnya. Artinya, mengabdi kepada setan saja bisa membuat orang kaya raya. Kenapa kita yang 5 kali sehari menyembah Allah bisa miskin? Apa ini gambaran dari miskinnya spiritualitas kita?

Spiritualitas kita sebenarnya sangat mendukung dan paralel dengan dunia material. Perhatikan orang yang rajin berzikir. Itu tasbihnya ditarik-tarik, dengan telunjuk. Mirip sekali dengan orang yang banyak uang, yang terus menggerakkan telunjuk saat menghitung uang. Maknanya, orang yang banyak menghitung asma Tuhan, itu idealnya akan memperoleh rezeki yang tak terhitung dari sisi Tuhan.

Begitulah Islam. Sisi ukhrawinya ada yang dihitung (asma Tuhan). Sisi duniawi juga begitu, ada yang dihitung-hitung (uang). Hidup yang sempurna memang penuh hitung-hitungan. Tuhan kita hitung. Uang juga kita hitung. Islam merupakan agama “hisab”, penuh hitungan. Tanda kaya raya, lahir dan batin. Orang kaya hati memperbanyak hitungan zikir. Orang kaya uang, memperbanyak hitungan donasi.

Maka, sekali lagi, jangan pernah pisahkan Tuhan dengan uang. Jangan pisahkan Dia yang maha batiniah, dengan Raut Wajahnya pada setiap lembar lahiriah dari rejeki anda. Ingat Tuhan, ingat uang. Ingat uang, ingat Tuhan. Kalau sudah begitu, tak ada celah bagi setan untuk menggangu. Anda akan menjadi dermawan. Sebab, setan akan hadir manakala anda lupa kepada-Nya. Sehingga anda menjadi pelit dan semakin rakus. Jangankan lupa Allah saat punya uang, lupa Allah saat sholat juga akan dirasuki setan.

Uang akan bernilai suci, sama suci dengan lembaran kitab suci, ketika hadir Allahnya. Boleh me-‘nuhan-‘kan uang, selama ada Tuhan disana. Kalau tidak, jangan. Bisa musyrik anda. Batu Kakbah juga ‘disembah’ karena alasan itu. Dipandang ada dimensi (arah) ke-Tuhan-an disitu. Tapi, jangan pula membungkuk-bungkuk, apalagi rukuk dan sujud ke arah uang. Bid’ah itu!

Begitulah. Sejatinya, dimensi batin dan lahir dalam Islam tidak dipisah. Harus menyatu. Jika dipisah, akan sekuler kita. “Oh, Money” adalah wujud dari “Ya, Ghoney“. Uang harus dipandang sebagai manifestasi, tajalli dari (kekayaan) Tuhan.

***

Penutup. Umat Islam harus punya spirit kaya. Kemanapun memandang, disitu ada uang. Ada Tuhan yang maha kaya. Semua yang dilihat menjadi peluang bisnis. Ada nilai ekonomi dari setiap jengkal tanah, dari setiap aset yang ada. Sekaligus berkesadaran bahwa semua itu milik Tuhan. Seluruhnya punya Tuhan. Tak sedikitpun kita memilikinya.

Artinya, saat punya uang harus langsung sadar. Bahwa itu seluruhnya titipan. Untuk dipergunakan pada urusan Tuhan, untuk memakmurkan bumi Tuhan. Kita ini hamba, “pekerja”. Bukan pemilik. Ambil jatah sebatas gaji. Jangan ambil pokok, yang merupakan milik Tuhan. Ambil 2,5 persen; sebagai bentuk zakat dari Tuhan untuk anda. Bukan memberi 2,5 persen kepada Tuhan; lalu menahan 97,5 persen sisanya untuk anda.

Itu yang disebut “kapitalisme religius”, atau “transcendental capitalism”. Mampu memandang eksistensi Wajah Tuhan pada setiap lembaran uang. Bahwa itu total punya Tuhan. Bukan punya kita. Kalau kesadaran etis ini sudah kita punya, mungkin kita akan diangkat Tuhan sebagai “The Next Sulaiman”, diberi kekayaan yang berlimpah-limpah. Karena kesadaran “all belongs to God” belum kita punya, maka Dia menangguhkan kita umat Islam untuk kaya. Sebab, Allah khawatir, begitu dimodali atau dititip sedikit investasi, langsung kita bawa lari. Persis seperti kepala desa yang bawa lari APBDes untuk kawin lagi. Ragu Tuhan sama kita!

Itulah problem kita. Kalau wadah kesadaran ini sudah ada, Allah pasti akan segera mencairkan rejeki yang tergantung-gantung pada sisi-Nya. Sebenarnya, Allah sudah gemas sekali melihat umat Islam yang sudah terlalu lama miskin. Umat Nabi Muhammad SAW sudah berabad-abad jadi fakir miskin. Malu nabi kita. Apalagi saban hari berdoa, pagi petang mengamalkan ayat-ayat kaya. Ingin segera dibuatnya kita kaya raya semua.  Rejeki yang tergantung di langit (di alam mitsal sana) terlihat begitu hitam. Begitu pekat, lebat dan hitam. Seperti awan hitam yang akan menumpahkan hujan. Tapi, ya itu. Belum bisa direalisasikan. Wadah kita belum kuat. Niat kita belum suci. Kalau dititip uang, pasti akan dianggapnya itu uang pribadi. Lalu dibawa main judi. Habis untuk beli chips. Diputar suka hati pada urusan sosialita dan hedonisme semata.

Kalau kaya, khawatir Tuhan, kita akan lupa Dia. Lupa ibadah. Lupa berzikir. Lupa suluk. Lupa ziarah. Jadi Qarun dan Tsa’labah kita. Sudah kita lihat, banyak yang begitu. Mungkin dulu saat kaya, kita begitu. Maka dibuat miskin lagi. Dalam pandangan Allah, kita secara global tetap dibuat miskin, karena itu lebih baik bagi kita. Biar kita ingat Dia terus. Maka, ikhlaskan diri anda untuk tetap miskin. Biar selamat iman anda.

Atau, persiapkan wadah yang kuat untuk menerima seluruh kekayaan-Nya!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version