“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 58 | Agustus 2022


RE-ORIENTASI SYARIAT: DARI AKIDAH KE BISNIS
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Begini. Kalau pertanyaan di kubur nanti cuma ada 7; lalu kenapa menghabiskan banyak waktu untuk belajar agama?

Pertanyaannya cuma ini:
1. Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?
2. Ma dinuka? Apa agamamu?
3. Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?
4. Man imamuka? Siapa imammu?
5. Ma kitabuka? Apa kitabmu?
6. Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?
7. Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Rasanya tidak efisien, kalau hanya untuk menjawab 7 pertanyaan sederhana itu, kita harus belajar agama di pesantren sampai 9 tahun. Yang disekolah umum pun sama, sampai tingkat kuliah pun masih ada pelajaran agama. Padahal, cukup dihafal saja jawaban untuk 7 pertanyaan itu. Tidak lebih dari 10 menit saya kira selesai, sudah terhafal semua di luar kepala. Tak perlu bertahun-tahun belajar agama, sampai ke Arab dan Mesir pula. Toh yang diuji nanti, tidak lebih dari 7 itu.

Artinya begini. Agama itu sebenarnya sederhana. Tidak serumit yang didoktrinkan kepada kita. Dikubur nanti bahkan tidak ada pertanyaan: Mazhabmu apa? Kitab tauhid dan fikih apa saja yang telah kau baca? Rukun sembahyang ada berapa? Niat puasa bunyinya seperti apa? Yang membatalkan wudhuk apa saja? Kalau khutbah wajib pegang tongkat apa tidak? Kenduri orang meninggal hukumnya apa? Maulid itu bid’ah apa sunnah? dan sebagainya.

Kita bukan tidak butuh agama. Juga bukan tidak perlu belajar agama. Kita sudah terlalu “mabuk” dalam perspektif tertentu dari agama. Sehingga lupa hal esensial lain, yang sebenarnya juga agama.

Agama yang telah memabukkan kita adalah “syariat”. Yaitu syariat yang telah membawa kita kepada debat, qiyas, argumentasi, dan usaha-usaha untuk merasionalisasi berbagai hal dalam frame “halal-haram” versi masing mazhab/orang. Lalu kita bertengkar untuk memaksakan ide dan produk hukum pemikiran kita kepada orang. Terkadang kita ancam bid’ah, musyrik dan neraka kepada yang berseberangan. Agama pada sisi tertentu telah melahirkan tradisionalisasi pemikiran sekaligus radikalisme gerakan. Lahirnya ISIS di era kita, menurut saya, adalah pengalaman terburuk dari beragama. Agama telah dibuat sedemikian kaku dan kacau. Semua diminta harus ada dalilnya. Harus serupa pula dengan mereka. Kalau tidak, akan dihakimi kafir. Ditebas mati.

Agama itu sederhana. Cuma 7 hal itu saja. Selanjutnya telah dibuat rumit oleh agamawan kita. Lalu disuapi terus menerus kepada kita, tanpa kesempatan untuk mencerna (mengkritisinya). Syariat dijadikan “opium”, untuk menyemangati masa depan Aceh. Itu yang membuat kita menjadi “mabuk” dalam urusan agama. Tanpa sadar, umat Islam tertinggal justru karena agama. Yaitu Agama yang hanya berorientasi pada hukum-hukum ibadah dalam satu versi semata.

Kita tertinggal akibat bentuk-bentuk beragama yang sibuk mengintip kebenaran cara beragama tetangga di samping rumah kita. Kita asik menuduh yang berbeda sebagai sesat. Syariat seperti dikunci pada isu khalwat, zina, khamar dan maisir pada kelas jelata. Aqidah masyarakat kelas bawah terus yang diurusi. Pemerintah pusat tentu sangat senang dengan model-model syariat semacam ini. Karena kerjaan kita adalah mengejar-ngejar rakyat sendiri, karena dilihat tidak menutup kepala. Penegakan syariat seperti ini tentu diberi kebebasan oleh pusat dan lokal, sejauh korupsi dikalangan elit tidak disentuh oleh lembaga agama. Syariat yang mengarah ke urusan jinayah tentu sangat direstui negara. Sejauh perampokan sumberdaya alam oleh para kapitalis lokal dan nasional tidak menjadi fatwa dan bahan ceramah kaum ulama.

Kita lupa sisi lain yang juga sangat agamis, yang seharusnya dapat memajukan daerah dan negara. Yaitu sektor muamalah, perdagangan, bisnis, dan penguasaan sumber daya alam kita sendiri. Sudah 20 tahun lebih kita memformalisasikan syariat dalam bernegara. Tapi kita menyaksikan bagaimana minimnya infrastruktur usaha. Juga gagap dalam penguasaan teknologi produksi. Lemah dalam mata rantai inovasi. Buruk strategi pemasarannya. Kurang cakap dalam penguasaan pasar lokal dan internasional. Tertinggal dalam sistem keuangan. Bobrok secara manajemen. Sehingga miskin secara global. Umat Islam banyak yang pengangguran, karena “pemberdayaan ekonomi lokal” tidak menjadi doktrin agama sejak dalam ayunan.

Agama kita telah lama tidak berorientasi pada bisnis. Agama kita telah lama berorientasi hanya pada mengaji, pada panggung-panggung zikir yang menunjukkan “kesucian” penguasa yang duduk berderet di baris depannya. Sejak kecil kita sudah dikirim ke dayah, untuk mensurah teks-teks klasik. Tapi tidak disuruh jualan, dan berfikir masa depan. Yang disebut “berdagang” adalah pergi “ngaji”. Padahal, dagang yang kita pahami secara umum adalah setiap amal yang dapat menaikkan nilai uang. Contoh kenabian sekalipun, itu diawali dari cerita seorang pedagang.

Aceh, kalau ingin maju, pemahaman agama harus direformasi ulang. Agama harus di drive ke arah pengembangan bisnis. Kita sudah memasuki era industri 4.0, bukan lagi era sembah menyembah pohon dan patung. Jualan isu akidah sudah bisa dikurangi. Ide-ide pemanfaatan sumberdaya alam lokal dan digitalisasi teknologi harus lebih ditingkatkan. Pada saat yang sama, agama adalah juga akhlak; cara bergaul dan etika kehidupan. Adab-adab itu yang harus diajarkan sejak di rumah, atau juga melalui ketauladanan dan bimbingan dari guru-guru spiritual. Agama tidak cukup sekedar hafalan, melainkan nalar dan tindakan. Tak perlu semua anak dihafalkan 30 Juz. Menguasai juz 30 saja, saya kira sudah lebih dari cukup untuk jadi imam.

Benar seperti kata Mujiburahman, Rektor baru UIN Ar-Raniry (Sabtu, 6/8/2022). Sudah 22 tahun sejak diterapkan (tahun 2001), Syariat Islam di Aceh telah mengalami kegagalan. Yaitu gagal memajukan ekonomi. Sibuk dengan cambuk dan akidah. Padahal, orang kafir pun tau, Tuhan kita adalah Allah. Nabi kita adalah Muhammad SAW. Tujuh pertanyaan ketika mati, sudah diketahui semua jawabannya oleh rakyat Aceh. Hampir 100 persen rakyat Aceh, itu Islam. Saya kira kita sudah selesai dengan urusan akidah. Kalaupun ada satu dua yang masuk Kristen, itu juga karena persoalan ekonomi. Sementara lainnya sudah mampu dan fasih menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir di akhirat nanti. Cuma ilmu bisnis saja yang kurang. Sehingga kita menjadi kelamaan miskin di dunia. Banyak orang Aceh yang miskin, sejak lahir sampai mati. Bahkan ada yang diwariskan secara berketurunan.

Aceh harus melakukan re-orientasi syariat, dari akidah ke dan bisnis. Agama jangan lagi tersandera dengan urusan sehelai rambut wanita. Atau jenis celana dan cara duduk berkendara. Tapi harus mulai tersentra pada kemandirian ekonomi dan bisnis yang bermoral. Syariat adalah uang. Syariat adalah kekayaan. Syariat adalah kemakmuran. Syariat adalah inovasi dan teknologi pelayanan.

Disisi lain, kita bersyukur dengan 17 tahun Damai Aceh (15 Agustus 2005 – 15 Agustus 2022). Ada banyak perkembangan dari sisi ekonomi. Paling tidak, teman-teman kombatan banyak yang sudah kaya. Tapi, jutaan rakyat Aceh lainnya bagaimana? Apakah cukup dengan bendera?  Bagaimana dengan penguasaan sumber daya alam kita yang menjadi salah satu poin inti MOU Helsinski, apakah eks pejuang GAM dan tokoh-tokoh penggerak syariat Islam mampu bernegosiasi dengan para drakula di Jakarta? Atau justru semakin lari dari cita-cita semula. Khawatir kita. Dulu, ketika GAM dan tentara NKRI saling berperang, banyak rakyat yang mati. Kini, ketika mereka sudah damai, banyak rakyat yang “teler” dan juga mati pelan-pelan dengan cara berbeda. Bahkan kegiatan keagamaan pun, katanya, sudah ada yang mulai dibiayai oleh bandar narkoba. Saya kira, dalam  berbisnis pun ada moralitasnya. Janganlah terlalu membabi buta. Kita sudah cukup sibuk dengan ganja. Jangan diperparah dengan narkotika.

KESIMPULAN. 17 tahun Damai, 22 tahun syariat Islam. Aceh masih termiskin di Sumatera. Eks GAM dan ulama harus bersatu, dalam isu kemerdekaan ekonomi. Dalam pembangunan usaha yang beretika.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin