“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 59 | Agustus 2022


SPIRITUALITAS “MERAH PUTIH”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ini bulan Agustus, menandai 77 tahun Indonesia merdeka. Kebetulan bertepatan dengan bulan Muharram. Bulan Merah Putih. Bulan Hasanain, bulan dua kebaikan: Hasan dan Husein (orang Aceh menyebutnya Asan Usen). Dua simbol pemuda pejuang. Simbol dari kesucian jiwa dan kemerdekaan. Warna inilah yang secara sadar dan “misterius” dipilih menjadi bendera nasional kita. Tentunya bukan dengan sekedar merobek bendera Belanda, lalu tiba-tiba jadi bendera kita. Tapi dijahit secara khusus, dalam pilihan warna penuh pesan spiritual dan kejuangan.

***

Hasan dan Husen adalah dua kakak beradik, cucu Nabi SAW dari Fatimah. Hasan lahir pada 15 Ramadhan 3 Hijrah. Sedangkan Husen lahir pada 3 Sya’ban 4 Hijrah. Mereka berdua mewarisi sifat-sifat kakeknya Rasul SAW.

Diriwayatkan, pada waktu sakit terakhir, Rasulullah SAW dikunjungi oleh Fatimah dengan ditemani Hasan dan Husein. Lalu Fatimah berkata kepada ayahnya, “Ya Rasulullah ini adalah kedua putramu, berilah warisan kepada keduanya.” Rasulullah berkata:

“Adapun Hasan mewarisi kedermawanan dan kewibawaanku, adapun Husen mewarisi keberanian dan keluhuranku” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Mandah, Thabrani, Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir).

Dua tipologi kepemimpinan pemuda ini, Hasan yang “dermawan dan berwibawa” (tipologi jamaliyah) dan Husen yang “pemberani dan luhur” (tipologi jalaliyah), merupakan “warisan” (genetik) dari kakeknya. Meskipun dermawan, Hasan juga berwibawa. Sedangkan Husen, disamping pemberani, jiwanya juga luhur. Harmonisasi dua karakter ini merupakan tipologi “Bintang ‘Arasy”, manusia sempurna. Refleksi keagungan dua nilai “keberanian” dan “kesucian” ini terefleksi dalam “merah” dan “putih” bendera kebangsaan kita.

Tidak hanya mewarisi sifat “merah-putih” Nabi SAW, dua kader muda ini bahkan menyerupai Nabi sampai ke bentuk fisik. Abubakar sendiri suatu ketika melihat Hasan dan Husen lalu berkata kepada Ali, “Mereka lebih mirip Nabi daripada engkau”. Ali hanya tersenyum. Diriwayatkan, Hasan paling mirip Rasulullah SAW antara dada sampai kepalanya; sedangkan Husen paling mirip dengan Rasulullah SAW antara leher sampai bagian tengah badannya. Kepada orang-orang Nabi SAW sering mengatakan, “Barangsiapa mencintai keduanya (Hasan dan Husein) berarti ia mencintai aku. Barangsiapa membenci keduanya berarti ia membenci aku” (HR. Abu Hurairah).

Sudah menjadi tradisi bangsa manapun untuk memperingati “hari pahlawan”. Bahkan menjadikan tokoh-tokoh mereka sebagai nama dan simbol-simbol kemasyarakatan dan kenegaraan. Di Aceh, begitu hormatnya mereka kepada dua cucu kesayangan Baginda SAW ini. Bahkan
bulan pertama dalam penanggalan lokal diberi nama “Asan-Usen” atau “Sausen”. Nama-nama Bulan dalam penanggalan Aceh adalah: (1) Sausen -Muharram, (2) Safa -Safar, (3) Mulod -Rabiul Awwal, (4) Adoe Mulod -Rabiul Akhir, (5) Bungong Kayee -Jumadil Awwal, (6) Boh Kayee -Jumadil Akhir (7) Apam -Rajab, (8) Khanduri Bu -Syakban, (9) Puasa -Ramadhan, (10) Uroe Raya -Syawwal (11) Beurapet -Dzulqaidah, (12) Haji -Dzulhijjah.

‘Pukul-pukul diri’ dalam tari Saman dan Seudati juga diduga sebagai bentuk ekspresi duka masyarakat Aceh kepada kesyahidan dua pemuda ternama ini. Peringatan Asyura pada setiap 10 Muharram untuk mengenang kesyahidan Husen juga diperingati di berbagai tempat di Indonesia. Di Aceh di kenal “Khanduri Asyura”, di Padang disebut “Hoyak Tabuik” atau “Hoyak Husain”. Sementara di Bengkulu dinamai “Tabot”. Tidak dapat disimpulkan bahwa masyarakat yang melaksanakan tradisi ini sebagai Syi’ah. Karena memuliakan Keluarga Nabi SAW menjadi kewajiban seluruh umat Islam. Para sufi yang telah datang jauh-jauh hari ke Nusantara mengajarkan kita cara mencintai Keluarga Nabi sebagai bentuk tribute kepada Sang Nabi. “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada Keluargaku” (QS. asSyuraa -42: 23).

Hasan dan Husen bukan sembarang manusia. Mereka ini dua tokoh pemuda kecintaan Nabi SAW yang begitu konsisten meneruskan perjuangan Islam. Mereka memiliki peran sentral dalam sejarah awal Islam dan paska empat khalifah pertama. Mereka punya pendekatan leadership yang berbeda dalam menghadapi kondisi politik zamannya.

Hasan, disamping juga seorang petempur ulung, ia memiliki tipologi kepemimpinan yang “putih”, lebih mengedepankan “damai”. Ketika ia masih kecil, Rasul SAW mengatakan:

“Sesungguhnya putraku ini [Hasan] adalah seorang sayyid [pemimpin]. Allah akan mendamaikan dengannya dua kelompok yang besar dari kaum muslim” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, jilid 7, hadits nomor 3746. Juga jilid 6, hadits nomor 3629).

Hal ini benar-benar terjadi. Ketika Ali wafat, penduduk Kufah datang membaiat Hasan sebagai khalifah. Sementara di Syam, penduduk diorganisir untuk membaiat Mu’awiyah. Maka pertikaian tidak terhindari. Ancaman peperangan kembali muncul. Hasan masih teringat bagaimana di Shiffin umat Islam saling adu pedang. Yang tersisa dari itu semua hanya janda, yatim piatu, kehancuran, dan kebinasaan. Mu’awiyah menyadari bahwa pendukung Hasan cukup militan. Mayoritas umat terlihat lebih memilih dari keluarga Rasul SAW untuk memimpin mereka.

Mu’awiyah yang terkenal licik dan cerdik kemudian menawarkan surat perjanjian kepada Hasan untuk membiarkan dia memimpin terlebih dahulu, setelah kematiannya barulah kepemimpinan umat akan kembali diserahkan kepada Hasan jika masih hidup. Hasan yang berkarakter
“jamaliah” (putih) setuju dengan perjanjian yang menjadi solusi pertumpahan darah.

Namun Mu’awiyah tetaplah Mu’awiyah. Beliau ini contoh sempurna dari “politisi busuk” yang memakai “wajah Islam”, yang selalu muncul di setiap zaman. Tentang kelicikannya, suatu ketika Imam Ali berkata kepadanya, “Jika aku mau, aku bisa lebih licik dari engkau, dan mampu kumenangkan perang dengan mudah. Tetapi itu tidak kulakukan karena perilaku seperti itu tidak pernah direstui Allah dan Rasul-Nya”. Bagi Ali, kemenangan bukan pada pencapaian tujuan personal dan kekuasaan, melainkan pada keterwujudan nilai-nilai kesucian. Itulah ketauladanan yang dipelajari dari Nabinya.

Tidak hanya memperoleh jabatan kekhalifahan, Mu’awiyah bahkan kemudian menyusun strategi pembunuhan Hasan, dengan meracuninya. Ini terjadi pada 7 Safar tahun 50 Hijrah. Dia kemudian mempersiapkan anaknya Yazid yang terkenal fasiq, suka mabuk, judi, dan perempuan sebagai khalifah penggantinya. Kemunafikan dan kedhaliman ini yang kemudian menggerakkan Husen dan pengikutnya untuk kembali menegaskan prinsip-prinsip tauhied, kebenaran dan keadilan yang pernah diperjuangkan kakeknya.

Tentang Husen Rasul SAW menyebut:

“Husen adalah bagian dariku dan aku bagian dari Husen, Allah mencintai mereka yang mencintai Husen, Husen adalah cucu diantara cucu yang lain” ( [1] Imam Ahmad dalam Musnad-nya, juz.4 , hal. 172 dengan sanadnya dari Ya’la bin Marrah al-Tsaqafi; [2] Shahih Sunan at-Tirmidzi, karya Syaikh al-Albani [3/539] No. 3775 – Maktabah al-Ma’arif- Riyadh, Cet. I dari terbitan yang baru tahun 1420 H/2000 M; [3] Shahih Sunan Ibn Majah karya Syaikh al-Albani [1/64-65] No. 118-143 – Maktabah al-Ma’arif – Riyadh, Cet. I dari terbitan yang baru tahun 1417 H/1997 M).

Selain secara “genetik”, salah makna “Husen adalah bagian dariku dan aku bagian dari Husen” adalah “kesamaan karakter kepemimpinan” serta “kesamaan misi” yang diemban, yaitu penegakan keadilan dan ihsan. Perbedaannya hanya pada jenis musuh. Jika kakeknya Rasul SAW menghabiskan usia untuk melawan kafir dan musyrik, Husen menghabiskan umur menentang penguasa-penguasa Islam yang fasik dan korup.

Meskipun syahid ditangan musuh pada 10 Muharram 61 Hijrah, namun Husen diakui oleh para sejarawan sebagai pemenang pertempuran. Mengapa? Karena “nilai-nilai” yang diperjuangkannya terus hidup selama ribuan tahun. Kematiannya semakin dikenang dan menjadi simbol perlawanan terhadap kejahatan. Ia menjadi inspirasi penegakan nilai-nilai bagi generasi setelahnya. Sementara musuhnya, meski berhasil membunuhnya, menjadi cacian sejarah karena kekotoran perilaku dan kedhaliman terhadap rakyat dan Keluarga Nabi SAW.

Berbeda dengan abangnya Hasan yang cenderung memilih pendekatan “damai” (putih) dalam kepemimpinannya, Husen merupakan tipikal leader yang hidup pada masa dimana ia harus menghidupkan orientasi “keras dan tegas” (merah) terhadap kemunafikan. Walaupun ia juga terkenal dengan sifat penyayang, namun situasi mengharuskannya untuk lebih menghidupkan nilai-nilai jalaliyah dalam leadershipnya. Ia berada pada posisi harus
menggunakan ‘tangan’ (pengaruh, kekuasaan, dan pedangnya) untuk melawan kemungkaran.

Tipologi jamal dan jalal yang dimiliki dua pemuda penghulu syuhada ini merupakan warisan kakeknya. Sikap lembut Hasan dan perilaku keras Husen menjadi karakter yang harus dimiliki seorang kader pemimpin dalam menghadapi situasi dan pengikut. Setiap warga negara Indonesia yang pada hakikatnya adalah juga ‘cucu’, ‘pewaris’ dan ‘penerus’ Nabi SAW; harus punya dua sikap ini: MERAH dan PUTIH, keras dan lembut, tegas dan akomodatif, war or peace; tergantung situasi.

***

Tak bisa dipungkiri. Sejarah perjuangan Indonesia, bahkan sampai detik kemerdekaannya, adalah bagian dari sejarah dan gerakan pemuda. Sejarah keberanian dan kesucian hati kita semua. Tanpa dua hal ini, kita tidak akan pernah merdeka.

Pun sejarah kemerdekaan Indonesia dan kelahiran Sang Saka Merah Putih tidak bisa dilepaskan dari “Arab”. Rumah tempat Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang jalan Proklamasi) merupakan rumah Syeikh Faradj Martak, seorang Arab Yaman (1897-1962). Di rumah itu pula Fatimah menjahit bendera pusaka, pada malam sebelum kemerdekaan. Ketika Jogyakarta dikuasai Belanda, Bendera ini diserahkan Soekarno secara khusus kepada seorang habib bernama Sayyid Muhammad Husein Al-Muthahar (1916-2004), atau lebih dikenal sebagai H. Mutahar, untuk disimpan/disembunyikan. Kedekatan Soekarno dengan Arab dan juga nilai-nilai spiritual sepertinya cukup menarik untuk dialami kembali (bahkan pemilihan jam 10 pada hari Jum’at untuk pembacaan teks proklamasi, juga terindikasi ada arahan dari seorang Guru Sufi).

Selain Bendera Merah Putih yang penuh makna, lambang negara kita lainnya seperti “Burung Garuda”, merupakan hasil sketsa seorang Arab keturunan Ahlul Bait Rasulullah yang pernah berkuasa di Pontianak, Syarif Abdul Hamid Alkadrie (1913-1978). Meskipun logo itu sendiri katanya sangat mirip dengan lambang garuda Samudera Pasai, Aceh; yang tersusun dari untaian Basmallah dan Kalimah. Kelihatannya, tradisi Islam di nusantara secara silent telah mewarnai simbol-simbol kenegaraan kita.

BACA JUGA: Pancasila itu “Sholawat”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin