“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 61 | Agustus 2022


“GARIS KALIMAH”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Manusia pada hakikatnya adalah qadim atau baqa’. Kita secara spiritual sebenarnya telah ada sejak awal, dan akan kekal abadi. Kita adalah Ruh (bagian, wujud, pengembangan, gradasi, jiwa, atau “tiupan”) Tuhan. Asal usul (Ruh) kita memang dari Allah. Dan (Ruh) akan kembali kepada Allah. Jika lokus ketuhanan atau qalbu kita hidup, kita akan mampu bergerak pada dimensi mukjizat dengan berbagai sifat ketuhanan. Manusia akan menjadi Asma-Nya. Sehingga ia dapat aktif berperan sebagai “khalifah” (co-creator, wakil, replika, pengganti, tajalli Allah di bumi). Jika Allah itu azalinya adalah Zat yang Maha Batiniah, maka manusia-manusia yang telah tersucikan adalah wujud lahiriah-Nya, wujud dari kehadiran Ilahi. Para nabi misalnya, itu adalah wujud Dia sendiri, yang telah mengutus Diri-Nya dalam rupa para Kekasih-Nya. Yang mereka, ketika berbicara, berbicara atas Nama-Nya. Yang ketika bertindak, bertindak atas kehendak-Nya.

Tapi, setelah mengalami proses jasadisasi, manusia berubah. Dari berdimensi “Tuhan” (ahsanu taqwim) menjadi “tuhan-tuhan” (asfala safilin). Proses materialisasi membuat kita jatuh dari “T” besar ke “t” kecil. Materialisme telah memunculkan paling sedikit 3 kekuatan baru (baharu) yang bersifat destruktif (fujur). Yaitu: nafsu seks, nafsu perut, dan egoisme akal. Ini merupakan tiga hal yang tidak dimiliki “makhluk langit” lainnya seperti malaikat.

Tiga kekuatan negatif ini menyusun struktur manusia sebagai “makhluk bumi”, sebagai tuhan-tuhan baru. Kita bedah satu-satu.

Pertama, “nafsu seks (syahwat)”, itu berada pada posisi kesadaran paling bawah (diselangkangan). Ini nafsu paling buruk. Karena alamiahnya hanya milik binatang (hayawan). Untuk berkembang biak, kita secara khusus meminjam naluri dan pola binatang. Ketika melakukan proses reproduksi, kita menjadi makhluk berbeda. Menjadi liar dan buas; dengan nafas terengus-engus. Persis seperti binatang. Apa yang dilakukan Adam di surga sehingga terlempar menjadi “makhluk bumi” adalah akibat nafsu ini. Dia memakan “buah” khuldi. Yaitu buah yang tidak bisa digambarkan secara vulgar, karena kontennya “sensitif dan dewasa”. Makhluk surgawi sebenarnya tidak makan “buah khuldi”. Penduduk surga tidak mengumbar syahwat. Maka perlu ditinjau ulang tafsir tentang bersetubuh dengan 72 bidadari. Itu kerja-kerja binatang. Di surga, level nikmatnya sudah dalam bentuk ruhani (huriyah, cahaya). Sementara, nafsu esek-esek, itu kenikmatan yang diberikan untuk level dunia binatang. Di surga tidak ada binatang, tidak ada manusia dalam kualitas binatang.

Kedua, “nafsu perut (loba/tamak)”. Ini juga representasi lainnya dari “buah” khuldi. Disini, khuldi juga digambarkan sebagai buah-buahan. Adam lapar. Ia tergoda, tak tahan ingin memakannya. Urusan perut sering membuat manusia rakus dan ingin melahap semuanya. Bahkan ingin memiliki apa yang bukan miliknya. Semua malapetaka kemanusiaan terjadi, kalau bukan karena urusan wanita (seks), adalah pengaruh harta (perut). Manusia ingin mengisi kantong dan rekeningnya dengan kekayaan yang berlimpah. Seolah-olah ia akan abadi (khuldi) dengan itu. Nafsu ingin menguasai tidak pernah bisa terpuaskan. Kalaupun sudah punya satu gunung emas, perut kita minta diisi dengan gunung emas lainnya.

Ketiga, “akal”. Akal bersifat destruktif. Akal yang kita maksudkan disini adalah akal level rendah. Akal khayali. Penuh hayalan palsu. Termasuk “ego”, freewill atau daya melawan. Akal memang membuat manusia bisa memilih. Tapi tidak jarang, ia membangun persepsi dan membuat keputusan-keputusan yang melawan kehendak Allah. Padahal, inti dari spiritualitas adalah “kepatuhan” atau “kepasrahan” (taslim). Akal itu penting sebagai alat untuk reasoning. Tapi, tanpa wahyu (bisikan Tuhan), akal bisa salah jalan. Seperti disebutkan, “yang menggunakan akalnya akan masuk neraka”. Yaitu akal tanpa sepuhan hidayah laduniah (ilham). Adam terlempar menjadi “makhluk bumi” karena freewill (ego/akal) ini. Tuhan melarangnya  mendekati pohon itu. Tapi ia melawannya. Ada bisikan lain yang hadir, yang menyuruhnya melakukan itu. Ia mengolah berbagai informasi untuk membuat decision making. Tapi salah ambil kesimpulan. Daya nalar tidak selalu dapat diandalkan, karena bisa dikudeta oleh kepentingan nafsu sehingga kita menjadi zalim.

***

Agama adalah ajaran spritual, yang berusaha menyadarkan manusia. Bahwa kita adalah “makhluk langit”. Untuk kembali ke “langit”, kita harus melepaskan berbagai kekuatan “bumi” yang sifatnya destruktif. Anda harus mampu mengendalikan sifat birahi dan kerakusan binatang. Juga harus belajar mendengar secara langsung “bisikan” Tuhan. Jika tidak, akal (qiyas dan tafsir) bisa membawa kita tersesat.

Karena itu, ada satu Kalimah yang diberikan kepada kita untuk memerdekakan diri dari 3 jenis ananiyah di atas. Yaitu “La ilaha illa Allah”. Dalam tradisi sufisme, Kalimah ini (melalui bimbingan Guru) disimulasikan secara langsung pada titik-titik yang menjadi lokus masalah dalam diri kita.

Melalui power Kalimah, ketiga jenis negative force (ilah): seks (syahwat), perut (tamak), ego (akal) dapat di hantam, dihancurkan, ditundukkan, atau dibawa untuk pasrah dalam dimensi Allah (Qalbu). Semua jenis “tuhan palsu” dapat ditarik dari masing pusat kesadaran, bahkan melalui teknik pernafasan tertentu, untuk di-nafi-kan dalam satu isbat: Allah.

Ini adalah bentuk-bentuk dzikir, atau teknik mematikan “diri”. Yang dimaksud diri disini adalah diri rendah, yaitu nafsu (syahwat dan ketamakan) serta ego intelektual (akal). Ketika “diri” ini mati atau telah tertundukkan, barulah gelombang ketuhanan yang selama ini tersembunyi dalam dimensi ruhaniah menjadi terbebaskan (liberated). Sehingga, nafsu menjadi terkendali. Dalam artian, nafsu dan akal memang tidak bisa dibunuh, karena itu memang nature dari manusia. Tapi, dengan hidupnya “getaran hati” (ilham/wahyu), nafsu menjadi tunduk pada perintah Rabb-Nya. Dengan demikian, nafsu tidak lagi terumbar secara bebas (liar) pada tendensi kejahatan. Melainkan secara intuitif akan terarah pada hal-hal yang dirahmati Tuhan. Sebagaimana firman-Nya:

 وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Aku tidak mengumbar nafsu diriku secara bebas, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Yusuf: 53).

PENUTUP. Kalimah Syahadat, itu bukan sekedar kalimat untuk diucap secara lisan dan dipahami secara rasional. Dalam tariqah tertentu, melalui bimbingan seorang Maha Guru, Kalimah ini mampu disimulasikan secara esoteris untuk membersihkan titik-titik “tuhan” dalam struktur jiwa. Pada akhirnya akan benar-benar aktual Wujud Tuhan (“Kalimah”) yang asli. Sehingga tidak tersisa lagi “tuhan” dalam diri anda, kecuali Allah itu sendiri.

Note: Dalam perspektif sufisme lainnya, ada sejumlah lokus kesadaran yang dapat “disucikan” oleh Kalimah. Seperti: Latifah Qalbi, Latifah Ruh, Latifah Sirri, Latifah Khafi, Latifah Akhfa, Latifah Natiq, dan Kullu Jasad. Sementara, tulisan ini fokus pada “3 hirarki tuhan palsu” pada diri manusia yang juga menjadi sasaran hantaman Kalimah, yaitu: syahwat (bawah), perut (tengah), dan akal (atas). Jadi, “Kalimah Syahadat” (Kalima Sodo) merupakan liberation force; yang punya mekanisme kerja penyucian ruhani yang sangat mumpuni, jika anda tau rahasianya. Mampu merontokkan “dewa-dewa” (aneka ragam tuhan) di “Kayangan”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin