Site icon SAID MUNIRUDDIN

TIDUR YANG DITAKUTI SETAN

"Tidur yang ditakuti setan"

Advertisements

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 62 | Agustus 2022


TIDUR YANG DITAKUTI SETAN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada riwayat, “tidurnya orang yang mengenal Allah, itu lebih baik daripada ibadahnya orang awam.” Ini sesuai dengan temuan Nabi SAW. Ketika masuk masjid, Beliau melihat setan yang sedang mengganggu orang sholat, padahal mulutnya komat-kamit membaca Fatihah. Sementara, disaat yang sama, ada seseorang yang sedang tertidur pulas; tapi justru dihindari oleh setan. Selidik punya selidik, ternyata orang ini Ruhnya hidup. Sehingga ditakuti oleh setan.

Jadi, Ruh yang hidup, itu kunci ditakuti setan. Ruh yang hidup artinya cerdas secara Ruhani. Alias memiliki “ilmu” atau alim secara “makrifati”. Orang-orang seperti inilah yang diangkat derajatnya oleh Allah, sehingga menjadi lebih tinggi dari yang lain (QS. Mujadalah: 11).

Jadi, bukan sekedar banyak ilmu lalu diangkat derajat oleh Allah. Kalau sekedar berilmu, Yahudi lebih cerdas. Orang kafir lebih cerdas. Negara-negara kafir, itu nilai IPM-nya (HDI) lebih tinggi. Iya, disisi manusia mereka lebih tinggi derajatnya. Tapi, disisi Allah, yang punya “derajat” lebih tinggi adalah yang punya dimensi makrifat; yang dengan ilmu itu ia mengenal Allah. Jadi, bukan berarti jika seseorang banyak ilmu, lalu otomatis punya derajat disisi Allah. Kecuali ilmu itu membawa ia “dekat” dengan Allah.

Allah sebenarnya tidak butuh orang berilmu atau orang cerdas. Ia butuh orang beradab. Adab lebih tinggi dari sekedar kecerdasan ilmu. Sebab, adab itu adalah ilmu tertinggi; karena sudah mengajarkan tentang emosi dan tindakan, sehingga tercipta rasa “patuh” atau “pasrah” kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada wali-wali Allah. Setan/iblis itu cerdas dan bertauhid (alim). Tapi tidak beradab (tidak berakhlak).

Kembali ke urusan “tidur”. Tidurnya ahli makrifat, itu lebih menakutkan bagi setan, daripada sholatnya orang awam. Karena Ruhnya hidup. Allah hadir dalam tidurnya. Dimana ada Allah, setan pasti tidak bisa masuk. Sehingga, ahli makrifat tidak pernah “dicekik” setan saat tidur. Tidak pernah “dipeulangoe” oleh setan (mengalami mimpi buruk) saat tertidur. Aneka bentuk nightmare dan cerita-cerita “dihimpit” setan, itu cerita-cerita kita yang masih bersekutu dengan setan.

Ada ahli baca Qur’an. Hafal Qur’an. Tapi saat tidur diganggu setan. Ini kacau. Tapi memang begitu. Hafalan kita hanya hidup di otak kita. Begitu kita tidur, semua hafalan menjadi “mati”. Saat “dicekik”, kita tidak mampu membuka mulut untuk membaca ayat satu persatu. Karena otak dan fisik kita sudah off. Lisan membeku. Bayangkan kalau kita mati. Semua hafalan kita tentang agama, itu menjadi tidak berfungsi sama sekali di alam sana. Sebab, hafalan hanya “hidup” pada dimensi otak, pada dimensi duniawi.

Untuk menghadapi alam akhirat, yang harus diaktifkan adalah Ruhani. Sebuah dimensi yang qadim, dimensi yang asalnya dari Tuhan, yang saat tidur pun, ia masih terjaga. Ada Tuhan pada dimensi ini, yang menjadi penolong kita semua. Karena itu, Ruhani harus dibersihkan dan dihidupkan sejak awal, agar Allah kekal bersemayam disitu. Ruhani yang ada Allah inilah yang mampu kembali ke usul kita yang asli. Hanya Ruhani yang ada Allah yang akan kembali kepada Allah. Tanpa Allah dalam Ruhani, kita tidak akan mampu kembali kepada Allah. Sebab, Dia hanya menerima unsur-Nya sendiri. Dialah yang akan menjawab segala sesuatu di alam barzakh. Sedangkan otak dan lisan (unsur inderawi yang kita sekolahkan selama puluhan tahun sampai menjadi profesor doktor dan ulama melalui kurikulum dunia) tidak bisa diandalkan di akhirat sana, sudah terkunci. Maka, sejak awal, Ruhani harus dicerdaskan. Dibersihkan. Dimakrifatkan. Di isi Kalimah Allah. Kalimah Allah adalah Allah itu sendiri. Sebab, Kalimah Allah tidak pernah terpisah dengan Allah. Dia Esa bersama Asmanya. Ahad.

Karena itu, tidurnya ahli makrifat bernilai ibadah. Karena mereka membawa serta Allah di dalamnya. Bahkan tidur mereka menjadi media komunikasi dengan Allah. Allah sering hadir membawa petunjuk dalam mimpi-mimpi mereka. Sementara orang awam, tidurnya justru dihampiri setan yang membisiki aneka hal sehingga hidupnya was-was.

Karena itu, ahli makrifat tidurnya pulas. Tidak ada gangguan. Sedangkan ahli jahat, matanya susah dipejam. Muncul aneka ketakutan dalam tidurnya. Misalnya; ketakutan hilang harta, khawatir istri dibawa lari, curiga dicopot jabatan, stress karena turun popularitas dan anjloknya nilai saham, dsb. Banyak yang minum pil tidur dan mati gara-gara jiwanya resah. Sementara ahli makrifat, saat tidur mampu mengembalikan semua yang ia punya kepada Tuhan. Lalu saat menutup mata, jiwanya menjadi “kosong” (suci) kembali, sehingga Allah mampu mengisi banyak hal dalam dirinya saat ia tertidur. Tidurnya pun lelap, sampai ke level “delta” (deep sleep). Sebuah gelombang yang memungkinkan pesan-pesan Tuhan masuk secara deras. Yusuf as, misalnya, itu spesialis mimpi. Semua nabi begitu. Mimpi yang baik (nice dream) adalah salah satu dari banyak bahasa komunikasi yang digunakan Tuhan. “Have a nice dream”, itu sejatinya ucapan selamat bercakap-cakap dengan Tuhan dalam mimpi.

Tidur itu sebenarnya miniatur “mati”. Otak jadi “mati”, akal jadi sirna. Lalu ketika akal sudah tiada, kita akan bertemu Allah di dalamnya. Indah sekali, jika setiap malam bisa berjumpa atau memperoleh beragam visual dari Tuhan. Itu hanya terjadi, jika tidur kita tidak lagi bersetan. Artinya, jiwa kita telah menempuh jalan kesucian. Tapi tidak semua orang suci memiliki bakat mimpi untuk berjumpa Tuhan. Masing-masing ada media dan keahliannya. Ada juga yang melalui deep dzikir ia mampu menemui Tuhannya. Itu juga dialami saat gelombang kesadarannya telah mengalami ketenangan sedemikian rupa. Bagi yang sudah fana dan baqa dalam gelombang ilahiah, Wajah Allah tentu aktual dalam aneka kondisi. Dalam tidur maupun sadarnya.

Sekali lagi, tidurnya ahli makrifat, itu sebenarnya “terjaga”. Sehingga tak ada kekuatan jahat yang mampu mempengaruhinya. Setan jadi takut. Sebab, matanya saja yang tidur. Sedangkan hati, qalbu atau ruhnya yang merupakan esensi dari manusia, itu “hidup”. Sehingga ada kata-kata: “Hate nabi hantom teungeut yang na teupet dua mata”. Hati nabi tidak pernah tidur, yang tertutup cuma matanya. Ruh nabi merupakan “Ruh Universal” (elemen Nur Muhammadi, elemen kemursyidan, Cahaya Kewalian); sesuatu yang tidak pernah tertidur sebagaimana Allah itu sendiri yang terus bekerja menjaga alam semesta. Bahaya kalau Ruh nabi tertidur, kiamat semuanya. Sebab, Ruh ini terus berzikir -terhubung dengan Allah. Yang tertidur dari Nabi hanya otak dan matanya saja. Pun Nabi SAW tidak pernah bermimpi buruk (jorok) yang datangnya dari setan: “Nabi hantom geu melumpoe malam uroe seulama-lama” (nazam Aceh).

PENUTUP. Teungku Di Lhoknga terlihat tertidur sangat lelap. Jauh ke gelombang Delta. Khawatir kita, Ruhnya sudah di langit sana. Dalam kondisi ini, jangankan setan, malaikat pun segan untuk mengganggu tidur nyenyaknya. Satu-satunya yang berani mengusik tidur beliau adalah istrinya. Itu terlihat dari kesigapan beliau memegang hp, mengantisipasi kalau tiba-tiba sang istri menelponnya.

BACA JUGA: “Mimpi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version