Site icon SAID MUNIRUDDIN

UNIVERSALITAS SUFI

Advertisements


“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 64 | Agustus 2022


UNIVERSALITAS SUFI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Islam itu agama universal. Al-Qur’an misalnya, itu isinya bukan hanya cerita tentang Nabi terakhir saja. Tetapi meramu semua kebajikan, yang telah ada sejak Nabi Adam. Jadi, jangan heran ketika sufisme memiliki spirit yang sama, mengkompilasi ajaran spiritual, dari segala tempat dan zaman. Sufisme mengumpulkan semua kebenaran yang bertebaran disepanjang sejarah.

Arti “sufi” dan asal usulnya sendiri tidak diketahui pasti. Seperti halnya Islam, asal usulnya juga membingungkan. Sebab, kalau dikatakan berasal dari Muhammad SAW, para nabi sebelumnya (bahkan sejak Adam) sudah mengajarkan hal yang sama, tentang tauhid dan kepasrahan (taslim) kepada Allah. Otentisitas “Islam” susah dilacak. Kepada siapa, dimana dan kapan kata ini pertama kali dilekatkan? Karena, “Islam” adalah kata-kata umum dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang “kepatuhan” atau “kepasrahan”. Bahkan langit dan bumi pun disebut “Islam”, karena patuh pada hukum-hukum Tuhan.

Kata “sufi” baru muncul abad ke-8, atau abad ke-2 Hijriah. Mungkin merujuk pada sekelompok orang pada masa Nabi SAW ataupun sesudahnya, yang memakai baju wol, jubah atau khirqah kasar (shuf). Penampilan mereka sederhana. Kerjanya terfokus untuk mengobservasi (mengamalkan) berbagai ajaran spiritual yang diajarkan secara khusus oleh Nabi kepada mereka. Tidak semua orang mendapat warisan spiritual kenabian. Tergantung wadah masing-masing. Atau, “sufi” juga merujuk pada jalan kesucian (shuff) yang mereka jalani. Karena sufi juga berarti “suci”. Atau juga bermakna “kemurnian” (shafa), karena usaha mereka untuk selalu menjaga kejernihan hati. Mungkin juga karena semangat mereka untuk berada pada “shaf” pertama di belakang Nabi SAW, sehingga disebut “sufi”. Ada juga yang merujuk ke “Ahlus Shuffah”, sebuah perkampungan di Madinah, yang ditinggali para faqir ahli ibadah dari kalangan Muhajirin.

Pada tahap ini, “Sufi” adalah murni sesuatu yang lahir dari tradisi Islam. Muncul pada masa nabi atau sesudahnya. Karenanya, sufi dianggap sebagai murni “tradisi timur” (khususnya Arab diera atau paska Muhammad SAW). Tidak dapat dipungkiri, landasan utama sufi dalam beramal juga Al-Qur’an dan Sunnah. Khususnya dalam menggali makna-makna terdalam (dimensi esoteris) dari Islam. Semua ordo sufi mewajibkan adanya mata rantai transmisi ruhani yang terhubung dengan Nabi SAW. Artinya, kalau tidak mewarisi sanad ruhaniah kenabian, maka sufismenya dianggap batal. Bahkan, sufi menjadi satu-satunya tradisi keilmuan dalam Islam yang paling ketat menjaga “tali hubungan” (wasilah) dengan Rasulullah. Berbeda dengan tradisi kaum teolog atau fukaha lainnya, anda tidak diwajibkan mengecek apakah sebuah majelis pengajian atau pesantren punya silsilah (sanad) ilmu yang tersambung dengan Rasulullah atau tidak. Di sufi (khususnya tarikat), itu wajib. Artinya, sufi sangat kuat mengikat hubungannya dengan Nabi.

Lalu, ada juga yang mengaitkan “sufi” dengan Sofia (bahasa Yunani, artinya hikmah). Pada tahap ini, “sufi” dinilai sebagai Islam yang dipengaruhi “tradisi barat” (khususnya Yunani, sebelum Muhammad SAW). Bagi sebagian pemikir Islam, agak susah menerima kebenaran yang berasal dari era sebelum Muhammad SAW. Karena akan dianggap “jahiliah”. Mereka secara sempit memahami Islam sebagai sesuatu yang baru turun setelah peristiwa Gua Hirak. Mereka tidak tau, kalau amalan Nabi di Gua Hirak adalah amalan-amalan khusus para spiritualis besar, para wali dan nabi-nabi muslim sebelumnya. Artinya, sebelum memperoleh visi besar di Gua Hirak, Muhammad sudah menerima ajaran (amalan-amalan) Islam dari para pendahulunya. Kalau tidak, darimana ia memperoleh ide laku spiritual yang begitu ketat dan misterius? Tentu ada guru-guru spiritual yang telah mengajarkan spiritualitas nabi-nabi sebelumnya (termasuk Isa as) kepada Muhammad SAW.

Tapi, orang-orang kaku ini susah menerima, kalau periode diantara Isa as Muhammad SAW telah hidup para spiritualis yang masih membawa Ruh al-Ilahi. Sebab, sanad kenabian dari satu kepada lainnya tidak pernah terputus. Para nabi bersaudara, “satu Ruhani”.

Orang-orang kaku ini juga sulit percaya, bahwa “Islam” (ajaran kepasrahan kepada Allah) sudah menyebar di muka bumi sejak pertama manusia ada. Sehingga tradisi spiritual dapat ditemukan pada semua bangsa. Bahkan seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, setiap masa ada nabinya. Setiap tempat ada nabinya. Setiap nabi membawa petunjuk bagi umatnya. Dan banyak nabi (guru spiritual atau para pembawa petunjuk) yang tidak diceritakan dalam Al-Qur’an.

Para sufi percaya, semua agama samawi (tradisi spiritual) yang ada sejak Adam as sampai Muhammad SAW, itu adalah “Islam” semua. Bahkan Muhammad sendiri tidak membawa agama baru. Baginda SAW hanya menjadi “pembaharu” (mujadddid) yang hadir untuk meng-upgrade dan memperkenalkan apa yang telah ada dari para guru-guru spiritual sebelumnya (termasuk ajaran Ibrahim as).

Maka tidak susah bagi sufi untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya. Sejauh itu benar, itu adalah “Islam”. Sehingga tradisi keilmuan Yunani yang sudah begitu mapan, diterima baik secara kritis maupun terbuka, oleh para sufi (juga banyak filsuf muslim lainnya). Sufisme mencerna konsep-konsep kesatuan wujud era sebelumnya. Termasuk teks metafisik Yunani, “Eneads” karya Plotinus. Bahkan ia dianggap sebagai seorang “syaikh besar” (guru sufi di era Yunani). Ajaran para filsuf mazhab Pythagoras, khususnya Niomachus juga diadopsi. Ide-ide Empedocles tentang kosmologi dan ilmu alam juga menjadi perhatian kaum sufi.

Kitab-kitab mazhab Hermetik pada abad pertama sampai keempat Masehi, yang isinya penuh dengan konten batiniah dari tradisi Mesir dan Yunani, juga di translate ke bahasa Arab. Sebuah judul “Poimandres”, adalah risalah yang terus muncul dan dinisbahkan sebagai karya Hermes Trismegistus, pendiri Hermetisisme. Hermes ini, dalam tradisi sufi dikaitkan dengan Enoch, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai Nabi Idris.

Tidak hanya mengasimilasi intelektualisme Yunani, sufi juga adaptif dengan hikmah-hikmah yang tersebar di semua wilayah. Karena itu, sufi dikenal sangat mudah berangkulan dengan semua tradisi lokal. Karena sufi mampu menemukan wisdom dalam semua kultur dan kepercayaan.

Konsep kembar “Ada ‘hukum’ di Alam, Ada ‘konflik’ di Alam”, sebuah keyakinan Zoroastrianisme, juga menjadi bahan pengembangan tema-tema kosmologi oleh para sufi besar. Konsep-konsep angelologi (malaikat, cahaya) yang dibangun Suhrawardi juga turut diwarnai oleh gagasan Zoroaster. Bahkan Salman Alfarisi sendiri juga disebut-sebut sebagai seorang Zoroaster yang mendapat ilham akan kedatangan Muhammad SAW, sehingga ia mengembara dari Persia untuk menemukan Sang Nabi.

Banyak signifikansi batiniah dari ajaran-ajaran besar dunia yang dipertajam kembali oleh sufi. Baik dari sumber-sumber Persia, Hindu, maupun Budha. Kisah-kisah Budha diangkat Ibnu Sina dalam “Salman dan Absal”-nya. Sehingga Sufi sering dikritik sebagai “bukan Islam”, karena kesamaan pada sejumlah ritus dengan tradisi lainnya. Padahal, kalau kita mau terbuka, sholat sekalipun itu punya keserupaan pada hampir semua agama. Cara sholat orang Islam, itu mirip, bahkan sama dengan gerak sholatnya sejumlah Mazhab dalam Kristen, Yahudi dan Budha. Puasa juga begitu, dan lainnya. Jangan-jangan, Islam meniru agama-agama sebelumnya!

Tidak hanya Islam, Yahudi dan Kristen juga memiliki tradisi spiritual yang kuat. Sufisme Islam sering mengutip kisah Isa as dan perawan suci Maryam sebagai simbol-simbol kelahiran “Logos” (Firman/Ruhullah). Termasuk kisah Musa as berguru dengan Khidir, berkhalwat 40 hari di Thursinai, menemukan api, melihat Tuhan, dan sebagainya; menjadi bagian dari kisah dan pengamalan tasawuf. Artinya, sufi mengembara ke segala tempat dan zaman, juga ke ke setiap lokalitas dan wilayah; untuk menggali esensi-esensi ketuhanan. Karena itulah, Islam yang dibawa para sufi bersifat “damai” dan diterima secara mudah. Termasuk Indonesia. Para sufi berhasil meng-islam-kan tradisi lokal, seperti wayang dan sebagainya. Mereka tidak melawan itu. Mereka tidak mengkafirkan perbedaan. Mereka justru memberi “ruh” pada semua yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Mereka tidak melakukan “arabisasi”. Mereka melakukan “islamisasi”.

Karena tidak memahami universalitas Islam para Sufi, sebagian orang begitu membenci sufi. Karena dianggap sebagai bagian dari Hindu, Budha, Kristen, Yunani, Persia dan sebagainya. Orang semacam ini masih berfikir, bahwa Islam itu sebuah agama yang berasal dari kampungnya, yang dibawa oleh neneknya, yang kebenarannya hanya tertulis dalam kitab-kitabnya saja. Tanpa pernah tau, bahwa Islam adalah ajaran universal. Islam sudah ada, sebelum kampungnya ada. Islam sudah ada, sebelum neneknya lahir. Islam sudah ada, sebelum kitab-kitabnya ditulis.

PENUTUP. Kalau anda masih berjiwa sempit, sebaiknya jangan menjadi sufi. Apalagi berlagak jadi guru sufi. Karena sufi adalah “jiwa merdeka”. Sufi adalah agama universal, jenis Islam yang melampaui zaman dan tempat. Sufisme adalah Islam yang mengakumulasi berbagai kebajikan spiritual. Sufisme adalah Islam yang memandang, bahwa Wajah Allah ada dimana-mana. Sufi bukanlah agama, yang memandang Suni sesat, atau Syiah bangsat. Sufi bahkan memandang semua agama dan mazhab sebagai jalan untuk mencari pencerahan. Sufi memandang semua manusia sebagai hamba Tuhan yang pantas dicintai, melampaui ras dan keyakinan.

Musuh sufi satu-satunya adalah setan; yang menyelinap dalam rupa kita semua. Dalam rupa kiyai, syekh, ustad, buya, habaib atau ulama. Dalam wajah rahib, biksu, rabi dan pendeta. Dalam mimik politisi, birokrat dan pengusaha. Musuh sufi adalah setan dalam wajah kita semua, apapun agama dan keyakinannya, apapun profesinya. Musuh sufi adalah setan, dalam dirinya sendiri. Menjadi seorang sufi, itu artinya menempuh jalan untuk menjadi prototipe manusia universal: Muhammad, dengan cara bermujahadah melawan diri sendiri.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version