“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 65 | Agustus 2022


ISTIRAHATLAH, BIAR TUHAN YANG BEKERJA!
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Begini. Kalau dalam waktu sehari semalam anda punya waktu sejenak saja untuk berhenti berpikir, anda akan hidup lebih sehat. Caranya, “tidur”. Itu cara mematikan pikiran. Katakanlah, kalau dalam 24 jam anda bisa tidur 8 jam (sepertiganya), itu sudah cukup untuk membuat anda sehat. Mungkin 8 jam terlalu lama. Persingkat, 2 jam saja. Kalau anda benar-benar lelap dalam waktu itu, segar juga anda setelahnya.

Artinya apa?

Dalam sehari semalam, anda harus punya mekanisme untuk menghibernasi daya kerja otak. Anda harus melarikan diri dari dunia. Harus total berhenti berpikir. Akal harus mati. Itu cara hidup sehat. Itu bahkan cara agar anda mampu berpikir lebih baik setelahnya.

Jadi, walaupun manusia itu baru dikatakan “hidup” setelah aktif daya berpikirnya, manusia juga makhluk yang harus punya mekanisme reguler agar kekuatan inteleknya sesekali “mati” suri. Bahkan, dengan sesaat berhenti berpikir, manusia menjadi tercerahkan.

Itu urgensi “uzlah”, “khalwat”, atau “suluk”. Katakanlah, lakukan itu selama 1 bulan dalam 1 tahun. Itu sama lamanya dengan 2 jam istirahat dalam sehari. Singkat sekali. Tapi banyak orang gagal memahami. Dikira, itu tindakan melarikan diri dari dunia. Padahal, disitulah rahasia “kesehatan” akal dan ruhani. Mereka kira, dengan bekerja dan berpikir terus menerus, perubahan di negeri ini akan terjadi. Padahal, banyak perubahan terjadi justru saat ia sedang terlelap dalam tidurnya. Karena, sesungguhnya, Tuhan lah yang bekerja. Bukan manusia. Maka jangan sok hebat. Jumpai Tuhan. Untuk berkoalisi dengan-Nya.

Para nabi adalah orang-orang yang punya kurikulum “kerjasama” dengan Tuhan. Intelektual para nabi itu ada di atas rata-rata (cerdas, fathanah). Mereka semua pada dasarnya pemikir. Juga pekerja keras. Bukan tukang tidur. Sibuk berpikir dan bergerak untuk kemajuan umatnya. Bahkan harus memikirkan strategi untuk menghadapai musuh-musuhnya.

Tapi mereka juga para pengamal “temporary death” (kematian sementara). Mereka pengamal dzikir. Mereka orang-orang yang dalam waktu tertentu dalam sehari, atau setahun, menyisihkan waktu untuk “menyendiri”, masuk ke kelambu/gua; lalu mematikan daya intelek guna masuk ke jenis kesadaran baru. Yaitu alam imajinal. Alam mimpi (visi). Alam ruhani. Alam prototipe. Alam ideal. Alam Rabbani.

Untuk masuk ke alam ini, akal harus ditinggalkan. Sebab, alam itu tidak bisa di akali. Murni ruhani yang berperan. Ketika Ruhani mampu menata kembali alam imajinal, melalui zikir-zikir tertentu yang dibimbing seorang Guru, baru kemudian dimensi dunia yang ada dibawahnya tercerahkan kembali.

Sepulang dari “kematian” ini, ada wahyu yang diperoleh. Ada visi yang terbangun. Ada pencerahan yang didapat. Ada ide-ide brilian yang diutarakan. Ada nilai-nilai kasyaf yang diterima. Makanya, pembicaraan mereka setiap hari selalu baru dan up-date. Ayat-ayat yang turun selalu relevan dengan kondisi. Bukan sekedar mengulang cerita-cerita basi. Ceramahnya tidak membosankan. Karena kontennya berasal dari jiwa yang selalu terbarukan.

Ada juga orang-orang yang selalu “kekurangan ide”. Sebenarnya, itu refleksi dari jiwa yang gersang. Kalau jiwanya hidup, ide cemerlang selalu muncul. Pengetahuan selalu mengalir. Pancaran aura dan energinya sangat kuat. Gerakannya cepat. Sebab, jiwanya telah terhubung dengan Ruhani yang Maha Kudus. Sehingga, akalnya pun ikut tercelup dalam samudera Cahaya.

Orang yang cukup istirahat, reguler berzikir (beruzlah), jiwanya pasti sehat. Pikirannya cerdas. Sejauh metode uzlahnya benar. Kalau tidak, paling cuma putih badan saja hasilnya. Orang-orang tercerahkan, kalau menjadi pemimpin pasti sangat motivatif dan inspiratif. Pasti menjadi magnet untuk ketauladanan.

Sebaliknya, mereka yang kurang istirahat, bahkan selalu absen dari menapaki jalan Ruhani (zikrullah), jiwanya pasti kotor. Bawaannya selalu suntuk. Menjengkelkan. Auranya negatif. Ide-idenya busuk. Kerjanya pasti korup. Sebab, tidak ada pencerahan yang ia peroleh saat bertindak. Semua kejahatan yang muncul di negeri ini adalah refleksi dari jiwa-jiwa yang kurang “piknik” ke Alam Tuhan. Setiap hari mikir terus, kerja terus. Mikirin dan ngerjain bagaimana caranya agar negara ini cepat bangkrut.

“Mati sebelum mati”, itu nasehat para guru sufi. Matikan sejenak akalmu. Istirahatlah. Berkhalwatlah. Suluk. Pejamkan matamu. Hidupkan batinmu. Agar Tuhan menghampirimu. Lalu, saat terjaga, Tuhan sudah ada disisimu. Lalu belajarlah untuk berinteraksi dengan alam visi ruhaniahmu. Bawalah Dia dalam setiap pekerjaanmu.

Perbaiki jiwamu, maka Tuhan akan memperbaiki nasibmu. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, seberapun lelah mereka berfikir dan bekerja. Sampai kaum itu bersedia merubah “anfus”; jiwa, visi ruhaniah mereka (QS. Ar-Ra’d: 11):

.. ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ ..

PENUTUP. Tapi saya curiga. Orang Indonesia justru kurang mikir dan kurang kerja. Kebanyakan istirahat.

BACA JUGA: “Posisi ‘Aqal dalam Hukum Islam”, “Tiga Level Akal”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin