“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 66 | Agustus 2022


MELACAK SANAD KEISLAMAN NABI MUHAMMAD SAW
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Benarkah orang tua nabi kafir, dan Islam baru turun saat Muhammad menerima wahyu di usia 40? Jadi, apa agama Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi?

Nama ayah Nabi SAW adalah “Hamba Allah” (Abdullah). Jelas sekali, Tuhannya bukan patung, bukan berhala. Juga bukan Latta, Uzza atau Manat. Nama Tuhannya, tempat beliau mengabdi, adalah “Allah”. Lalu kenapa masih ada orang yang mendakwahkan kalau orang tua nabi adalah kafir? Padahal semua orang, termasuk kita hari ini, ingin menjadi seorang “hamba Allah” (abdullah).

Kemudian, kalau ayah Nabi SAW seorang “Hamba Allah”, bagaimana dengan ibunya? Apakah mungkin seorang “Hamba Allah” memperistri orang kafir? Bukankah Aminah artinya “yang diimani”, “orang yang dipercaya”.

***

Nama orang tua nabi adalah “dalil” yang sangat kuat, bahwa mereka adalah hamba Allah dan orang yang beriman. Dari sosok orang tua Nabi SAW, kita menjadi tau. Islam sudah ada sebelum Muhammad SAW lahir. Artinya, Islam bukanlah agama yang baru turun setelah Muhammad SAW mendapat wahyu pada usia 40 di Gua Hirak. Peristiwa Hirak hanya sebuah momentum Beliau “naik pangkat”, menjadi Rasul.

Jadi, Muhammad bukan sosok yang tiba-tiba, simsalabim, setelah bertapa di kegelapan gunung lalu berubah jadi muslim. Tidak se-gaib itu juga. Yang namanya edukasi, itu ada proses alamiah; serta ilmiah. Keislamannya ber-sanad. Ada pendidikan intensif. Berkhalwat di Gunung sekalipun, itu ada kurikulumnya. Bukan suka hati. Sejak kecil, Muhammad sudah beragama sesuai agama orang tuanya. Agama Islam. Agama orang-orang hanif. Agama yang menuhankan “Allah”. Pun kepribadian Muhammad sejak kecil, adalah kepribadian ibunya yang “al-Amin”.

Bahkan Abu Thalib sekalipun (paman Nabi/ saudara kandung Abdullah) adalah orang yang tidak hanya memelihara Muhammad sejak usia 8 tahun; tapi juga memberinya pengajaran tentang adab/etika (ilmu ukhrawi). Sehingga sejak kecil, Muhammad sudah memiliki akhlak yang sangat mulia. Dia juga yang mengajari Muhammad tentang bisnis (ilmu duniawi), termasuk selalu membawanya serta dalam kafilah dagangnya ke manca negara. Abu Thalib inilah yang paling kuat melindungi Muhammad SAW dalam berdakwah di kemudian hari. Semua anaknya (seperti Jakfar, Ali dan Aqil) ditugaskan untuk membantu dakwah Nabi. Selama 42 tahun sisa usianya (M.Q. Shihab, “Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW”, Lentera Hati, 2011), Abu Thalib membesarkan Muhammad sebagai calon penerus dan pemimpin kaum, serta membimbing dan memberi arahan untuk pengembangan Islam.

Tidak ada yang lebih menyedihkan bagi Muhammad SAW pada periode Makkah, selain wafatnya dua orang: Abu Thalib, dan kemudian disusul Khadijah. Tanpa Abu Thalib dan keluarganya, Islam sudah binasa sejak awal. Apa yang dilakukan Abu Thalib bukan semata karena Muhammad itu anak adiknya. Tapi ia melihat ada “Cahaya” pada Muhammad, yang membuat ia layak mengorbankan diri untuknya. Dia sampai diboikot oleh kaumnya.

Namun, Abu Thalib ini seorang sufi, yang tidak begitu suka mengumbar simbol-simbol dan identitas keislaman (sehingga ada yang meragukan keislamannya). Islam pada masa jahiliah masih kuat dengan warna sufistik, warisan esoterik Nabi Isa as (atau juga Ibrahim as). Orang-orang Islam masa jahiliah itu cenderung hanif. Silent. Baik budi. Tidak rusuh. Hati mereka bersih. Karamahnya juga kuat. Contohnya Abdul Muthalib, kakek Nabi SAW, ayah dari Abu Thalib dan Abdullah. Setelah wafat ibundanya (selama 2 tahun, usia 6-8), Muhammad diasuh oleh sosok penuh “mukjizat” ini.

Ibnu Ishaq, sejarawan awal Islam, bahkan menyebut jika Aminah dan Abdul Muthalib adalah sedikit dari orang-orang yang selalu dijaga oleh Allah. Dia seorang pemuka Quraisy. Imam Baitullah. Seorang master spiritual (mursyid). Khadam Masjidil Haram. Beliau suatu ketika pernah menolak untuk menghadapi tentara Abrahah. Bahkan cenderung memilih mengamankan unta-untanya, saat Kakbah diserang. Tapi doanya mampu mendatangkan bantuan dari “langit” (burung ababil), yang menghancurkan seluruh bala tentara Abrahah. Ini sangat bertolak belakang dengan kondisi Khadamul Haramain hari ini, yang sama sekali telah kehilangan spiritual power. Tentara “Abrahah” modern (US dan sekutunya) justru sudah mendapat military base-nya di seluruh Arab. Malah zionisme pun mulai diajak untuk melakukan hubungan normalisasi oleh penjaga Tanah Suci. Islam sudah benar-benar hilang karomahnya.

Muhammad SAW juga mirip kakeknya, sangat ber-power. Kemenangan demi kemenangan selama 22 tahun berjihad, itu semata-mata karena “turunnya” bantuan malaikat. Secara militer, kekuatan Islam justru pernah sangat lemah. Kalah jumlah dan persenjataan. Namun Muhammad SAW dan para leluhurnya, boleh dikatakan, adalah trah yang penuh mukjizat:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut” (QS. Al-Anfal: 9)

Kisah Waraqah bin Naufal (imam Nestorian di Kota Makkah yang juga sepupunya Khadijah dan mengakui kerasulan Muhammad), ataupun Buhairah (pendeta yang melihat tanda-tanda nubuwwah pada diri Muhammad SAW saat kecil, ketika berada dalam sebuah caravan dagang menuju Syams); adalah juga gambaran jika tradisi spiritual warisan Isa as sudah masuk jauh sampai ke kampung-kampung di Mekkah. Artinya, ada master-master spiritual yang hidup di masa Arab jahiliah. Masih ada para wali yang mampu melihat ayat (tanda-tanda kewalian besar) pada diri Muhammad. Eksistensi orang-orang kasyaf ini menjadi pertanda bahwa tradisi spiritual para nabi, antara periode Isa as dan Muhammad tidak terputus. Sama dengan kondisi era (jahiliah) moderen sekarang. Walaupun terkesan vakum dari sosok nabi, tentunya masih ada para wali, “utusan” atau “pewaris” Allah dan Rasulullah yang mengisi bumi.

Dari Sirah Nabawiyah, kalau kita jeli membaca, Nabi Muhammad SAW sebenarnya mewarisi dua sanad keilmuan. Pertama, sanad dan tradisi spiritual dari keluarganya sendiri, Bani Quraisy yang hanif, yang bersambung sampai ke Adnan, ke Ismail as dan Ibrahim as. Kedua, sanad dan praktik-praktik esoteris dari para rahib suci, yang mungkin Beliau temui di Mekkah maupun selama perjalanan dagang di Syams, yang wasilah ruhaniahnya tentu bersambung sampai ke Isa putra Maryam. Namun, karena yang dipelajari Muhammad sejak belia sampai usia 40 bersifat sangat batiniah, catatan tentang itu cenderung “tertutup”. Tradisi gnostis cenderung “merahasiakan” apa yang diajarkan. Sehingga apa yang dilakukan Nabi secara intensif selama bermalam-malam di Gua Hirak tidak banyak orang tau. Kecuali yang mewarisi sanad ilmu meditasi (zikir) yang sama.

PENUTUP. Islam agama bersanad, punya mata rantai transmisi Ruhani kepada orang-orang terpuji. Muhammad SAW mewarisi keislaman dari orang tua, paman/keluarga, dan guru-guru spiritual lainnya. Oleh karena itu, tafsir tentang kekafiran orang tua dan paman Nabi, dalam tradisi spiritual Islam, itu dipercaya sebagai isapan jempol belaka. Dicurigai, ada motif (unsur-unsur politik) lain yang dikemudian hari melahirkan doktrin-doktrin tentang kekafiran orang tua maupun paman Nabi, Abu Thalib.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin