“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 67 | Agustus 2022


SETAN ITU APA?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Setan itu apa?

وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ …

“… dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan MUSUH YANG NYATA” (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

Jangan mencari setan ke alam gaib. Jangan menuduh yang mistik-mistik sebagai setan. Setan adalah musuh yang nyata. Wujudnya bahkan kasat mata. Nampak secara zahir. Karena, setan itu sebenarnya manusia.

Manusia adalah makhluk kompleks. Dalam dirinya ada konflik. Ada potensi “fujur” (kejahatan), juga “taqwa” (kebaikan). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa potensi fujur dan taqwa (QS. Syams: 8). Disaat potensi fujur aktual, anda menjadi setan. Sebaliknya, kalau lagi baik, anda telah menjadi manusia (insan). Makin lama baiknya, semakin menjadi manusia sempurna (insan kamil).

Kalau setan dikatakan sebagai “makhluk gaib”, itu benar juga. Maksudnya, itu adalah entitas “halus” yang ada dalam diri kita. Ada “makhluk” tertentu dalam diri manusia, yang secara psikologis selalu membisiki untuk berbuat jahat. Makhluk halus ini adalah “ruh jahat”, atau jenis “jiwa kotor”; yang selalu memotivasi untuk melakukan keburukan. Itulah “setan”. Dia ada dalam diri kita secara potensial. Aktualnya ada dalam wujud cara berfikir dan berperilaku kita semua.

Al-Qur’an menggambarkan ciri-ciri orang yang mengikuti “langkah-langkah” setan (bisikan jahat di kedalaman jiwa) sebagai berikut. Pertama, suka menciptakan permusuhan dan kebencian melalui mabuk dan judi (QS. Al-Maidah 91). Kedua, suka menakut-nakuti atau mengintimidasi orang (QS. Aali Imran 175). Ketiga, dermawan tapi untuk pamer (QS. An-Nisa 38). Keempat, merasa benar apa yang telah dilakukannya, tanpa mengetahui hakikatnya (QS. An-Nahl 63). Kelima, suka mencelakai orang (QS. Al-Fatir 6). Masih banyak lainnya.

Karena tabiatnya jahat dan buruk (fujur), maka setan dianggap sebagai unsur yang membuat kita “jauh” atau “terlempar” dari Tuhan (alias “terkutuk”). Karena itulah, “syaitan” dalam bahasa Arab artinya yang terjauhkan, atau yang terlempar. Segala sesuatu yang membuat kita menjadi jauh dan terlempar dari kutub Ketuhanan, itu adalah “setan”. Segala hayalan, bisikan, dorongan, hasrat, nafsu, keinginan, kesimpulan, dan tindakan; yang membuat kita menjadi “terkutuk” atau “terajam” (jauh dari rahmat Allah) itu adalah setan. Setiap memulai sesuatu, kita selalu memohon agar dijauhkan dari ini. A-‘udzubillahi minasy-syaitanir rajim.

Jadi, setan itu memang sesuatu yang buruk. Seandainya ia punya wujud, pasti wujudnya buruk sekali. Karena itu, kalau “makhluk” ini kita tarik dari jiwa kita, lalu kita gambar wujudnya, maka akan sangat menakutkan sekali. Itulah wujud ruhaniah kita yang “kotor”. Bersetan.

Untuk itu ada jalan pembersihan jiwa. Biasa disebut suluk, khalwat, atau tazkiyatun nafs. Tujuan pelatihan ini, agar gelombang kejiwaan menjadi positif. Agar anasir jahat (setan/fujur) menjadi redup. Sehingga senantiasa aktif sisi “taqwa”-nya. Sisi malaikatnya.

Sejak lahir, sudah ada qarin yang mengikuti atau mendampingi kita. Sudah ada unsur baik ataupun jahat yang secara alami mengalir dalam DNA kejiwaan kita. Ada potensi setan yang inheren dalam diri. Selain juga ada unsur baik yang merupakan fitrah kita.

Kenapa sejak lahir kita sudah bersetan?

Karena, sejak “ruh” diturunkan ke bumi (ke dalam jasad), kita sudah mulai terjauhkan dari Tuhan. Proses materialisasi menyebabkan kita menjadi “bersetan”. Karena unsur setan (termasuk jin) memang unsur material bumi, “api”. Jadi, kalau kita berubah menjadi setan (menjadi panas, membakar atau jahat); itu alamiah memang.

Tapi ingat, dalam diri kita juga ada “ruh”, yang sebelumnya di alam rahim telah menyaksikan Tuhan. Karena itu, kita juga terlahir dalam potensi “suci”. Untuk terus tumbuh dalam keadaan terjaga dan terpelihara (senantiasa suci), harus ada proses penyucian diri secara terus menerus.

Secara syariat, kita bisa disucikan melalui wudhuk. Tapi itu hanya bentuk penyucian diri dalam konteks “fisik”. Sementara, setan (jin ataupun iblis) adalah sesuatu yang “laten” (halus, gaib, tersembunyi, melekat dalam ruhani). Karena itu, dibutuhkan proses penyucian jiwa yang bersifat ruhaniah. Untuk membasuh muka, tangan dan kaki agar bersih, itu cukup dengan air bersih. Sebab, unsur materi (tubuh) dapat disucikan dengan materi (air). Tapi, untuk mensucikan atau membersihkan jiwa, itu tidak mempan dengan mandi atau wudhuk. Anda butuh unsur sejenis. Yaitu, Ruh itu sendiri. Sebab, ruh kotor, hanya bisa dibersihkan oleh Ruh Suci. Ruh Suci inilah yang disebut sebagai “Ruhani Rasulullah” (Ruhul Muqaddasah Rasulullah, Ruhul Quddus).

Ruhul Muqaddasah Rasulullah adalah Ruh Allah (Nurun ‘ala Nurin) yang dititipkan dalam jiwa Nabi Muhammad SAW. Dengan Ruh inilah Beliau mampu mensucikan jiwa manusia. Mampu membersihkan “setan” yang ada dalam hati/qalbu seseorang. Karena memang tugas seorang nabi diutus Allah untuk mensucikan atau meng-islam-kan jiwa manusia. Nabi mampu mensucikan manusia karena ada “kekeramatan Allah” (Ruh Allah) dalam dirinya. Tanpa dimensi Ruhullah dalam diri, anda tidak bisa menjadi seorang imamwali atau mursyid (waris nabi).

Jadi, kalau mursyid tidak keramat, itu sama dengan seorang nabi yang tidak punya mukjizat. Pasti bukan nabi itu. Pasti bukan mursyid itu. Pasti bukan wali itu. Sebab, kekeramatan ruhaniah merupakan esensi yang ia punya untuk dapat mensucikan jiwa sang murid:

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Aali ‘Imran [3]: 164)

Karena itu, yang disebut “ber-Guru”, hakikatnya adalah mencari Ruhani Rasulullah. Makna hakiki dari ber-Guru adalah mencari sosok ulama, imam atau walimursyid dari kalangan kita sendiri, yang dapat mensucikan jiwa kita. Hanya setelah diinstal Ruhul Quddus, jiwa kita akan bersih atau suci dari setan. Sehingga, hanya jiwa yang telah tersucikan yang dapat memperoleh Karunia Allah (yaitu Batin, Kalam atau Alquran laduniah). “La yamassuhu illal muthahharun” (QS. Al-Waqiah: 79).

Para Guru yang membawa “wasilah” (Ruhul Muqaddasah) tentu jumlahnya sangat langka. Selangka jumlah nabi disetiap masa. Kira-kira begitu. Karena kutub wasilah memang unik dan terbatas. Mereka menjadi pembawa “wasilah” juga karena berguru pada wasilah sebelumnya. Inilah yang disebut “sanad ruhaniah”. Sambung menyambung sampai ke Rasulullah.

Beruntung jika anda menemukan Guru. Sebab, tanpa Guru yang membawa sanad nubuwwah, guru kita pasti setan. Sebab, ruhani seorang guru yang tidak memiliki kekeramatan/cahaya Rasulullah pasti mengandung unsur setan. Pasti itu. Bisa tambah bodoh anda. Bisa menjadi radikal. Bisa menjadi hedonis. Bisa menjadi koruptor. Bisa menadi kriminal. Bisa menjadi penipu. Bisa menjadi penyebar hoaks. Bisa semakin jauh dari rasa bahagia. Bisa semakin was-was dan curiga. Bisa bunuh diri, atau menghabisi saudaranya sendiri dengan bom bunuh diri.

Apalagi jika tidak berguru. Pasti yang jadi guru adalah “bisikan-bisikan halus” dalam diri kita sendiri. Artinya, setan kita sendirilah yang akan menjadi guru kita, yang kita sangka bisikan itu adalah benar. Betapa banyak orang yang tersesat dengan sangkaan dan perasaan. Kita tidak tau, yang mana motivasi dari setan, dan yang mana motivasi dari malaikat. Sebab, jiwa kita belum cerdas (fathanah); belum tercelup dalam Ruhani Rasulullah.

Dalam tradisi sufi, seorang murid yang sudah “tersambung” dengan jiwa Rasulullah biasanya akan mengetahui secara haqqul yaqin; yang mana malaikat (vibrasi positif) dan yang mana setan (vibrasi negatif). Dia tau persis, sebuah bisikan yang muncul, apakah itu dari setan atau dari Allah. Dia tau persis kalau ada orang, apakah orang itu baik atau jahat (bersetan). Bagi orang yang sudah bermakrifat atau sudah mengenal Allah, setan itu mudah sekali dikenali. Baginya, seperti disebut dalam Al-Baqarah 168, “setan itu sudah nyata”. Sebab, aneh juga kalau kita tidak tau yang mana setan. Kalau itu terjadi, baik-buruk atau benar-salah, pasti tidak kita kenali. Bisa tersesat kita. Ilmu untuk mengetahui kebenaran secara hakikat, dalam tradisi spiritual Islam juga disebut sebagai “ilmu muraqabah”. Ini merupakan ilmu warisan Rasulullah. Hanya bisa diperoleh jika berguru kepada orang yang membawa Ruhani Rasulullah.

Itulah pentingnya ber-Guru, kepada yang punya power sanad dari Rasulullah. Sebab, banyak juga yang secara biologis dan administratif bersanad ke Nabi SAW. Tapi tidak membawa “kekeramatan” Ruhani-Nya. Sehingga tidak bisa membuka mata batin muridnya. Tidak mampu mensucikan sekalian ruhani. Tidak mampu mengusir setan, baik yang ada dalam dirinya sendiri, apalagi yang bersemayam dalam jiwa murid/umatnya. Guru seperti ini tidak punya kekuatan untuk “menyembuhkan”. Padahal dikatakan, siapapun yang membawa kekeramatan/mukjizat Alquran, itu pasti mampu menyembuhkan (syifa), mampu mensucikan, mampu mengusir “setan”.

PENUTUP. Anda tidak mampu mengusir “setan”, baik yang ada dalam diri anda, maupun dalam rupa orang-orang yang berbuat jahat kepada anda. Kecuali dengan pertolongan Allah. Dengan pertolongan Rasulullah. Dengan pertolongan para ulil amri yang mewarisi “kekeramatan” Ruhani Rasulullah. Anda tidak mampu melawan dan mengusir setan-setan besar dunia, dalam wujud negara-negara jahat yang zionistik dan kapitalistik, yang selalu menghegemoni dan menzalimi bagian dunia lainnya, kecuali anda memiliki para pemimpin spiritual yang masih memiliki Ruhani Sang Nabi.

Indonesia juga begitu. Kalau pemimpinnya (presiden, menteri, gubernur, bupati, dewan, jaksa, tentara dan polisi) tidak punya karomah, seluruh sendi kehidupan semakin bersetan. Semakin dikuasai mafia. Semakin bersabu. Semakin semarak judi online-nya. Karena setan yang menggerakkan itu semua, dalam wajah manusia. Indonesia memang negara beragama, tapi seakan seperti tidak ber-Tuhan. Tidak tersambung dengan Tuhan. Bersetan. Semoga ada yang mampu menyembuhkan!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin