“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 68 | September 2022

63 TAHUN FEB SYIAH KUALA: DOA BERSAMA, AKADEMISI BERSCOPUS DAN MASYARAKAT BERFULUS
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Jamaah belum datang, kecuali satu dua orang. Termasuk saya, yang masih asik menikmati sisa-sisa kopi di Warkop Dek Mi. Padahal, di undangan tertera, acara dimulai pukul 08.30 wib.

Pak Nadirsyah, salah satu anggota Badan Kemakmuran Masjid (BKM), naik tensi. Di beberapa grup WA Fakultas beliau kembali menegur, kemana para akademisi, kok belum muncul ke Masjid Almizan, tempat doa bersama akan dilaksanakan. Dicurigai, karena tidak ada pengumuman: “Bagi yang hadir diberikatkan sertifikat”, maka tidak ada antusiasme untuk hadir tepat waktu. Maklum, dosen butuh banyak sertifikat untuk lulus evaluasi kinerja (SIPKD).

Doa bersama, apa perlu?

Sehari sebelumnya, sekelompok akademisi usil membuka diskusi. “Apa perlu doa bersama?”, tanya seorang dari mereka. Akademis yang lain menyahut, “Tidak perlu, yang perlu makan bersama”. Ada-ada saja. Diskusi tidak jelas ini terus berlanjut, “Kalau doa, itu cukup diminta saja kepada satu atau dua orang teungku saja, yang kira-kira doanya didengar oleh Allah. Selesai. Tidak perlu semua orang berdoa. Banyak sekali orang berdosa diantara kita. Tidak bakal dikabulkan oleh Allah. Tapi, beda kalau makan bersama, itu harus bersama. Kalau sendiri, tidak bakal habis kuah beulangongnya”. Kebetulan, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Syiah Kuala lagi ngetrend dan sering diadakan kenduri kuah beulangong (kuah atau kari daging dalam kuali besar).

Begitulah. Diskusinya penuh canda. Usil. Tidak serius. Tapi ada benarnya. Jum’at 2 September 2022, jam 8.30 wib, masjid kosong. Jamaah doa bersama belum muncul. Di foto yang beredar pagi itu, baru terlihat satu orang yang hadir: ustadz yang pimpin doa!


Doa Bersama

Jam 9.30 Wib, doa bersama selesai. Dengan sedikit sambutan dari Dekan, Prof. Dr. Faisal, SE, M.Si, MA. Dihadiri sekitar 200an orang. Bajunya putih semua. Tapi setelah sambutan dekan, ada ceramah lagi. Salah satu dosen berbisik, “kok ada ceramah lagi, jadi panjang urusannya ini”. Tapi untunglah, ceramahnya singkat dan padat.

Tujuan doa bersama adalah mendoakan para leluhur Fakultas. Yaitu orang-orang yang telah berjasa membangun fakultas. Juga para pendidik terdahulu yang telah banyak meluangkan waktu untuk mencerdaskan masyarakat. Di atas itu semua, doa adalah bagian dari harapan, agar para akademisi generasi sekarang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademik dan pengabdian. Terus berjuang agar FEB Syiah Kuala menjadi institusi yang berperan aktif dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sebab, itulah yang kelihatannya belum kita saksikan.

Didirikan pada 02 September tahun 1959, FEB merupakan fakultas tertua dan menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Syiah Kuala di Darussalam, Banda Aceh. Lebih dari setengah abad berkiprah, Fakultas ini memang telah banyak melahirkan orang-orang sukses. Mulai dari menteri, gubernur, bupati, kepala dinas, komisaris bank, rektor, direktur lembaga, pengusaha, praktisi, dan lain sebagainya. Banyak sekali orang sudah dididik di institusi ini dan telah berperan di level lokal, nasional dan internasional. Untuk capaian ini, seandainya Fakultas ini bisa menangis terharu, maka pada 2 September 2022 ini, kita akan melihatnya ia menangis bahagia atas capaian yang telah diperolehnya.

Tapi, jika kita juga bisa melihat Fakultas ini menangis, maka pada hari yang sama, kita juga akan menyaksikannya menangis sedih. Air matanya mengalir deras. Bahkan darahpun terlihat tercucur dari sudut-sudut matanya. Sebab, sudah 63 tahun ia hidup, ia belum pernah sekalipun menyaksikan Aceh dengan 4 juta masyarakatnya itu maju secara ekonomi. Entah karena usaha kita belum keras. Entah disebabkan para drakula dan pengelola kekayaan Aceh yang terlalu perkasa untuk dikalahkan.

Sepanjang abad, Aceh selalu berada dalam gejolak sosial dan ekonomi. Mulai dari konflik GAM-NKRI, tsunami, sampai kepada pengelolaan syariat Islam, dana Otsus dan Migas yang tidak berujung kepada lahirnya provinsi yang sejahtera. Tata kelola pemerintahan Aceh lemah sekali. Sampai tahun 2022, kemiskinan masyarakatnya tertinggi di Sumatera dan masih dalam kelompok lima terfakir secara nasional (BPS, 2022).

Maka, besar harapan, sebagaimana spirit yang diusung di twibbon milad kali ini, semoga para akademisi dan alumni semakin bersinergi untuk mewujudkan institusi yang unggul. Menjadi institusi yang selain melahirkan banyak ide dan tulisan berindeks Scopus; juga mampu menginisiasi berbagai gerakan dan pengabdian, baik secara personal maupun kelembagaan, agar realitas masyarakat Aceh semakin bahagia dan ber-fulus.


Milad ke-63 diakhiri dengan acara potong tumpeng dan makan-makan di “Terminal Cinta (TC)”. Cukup sederhana. Sedikit kue dan minuman. Juga sedikit petuah dari senior, Prof. Jakfar Ahmad. “Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah”, beliau memulai fatwanya. Cukup sederhana sambutannya. Beliau mengajak seluruh sivitas akademika untuk menyadari keberadaannya di muka bumi sebagai perintis kemakmuran bagi seluruh manusia. Tanpa misi itu, kita gagal menjadi manusia. Memang mirip-mirip gagal semua kita.

Acara milad berlangsung sukses, khidmat dan penuh keakraban. Meskipun ada salah satu peserta yang hadir protes: “Tidak ada kuah beulangong, tidak sah miladnya!”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin