“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 71 | September 2022

RUSUH, PERTANDA APA?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Senin, 6/9/2022. Stadion Dimurthala, Banda Aceh, rusuh. Pertandingan perdana Liga 2, antara Persiraja Banda Aceh Vs. PSMS Medan batal. Seharusnya dimulai pukul 20.30 Wib. Beberapa menit menjelang pertandingan, lampu yang dioperasikan dengan genset stadion padam. Listrik tak kunjung nyala. Pertandingan ditunda. Penonton yang penuh sesak, sejam kemudian mulai mengamuk. Tidak puas dengan kondisi, ditambah alasan telah membayar harga tiket yang katanya terlalu tinggi, mereka mulai membakar fasilitas di stadion itu.

Rusuh. Pertanda apa?

Positif saja. Itu sinyal, bahwa bisnis sepakbola Aceh akan maju. Kalau kita semua bisa belajar dari kesalahan. Juga kalau kita mampu untuk segera meyakinkan kembali audien, bahwa akan ada pembenahan manajemen perbolaan. Masyarakat Aceh sangat pemaaf. Mudah melupakan. Rusuh sekali, itu biasa. Kalau rusuhnya berkali-kali, itu baru luar biasa.

Bisnis bola, jika bagus dikelola, untungnya besar. PSSI pernah pecah dua pada 2011. Konfliknya berlarut. Rebutan ketua. Liganya amburadul. FIFA turun tangan. Sepak bola, itu olah raga nomor satu, paling diminati di dunia. Pun di Aceh, Persiraja itu satu-satunya klub besar kebanggaan warga. Pecintanya masih banyak. Semua yang membuat anarkhi, itu pecinta Persiraja. Begitu cintanya. Sekali saja gagal melihat permainan klub yang dicintainya, mengamuk mereka. Konon lagi, sebagian mereka datang jauh dari luar kabupaten kota.

Kemajuan bisa saja dimulai dari kerusuhan, sebagai bagian dari marketing. Mungkin mahal juga harga dari kerugian malam itu. Beberapa komponen stadion rusak dan harus diperbaiki ulang. Tapi anggaplah itu sebagai biaya pemasaran. Biaya untuk memperkenalkan kembali, bahwa kita masih ada permainan bola kaki.

Sejauh ini sudah ada dua bentuk marketing yang dilakukan pengurus Persiraja, yang baru saja dipimpin Zulfikar SBY setelah berani mengakuisisi 80 persen saham Dek Gam. Marketing sebelumnya, ia dilakukan dengan mem-branding pertandingan yang akan diasuhnya sebagai “sepak bola syariah”. Heboh juga itu. Terjadi pro dan kontra. Saya melihat “syariatisasi” sepak bola masih sebagai bagian dari strategi pemasaran, usaha untuk menarik perhatian saja. Sebab, kalau sebatas simbol dan ritual, tanpa mampu memberi inspirasi/ketauladanan terhadap kinerja persepakbolaan, saya kira kita belum sepenuhnya Islam. Namun tetap kita apresiasi berbagai spirit untuk membangkitkan sepak bola, sesuai kapasitas dan keyakinan. Gas terus, ustadz!

Namun sejauh ini, ada satu kinerja nyata dari manajemen baru Persiraja. Sepakbola Aceh sudah menjadi bahan berita. Secara nasional pula. Dari sisi promosi, sudah menang itu. Selanjutnya, kualitas panitianya harus diperbaiki. Tragedi serupa jangan terulang lagi. Sepak bola harus berlanjut. Karena, selain odong-odong, cuma sepak bola yang menjadi hiburan kita di Serambi Mekkah. Tanpa bola, bisa pungo semua anak cucu Sultan Iskandar Muda. Sudah tidak ada bioskop, bolanya tidak hidup pula. Mati kita!

Tetap semangat. Kurangi ritual ziarah untuk memanggil arwah Tgk. Syiah Kuala. Karena, kalau ruhnya hadir, bisa padam semua lampu di Stadiun Dimurthala. Itu belum lagi kalau Allah taala sendiri yang langsung turun hadir ke stadion Dimurthala, seperti yang dialami Nabi Musa as di Thursina, bisa rubuh semua bangunan. Bisa pingsan semua para pemain dan penontonnya.

Identitas agama itu bagus. Syariat itu bagus. Ritual itu bagus. Tapi itu lebih bagus jika personal saja sifatnya. Kalau bisa, amalan-amalan spiritual disembunyikan saja. Jangan terlalu diumbar, apalagi untuk diketahui semua orang. Tidak perlu sampai menjadi bahan publikasi (riya) bahwa dengan itu, seolah-olah sport kita menjadi sangat islami. Ketaqwaan para pemain, pengurus dan ustadz yang mendampingi; sebaiknya silent saja. Amalkan sebanyak-banyaknya hal-hal mistis yang anda tau, tanpa harus diketahui. Kalaupun harus diketahui, ya sekedarnya saja. Jangan terlalu dieksploitasi. Belajarlah dari para wali, yang tidak diketahui kesholehannya.

Yang ditunggu penonton kita adalah aksi kekeramatan para pemain, ketika mereka mampu mengalahkan lawan-lawannya. Tunjukkan kekeramatan manajemen bola kita, bagaimana masyarakat bisa kagum dengan pelayanan panitia. Tidak peduli timnya menang atau kalah, mereka pasti bahagia.

Masyarakat di ujung pulau Sumatera sangat haus hiburan. Haus sekali totonan. Sedikit saja gagal, pasti dibakar. Proses bakar membakar merupakan bagian dari mencari kepuasan yang hilang. Puaskan mereka melalui pelayanan. Bagi yang gila bola, berapapun harga, lampoh jeurat dipeugala. Tiketnya pasti dibeli. Mereka tidak peduli, apakah para pemain bercelana pendek, bercelana legging, ataupun berkain sarung. Sejauh bisa tampil sportif dan maksimal, mereka akan terus hadir ke setiap pertandingan.

Disini kita bisa belajar kelebihan manajemen bola di Eropa dan negara maju lainnya. Pelayanan dan permainannya sudah sangat berestetika. Mereka mampu memberi kepuasan kepada pemirsa, tanpa sedikitpun embel-embel agama. Bahkan, bola itulah “agama” mereka. Sebuah agama (ritual dan permainan) yang menawarkan kesenangan luar biasa.

Tetap semangat. Maju terus Persiraja!

Eks Pendukung Radikal Persiraja Banda Aceh

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

 #powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin