“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 72 | September 2022

EKONOMI WARUNG KOPI, KENAIKAN BBM DAN KUASA OLIGARKI
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Warung kopi adalah bisnis paling stabil di Aceh, bahkan semakin maju dimasa resesi. Warung kopi di isi tidak hanya oleh orang-orang bahagia. Bahagia karena mereka punya akses untuk menghabiskan uang negara. Bisa bayar kredit lewat gaji bulanan dan tunjangan kinerja. Orang-orang ini mudah dikenali. Biasanya ngopi dengan wajah lebih ceria. Juga besar tertawanya.

Tapi, tidak semua yang tertawa itu orang bahagia. Sebagian justru karena sudah berat sekali masalahnya, lalu dilampiaskan dalam pecah tawa. Karena itulah, warkop juga diisi oleh orang-orang menderita. Menderita karena kenaikan BBM. Sementara, pada saat yang sama tidak tau lagi bagaimana cara meningkatkan pendapatan mereka. Raut muka mereka biasanya datar. Tatapannya kosong. Tanpa ekspresi. Susah tersenyum. Kecuali penting sekali, baru bicara.

Semua yang sedang mengalami kesulitan ekonomi ini, sebenarnya tidak benar-benar melarat. Walau tidak ada uang untuk beli lauk untuk anak dan istri, mereka masih punya uang untuk minum kopi. Di Eropa dan Amerika sana, untuk menenangkan pikiran dan hati; mereka minum scotch, whiskey dan brandy. Kita, ngopi.

Dulu, di Aceh, masih mudah di dapatkan minuman memabukkan. Di Peunayong banyak di jual itu. Setelah syariat Islam di sahkan pada 2001, semua yang suka mabuk sudah bertaubat. Sudah beralih ke kopi. Biasanya, mereka minum kopi secara berjamaah. Karena, di Aceh hanya boleh ada satu mazhab, mazhab jamaah.

Pagi ini, para Jamaah Ahlul Coffee ini kembali berkumpul untuk meratap nasib. Sambil sesekali mengevaluasi kinerja negara yang sudah berusia 77 tahun, yang baru saja menaikkan harga BBM:

“Negara kita punya banyak sekali ahli yang direkrut dari universitas-universitas ternama. Mereka di sekolahkan jauh sampai ke luar negeri. Kini mereka telah menjadi ahli ekonomi, ahli keuangan dan ahli anggaran. Ketika di kampus, mereka sangat idealis. Tapi, ketika diberi kuasa, semua menggunakan ilmu-ilmu hitung yang sangat canggih, hanya untuk menyengsarakan rakyatnya. Entah itu statistika, ekonometrika, dan lain sebagainya. Tak ada inovasi matematis ke arah yang meringankan penderitaan bangsa. Semakin hari, semakin susah kita dibuat oleh mereka. Apakah tak ada jenis hitungan yang bisa menurunkan harga BBM? Kok bisa sebodoh itu mereka!!”, sebut salah satu dari mereka membuka diskusi, sambil menyeruput kopi hitamnya.

“Akademisi, politisi dan birokrasi; kalau sudah ngumpul, mati kita. Harusnya tambah makmur negeri ini. Semua dibuat mati perlahan dalam slogan: “pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat”. Ah! Biarlah para oligarki penguasa ini terus bekerja sesuai cita-cita nenek moyangnya. Kita masyarakat kecil apalah daya. Paling demo sebentar. Setelah itu, ngopi lagi”, sahut yang lainnya.

“Bang, tambah kupi sikhan!!”, saya pun ikut nambah kopi untuk menikmati diskusi kelas jelata.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin