“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 73 | September 2022

LEBIH UTAMA MANA: SEMBAHYANG ATAU MEMBACA?
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tiba-tiba terdengar suara adzan. Habib Itam yang memang agak lasak dan suka pamer kalau mau sholat, langsung berteriak mengingatkan orang-orang untuk segera sholat. Kebetulan, disitu ada Habib Puteh yang terlihat santai dan masih menamatkan bacaannya.

HABIB ITAM: “Habib Puteh! Ayo, cepat. Tinggalkan semua pekerjaanmu. Dunia semua itu, jangan dituruti. Sudah adzan. Ayo, segera ke masjid”.

HABIB PUTEH: “Habib Itam, mana lebih duluan penting antara sholat dengan membaca?”

HABIB ITAM: “Lebih penting sholat. Karena itu adalah tiang agama. Sholat adalah amal yang pertama dihisab di akhirat. Kalau itu tidak lulus, ibadah lain juga tidak lulus”.

HABIB PUTEH: “Kalau sholat lebih penting, lalu kenapa ayat yang pertama turun adalah ayat yang menyuruh kita untuk membaca. Sementara perintah sholat baru muncul belakangan.

HABIB ITAM: “Oooh.. Saya tidak tau kenapa bisa begitu. Mungkin Habib Puteh bisa menjelaskan?”

HABIB PUTEH: “Begini. Ayat pertama turun berbunyi: Iqra’ bismi rabbik… dan seterusnya. Iqra’ artinya baca. Ketahui. Pahami. Teliti. Kenali. Observasi. Uji. Dalami. Islam adalah agama pengetahuan. Dasar dari agama adalah pengetahuan. Dasar dari segala pengetahuan adalah mengetahui Nama Tuhan. Pada awalnya mungkin bersifat induktif-rasional. Mengenali dia dari berbagai premis dan fenomena-fenomena (Kitabi dan Afaqi). Tapi pada puncaknya adalah mengenali Wujud-Nya secara deduktif- iluminasional. Dia sendiri yang akan memperkenalkan dirinya (Anfusi). Iqra’ adalah Qur’an, kemampuan membaca tanda (ayat) untuk mencapai makrifat, untuk mengenali Tuhan. Tanpa makrifat, kita tidak bisa menyembahnya. Kenali dulu, jumpai dulu, buktikan dulu keberadaan/kehadirannya, baru Dia bisa disembah. Sholat tanpa iqra’ (tanpa mengenal keaslian Wujud dan Asma) itu seperti menyembah patung. Tidak diterima. Tidak hidup Tuhannya. Itulah mengapa, awaluddin makrifat. Awal agama adalah iqra’, mengenal Allah yang Maha Hayat dari berbagai macam sumber bacaan (Kitabi, Afaqi dan Anfusi). Setelah kenal, barulah kita sah menyembahnya. Kalau sudah kenal, baru Dia bisa diingat/dizikirkan. Sebab, sholat itu zikir, atau usaha untuk mengingat apa yang telah kita dikenal. Karena itu, iqra’ adalah akar dari tauhid. Akar dari syahadat. Akar dari kesaksian. Tanpa iqra’, hancur sholat kita. Tanpa kedalaman iqra’, tidak bakal khusyuk ibadah kita. Karena itulah, yang pertama diperiksa di akhirat bukanlah sholat. Melainkan iqra’. Kita akan ditanya, apakah kita benar-benar kenal dan menyaksikan Allah atau tidak. Kalau kita kenal Allah, baru kemudian amal lainnya akan diperiksa, termasuk sholat”.

HABIB ITAM: “Oooooo… Begitu”.

HABIB PUTEH: “Iya Habib Itam. Begitulah kebenarannya. Iqra’ lebih utama dari sholat. Kalau iqra’ atau pengetahuan akan Allah sudah benar, sholat pun akan benar”.

HABIB ITAM: “Jadi bagaimana nih, kita tamatkan membaca terlebih dahulu, setelah itu baru sholat?”

HABIB PUTEH: “Ooo.. jangan. Ke masjid kita sekarang. Muazzin sudah begitu ikhlas melakukan azan. Syariatnya memang begitu. Masak tidak kita hargai. Nanti dibilang kita tidak sholat. Walaupun sebenarnya banyak juga orang yang mengerjakan sholat dalam keadaan riya’/lalai, yaitu tidak punya pengetahuan akan kehadiran Tuhan”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin