“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 78 | September 2022

THE SACRED AND THE PROFANE”: FOTO, KERTAS, KULIT BINATANG DAN BATU
Oleh Said Muniruddin I The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apakah selain Allah ada yang suci?

***

Sebenarnya tidak ada yang suci -secara mutlak, kecuali Allah. Semua wujud benda sifatnya profane (duniawi). Tidak sacred (suci). Hanya saja, sebagian benda dianggap suci karena punya irisan dengan sisi ukhrawi.

Kertas, misalnya. Itu tidak suci. Cuma kulit kayu doang. Unsur nabati itu. Tetapi, ketika ditulis ayat-ayat, ia menjadi jenis kertas yang siang malam dipeluk dan dicium. Mirip-mirip disembah. Padahal, kalau suka memeluk dan cium kertas, bisa syirik bukan? Kenyataannya tidak. Justru berubah menjadi sebuah bentuk sunnah, ketika dipersepsikan ada dimensi ketuhanan pada perbuatan itu. Bahkan adab untuk menyentuh, membuka dan membacanya diatur demikian rinci.

Juga, betapa banyak kulit kambing yang diusap dan dicium-cium. Mirip-mirip disembah. Padahal unsur binatang itu. Tapi, karena sudah menjadi sampul Quran, nilainya tinggi. Kulit kambing, sifat aslinya profane (kotor). Tapi berubah menjadi sacred (sakral), ketika melekat dengan sisi-sisi yang berdimensi Ilahi.

Batu juga begitu. Ada jenis batu yang tiap tahun diperebutkan jutaan orang untuk disentuh. Untuk dicium atau diusap kemuka. Dikelilingi sampai tujuh kali. Padahal cuma batu itu. Kakbah dan Hajar Aswad diperlakukan seperti itu. Mirip-mirip disembah. Mungkin karena dianggap “rumah” Tuhan. Ada (petunjuk/arah) ketuhanan disitu.

***

Kalau pada kertas, kulit kambing dan batu dirasa ada wujud kehadiran Tuhan, bagaimana dengan manusia? Bisakah kita memperlakukannya secara sama; mirip-mirip disembah, dengan cara dipeluk dan cium-cium?

Kalau makhluk selain manusia bisa dipeluk dan dicium-cium, tentu manusia lebih bisa lagi. Sebab, dimensi manusia lebih tinggi dari pohon, binatang dan bebatuan. Manusia adalah makhluk yang diciptakan secara sempurna, dibandingkan makhluk lainnya. Tingkat transendensinya lebih tinggi. Makanya ada wali, imam atau ulama yang diperlakukan begitu. Karena dianggap sebagai wujud manusia yang melekat Asma Tuhan pada dirinya. Sebagian mereka bahkan membawa bukti yang kuat akan itu. Baik dalam bentuk mukjizat maupun karamah.

Artinya, sejauh ada unsur ketuhanan pada dirinya, tidak ada masalah untuk ditakzimi sedemikian rupa. Cuma harus diingat; yang pantas di peluk, dicium dan dihormati sedemikian rupa hanya manusia yang ada vibrasi ketuhanannya. Kalau tidak, jangan. Bisa syirik kita.

Segala sesuatu yang secara khusus disembah, disujudi, dipeluk dan cium-cium; namun tidak ada unsur kemuliaan Tuhan pada dirinya, bisa menyebabkan kemusyrikan. Menghormati batu, pohon, dan binatang secara berlebihan; kalau tidak melekat Kalimah Tuhan pada objek-objek itu; sama halnya dengan menyembah berhala. Berhala adalah sesuatu yang tidak ada gelombang ketuhanan padanya, tapi kita mencintainya. Objek apapun yang nilainya profane, itu berhala. Menyembahnya, membuat kita jatuh dalam animisme.

Manusia juga begitu. Takzim berlebihan kepada orang yang tidak ada Tuhan dalam dirinya, itu musyrik. Tapi, kalau ruhnya sudah mengalami keterintegrasian dengan Asma Tuhan, jangankan kita, malaikat pun tidak segan-segan bersujud dan bersholawat untuk memujanya. Kecuali Iblis (QS. Al-Baqarah: 34; QS. Al-Ahzab: 56).

Orang-orang seperti Adam (yang telah menempuh jalan panjang pertaubatan dan penyucian, sehingga jiwanya termakrifati Asma Tuhan), jangankan tangan dan kakinya, dinding kuburannya pun siang malam banyak orang cium. Karena diyakini ada yang sacred dibalik makam itu. Seperti halnya ada yang suci dibalik kulit kambing yang melapisi Quran. Dalam hal ini, bukan makamnya yang disembah. Bukan kulit kambingnya yang dihormati. Bukan batunya yang dipuja. Tetapi (Asma) Allah yang kebetulan bertajalli pada eksistensi dirinya.

Orang-orang seperti ini sering dijadikan wasilah. Kehadirannya membawa DNA Ilahi. Bajunya. Sepatunya. Rambutnya. Bekas air minum dan makanannya. Semua yang melekat dan pernah mereka sentuh dianggap punya jejak finger print yang bernilai sakral. Mata Yaqub pernah sembuh gegara mengusap baju yang dikirim Yusuf kepadanya. Ada “obat” (syifa) pada benda-benda pusaka. “Maka ketika telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya (baju itu) ke wajahnya (Ya’kub), lalu dia dapat melihat kembali. Dia (Ya’kub) berkata, ‘Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Yusuf: 96).

Wajah orang-orang mulia dianggap memiliki karamah. Memiliki pesan ilahiyah yang tinggi. Sehingga rupanya sering diingat. Dengan teknik tertentu, kaum sufi bahkan mampu mengolah energi yang luar biasa melalui teknologi visualisasi wajah sang Guru. Tapi kemampuan mental manusia untuk mengingat tidak semuanya kuat. Untunglah kemudian ada teknologi foto, yang dapat membantu mental untuk me-refresh ingatan. “Foto suci” kemudian digantung ditempat-tempat terbaik di rumah para pecintanya.

Mengingat wajah ulama, itu membantu melatih ingatan kaum awam untuk senantiasa ingat kepada Allah. Kaum awam tidak tau harus mencari Allah kemana. Boro-boro mencari Allah yang gaib itu, mencari uang yang maha nyata saja susahnya minta ampun sekarang. Orang awam hanya tau cara menemukan kekasih Allah. Lalu berusaha akrab dan bersahabat dengan wajah/fotonya. Tidak jarang mereka berbicara dengan foto itu. Mengadu nasibnya dengannya. Sebab, untuk bisa selalu berjumpa dan berbicara dengan sang ulama tidak mudah. Foto orang “suci” menjadi representasi rasa kerinduan dalam beragama. Ruh orang-orang terpuji menjadi jembatan bagi mereka untuk merasakan kehadiran ruhani Rasulullah.

“Foto suci” sering bernilai privacy. Dalam ordo sufisme tertentu, itu tidak sembarang dipasang dipinggir jalan. Tidak diobral ke publik seperti baliho di musim Pemilu. Apalagi sampai robek dan berdebu. Ataupun panas terbakar matahari dan basah diguyur hujan. Wajah Sang Guru bagi mereka adalah “Quran” yang harus dijaga. Konon, melalui wajah itulah mereka mengenal Allah. Ditambah lagi, ayat-ayat tentang “wajah” punya tempat khusus dalam tradisi irfan. Dengan cara itu mereka membangun keterikatan (rabithah), antara murid dengan Ulil Amri/Guru, dengan Rasul, dengan Allah.

Karena itu kita temukan masih ada komunitas spiritual yang sangat ketat menjaga benda-benda suci. Mereka masih percaya kepada unsur-unsur duniawi yang bersifat suci. Sesuatu yang mungkin agak sulit ditemukan pada masyarakat sekuler. Masyarakat modern banyak mengalami alienasi, terasing dari Tuhan. Mereka percaya Tuhan, tapi tercerabut dari akar kesucian. Bertuhan, tapi jiwanya gersang. Untuk hidup lebih bahagia, anda harus banyak menemukan hal-hal suci dalam segala hal ihwal duniawi, sekecil apapun itu. Sebab, Dia yang suci ada dan bersemayam dimana-mana.

KESIMPULAN. Agama memang aneh. Kalau tidak aneh, bukan agama namanya. Karena agama memang mengurus hal-hal suci. Kulit hewan, batu, kertas dan foto pun bisa dianggap suci. Yang jelas, foto itu bukan “Tuhan”. Bukan untuk disembah. Tapi terkadang diyakini sebagai sebuah bentuk Ayat, tanda-tanda kebesaran, Logos yang diutus dalam rupa kekasih-Nya. Sehingga dalam tradisi spiritual tertentu; foto mursyid, sang pencerah, mujahid dan ulama-ulama revolusioner menjadi begitu berharga.

Dikarenakan doktrin-doktrin tertentu, tradisi merekam wajah memang tidak begitu populer dalam tradisi Islam. Bukan berarti tidak ada. Penggambaran wajah, bahkan terhadap sosok Sang Nabi sekalipun, itu pernah dilakukan. Sejumlah kitab klasik membuat ilustrasi sosok Nabi, baik wajah maupun fisiknya. Pola pengambarannya berubah-ubah. Ada yang pernah menampilkannya secara vulgar. Karena kontroversi, di abad 13-15, sisi wajahnya mulai disensor. Di abad 17-19, keseluruhan fisik Nabi ditampilkan dalam bentuk api atau cahaya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin