“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 77 | September 2022

YANG BENAR: “KEMBALI KE ALLAH”, BUKAN “KEMBALI KE QURAN DAN SUNNAH”
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEm. Hukum Tuhan, itu namanya syariat. Kalau Tuhan sendiri, itu namanya Hakikat (Haq). Jadi, ada perbedaan antara syariat dan hakikat.

Syariat merupakan hukum-hukum yang ditinggalkan Tuhan. Dalam artian, pada saat anda kehilangan Tuhan, pakailah hukum-hukumnya. Sebab, anda butuh teks pada saat tidak menemukan pemilik teks. Tapi, kalau sudah ketemu pemilik, maka tidak perlu sibuk membaca teks. Cukup ikuti langsung apa kata Dia.

Baca Quran itu hanya kita lakukan saat “jauh” dari Tuhan. Saat dekat, atau bahkan sedang dihadapan Tuhan, itu haram hukumnya membaca. Anda justru harus fokus kepada Dia. Jangan sibuk membaca.

Itulah dimensi hakikat. Dimensi “kontak” secara langsung dengan Tuhan. Pada dimensi ini, Dia membimbing secara langsung. Dia berbicara secara langsung. Dia hadir secara langsung. Dia sendiri yang mengarahkan anda, secara langsung. Kalau seseorang mengalami pengalaman hakikat, itu akan merasakan betapa dinamisnya agama. Sebab di “guide” secara langsung.

Beda dengan beragama secara tidak langsung. Anda harus mencari teks, lalu bergerak menurut tafsiran terhadap teks. Syariat seperti itu, butuh dalil untuk bisa bergerak. Konon jika dalilnya benar, maka benarlah anda. Kebetulan, dalil itu sudah berusia ribuan tahun. Sudah beredar kemana-mana. Sudah dipelesetkan kemana-mana. Apa yang disebut sahih, belum tentu sahih. Konon lagi, dalil itu baru dicatat ratusan Tahun setelah pemilik dalil tiada. Deviasinya besar sekali itu.

Jadi, kita beragama sebenarnya tidak langsung ikut Nabi. Tapi ikut dalil-dalil yang “diduga” dari Nabi. Quran juga begitu. Kita tidak ikut Tuhan secara langsung. Tapi ikut teks yang ditinggalkan Tuhan. Boleh saja. Bagus. Tapi itu bukan Tuhan.

Tentu beda sekali pengalaman ikut langsung dengan presiden, daripada sekedar ikut catatan-catatan yang ditinggalkan presiden. Beda pengalaman ikut langsung bersama tokoh yang anda kagumi, serta hidup dan beinteraksi bersamanya; daripada sekedar membaca tulisan-tulisan tentang dia. Tidak “hidup” agama ini kalau ikut teks. Agama baru hidup kalau anda mengikuti Tuhan.

Makanya, pengalaman kita yang ikut teks Quran dan hadist, itu jauh berbeda dengan pengalaman Nabi yang ikut Tuhan. Nabi tidak berpedoman pada catatan. Ia tidak pernah membaca teks. Ia berpedoman pada apa yang langsung dikatakan oleh Tuhan.

Apa yang kita pahami sebagai “Perkataan Tuhan”, itu bukan cuma yang kemudian ditulis dalam Quran. Itu sedikit sekali. Lebih banyak yang tidak ditulis. Hadis Qudsi misalnya, itu firman. Tapi tidak dicatat. Artinya, Nabi 24 jam berinteraksi dengan Tuhan. Kalau ditulis semua yang dikatakan Tuhan, terlalu banyak. Tidak cukup tinta.

Oleh sebab itu, dalam tradisi Nabi, apa yang dikatakan Tuhan tidak langsung dicatatnya. Karena, ilmu sesungguhnya adalah hidup bersama Tuhan. Bukan sibuk mencatat. Catatan baru dibuat kemudian. Untuk diketahui dan dibaca oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu Tuhan. Inti sebenarnya dari agama adalah pertemuan dengan Wujud Tuhan. Bukan larut dalam catatan.

Agama seharusnya mampu membawa kembali umat ini kepada Tuhan. Bukan sekedar mandek di catatan. Sehingga, yang benar itu adalah “Kembali ke Tuhan”. Bukan “Kembali ke Quran dan hadist”. Sebab, Wujud yang absolut adalah Allah. Bukan yang lain. Karena sibuk membolak balik lembaran Quran dan hadis, kita lupa cara kembali untuk berjumpa Allah.

Tapi ya begitu. Umat umumnya tidak mengenal Tuhan. Yang dikenal cuma kitab dan hadis. Level agama hanya sampai di catatan. Di doktrin syariat. Tidak berujung ke Hakikat.

Lebih parahnya, beragama sudah sibuk dengan dalil. Bukan lagi dengan Tuhan. Tak ada dalil, dianggap batal. Padahal, kalau tidak berjumpa Tuhan, batal agamanya. Sholat misalnya, kalau tidak berjumpa Tuhan, itu celaka hukumnya. Batal. Fawailul lil-mushallin. Jadi bukan sekedar punya dalil. Tapi wajib bertemu Tuhan.

Begitu juga ibadah lainnya, tidak perlu banyak kali dalil. Yang penting berjumpa Allah. Karena inti dari agama “diterima”. Alias “berjumpa”. Bukan berdalil. Tanpa dalil sekalipun, kalau kembali (berjumpa) dengan Allah, itu sah. Jangan sibuk dengan dalil, sampai lupa cara kembali kepada Allah.

Sebenarnya benar juga, “kembali ke Quran dan Sunnah”. Sejauh itu membuat kita berjumpa dengan Allah. Kalau metodologinya sesuai Quran dan Sunnah, kita pasti menyaksikan Allah dalam setiap amal ibadah. Sebagaimana para nabi akrab dengan Allah dalam semua geraknya. Dalam ibadah, sekalipun dalilnya benar, tapi tidak hadir Allah; itu juga tidak sesuai Sunnah. Tidak sesuai pengalaman Nabi.

Sebab, yang disebut “Sunnah” adalah, mengalami apa yang dialami nabi. Bukan sekedar meniru Nabi. Bukan sekedar punya dalil. Tapi “mengalami”. Karena itulah, tasawuf disebut ilmu rasa. Bukan ilmu dalil (an sich). Yang di transfer itu “rasa”, bukan dalil.

Religion is not a mere referencing, yet experiencing.

Said Muniruddin

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

💥powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin