“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 79 | September 2022

MUSWIL KE-6: KAHMI BANGKIT, ACEH KUAT
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Quran menyebut, orang yang “hidup”, itu bukan sekedar yang bernafas atau berdetak jantungnya. Bukan pula yang aktif di warung kopi. Bukan yang asik di masjid. Bukan yang sibuk di kantor. Bukan yang kuat berteriak dukung sana dukung sini. Karena satwa juga begitu; suka bergerak, berteriak, berkumpul dan bekerja.

“Hidup” dalam makna esensial (hakikat), diterangkan oleh Quran sebagai “gerak ruhani”. Artinya, qalbunya telah bergetar dan tersambung dengan pengetahuan Ilahi. Arus “cahaya” telah mengalir deras dalam dirinya (QS. Al-An’am: 122). Perjalanannya di tengah masyarakat tidak lagi didorong oleh nafsu tercela, ataupun persepsi-persepsi yang mengelabui. Semua tindakannya di drive secara langsung oleh keinginan-keinginan Ilahi.

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan” (QS. Al-An‘am: 122)

Oleh sebab itu, “hidup” adalah pengalaman iluminatif, ketercerahan, perolehan “Cahaya”, atau ketersambungan dengan Tuhan. “Hidup” adalah keterbukaan hijab, sehingga memungkinkan bagi seseorang untuk menangkap sinyal-sinyal langit guna diterjemahkan dalam setiap sisi kehidupan di bumi. Itulah makna “kembali kepada Al-Qur’an”. Kembali terkoneksi dengan Kalam/Kalimah Suci. “La ilaha illa Allah”. Dalam bahasa prosedural HMI dinamai “independensi etis”. Tidak ada sesuatu apapun yang memotivasi kita, selain Allah itu sendiri.

Inilah doktrin primordial sejak awal kita di training di organisasi Hijau-Hitam. Awal kehidupan adalah “bangkit” dari kematian. Bangkit dari ketertiduran. Tersadar dari keterlenaan. Terbebaskan dari berbagai ilah. Awal dari keislaman adalah terbangkitkannya jiwa kita untuk menginisiasi berbagai gerakan yang berdimensi suci:

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ قُمْ فَاَنْذِرْۖ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Wahai orang yang berselimut! Bangun, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu Agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah ” (QS. Al-Muddassir: 1-5).

Saya kira sudah benar apa yang kita alami pada malam-malam pertama di HMI. Tidak tidur-tidur, sampai pagi. Kita dididik, dibina dan digembleng untuk memiliki sebuah kesadaran baru. Yaitu kesembuhan mental dan ketersadaran intelektual. Semua tradisi spiritual memiliki pola serupa. Melatih para salik untuk mengurangi tidur, mengurangi makan, dan bahkan melarang bicara yang tidak berguna; sambil terus melazimkan zikir untuk membesarkan Nama Tuhan. “Kum fa-andzir, wa rabbaka fa-kabbir!”

Oleh sebab itu, untuk menjadi “hidup”, kita semua harus bangkit. Bangkit dari kematian ide. Bangkit dari kematian kreatifitas. Kita semua harus bangun. Harus terjaga. Harus bersuara. Harus kembali memberi peringatan kemana-mana. Harus menjalankan amar makruf nahi munkar. Harus membangun popularitas nama Tuhan, bukan nama kita semata. Untuk menjadi “hidup” disisi Tuhan, kita harus menjaga kebersihan pakaian kita. Menjaga agar tangan tidak mencuri, menimbun atau menempelkan ke tubuh sesuatu yang bukan milik kita. Segala hal yang berbau dosa harus ditinggalkan. Para alumni, itu kumpulan orang-orang yang sudah dekat ke surga. Jangan dirintis jalan ke neraka.


KAHMI adalah kelanjutan HMI. Spirit yang dibawa masih sama. Formulasi tujuannya menyerupai HMI:

“Terhimpunnya Alumni HMI yang memiliki kualitas Insan Cita dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”

Tujuan KAHMI | Pasal 5, AD KAHMI

Kalau HMI disebut sebagai “organisasi perjuangan”, pejuang sesungguhnya justru para alumni. Saat menjadi alumni lah kita bergelut dalam berbagai sektor pembangunan. Pertempurannya nyata. Disana kita menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Seleksi alam berlaku. Yang kuat iman, aman. Yang lemah-lemah, tewas.

“Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan sekalian alam” (QS. Al-‘An-am: 162). Ini injeksi spiritual ke-HMI-an, yang dosisnya di ulang-ulang. Bisa 5 kali dalam sehari. Tapi bisa terlupakan karena tekanan pragmatisme kehidupan. Pun dengan sumpah awal: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?, Iya, Kami bersaksi” (QS. Al-Araf: 172).

Ayat-ayat ini sering menghilang dari kesadaran, saat menemukan tuhan-tuhan baru di sepanjang jalan. Kehidupan yang penuh dinamika materialisme-positivisme telah menyeret kita jauh sampai ke lembah-lembah kelalaian. Semua idealisme yang pernah kita gali dalam training-training ideologi, terkubur dalam apatisme. Sebagian kita “mati suri”. Tidak tau harus mau apa lagi.

“KAHMI BANGKIT, ACEH KUAT” hanyalah sebuah seruan, dari banyak cara menyeru, untuk kembali kepada kebangkitan ruh dan intelektual. Untuk kembali kepada puncak tujuan: Allah. Muswil ke-6 pada 25-26 September 2022 ini memanggil kita, baik secara personal maupun kelembagaan, untuk kembali kepada kehidupan yang menghidupkan. Kembali kepada spirit awal KAHMI/HMI yang progresif dan sadar akan peran-peran organisatoris sebagai khalifah Tuhan.

Sejatinya; kita semua adalah generasi terdidik di HMI, intelektual tercerahkan, kader paripurna, insan cita. Ada “ruh kenabian” yang kita usung sepanjang zaman. Ketika ini tidak bangkit, Aceh akan terus tenggelam. Dalam lubang korupsi, kebodohan, radikalisme dan kemiskinan.


Periode 2015-2022 sudah terbangun gedung KAHMI Aceh. Itu hanya sedikit dari bentuk spirit dan kebersamaan kita yang masih terbuka untuk dikembangkan. Masih banyak spirit lain yang belum teraktualisasi untuk menunjukkan bahwa kita semua masih “hidup”. Kita para alumni mampu melakukan lebih banyak hal besar di masa akan datang. Untuk satu tujuan: mengagungkan Nama-Nya!

Jangankan KAHMI yang baru berusia 56 tahun. Islam yang sudah berusia 1400an tahun juga bisa timbul tenggelam. Ada periode gelap, ada periode terang. Tergantung kemampuan kita dalam menggali “Cahaya”. Tapi, selalu ada harapan. Di setiap kurun tertentu lahir para penyeru, pembaharu, penggerak, pengikat, dan tokoh-tokoh inspiratif yang akan membawa dunia, Indonesia dan Aceh kepada bentuk-bentuk yang lebih baik. Semoga HMI dan KAHMI dapat terus melahirkan tokoh-tokoh terpuji, para imam, leader atau “al-mahdi” pada berbagai bidang profesi (sosial, ekonomi, politik, hukum dan lainnya).

Selamat bersilaturahmi. Selamat berdiskusi. Selamat bermusyawarah!

Peletakan Batu Pertama Gedung KAHMI Aceh, 14/12/2019
Peresmian Gedung KAHMI Aceh, 23/02/2022

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin