“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 80 | September 2022

TIDAK ADA ATURAN DALAM IBADAH
Oleh Said Muniruddin I The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dalam bahasa yang memicu emosi, Rumi berkata:

Tidak ada aturan dalam ibadah. DIA akan mendengar setiap suara dari hati yang ikhlas (There are no rules in worship. HE will hear the voice of every heart that is sincere)

Jalaluddin Rumi

Ibadah, seperti sholat, kalau diartikan sebagai “media komunikasi” dengan Allah; maka, sejauh didengar oleh Allah, itulah sholat. Jadi, tidak perlu diperumit definisi sholat sebagai kumpulan 13 rukun dan sebagainya. Berapapun rukunnya, atau bahkan tidak ada rukun sama sekali, sejauh di dengar oleh Allah, itulah sholat.

Rumi sepertinya sedang mengkritik para ulama atau intelektual yang terlalu rajin membuat aturan dalam ibadah. Tidak terhenti pada regulasi prinsipal yang telah ditetapkan Tuhan, tata cara ibadah justru sudah terlalu banyak “diintervensi” manusia, diseret untuk politik lokal. Syariat yang ushul-nya itu simple and sacred, akhirnya menjadi profane setelah diberi berbagai aksesoris tambahan. Lalu diusung sebagai mainstream keyakinan madrasah tertentu. Menjadi qanun, surat edaran dan ketetapan untuk jurisdiksi tertentu. Alquran juga bicara syariat, tapi sangat generik. Detilnya cookbook-nya baru dirumuskan ratusan tahun kemudian oleh para pemikir agama. Begitu rajinnya mereka, sehingga terkait ibadah lahir banyak sekali school of thought (mazhab fikih).

Beberapa diantaranya masih bertahan hingga hari ini. Antara satu dengan yang lain bahkan ada yang bertolak belakang, sampai kita tidak tau mana yang paling diakui benar oleh Tuhan. Ada yang bersedekap. Ada yang tidak. Yang bersedekap pun ada yang di atas dada, di perut, di bawah perut, dan sebagainya. Ada 1001 kasus untuk hal-hal seperti itu. Masing-masing punya dalilnya. Masing-masing pihak meng-klaim dirinya paling sahih, paling sah.

Kok sah atau tidak sah ditentukan manusia. Bukankah harusnya oleh Allah? Kalau kita sedang menyembah Allah, maka biarlah Allah yang putuskan sah atau tidaknya. Apakah anda pikir Tuhan itu manut pada tata cara ibadah yang diatur manusia? Apakah Allah terganggu kalau tata cara ibadah satu jamaah dengan lainnya berbeda? Apakah cara menyembahnya harus persis sama?

Kritik dari Rumi ini mengajak manusia untuk kembali sadar. Sesungguhnya, menyembah Tuhan itu sederhana. Tidak serumit aturan yang kemudian hari dikarang fatwakan secara besar-besaran oleh manusia. Menurut Rumi, dan juga ahli irfan lainnya, hanya ada satu aturan untuk menyembah Tuhan. Yaitu ikhlas (sincerity). Kalau manusia ikhlas, mau sambil berdiri, duduk ataupun berbaring, berjalan atau berlari; semua doa mereka akan di dengar Allah. Mau memakai bahasa Arab ataupun bahasa ibu, sama saja, asalkan ikhlas, pasti di dengar Allah. Tidak peduli berjenggot atau tidak, jingkrang atau bersarung; sejauh ikhlas, doa anda dibalas.

Karena itulah, kaum sufi tidak begitu mempersoalkan keragamaan manusia dalam beribadah. Mereka toleran dengan setiap agama dan syariat yang mereka pegang. Mereka yakin, keragaman itu adalah ketentuan Tuhan (sunnatullah). Bisa saja Tuhan menciptakan semuanya seragam. Tapi Dia tidak mau. Sengaja diciptakan berbeda, supaya saling berlomba dalam kebajikan. “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (QS. Al-Maidah: 48).

Masing orang punya kesempatan untuk masuk melalui “pintu” berbeda guna memiliki rasa dan pengalaman tertentu dalam mencapai tujuan. “Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain” (QS. Yusuf: 67). Bahkan tiap umat punya kiblat tersendiri dalam mengakses Tuhan (QS. Al-Baqarah: 148). Inti dari semua itu adalah akhlak/ihsan, perlombaan dalam kebaikan:

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah: 148)

Kunci diterima dari semua perlombaan itu adalah rasa ikhlas masing-masing kepada Tuhan. Tuhan seolah-olah tidak peduli dengan tampilan lahiriah dari semua agama dan mazhab. Dia mencari hati yang ikhlas. Qalbu yang khusyuk. Jiwa yang bersih. Niat yang suci. Motif yang terpuji. Itulah bahasa yang dipahami Tuhan dalam semua bentuk ibadah.

Ikhlas adalah ketersambungan ruhani dengan Tuhan, melampaui bentuk-bentuk material. Sebab, yang sampai kepada Tuhan itu bukan bagusnya suara atau tampilan. Bukan persembahan darah dan daging kita. Melainkan ikhlas (ihsan/taqwa/rasa kehadiran Tuhan):

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin” (QS. Al-Hajj: 37).

Ketika Habil dan Qabil ingin mempersembahkan sesuatu kepada Allah, keduanya saling berlomba. Tapi yang diterima hanya punya Habil. Padahal, kurban Qabil begitu besar dan mewah. Begitu indah dan banyak. Begitu sempurna secara lahiriah. Tapi, Allah hanya menangkap gelombang ikhlas dari si Habil, walau ada kekurangan dari sisi lahiriahnya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Maidah: 27).

Karena itu, menurut Rumi dan para ahli sufi, kalau ingin memperbaiki hubungan dengan Allah; perbaiki “hati”. Perbaiki elemen paling mendasar dari kemanusiaan kita. Sehingga mampu memancarkan gelombang ikhlas kepada Allah. Kalau sisi ruhiyah sudah benar, semua gerak dan bacaan sholat, apakah dilakukan dalam aturan Sunni, Syiah maupun Wahabiah, pasti akan diterima. Bahkan lebih ekstrim lagi; apakah seseorang itu Mukmin, Yahudi, Nasrani, ataupun Sabiin; sejauh memiliki keyakinan kepada Allah dan hari akhirat yang diwujudkan dalam kebajikan diri (red: kesucian dan keikhlasan jiwa dalam semua amal ibadah), maka tak perlu bersedih hati. Allah akan terima (QS. Al-Baqarah: 62 & 69).

Ketika unsur qalbu telah memiliki vibrasi ikhlas (ada unsur Tuhannya); semua gerak, pikiran, perkataan dan bahkan diam kita akan menjadi ibadah. Menjadi Sunnah. Sebab, ia selalu terhubung dengan Allah dan Rasulullah. Inilah yang disebut sholat daim (QS. Al-Ma’arij: 23). Segala sesuatu yang dilakukan, jika hati selalu terhubung dengan Allah, itu akan menjadi “constant prayer”, sholat berketerusan.

Seperti kata Rumi, kuncinya bukan digerak lahiriah an sich. Bukan di aturan fikih yang terlalu jelimet yang sebagian besarnya merupakan produk tafsiran akal manusia. Tapi di hati. Ketika hati telah tersucikan oleh ruh seorang rasul/waliyammursyida, semua gerak, dalam aturan apapun, akan menjadi ibadah. Karena selalu hadir Allah.

Bukan kita menolak syariat. Sama sekali bukan. Syariat wajib dijalankan, sesuai tuntunan Nabi (walaupun variasi ayat dan riwayatnya banyak sekali dan tidak mungkin disatukan). Tapi, seperti disindir Rumi, umat Islam sering terlalu mabuk dengan aturan. Sehingga lupa cara mengkoneksikan hati dengan Allah. Padahal itu syarat utama semua amal ibadah terhubung dengan Allah. Kita bahkan sering ribut antar sesama, saling menyesatkan, hanya gegara beda pandangan fikih.

Melalui kata-katanya itu, Rumi menyarankan agar pola beragama digeser, dari fokus yang terlalu berat pada kerumitan aturan (rules-based) kepada fleksibilitas “rasa” dan efektifitas tujuan (principles-based). Dari relasi kekakuan terhadap hukum, kepada ruang-ruang negosiasi yang penuh keakraban (muraqabah) dengan Allah SWT. Adab atau prinsip-prinsip umumnya tetap berlaku. Namun format teknis penyajian ibadah jangan dipaksa harus dalam bentuk tunggal. Kebenaran bisa dihadirkan dalam ragam rupa, sejauh maknanya tersampaikan.

“Tidak ada aturan dalam ibadah” bukan berarti tidak ada aturan sama sekali. Melainkan tidak boleh ada paksaan untuk ikut aturan tertentu. Apalagi kalau sampai kita cap sesat dan kafir kalau tidak ikut mazhab ini dan itu. Masing-masing tau cara melihat kebenaran secara jelas, serta mampu membedakannya dengan kesesatan. Jadi, jangan dipaksa. La ikraha fid-din (QS. Al-Baqarah: 256). Agama itu pada prinsipnya adalah cinta. Kerelaan. Keikhlasan. Bukan paksaan. Karena itulah, para sufi bermazhab (punya aturan yang diikuti). Sekaligus beyond mazhab (mampu melepaskan diri dari kungkungan mazhab).

BACA JUGA: “Kuantum Ikhlas”, “Memastikan Ibadah Kita Ikhlas”, “Inti Sholat, Khusyuk!”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin