“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 82 | September 2022

KAHMI, HMI DAN RODA GIGI YANG TIDAK TERSAMBUNG KE MESIN
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Perhelatan Muswil ke-6 KAHMI Aceh sudah selesai. Bertempat di Hotel Amel Convention Hall Banda Aceh, Senin 26/09/2022, sembilan presidium telah terpilih. Mereka diamanahkan untuk memutar roda KAHMI untuk lima tahun ke depan, 2022-2027.

Presidium KAHMI Aceh 2022-2027

Apa kelebihan/kelemahan HMI dan KAHMI?

Kelebihan kedua organisasi ini adalah, banyak diskusi. Bagus-bagus sekali pun diskusinya. Zoom seminar hampir setiap hari. Dalam hal ini saya teringat Kanda Nasrullah RCL di kantor Insan Cita Darussalam. Tiap hari memposting jadwal diskusi ke sebuah grup alumni. Pun di kantor yang beliau kelola itu, rutin sekali diskusi. Hebat.

Itulah KAHMI. Itulah HMI. Diskusinya siang malam. Bahkan sampai subuh. Tapi tak ada yang tau kalau mereka lagi diskusi. Yang tau, ya mereka-mereka saja. Setelah mereka diskusi, tak ada sedikit pun perubahan di negeri ini. Pemerintah tetap adem ayem dan konstan dengan kebobrokannya. Masyarakat tetap miskin dan terus dikelabui politisi busuk. Pseudo-ulama juga masih berkeliaran memprovokasi umat.

Sekarang coba bayangkan sebuah sepeda atau motor. HMI dan KAHMI, itu ibarat roda giginya (bahasa Inggris: “gear”). Putarannya kuat dan kencang sekali. Tidak pernah berhenti. Diskusi terus berjalan. Silaturahmi siang malam. Tapi, roda itu tidak terhubung dengan mesin besar yang mampu membuat semuanya berjalan.

HMI dan KAHMI memang terus bergerak. Terus hidup. Tidak pernah mati. Demo dilakukan setiap saat. Training perkaderan ada sepanjang tahun. Ribuan kader lahir. Tapi, masyarakatnya tidak berubah. Tidak lebih sejahtera dari sebelumnya. Karena, roda HMI/KAHMI tidak tersambung dengan sistem yang lebih besar. Pemikiran dari institusi HMI/KAHMI tidak terdengar sampai ke ruang-ruang birokrasi. Protes-protesnya tidak mengguncang alam kesadaran penguasa negeri.

Dari level nasional sampai lokal, KAHMI ada. Jumlah MD KAHMI bahkan sudah lebih banyak dari jumlah cabang HMI. Tapi, intelektualnya (secara institusional) masih “tradisional”, main di ruang-ruang sunyi. Tidak “organik”. Tidak revolutif. Tidak inspiratif. Tidak ditakuti. Tidak membumi. Alumninya memang aktif dimana-mana. Namun personal sifatnya. Bagus juga. Secara internal KAHMI sudah menunjukkan peran-peran mulia. Seperti pengembangan aset (gedung) dan even-even silaturahim. Tapi secara kelembagaan, KAHMI sampai ke tingkat daerah perlu menggerakkan jamaahnya secara secara luar biasa. Posisi external bargaining lembaga perlu penguatan kembali.

“KAHMI dan HMI adalah gear (roda) yang berputar sangat kencang, tapi tidak tersambung dengan mesin besar”

A.S.S.A Sufimuda

“KAHMI dan HMI adalah gear (roda) yang berputar sangat kencang, tapi tidak tersambung dengan mesin besar”, sebut Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda, selesai Muswil ke-6. Beliau adalah ulama kharismatik yang juga konsern dengan perkembangan gerakan-gerakan sosial dan politik. Tulisan ini sebenarnya hanya untuk menerjemahkan kembali perhatian sang Guru Sufi ini kepada HMI/KAHMI.

Benar apa yang Beliau sampaikan. Isu ini juga berkembang dalam forum Muswil. Sebagian peserta mengkritik karakter kecendekiaan KAHMI dewasa ini. Tidak hanya di level Provinsi, di level daerah juga sama. Kajian-kajian strategis KAHMI sangat minim. Makna dari “kajian strategis” adalah kajian yang membawa perubahan. Tersambung dengan mesin besar. Ruang diskusi HMI/KAHMI jangan dijadikan tempat “mastubasi intelektual”. Hanya sebatas menumpahkan ide-ide, puas, lalu bubar. Diskusi KAHMI bukan lagi diskusi “powerpoint”. Banyak sekali point, tanpa power.

Kanda Muhammad Saleh, salah salah satu alumni yang disebut-sebut sangat ‘bandel’, tapi cerdas, juga mengulas hal yang sama. Dalam artikelnya di Modus beberapa saat menjelang Muswil, ia mengangkat urgensi KAHMI sebagai “Rumah Besar Multi Gagasan”. Suara KAHMI harus didengar penguasa. Pemikirannya harus kritis. KAHMI harus punya taring. KAHMI harus bangkit dan tidak boleh abai dengan soalan umat dan bangsa.

Benar juga apa yang beliau utarakan. Acara Muswil malah tidak dihadiri Gubernur. Apakah ini tanda KAHMI tidak menggigit? Atau terlalu sibuk mungkin. Tapi beliau mengutus dua stafnya, sekda dan asisten. Kita apresiasi itu. Padahal, sebenarnya, kita ingin Pejabat Gubernur hadir. Agar visi dan misinya di Aceh dapat didengar keluarga besar HMI. Sampai-sampai, beberapa hari sebelum acara, kami ingin membuat diskusi publik untuk ‘menguliti’ gelapnya visi Pejabat Gubernur yang dikirim oleh Jakarta ke Aceh. Paling tidak sekedar langkah awal menghidupkan kembali KAHMI connection sebagai “Rumah Gagasan” dengan kajian-kajian kritis strategis.

Tapi ide diskusi ini dilumpuhkan. Kata alumni lainnya, “Jangan, sayang alumni-alumni kita yang ada di pemerintahan”. Habis kita. Rupanya, kajian strategis dapat mengganggu posisi kawan-kawan di birokrasi. Mungkin karena itu KAHMI jadi kurang kajian strategisnya. Sehingga lebih banyak lari ke program jalan-jalan dan minum kopi. Setiap hari hanya kita temukan postingan foto para alumninya lagi up-date tawa di warung-warung kopi. Ya, mungkin itulah tujuan kita: “bahagia HMI”. Iya, juga. Jangan serius kali mengelola organisasi. Jangan sampai lupa bahagia. Tapi ada hasilnya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin