Site icon SAID MUNIRUDDIN

KAHMI: DARI KANGEN-KANGENAN KE PERJUANGAN

Advertisements

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 83 | September 2022

KAHMI, DARI KANGEN-KANGENAN KE PERJUANGAN
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. HMI mendoktrin kader-kadernya untuk jadi pejuang. Berjuang untuk meningkatkan kualitas diri (insan cita). Lalu pada saat yang sama berjuang untuk mempertinggi kualitas hidup masyarakatnya (masyarakat cita). Tidak hanya sampai disitu. Hakikat perjuangan, sebenarnya untuk mencapai “Cinta” (ridha Allah SWT).

Jadi, tujuan HMI adalah “insan cita”, “masyarakat cita” dan “Cinta”. Dokumen ideologi disusun Cak Nur dkk untuk mencapai itu. Dokumen ideologi secara tegas menggunakan kata “perjuangan”. Lengkapnya “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP)”.

Artinya, HMI itu memang organisasi yang menyemai benih pejuang. Lulusannya wajib jadi pejuang. Jadi Mujahidin. Jadi jihadis. Tapi dalam nilai-nilai moderat. Dulu, di zaman Belanda dan Komunis, jihad harus secara radikal. Karena musuh memang secara fisik merongrong Islam dan negara. Maka harus diangkat senjata. Sekarang, musuhnya bukan itu lagi. Walau isu “komunis” selalu diangkat menjelang pemilu untuk tujuan tertentu. Setelah Pemilu, hilang lagi.

Musuh kita sekarang adalah saudara kita sendiri yang sama ideologi. Sama-sama percaya Pancasila itu sakti. Sama-sama ngotot mempertahankan UUD 45. Sama-sama teriak NKRI harga mati. Tapi kerjanya korupsi. Musuh kita sekarang adalah politisi, keamanan, yudisial dan birokrasi yang tidak punya basis etik dan spiritual, yang pura-pura bekerja untuk mensejahterakan negeri ini (kalau serius, tentu sudah lama maju negara kita).

Di era Belanda, kita miskin. Setelah kita pimpin sendiri, juga masih banyak yang miskin. Ternyata, Belanda belum pergi. Wajahnya saja berganti. Dulu rambutnya agak pirang dan tubuhnya tinggi-tinggi. Sekarang sudah hitam semua, dengan fisik pendek-pendek. Tapi wataknya sama. Dulu warna benderanya biru, merah dan putih. Sekarang, warna birunya sudah dirobek. Tinggal merah dan putih. Masih ada warisan lama.

Musuh kita adalah Belanda, dalam wajah-wajah pribumi. Musuh kita adalah keterbelakangan yang kita ciptakan sendiri. Musuh kita adalah kebodohan yang kita pilih setiap lima tahun sekali. Mau kita angkat senjata untuk melawan mereka, tidak bisa. Bisa kena pasal subversif kita. Lalu kita lempar masalah ke Cina. Cina itu pedagang, yang hanya memanfaatkan situasi. Kalau karakter kita baik dan kuat, mereka akan menyesuaikan diri.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

“Tidak ada. Biar Tuhan yang selesaikan. Yang bisa kita lakukan hanya minum kopi”, jawab salah satu senior HMI.


Karena itulah, perjuangan mengalahkan saudara sendiri yang mengibarkan bendera yang sama, jauh lebih susah daripada mengalahkan musuh yang membawa bendera berbeda.

Sejak dulu begitu. Nabi Muhammad mudah mengalahkan kafir quraisy dalam semua perang. Karena garis demarkasinya sangat jelas. Ideologi dan benderanya beda. Mudah diperangi. Tapi, di kemudian hari, ketika musuh-musuh ini masuk Islam, lalu memakai baju dan bendera yang sama dengan yang pernah diusung nabi; rumit masalahnya. Sebab, mereka mulai korup, dhalim, dan busuk. Tapi memakai baju agama, baju resmi negara. Memakai nama khilafah pula. Tapi membantai orang atas nama agama. ISIS dengan berbagai variannya, adalah wujud terburuk dari Islam model ini. Sangat menipu.

Inilah yang disebut “jaman fitnah”. Perangnya sudah beda. Infiltrasi kapitalisme hadir dalam dalam rupa umara dan ustadz yang kita puja. Dalam rupa kita sendiri. Teks agama beredar luas, tapi sebagai “opium”. Syariat dihadirkan untuk membuat teler sekaligus membungkam arus bawah. Agama hadir untuk mencambuk pencuri ayam. Bukan untuk memotong tangan para pemilik jutaan hektar lahan. Agama hadir untuk menertibkan massa. Bukan untuk meluruskan penguasa. Bank pun menjelma jadi Islam. Tapi kerjanya masih sama, memonopoli arus kapital bagi pemilik modal. Bukan untuk mendistribusi kekayaan kepada masyarakat yang bahkan tak punya sandal. Dalam kondisi inilah anda diminta berjuang. Bingung kita, kemana mau diayunkan pedang. Salah-salah, kena leher sendiri.

Dulu, setan itu punya barisan sendiri. Tinggal kita arahkan meriam. Kena dia. Mati. Sekarang, setan itu sudah menyusupi ke diri kita semua. Gimana cara mengalahkannya?


Sebutlah ini sebagai “akhir zaman”, walau kiamat juga tidak jelas kapan pastinya. Berat cara berjuangnya. Tapi yang pasti, semua terlihat terus berjuang. Apa yang diperjuangkan? Apalagi, kalau bukan setumpuk “daging meugang”.

Kita semua terus berjuang, tapi untuk kelanjutan hidup masing-masing. Saling rebut proyek. Saling rebut jabatan. Semua sibuk mikir sekolah ke jenjang lebih tinggi, biar peluang hidup lebih bagus lagi. Semua berjihad bagaimana cara agar dapurnya tetap berasap. Jadi komisaris disana. Jadi direktur disini. Dan sebagainya. Hanya itu yang bisa kita perjuangkan. Selebihnya, urusan Tuhan. Masyarakat ini hamba Tuhan. Biar Tuhan yang pikirkan sendiri, mau dibawa kemana masyarakatnya.

Pada ujungnya, dalam kondisi “fitnah” seperti ini, semua menjadi apatis. Semua aktif bergerak dan berjuang. Tapi untuk kompetensi personal, untuk kesalehan individual. Tidak lagi untuk kemajuan sosial.

Ada satu dua yang masih kuat aura sosialnya. Mereka terus berjuang untuk perbaikan kondisi komunitasnya. Ada alumni yang seperti itu. Tapi hanya anomali. Langka. Selebihnya masih diam. Masih terpenjara dalam gejolak batin; antara idealisme ideologi yang pernah diterima dalam training-training HMI, dengan realitas hidup yang ia alami. Yang tidak sabaran sudah memilih pragmatisme dan terus maju dengan itu. Yang manis-manis masih berusaha menahan diri, tidak berkembang.


Saya kira, menjadi alumni, atau berada di KAHMI, adalah fase untuk kembali menggali kesadaran akan cita-cita kita. Bagaimana secara personal kita semua bisa sukses dan kaya raya. Secara sosial masyarakat kita juga terbangunkan jiwa dan ekonominya. Pada ujungnya, kita berharap Allah senang dengan semua usaha kita.

Dalam situasi apatis terhadap idealisme perjuangan, KAHMI bisa terpuruk menjadi organisasi kangen-kangenan. Ya, setelah lama selesai di HMI, kita semua sibuk sendiri. Maka diperlukan institusi untuk kumpul-kumpul dan kenduri, sambil “pura-pura” diskusi. Sambil mengenang hal-hal lucu di masa lalu. Tentu perkumpulan yang begini bagus juga. Pada kadar tertentu bisa membuat alumninya sesekali “bahagia”.

Tapi, untuk memutar gerak roda KAHMI sebagai organisasi perjuangan, yang berusaha melanjutkan tradisi dan spirit kejuangan HMI, saya kira ini tantangan besar bagi Majelis Nasional, majelis wilayah dan majelis daerah se-Indonesia. Bukan tidak bisa. Bisa. Itulah tantangannya. Sebab, Formulasi Tujuan KAHMI telah kita sepakati, sama dengan Tujuan HMI: insan cita, masyarakat cita, dan Cinta.

“Terhimpunnya alumni yang memiliki kualitas insan cita, dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”

Tujuan KAHMI, Pasal 5 AD KAHMI

Saya kira, salah tujuan mereka yang mengurusi KAHMI adalah untuk menyadarkan kita semua pada kontinuitas peran-peran mulia ini, sambil ngopi-ngopi tentunya. Pasti usaha sampai!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version