BURUNG SAKTI, PIYE KABARE?
Oleh Said Muniruddin

Kau sebut ia Garuda. Burung paling perkasa. Tapi rakyatnya tak berdaya. Kemiskinan masih merajalela. 10 persen dari 273 juta, angka nestapa. Itupun sebelum BBM dijual lebih mahal ke rakyatnya. Mati kita!

01 Juni 1945 – 01 Juni 2022. Sudah 77 tahun engkau disembah, sejak Soekarno berdiri gagah di sidang BPUPKI. Tapi sudah 7 presiden berlalu, kita masih terjajah. Di keruk Amerika. Dihutangi Cina. Sialan kalian semua!

Garuda. Oh Garuda. Dengan sayap terbuka, kaki terkangkang, kulihat engkau seperti disalib tak berdaya. Matamu pun tak pernah menoleh ke depan. Seperti malu menatap kami yang menderita stunting di negeri kaya raya. Haha!

Pancasila. Engkau sakti. Bertahan dari kudeta G30S PKI. Tapi lalu kenapa engkau berubah jadi kapitalis murni? Kau keruk alam, dari Aceh sampai Papua. Kau perjual belikan anggaran untuk elit semata. Kau sikat semua yang ada. Najis!

Astaghfirullah. Ampun Tuhan!

Garuda Pancasila. Kau ini sebenarnya apa? Peliharaan siapa? Kesaktianmu belum bermukjizat. Untuk membersihkan 1001 Sambo, mafia, dan para naga. Untuk membawa kami kepada NKRI yang sejahtera. Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepada kemanusiaan yang adil dan beradab. Kepada persatuan Indonesia. Kepada musyawarah yang hikmah dan bijak. Kepada keadilan sosial bagi semua.

Hei Pancasila. Bangun. Sudah mau kiamat kita. Terbanglah tinggi. Jangan lagi engkau jadi cerita indah di buku-buku siswa SD. Tapi dipaku mati di dinding-dinding kantor tukang korupsi.


“Renungan atas Nasib Pancasila Ku”. Sabtu, 01 Oktober 2022.