Site icon SAID MUNIRUDDIN

MENUJU TUHAN, KREDIBILITASMU HARUS DIHANCURKAN

Advertisements

“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 86 | Oktober 2022

MENUJU TUHAN, KREDIBILITASMU HARUS DIHANCURKAN
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Masih ingat kisah seorang ulama bernama Rumi, yang berguru kepada ahli makrifat bernama Syams dari Tabriz?

Suatu ketika Syams bertamu untuk makan malam di rumah muridnya, Rumi. Rumi ini ulama fikih. Orang yang sangat menjaga kredibilitasnya. Sangat menjaga penampilan keulamaannya. Baju ulamanya tidak pernah lepas. Sebab, syariat atau fikih, itu sangat terfokus pada tampilan lahiriah. Pada bentuk-bentuk fisik dan kaidah bacaan. Islam dhahir.

Syams rupanya tidak mau makan, sebelum disajikan anggur oleh muridnya. Rumi terkejut. Kenapa gurunya minum anggur? Bukankah itu haram? Tapi, karena ini proses pembelajaran sufistik, murid tidak boleh banyak bertanya. Apa maunya guru, wajib dipenuhi. Harus patuh. Seperti Musa sang ahli syariat, yang kemudian patuh pada semua keganjilan Khizir si ahli hakikat.

Yang banyak bertanya, itu masih bersekolah di level syariat. Yahudi, itu banyak sekali bertanya. Bahkan sangat nyeleneh. Sampai memberatkan para nabinya. Karena, ajaran Yahudi kental sekali syariatnya. Sementara, di kurikulum tarikat hakikat, juga boleh bertanya. Tapi dalam hati. Nanti Allah sendiri yang akan menjawabnya. Tarikat adalah jalan ruhaniah untuk berguru secara langsung kepada Allah. Ilmu makrifat adalah ilmu komunikasi transendental, untuk memperoleh jawaban-jawaban langsung dari sisi Tuhan (ladunna ilma, QS. Al-Kahfi: 65).

Kembali ke Rumi.

Masalahnya, anggur yang diinginkan Syam Tabriz, itu hanya dijual di perkampungan Kristen. Bagaimana mungkin Rumi kesana. Kalau ketahuan murid-muridnya, pasti hancur kredibilitasnya. Beli anggur pula.

Tapi, karena cinta dengan gurunya dan sungguh ingin belajar makrifat, akhirnya ia berangkat. Rupanya, ada warga yang melihat. Heran, kenapa Rumi pada malam itu mengendap-ngendap ke kampung Kristen. Penasaran, diikutinya pelan-pelan. Lebih mengejutkan lagi, dilihatnya Rumi masuk ke kedai tuak. “Astaghfirullah”, gumam orang yang sedari tadi membuntuti Rumi. Orang awam kerjanya memang mengintip kesalahan orang.

Tak tahan, diberitahukan ke warga. Semua berkumpul mengepung kedai tuak. Rumi keluar, terkejut dia!

Mulailah Rumi di bully, “Ini rupanya ulama yang selama ini kita hormati dan sebut-sebut sebagai kharismatik. Malam-malam merayap cari tuak!”. Sandal, batu dan kayu berterbangan ke arah Rumi. Rumi gemetar, malu dan takut sekali. Hancur sudah hidupnya.

Tiba-tiba muncul Syams Tabriz dan berkata, “Hei kalian semua, apa yang kalian lakukan. Jangan melempar dia. Dia hanya membeli cuka di toko itu. Karena ia ingin membuat makanan untukku. Bukan tuak itu. Kalau tidak percaya, periksa saja”.

Perlahan, dalam keadaan gemetar Rumi mengeluarkan botol tuak yang ia sembunyikan dalam jubahnya. Lalu diberikan kepada warga untuk diperiksa. Ia tau, itu memang tuak. Tapi anehnya, ketika ditumpahkan, ternyata telah berubah menjadi cuka. Itulah karamah Gurunya. Dunia sufi dan kenabian, dalam kondisi genting, sering muncul banyak mukjizat dan keajaiban.

Warga pun minta maaf kepadanya. Lalu bubar.

Rumi belum hilang gemetarnya. Disaat itulah sang Guru berkata, “Ini yang kau cari selama ini Rumi? Kredibilitas dan kehormatan dari masyarakatmu? Sedikit saja keliru, langsung engkau dihajar oleh mereka. Hidup bukan untuk menyenangkan orang. Bukan untuk mencari perhatian orang. Tapi untuk menyenangkan Allah SWT, walau engkau dibenci dan dianggap sesat oleh seluruh manusia”.

Dari ini Rumi menulis sebait kalimat indah dalam Matsnawi, “lupakan kenyamanan. Hiduplah ditempat dimana engkau takut untuk tinggal. Hancurkan reputasimu. Jadilah terkenal atas ‘kejelekan’-mu”.

“Forget safety. Live where you fear to live. Destroy your reputation. Be notorious”.

Rumi

Bukan cuma Rumi, semua nabi hancur kredibilitasnya saat masuk dalam jenjang beragama lebih tinggi. Awalnya, Muhammad SAW dikenal sebagai “Al-Amin”. Semua itu gelar pemberian manusia. Itu disaat ia masih mengikuti gaya masyarakatnya. Menjadi tokoh bagi mereka. Menjadi sosok kolaborator di tengah mereka.

Ulama kita, atau mungkin kita, juga mendapat banyak gelar dari institusi masyarakat: habib, al-mukarram, maulana, abiya, abon, kiyai, ustadz, teungku, syeikh, al-hafidz, profesor, doktor, paduka yang mulia, raden, tuwanku, teuku, ampon, datok, daeng, tun, kanda, cut, tuan; entah apa-apa. Bukan Tuhan yang berikan, tapi orang. Mungkin juga setan. Sebagian gelar itu justru jadi “beban” (bentuk-bentuk keriyaan). Tersinggung kalau kita tidak dipanggil dengan gelar-gelar itu. Bahkan ada yang hidup untuk mengejar aneka titel.

Lalu, ketika Muhammad menempuh jalan spiritualitas lebih lanjut, ketika hendak mendekat lebih akrab dengan Allah, kredibilitas dan popularitasnya mulai hancur. Jadi tokoh sesat dia. Diteriaki sebagai “orang gila” (majnun, QS. Al-Qalam: 2). Sebab, ia mulai menerima pesan-pesan lebih lebih tinggi dari langit. Mulai bicara aneh. Ia harus mengajarkan hakikat-hakikat tauhid kepada manusia. Dan itu pasti berseberangan dengan pandangan-pandangan lahiriah yang telah berkembang lama.

Mulailah, ia bersama keluarganya diboikot secara sosial dan ekonomi di sebuah lembah sempit dekat Mekkah, yang dikenal sebagai Syi’ib Abi Thalib. Kecuali pamannya Abu Lahab, Abu Thalib merasakan derita dan ikut serta membantu dakwahnya. Selama 3 tahun mereka hidup susah dan kelaparan disana. Setelah embargo selesai, mereka masih mengalami teror. Bahkan harus ‘lari’ ke Madinah. Semua terjadi hanya karena ia lebih melayani kemauan Tuhan, daripada selera lahiriah masyarakatnya.


Itu Muhammad SAW. Sosok ganteng. Pemuda sukses. Cucu orang terkenal. Millionaire. Businessman. Tapi hilang semua kredibilitas dan reputasi (fame) yang pernah ia bangun sejak muda. Gegara memilih hidup bersama Allah yang sebenarnya.

Allah yang sebenarnya, tentu berbeda dengan Allah “kira-kira”. Allah “kira-kira” adalah nafsu dan imajinasi kita tentang agama. Kita memang beragama, tapi untuk membangun kredibilitas di depan manusia. Mencari muka dari masyarakat kita. Ingin dianggap alim dan mulia oleh mereka.

Allah yang sesungguhnya adalah Allah yang seringkali menginginkan anda menjauh dari masyarakat, melakukan uzlah, dan mendekat hanya kepada-Nya. Allah yang asli adalah Allah yang seringkali mengharapkan anda hanya mengabdi kepada-Nya, bukan kepada masyarakat anda. Kecuali ada perintah Dia untuk membantu masyarakat. Kalau tidak, mungkin lebih banyak waktu dihabiskan untuk Tuhannya.

Allah yang otentik adalah Allah yang selalu ingin menghancurkan kredibilitas anda dihadapan masyarakat anda. Dia ingin anda hancur berkeping-keping. Sehingga tak ada lagi yang tersisa, kecuali Dia. Tapi, ketika anda bertahan bersama-Nya, Dia akan merangkai kembali kepingan diri anda menjadi sosok agung yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Anda akan menjadi manusia yang mulia dimata-Nya. Menjadi figur, yang kalau masyarakat tidak hormat kepada anda, bala bencana pasti akan diturunkan kepada mereka. Anda akan menjadi manusia pilihan untuk membawa masyarakat kepada hakikat-hakikat agama. Kepada Wujud Allah yang sesungguhnya.

Pengalaman hancur berkeping-keping ini tidak hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW saja. Tapi juga Isa as, Musa as, Ibrahim as, Nuh as dan semua nabi dari Tuhannya. Semua pernah hancur dan terusir, karena memilih bertuhan dengan cara tidak biasa. Lalu diangkat kembali, menjadi famous sebagai manusia-manusia pilihan-Nya.

Para sufi juga banyak begitu. Dianggap aneh dan gila. Dianggap zindiq dan sesat. Diasingkan. Hanya karena memilih jalan “khusus” dalam bertuhan. Jalan yang jarang, atau bahkan tidak pernah dilewati orang awam. Padahal, sufi itu hanya kumpulan orang-orang yang beragama dengan cara kreatif. Karena kreatiflah maka mereka bisa masuk dalam segala budaya. Mampu mengislamkan berbagai tradisi yang telah ada. Slogan mereka:

“Jangan takut untuk menjadi berbeda, yang penting Tuhan bersama anda”.

Sufimuda

Tapi, akhirnya mereka menjadi paling mulia disisi Tuhannya. Paling banyak karamahnya. Sebab, semua kredibilitas yang hilang itu, akan diganti dalam bentuk lain yang lebih mulia. Seperti kata Rumi:

“Jangan bersedih. Apapun yang hilang darimu, akan kembali dalam bentuk berbeda”.

Rumi

PENUTUP. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyuruh anda berbuat maksiat dan keanehan di depan umum, agar hancur kredibilitas dan dekat dengan Allah. Bukan. Itu salah-salah, malah bisa menjauhkan kita dari Allah. Melainkan, belajar cara menyerahkan diri kepada Allah. Agar Allah sendiri yang membangun kredibilitas kita, bukan kita. Juga Allah sendiri yang akan menjaga kita, bukan kita. Semua terserah Dia, apakah kita harus hancur atau tidak. Lakukan apapun maunya, walau salah dimata manusia. Yang penting Dia senang.

Tasawuf, irfan atau sufisme adalah jalan untuk mencapai itu. Isinya adalah praktik (metodologi) untuk “menghancurkan” atau “mematikan” semua bentuk kredibilitas duniawi kita. Sehingga hanya muncul kredibilitas Ilahi dalam diri kita. Tentunya harus ada Khizir (Guru) yang membimbing kita untuk mencapai itu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Exit mobile version