“Jurnal Suficademic” | Artikel No. 87 | Oktober 2022

BERAGAMA DENGAN DAN TANPA TEKS
Oleh Said Muniruddin | The Suficademic

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

Beragama Tanpa Teks

Hidup yang paling sederhana adalah hidup tanpa kitab, tanpa bacaan. Tapi tau kebenaran. Mungkin karena itulah, jumlah nabi banyak sekali, ratusan ribu. Dan mayoritas tidak membawa kitab (teks).

Nabi Muhammad juga begitu. Tidak membawa “kitab” (teks). Ketika turun dari gua Hirak, tak terlihat ada buku atau kitab yang ditentengnya. Sampai Beliau wafat, tidak tercatat ada proses serah terima kitab.

Alquran sebagai kitab (buku/teks), itu baru dibuat kemudian. Disusun oleh panitia khusus di masa Usman bin Affan. Dimasa Nabi, itu masih potongan hafalan. Kalaupun ada catatan, itu sifatnya parsial dan berserakan di banyak tempat. Umumnya di batu dan kayu. Bukan di kertas. Artinya, kalau kitab dipahami sebagai kompilasi catatan di lembaran “kertas”, masa Nabi belum ada kitab.

Jadi, kalau ada ajakan kembali ke jaman Nabi, itu sama dengan mengajak kembali ke jaman tanpa teks. Jaman tanpa buku cetak (kitab) Al-Qur’an. Jaman dimana interaksi dibangun secara langsung dengan vibrasi dari “alam ukhrawi”. Zaman dimana Allah dan para malaikat mampu diajak berbicara. Inilah makna “zaman nabi”. Bukan dalam bentuk perkembangan budaya dan teknologi. Melainkan dalam keahlian berinteraksi dengan alam-alam yang lebih tinggi (alam malakut dan rabbani).

Jadi, agama, itu sederhananya bukan teks. Agama sebagai teks, hanyalah kebutuhan untuk orang-orang kemudian. Seperti Quran, yang disusun dan disalin ulang pada periode kemudian. Pada periode awal, itu hanya tulisan yang berserakan. Tak ada pembukuan dan penulisan. Quran terawal adalah “ayat” yang tersimpan dalam dada Nabi. Pada periode ini, Quran itu “ruh” yang tanazzul dalam jiwa orang suci. Bukan kumpulan tulisan.

Agama, ketika turun pada maqom materi, itu adalah “teks”. Untuk tau informasi, maka harus dibaca. Lalu ditafsir untuk digali makna. Baharu sifatnya. Sedangkan pada maqom lebih tinggi, agama adalah “ruh”. Qadim dia. Tidak perlu dibaca, karena dia sendiri yang akan bicara agar kita mengerti. Dia sendiri yang memberi petunjuk dan pemahaman kepada kita. Agama pada level ruh adalah malaikat, Kalam Tuhan yang senantiasa berbicara.

Oleh sebab itu, ulama pada lewat tertinggi adalah kumpulan orang “ummi”. Orang yang cerdas (fathanah), tapi bukan dengan membaca yang tertulis. Melainkan dengan mendengar “suara hati” (ilham/wahyu). Mukasyafah-nya tinggi.

Agama semakin hari semakin tereduksi. Semakin jauh dari nabi, agama semakin menjadi teks materi murni. Kita akan dianggap bidah kalau tidak merujuk kepada “teks” hasil riset Bukhari Muslem, yang katanya merujuk ke Nabi. Kita akan dituduh sesat, kalau tidak ikut teks Quran dalam pemahaman literal kelompok tertentu. Sehingga, ajakan kembali ke Quran dan Hadis hanya dipahami sebagai kembali ke buku “teks”. Bukan kembali ke “ruh”, ke “jibril”, ke “Quran yang hidup”, ke “qalam awal”, atau ke makna yang azali.

Agama perlahan mengalami proses materialisasi. Pelan-pelan kehilangan elan ruhiyah-nya (Tuhan yang asli). Terjebak dengan (teks) materi. Padahal, agama yang asli adalah membaca apa yang ada di “langit”. Bukan mengeja apa yang tertulis di bumi.

Beragama dengan Teks

Saya bukan “anti membaca” atau “anti kitab”. Saya membaca berbagai macam kitab dan buku. Tapi kita harus kembali kepada “kesadaran pertama”. Yaitu kesadaran ketika kita belum mampu membuka mata, sebenarnya kita sudah mampu berkomunikasi dengan Tuhan kita (“Alastu birabbikum, qalu bala syahidna” – QS. Al-Araf: 172). Kita sudah tau Kebenaran, jauh sebelum bisa membaca. Kecerdasan alami itu telah hilang dari kita. Gara-gara banyak membaca, terlalu tekstual.

Membaca itu bagus. Akan lebih bagus jika dikombinasikan dengan kecerdasan “laduni” (kecerdasan pertama). Ilmu pengetahuan di era Islam tumbuh pesat karena dua hal berikut. Pertama, para ilmuan klasik rajin membaca karya-karya terdahulu dari ‘kafir’ Yunani. Tidak kafir semua. Banyak diantara mereka diyakini sebagai ahli hikmah bahkan juga nabi. Hermes Tremegistus misalnya, dipercaya sebagai Idris as. Banyak lagi lainnya.

Kedua, ilmuan-ilmuan ini mampu mengembangkan semua pengetahuan Yunani pada level lebih tinggi melalui “kecerdasan spiritual qurani”. Sehingga ragam pengetahuan yang lahir sangat saintifik, sekaligus mencerahkan. Tidak hanya mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Juga ditemukan banyak hal baru yang lahir dari proses uzlah (kontemplasi), yang tidak pernah ditemukan dalam tradisi Yunani sebelumnya. Setelah periode itu, khususnya sekarang, kita menjadi jumud lagi. Putus bacaan (kalaupun ada, hanya terfokus pada fikih saja). Juga putus hubungan dengan Tuhan.

Untuk kembali maju, kita harus banyak “membaca”, sekaligus “tidak membaca”. Makna membaca adalah membaca karya-karya inovatif, khususnya yang banyak berkembang di dunIa ‘kafir’ Barat. Sekaligus “tidak membaca”, yaitu melakukan uzlah atau menyambungkan hati dengan Tuhan. Agar diberi ragam informasi kreatif atas sebuah penelitian.

Dunia “Barat” itu dunia Yunani, dunia membaca. Dunia “Timur” itu dunia diam atau meditasi. Agama barat adalah agama membaca. Agama timur adalah agama “ummi” (tidak membaca). Karena itu, ada fenomena menarik. Seorang Nabi akhir zaman, yang terkenal ummi (QS. Al-Araf: 157-158), ketika pertama sekali hadir langsung meneriakkan “Iqrak” (QS Al-Alaq: 1).

Saat ia menerima wahyu pertama itu, tidak ditemukan ada teks religius apapun bersamanya. Jadi apanya yang mau dibaca? Apa perintah Tuhan keliru? Tentu tidak. Sebab, di dunia saat itu sudah banyak berkembang teks-teks pengetahuan dari Yunani. Itulah yang harus dibaca. Tentu harus “dengan nama Tuhan” (bismi rabbik), agar pengetahuan-pengetahuan itu hidup kembali. Kemudian terjadilah “islamisasi pengetahuan”. Ilmu yang telah ada “di zikirkan”, sehingga semakin berkembang. Ia memerintahkan agar agama timur yang rajin diam dan ber-uzlah, dikawinkan dengan agama barat yang penuh teks dan suka membaca. Lalu lahirlah Islam dalam wajah tertinggi beberapa abad kemudian.

Dalam hal ini Allah menegaskan, “Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat” (QS.Al-Baqarah: 115). Kesempurnaan Islam lahir dari perkawinan dua kutub ini: “dengan, sekaligus tanpa teks”. Kebenaran ini sudah terbukti sebelumnya. Ketika Dzulqarnain misalnya, mampu menjembatani dunia “barat dan timur”. Karenanya ia menjadi salah satu pemimpin teragung sepanjang masa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

#powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
RECTOR | The Suficademic
YouTube: 
https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin